Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Renungan

Kawan, ijinkan saya menshare hasil renungan saya disaat sedih. *curcol :P*. Saat ini saya sedang sedih, prahara rumah tangga dan sakitnya anak saya membuat saya down. Sudah seminggu lebih anak saya tidak mau menyusu langsung dari saya. Saya jadi berpikiran anak saya lebih cinta pada dotnya dibanding puting saya, dan saat saya menggendong anak saya, dia malah menangis kencang, tapi pas digendong mbaknya, dia malah tertawa. Saya jadi berpikir lagi, kalau anak saya tak cinta saya lagi, dia lebih memilih mbaknya, karena keseharian lebih banyak dihabiskannya dengan mbaknya. Sedih saya semakin memupuk. Saya membutuhkan bantuan, saya tak sanggup menghadapi ini sendiri, saya butuh motivasi, tapi suami sibuk dengan pekerjaannya, dia lupa bahwa ada sosok istri yang sedang down menjalani masalah ini. Ditambah lagi dengan masalah ekonomi yang kian menghimpit, tuntutan hutang yang harus segera dilunasi, saya semakin down, saya tak tahu harus bagaimana lagi, betapa beratnya ujian yang harus ...

Right way or?

Pagi tadi saat perjalanan di bus jemputan saya berbalas tweet dengan teman saya yang orang Bea Cukai juga. Lucunya kami membahas masalah agama sepagi ini, bahasan yang berat untuk dimulai pagi hari. Saya sharing dengannya, kalau sebelum tahun 2008 saya tidak percaya agama. Saya percaya Tuhan itu ada, tapi saya tak percaya agama. Saya menjelaskan, karena saat itu saya berada dalam ruang lingkup pergaulan yang kacau. Saya sering membaca artikel yang saya browsing dari google, saya melihat berita di televisi dan koran yang kebanyakan memuat tentang perang Israel – Palestina, perang agama dan bahkan membaca sejarah tentang perang salib. Kebanyakan orang yang membaca itu dia akan membela agamanya dan membenci agama yang menjadi saingannya dalam perang itu, tapi tidak terjadi dengan saya. Saya memang terlahir sebagai Islam, karena orang tua saya Islam, tapi bukan berarti ketika membaca itu saya membela Islam. Saya berpikir terbalik, saya muak dengan perang, hati saya tersayat de...

AGAMA ADALAH HAM, TITIK!

Saya bingung dengan pemberitaan belakangan ini, semakin lama masyarakat Indonesia semakin menggila. Entahlah apa yang mereka urus sepertinya sudah terlalu ikut campur terlalu dalam urusan orang lain. Sepertinya mereka yang mencampuri urusan orang lain ini nggak punya kerjaan atau kegiatan, ya semacam pengangguran saja. Apa yang saya komentari ini adalah tentang bentrokan warga tentang rumah ibadah di Bogor. Saya bukan pengikut agama minoritas, tapi bukan berarti saya otoriter mentang-mentang agama saya mayoritas. Dan menurut saya pribadi, nggak ada yang salah antara dua agama itu. Yang salah adalah oknum yang plin plan ngasih ketegasan hukum. Lalu saya mendengar tentang pertengkaran sahabat dan sahabat saya di group FB yang membahas soal agama. APALAGI INI?? Beuh.. Ini kenapa orang-orang jaman sekarang semakin getol mempertahankan pendapatnya, walau apa ayng dia kutip dari kitab suci, hadist, al kitab, tripitika or lainnya tetap itukan menyangkut agama tertentu, mana bisa di...

Mau apa lagi yaa..

Sudah 2012, belum ada perubahan berarti. Satu-satunya kemajuan adalah saya sudah menjadi ibu dan istri. Selebihnya? Nothing. Saya bingung harus bagaimana lagi untuk membuat perubahan, setidaknya lebih baik dari 2011. Apa yang ingin saya lakukan di 2012? Saya ingin sekali novel saya terbit. Ingin bisa hidup stabil, tanpa beban utang.. Hehehehhhe... Saya ingin sekali menjelajah pedalaman Kalimantan, ingin melihat buayanya yang besar-besar. Ingin punya rumah dan mobil Dan terutama, membenahi akhlak dan keimanan saya agar lebih baik dari sebelumnya. Semoga semua tercapai di 2012 ini. AAMIIIIN.

Immortal - Chapter I & II

Grace Eritha membuang bukunya ke lantai, dia jenuh membaca buku hampir setengah harian ini. Kantor tampak lengang, karena perekonomian Indonesia sedang kacau, perusahaannya kini tengah menuju kebangkrutan. Grace kesal menatap jendela yang memamerkan gedung-gedung tinggi di jalan Sudirman. ”Permisi, Bu. Ada tamu..” Delita mengejutkan lamunan Grace. Sekretaris itu tampak takut melihat pimpinannya yang tengah gundah menatap jendela di ruangannya. ”Dari siapa?” tanya Grace. ”Bapak Mathius, finance manager Hongkong Bank.” jawab Delita ”Kenapa tidak buat janji sebelumnya? Saya tidak kenal dengannya..” kata Grace ragu. ”Dan kini, maka kau akan kenal aku..” suara laki-laki tiba-tiba terdengar di depan Grace. Grace terkejut menatap laki-laki berperawakan oriental itu. ”Maaf, Pak. Sebaiknya anda tunggu di luar..” Delita gelagapan. ”Tidak apa-apa, Del.. Silahkan duduk, Pak Mathius. Apa yang bisa saya bantu?” tanya Grace mengangguk pada Delita, dan Delita pun pergi meninggalkan ru...