Langsung ke konten utama

Nggak tau harus berjudul apa :(


“Ndut, Ndut… Tunggu..” manusia berjambul itu memanggilku.



“Sudah kubilang jangan manggil aku Ndut, aku nggak suka..” bentakku sembari melangkahkan kaki mengitari pelataran candi Singosari.



Jelas saja aku tidak suka, karena sebagai perempuan normal tidak ada yang suka dipanggil Ndut. Karena semua perempuan ingin merasa langsing dan sexy.



”Ih, kamu kenapa sih? Masa masalah kayak begini aja kamu marah?” tanyamu.



Kamu memegang tanganku, mencegah agar aku tidak pergi meninggalkanmu. Lalu kamu menatap mataku dalam-dalam, seakan ingin mencabik-cabik hatiku dan mencurinya terang-terangan layaknya perampok yang brutal.



”Aku merasa kita nggak akan berhasil, Mbul..” kataku pesimis.



”Apanya yang nggak akan berhasil? Kamu terlalu membayangkan hal yang masih jauh..” tanyamu.



Tiba-tiba langit bergemuruh, hujan turun seketika membasahi kita. Bumi Malang menangis lagi.



”Ayook kita neduh..” kamu menyeretku berlari menuju pinggir candi Singosari.



”Masih sesiang ini sudah hujan terus...” keluhku.



”Ndut..” katamu. Tanganmu masih erat menggenggam jemariku.



”Kita pacaran yuk..” katamu tiba-tiba. Petir bersambaran dalam hatiku, bahkan langit pun kalah ramai gemuruhnya.



Aku tertegun, tak dapat menjawab apa-apa. Tubuhku menggigil, bukan karena dingin. Tapi karena hatiku seperti mencair. Darahku mengalir deras, jantungku berdetak kencang, kakiku gemetaran. ’Ya Tuhan, aku tak percaya ini terjadi..’



”Ndut, jangan diam aja. Jawab donk. Aku suka sama kamu, dan aku merasa sudah sayang sama kamu. Emang sih, nggak masuk akal. Masa baru kenal sudah suka. Tapi ini yang aku rasain..” jelasmu panjang lebar, dengan gayamu yang khas. Dengan senyummu yang membuatku seperti ikan kekurangan air. Aku menampik senyummu, buang muka menghindari tatapan matamu yang seperti menghipnotisku. Diam-diam dalam hati, aku tersenyum. Ketika sadar aku tersenyum, aku menampik lagi.



Aku masih terdiam, ’jika ini mimpi jangan bangunkan aku, Tuhan’.



Aku hanya mampu melemparkan senyum. Berharap kamu tahu apa maksud dari senyum itu.



Lalu kamu mencium jemariku. Senyumku makin melebar, dan entah mengapa kepalaku tiba-tiba mengangguk

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...