Langsung ke konten utama

Postingan

Bogor, petualangan gue dan Kamandaka

Bogor, beberapa bulan lalu. Kamandaka, cowok ajaib berbadan dan bersuara besar kali ini mengajak gue ke daerah yang nggak jauh-jauh amat dari Jakarta. Tepatnya di wilayah Bogor. Saat itu Kamandaka lagi ada keperluan mencari bahan untuk keperluan prakteknya. Gue yang nggak tau apa-apa, plus nggak ngerti apa-apa pula main ikut dan membolos kerja, huehehehehhe.. Perjalanan naik motor ke Bogor sih nggak lama-lama amat, cuma motor Kamandaka yang nggak bisa dibawa ngebut membuat perjalanan terasa lama dan pantat gue jadi pegelnya minta ampun. Akhirnya setelah berpusing-pusing (baca :berputar-putar dalam bahasa Malaysia) kami sampai juga di tempat tujuan. Nama daerahnya gue lupa apa, karena pake bahasa Sunda-sunda gitu. Tapi yang jelas jauh dari kotanya. Karena sepi dan kampung banget tempatnya. Hujan pun turun pada siang itu. Membuat gue dan Kamandaka terpaksa berteduh sementara waktu di rumah kenalan Kamandaka. Dengan disuguhi ikan asin, sayur asam, nasi hangat dan sambal setan yang pe...

Nggak tau harus berjudul apa :(

“Ndut, Ndut… Tunggu..” manusia berjambul itu memanggilku. “Sudah kubilang jangan manggil aku Ndut, aku nggak suka..” bentakku sembari melangkahkan kaki mengitari pelataran candi Singosari. Jelas saja aku tidak suka, karena sebagai perempuan normal tidak ada yang suka dipanggil Ndut. Karena semua perempuan ingin merasa langsing dan sexy. ”Ih, kamu kenapa sih? Masa masalah kayak begini aja kamu marah?” tanyamu. Kamu memegang tanganku, mencegah agar aku tidak pergi meninggalkanmu. Lalu kamu menatap mataku dalam-dalam, seakan ingin mencabik-cabik hatiku dan mencurinya terang-terangan layaknya perampok yang brutal. ”Aku merasa kita nggak akan berhasil, Mbul..” kataku pesimis. ”Apanya yang nggak akan berhasil? Kamu terlalu membayangkan hal yang masih jauh..” tanyamu. Tiba-tiba langit bergemuruh, hujan turun seketika membasahi kita. Bumi Malang menangis lagi. ”Ayook kita neduh..” kamu menyeretku berlari menuju pinggir candi Singosari. ”Masih sesiang ini sudah hujan terus...” keluhku...

Pertengkaran

Setitik air membasahi pelupuk mataku secara tiba-tiba. Argh, ternyata itu adalah tetes air hujan yang turun membasahi bumi, lagi. Begitu sering hujan belakangan ini. Hingga aku dan dia harus mencari tempat berteduh sementara waktu. Dia,kekasihku, calon suamiku. Harusnya kami segera bergegas menuju Kemang saat ini, tapi lagi-lagi hujan menghentikan perjalanan kami. Di tengah teduhan di halte bus pinggir jalan, aku menatap wajahnya. Dengan cemas, dia menunggu hujan berhenti. Ingatanku melayang pada malam sebelumnya. Saat pertengkaran terbesar kami, pertengkaran terbesar selama kami menjalin hubungan kasih ini. "Harusnya kamu mengerti.." pintaku. "Apalagi yang harus dimengerti? Setiap kita membicarakan hal ini, kita pasti bertengkar. Dan kamu selalu bilang kita tidak cocok, dan kita tidak bisa menikah. Kenapa?" bentakmu. "Aku hanya tak mampu selaras denganmu. Pemikiran kita terlalu berbeda, dan prinsip-prinsip kita bertolak belakang.." aku menjelaskan dengan ...

Sadness (repost)

Kulihat langit. Masih tetap biru cerah dan menyilaukan mata. Angin semilir berhembus meniup dedaunan di taman ini. Taman kecil yang terletak di sudut kota terpencil yang jauh dari kebisingan ibukota dan gemerlapnya kota metropolitan. Ku hela nafas, masih menatap langit. Kiranya hujan tidak akan turun sore ini. Lamunan ku melambung jauh sembari menatap langit biru. Ku ingat tatapan matanya, ku ingat senyumnya yang hanya menyimpul sedikit di ujung bibirnya. Dia masih sama, tidak berubah. Masih tetap Reisha yang kucinta. Hanya saja bedanya, saat ini tubuhnya semakin lemah, hanya mampu terkulai lunglai di kasur rumah sakit. Reisha, kekasihku. Tunanganku dan calon istriku. Menderita penyakit yang belum berhasil didiagnosa dokter. Namun kondisinya sudah sangat kritis. Tidak sadarkan diri tergeletak di kasur rumah sakit dengan ventilator dan alat-alat kedokteran lainnya yang membantunya untuk tetap bernafas. Sudah 4 bulan lamanya dia terbaring di sana. Reisha, kekasihku. Adalah kebahagiaanku....

Divorce

Backstage cafe, Ancol. Angin laut di malam hari berhembus syahdu. Kutuang chinesse tea ke cangkir ku. Kamu masih sibuk dengan pikiran burukmu, setidaknya itu adalah pradugaku. Sesekali kamu berdecak dan geleng geleng kepala. Ada satu harapan yang terbesit di benakku. Berharap kamu dapat membuka pikiran dan melihat kenyataan yang ada. Kutatap dirimu yang melamun. Matamu jauh memandang lautan yang gelap. Binar matamu tampak samar dalam keremangan cahaya lilin di meja. Suara musik dari live band masih mengiringi pertemuan kami malam ini. Waitress mengantar pesanan makanan kami. Perutku yang lapar sudah tidak tahan ingin menyantap makanan yang kami pesan. Setelah makan kamu berkata, bercerita tentangmu. Tentang hatimu. Bagaimana tertekannya kamu denganku. Kudengarkan dengan seksama. Hingga tak tahan dan menitikkan air mata. Menurutmu, aku begitu membencimu sehingga kamu tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan hidup bersama denganku. Aku menangis. Tak kusangka kamu berpikir seperti itu. ...

Kebahagiaan itu ..

Tuhan, Maaf bila aku meminta terus Maaf karena aku tak pernah puas dalam kehidupan ini Maaf bila aku sering lupa berterima kasih dan bersyukur pada Mu Tapi satu ini saja pintaku, Tuhan Aku hanya ingin semua orang yang ku kenal bahagia Aku pun ingin merasakannya .. Hanya ingin bahagia..

Toleransi

Pagi ini, saya tertarik sekali membaca Twitter Ahmad Fuadi, seorang penulis Negeri 5 Menara. Topik yang dia angkat adalah tentang toleransi. Sebagai pribadi yang tumbuh dalam keanekaragaman budaya dan agama, saya mengerti betul tentang arti toleransi. Yah, setidaknya menurut pemahaman saya sendiri. Yang kemungkinan berbeda dengan pemahaman orang lain. Bukankah beda kepala berarti beda pemikiran.. Sedari kecil, kedua orang tua saya sibuk bekerja. Saya tumbuh sebagai anak yang dibesarkan oleh baby sitter dan dirawat oleh tante saya yang merupakan adik dari mama saya. Tante saya dari kecil seorang Muslim, sesuai dengan agama turunan kedua orang tuanya sebagaimana halnya sama dengan mama saya. Lalu ketika dia menikah dengan orang Ambon, tante saya berpindah agama menjadi Katolik. Tapi pernikahannya tak berjalan mulus, ketika suaminya meninggalkannya dengan perempuan lain tidak membuat tante saya pindah agama lagi menjadi Muslim. Yang padahal, setahu saya dalam Katolik tidak ada perceraian....