Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

PERGI

Kemana perginya? Ada tanya dalam lara Hati hampa menanyakan penghuninya Kosong Biarlah berpura pura  Bahwa bahagia ada Kosong Pakai dulu topengnya agar mereka tak tahu bahwa itu hanya omong kosong Dan tersenyumlah bahwa semua akan aman saja Mungkin tak sama Bahwa hati ini miliknya, dan hatimu milikku..

RINDU

Aku rindu Seperti tanah kering merindukan hujan Seperti layang merindukan angin Seperti laut merindukan kapal Tak bisa ku jelaskan Tapi aku rindu Aku rindu untuk dirindukan Rindu menghiasi hati dengan cemburu, tersipu Rindu mendebarkan jantung dengan senang dan amarah Rindu ada sosok yang merindukan Rindu digilai Rindu dikejar, dipuji, dielukan Di mana sosok itu? Masih adakah yang bersedia? Mencintai aku yang hanya seperti ini..

Filosofi Hujan

Seperti hujan yang jatuh dari langit menyejukkan bumi, begitu pun kamu, jatuh dari langit seperti bidadari, menyejukkan hatiku.. Seperti hujan, membasahi lahan yang tandus, begitu pun kamu, membasahi hatiku yang kering.. Seperti hujan dan petirnya, kadang kamu mengejutkanku dengan tingkahmu.. *edisi diduain* Seperti hujan dan badainya, kamu juga kadang membuatku terhempas.. *edisi diputusin* Seperti hujan dan gelapnya, kadang kamu membuatku gelap karena cinta yang buta.. *edisi cinta buta* Seperti hujan yang syahdu, kadang kamu menenangkanku *edisi baikan pasca berantem* Seperti hujan dan angin ributnya, berisik seperti kamu saat marah *edisi dapat pacar yang tukang ngomel* Seperti hujan dalam rintiknya, diam. Seperti kamu yang sedang tenang.. *ini pacarnya habis dibeliin BB jadi diem deh* Seperti hujan yang datang tanpa kbr, berhenti juga tanpa kabar.. Seperti kamu yang tak pernah mengabariku.. *ini pacarnya : aku gak punya pulsaaaaaa* Seperti hujan yangg tak kunjung datang ...

Broken Heart

Seperti rintik hujan, awalnya cintaku padamu sedikit demi sedikit turun tapi rutin, kadarnya sama tak berlebih tak berkurang. Lalu tiba-tiba, rintik hujan itu berubah jadi deras, aku pun semakin mencintaimu. Dan semakin deras, seperti saat aku kehujanan, basah hingga aku kedinginan, kesakitan oleh air dingin yang menusuk tulang, dan membuatku menggigil. Hujan deras itu membuatku jadi demam, semakin sakit hingga aku hanya mampu berdiri di bawah derasnya air. Hujan deras itu berubah jadi badai, anginnya membuatku semakin gemetar, suara gemuruh petir memekakkan telinga, dan kemudian mengaburkan pandanganku. Aku terjatuh, tak sempat kumelihat badai berhenti dan berubah jadi pelangi. Hujan itu tak berbalas memberi pelanginya, hanya meninggalkan luka. Seperti cintaku padamu, aku mati karenanya. - Dedicated for R -

Accross the Universe

Jujur, gue nggak pernah dengar lagu ini sebelumnya, dan bahkan menulis ini pun gue nggak dengar lagu dari the Beatles ini. Gue hanya melihat liriknya dari blog YUDI , karena saat gue menulis ini hati gue lagi galau tingkat kecamatan. Rasanya ingin seperti Cinta, berlari ke pantai, ke hutan, mecahin gelas dan makin galau. Ada satu peristiwa yang buat nggak enak hati belakangan ini, dan puncaknya adalah pagi ini. Tapi seperti biasa, gue nggak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa diam, diam dan kemudian diam lagi. Boro-boro ngeluarin uneg-uneg, yang ada hanya ngedumel nggak jelas apa yang didumelin. Apa yang keluar berbeda dengan isi hati yang sesungguhnya. Yah, mungkin emang gue tipe yang susah curhat.. Lalu dengan iseng, lirik itu gue terjemahin dari google translate, yah karena gue nggak jago bahasa inggris. Kira-kira begini hasil terjemahannya : Kata-kata mengalir keluar seperti Hujan tanpa henti ke cangkir kertas Mereka meluncur liar karena mereka menyelinap pergi ...

Kala itu

Langit sore, mengingatkan ku pada romansa kala senja. Saat aku menatap awan bertabur kesedihan. Lalu kau lukiskan tangis pada wajah senduku. Saat itu, kau bisikkan dua kata penutup cerita, 'selamat tinggal..' Kala itu, aku hanya mengkisahkan perjalanan kita, saat rasa masih menggema deras di hati, saat jiwa masih selaras denganmu. Lalu timbul sesuatu yang berbeda, saat kita tak berjalan lagi beriringan, saat langkah tak lagi seirama, saat arah tak lagi sama. Kau mengucapkan dua kata yang menghancurkan duniaku, menciptakan tsunami yang melenyapkan kerajaan hatiku, dua kata perwujudan kiamat yang mematikan kehidupan hayalanku. Aku tak dapat memaksakan agar kita kembali selaras, hatimu pergi melesat kencang tanpa kata-kata, hanya dua kata yang menjelaskan semuanya. Hingga rasanya aku sangat membenci dua kata itu, hingga ingin ku musnahkan dari pikiranku, namun..  Proses, biarlah berjalan apa adanya.  Tak ada gunanya pula membahas, tak akan ada habisnya diceritakan...

Bicara sendiri

Saat hati merasa sendiri, Adakah yang menemani? Aku berteriak memanggil, Namun tak ada yang mendengarnya Sendiri ku tertidur, sendiri pula ku terbangun Aku bermimpi buruk, tapi siapa yang peduli? Sendiri ku menangis, tapi siapa yang mau mengusapnya? Sendiri ku terjatuh, terjatuh dalam mungkin Tapi, siapakah yang peduli? Di mana dunia? Di mana kehidupan, tawa, dan kebahagiaan? Di mana kebebasan hati? Cinta, memenjarai dengan brutal. Di mana kamu? Di mana aku mencarimu? Katakan, di mana? Sendiri aku bertanya, tanpa tahu jawabnya. Sendiri ku berdoa, sendiri pula aku berpikir untuk menjawabnya. Sendiri aku berkata, lama-lama aku sendiri hingga mati. --- Bukan maksudku menjauh dari lingkungan sekitar, dari orang-orang dan kehidupan sehari-hari. Tapi terkadang, dalam hati kecil aku hanya ingin sendiri. Hanya ingin menikmati dan berbicara dengan hati dan pikiran. Terkadang pula, aku sering bicara sendiri. Tanpa alasan jelas dan pasti, namun ak...