Langsung ke konten utama

Toleransi



Pagi ini, saya tertarik sekali membaca Twitter Ahmad Fuadi, seorang penulis Negeri 5 Menara. Topik yang dia angkat adalah tentang toleransi.

Sebagai pribadi yang tumbuh dalam keanekaragaman budaya dan agama, saya mengerti betul tentang arti toleransi. Yah, setidaknya menurut pemahaman saya sendiri. Yang kemungkinan berbeda dengan pemahaman orang lain. Bukankah beda kepala berarti beda pemikiran..

Sedari kecil, kedua orang tua saya sibuk bekerja. Saya tumbuh sebagai anak yang dibesarkan oleh baby sitter dan dirawat oleh tante saya yang merupakan adik dari mama saya.

Tante saya dari kecil seorang Muslim, sesuai dengan agama turunan kedua orang tuanya sebagaimana halnya sama dengan mama saya. Lalu ketika dia menikah dengan orang Ambon, tante saya berpindah agama menjadi Katolik.

Tapi pernikahannya tak berjalan mulus, ketika suaminya meninggalkannya dengan perempuan lain tidak membuat tante saya pindah agama lagi menjadi Muslim. Yang padahal, setahu saya dalam Katolik tidak ada perceraian. Itulah kenapa tante saya menganggap tidak pernah bercerai dengan suaminya.

Tante saya orang yang sangat legowo. Dia tidak tenggelam terlalu lama dalam kesedihannya ditinggal suami, bahkan dia semakin taat. Lalu tante saya bergabung dengan para biarawati di gereja yang tidak jauh dari rumah kami.

Saat SD, tante saya sering meminta saya mengantarnya ke gereja. Untuk mengikuti kegiatan ibadah bersama teman-temannya. Saya yang tidak mengerti arti toleransi saat itu, saya hanya ikut dan selalu tersenyum ketika melihatnya beribadah. Karena saya menemukan kebahagiaan di senyum tante saya.

Kejadian itu berlangsung hingga saya SMP. Setiap Minggu saya mengantar tante saya, yang juga semakin sibuk dengan kegiatan ibadah baik di gereja atau reatret di Puncak atau di Bogor.

Saya tidak berkeberatan mengantarnya, toh saya sayang tante saya. Hingga saya sering bertanya padanya mengapa dia beribadah berbeda dengan saya? Namun lambat laun, saya mulai mengerti akan perbedaan itu. Saya tidak mempersoalkannya, karena tante saya bahagia dan menemukan ketenangan dalam agamanya.

Saat SMP saya mulai berpuasa, dari yang cuma setengah hari sampai yang penuh satu hari. Tante saya yang baik, menyiapkan menu sahur untuk saya. Dia juga selalu mengingatkan saya untuk sholat. Bahkan, ketika ada pelajaran mengaji di musholla dekat rumah saya tante saya mengantar saya ke musholla itu. Hingga tante saya meninggal, saya setia mendampinginya. Saya akan selalu mengingat nasihat-nasihatnya, tak peduli walau dia kutip dari Alkitab, yang penting mengajarkan kebaikan saya percaya itu.

Saat SMU, saya juga mulai dekat dengan adik dari Nenek saya. Saya memanggilnya Mbah Yong. Dia adalah seorang romo di Solo. Sebagai pastur, Mbah Yong bukan orang yang mencari jamaat sebanyak-banyaknya lalu menarik saya agar ikut agamanya. Mbah Yong juga orang yang sangat bertoleransi tinggi. Setiap Lebaran, dia menelepon ke rumah dan mengucapkan selamat Lebaran. Juga selalu mengingatkan saya agar nggak nakal dan rajin-rajin beribadah.

Lalu hingga saya beranjak kuliah, saya berpacaran dengan seorang Hindhu yang saya kenal waktu saya berkunjung ke Bali. Dia juga orang yang sangat bertoleransi, bahkan pada hari ulang tahun saya, dia mengirimi saya seperangkat alat sholat yang dibelinya sendiri.

Saya juga pernah berpacaran dengan orang Batak bermarga Sirait. Dia seorang Kristen. Pernah saat Isra Miraj, dia mengantar saya untuk mengikuti Tausyiah di masjid Istiqlal. Dia juga orang yang bertoleransi.

Sahabat saya, seorang Budhist. Pernah saat ulang tahunnya saya memberikan hadiah patung Buddha dari kuningan, lalu saat saya ulang tahun dia mengirimi saya tasbih.

Ketika dekat dengan Kamandaka, saya mengenal seorang Bhante dari Vihara di Menteng. Akhirnya saya jadi dekat dengan Bhante itu, saua suka mendengar petuah dan ilmu-ilmu kebijaksanaan darinya. Dia tidak keberatan seorang jilbabers datang ke vihara, bahkan ketika saya datang saya disuguhi dengan keramahan yang luar biasa menyenangkan.

Lalu dari Kamandaka, saya juga mengenal seorang Mangku di Pura di TMII. Waktu sedang proses perceraian, hati saya seperti badai di lautan. Saya datang ke Pura itu, untuk menenangkan pikiran, sekedar bermeditasi 1-2 jam. Dan mendengar petuah-petuah dari Mangku yang menenangkan hati saya, dia juga tak keberatan seorang jilbabers datang ke Pura. Dengan keramahan, dia menyambut saya dengan senyuman.

Lalu pada suatu acara di Vihara Manggala Cetiya di Sunter, saat Luang Por datang dari Thailand, hati saya resah melangkah menuju Vihara. Karena saya berjilbab. Dan saya tidak melihat seorang pun yang berjilbab juga di dalam sana.

Tapi kemudian ada umat Buddha yang menyapa saya, bertanya ada apa mengapa hanya berdiri di luar? Lalu saya menjawab, saya ingin masuk dan mendengar petuah Luang Por tapi saya berjilbab, saya tidak enak hati dengan yang lain. Lalu umat itu menjawab, masuk saja. Kami tidak membatasi siapa pun yang ingin datang dan mendengar petuah Luang Por.

Sungguh luar biasa ketika saya mendengarnya, dengan digandengnya tangan saya, kami menuju ke dalam Vihara.

Semua mata melihat saya, namun mereka tidak memandang dengan permusuhan, mereka malah tersenyum dan merangkul saya. Saya sampai menitikkan air mata, begitu indah toleransi ini.

Suatu ketika, dalam perjalanan saya menuju Wonogiri - Solo, saya bersilahturahmi dengan Mbah Yong. Saya masuk ke gereja yang saat itu sedang ada Misa Natal. Saat itu saya memang belum menggunakan jilbab, tapi saya memakai baju muslim dan mengenakan kerudung. Mbah Yong mempersilahkan saya masuk, sementara jemaatnya melihat saya, saya tersenyum dan mereka membalas tersenyum. Mbah Yong menerangkan pada jemaatnya, bahwa saya cucunya yang seorang Muslim datang berkunjung untuk silahturahmi pada Natal saat itu, saya malah digandeng salah satu jemaatnya untuk ikut duduk dan mendengarkan khotbah Mbah saya.

Sehabis Mbah saya berkhotbah, dia merangkul saya. Menjamu saya dengan makanan halal, dan membuat saya merasa nyaman. Dia mempersilahkan saya menginap di asramanya, saya memandang kamar tempat saya menginap itu. Penuh dengan Salib dan lukisan Yesus, saya tidak keberatan, karena saya paham arti toleransi.

Saat pertama lulus SMU, saya masuk kuliah di LPK Santa Ursula Jembatan Lima. Mengapa saya memilih kuliah di situ? Karena saya ingin memperdalam rasa toleransi saya, setiap pelajaran Agama Kristen, saya keluar kelas, lalu teman saya suka bergantian menemani saya membolos pelajaran itu. Saya satu-satunya Muslim di situ, tapi teman-teman saya yang Cina dan Kristen itu tidak mempermasalahkannya. Saat acara makan-makan bersama tiba, teman-teman saya memberitahu mana yang halal mana yang tidak. Bahkan ada sahabat saya di situ, tidak mau makan makanan non halal di depan saya.

Saat saya pindah ke bagian lain di kantor saya, saya ditempatkan duduk bersebelahan dengan orang yang sudah tua dan bersuku Manado. Rupanya orang ini adalah pendeta di kantor kami. Dia sering berkhotbah tiap Jumat di Gereja di atas Perpustakaan kantor.
Karena sudah tua, dia kesulitan mengetik khotbahnya di komputer. Lalu saya menawarkan bantuan untuk mengetikkannya. Dengan senang, dia menerima bantuan saya. Dia membuka Alkitab, lalu mengejakan agar saya mengetiknya, begitu terus setiap Jumat pagi hingga dia pensiun. Walau teman satu ruangan lain yang Muslim sering mencibir saya, saya tidak peduli. Inilah indahnya toleransi.

Dari perkenalan Facebook, saya punya teman yang baik. Dia seorang pelukis, dia orang asing berkebangsaan Israel. Sudah tentu dia non Muslim. Tapi apa yang dia lakukan saat Ramadhan kemarin? Dalam komennya pada status saya yang sedang malas berpuasa, dia mengingatkan saya agar semangat, bahkan dia bilang kalau sudah lewat Ramadhan kamu pasti akan merindukan Ramadhan, dan pada Lebaran kemarin, dia mengirim SMS mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Sungguh indah toleransi ini.

Di kantor, saya juga punya teman Non Muslim. Dia perempuan seangkatan saya, seorang Katolik taat. Dia sering menglink sejarah Santa/Santo pada Facebook saya. Sungguh luar biasa ilmu yang dia share ke saya, bahkan dia meminjamkan Alkitabnya untuk saya, karena saya memohon padanya agar dipinjamkan. Ketika Ramadhan kemarin, dia sering mengirim komen selamat berpuasa. Dan dia mengucapkan Minal Aidin Walfaidzin saat Lebaran. Sungguh indah toleransi ini.

Sahabat saya, seorang warga negara Perancis yang tinggal di Jakarta. Dia Katolik walau dia bilang dia sudah berkeyakinan Tao. Setiap hari saat Ramadhan kemarin, selalu mengucapkan selamat berpuasa dan membuat tulisan tentang indahnya Ramadhan dan keramahan warga Muslim. Dia juga sangat bertoleransi. Sungguh indah..

Teman Facebook saya, dia Atheis. Tapi dia tidak keberatan berteman dengan saya, bahkan saat Ramadhan dia bilang selamat menunaikan ibadah puasa, dan saat Lebaran dia juga mengucapkan selamat Idul Fitri. Dia bilang jangan lupa sholatnya, karena puasa gak akan indah tanpa sholat.

Sahabat lama saya, seorang Kristen. Saat Natal beberapa tahun lalu, saya menghadiahinya pohon Natal kecil yang bisa ditaruh di atas meja kerja. Pohon Natal itu masih dipajangnya hingga kini di meja kantornya, saat saya Lebaran tahun lalu, dia mengirimi saya sejadah untuk sholat di kantor. Dan sampai saat ini, sejadah itu saya pakai di kantor.

Dan terakhir baru-baru ini, saya dekat dengan seorang laki-laki Katolik, yang mempunyai pemahaman mirip-mirip dengan saya. Dia juga orang yang paham akan arti toleransi, saya sering bertanya padanya tentang ajaran dalam Alkitab, dia juga pernah bertanya pada saya tentang ajaran Islam. Saat Ramadhan kemarin, dia tidak lupa mengucap selamat puasa setiap harinya, bahkan dia mengingatkan saya sholat. Dia juga menegur saya saat saya mengenakan jilbab yang tidak menutupi aurat seluruhnya, dia juga mengingatkan saya untuk menjaga prilaku mengingat saya berjilbab, dan terakhir dia mengucap selamat Lebaran. Saya juga sering mengingatkannya untuk ke gereja, itulah indahnya toleransi.

Sungguh beruntung saya hidup dikelilingi orang-orang yang bertoleransi tinggi. Walau ada segelintir teman seiman yang sering mencibir saya karena pemikiran saya, saya tidak peduli. Bagi saya, biarlah mereka dengan pemahaman mereka, dan biarlah saya dengan pemahaman saya.

Bagi saya, jika pemahaman saya salah, biarlah saya menikmati yang salah itu dengan keindahan toleransi ini. Saya tak peduli dengan cibiran mereka yang sering mengucap akan masuk neraka dan tak mendapat surga. Bagi saya, Tuhan terlalu sayang sama saya sehingga akan memberi petunjuk pada saya akan jalan yang lurus, dan saya orang yang terlalu kotor untuk masuk surga sehingga saya bukan pendamba surga, walau saya juga tak mau masuk neraka.

Bagi saya, ibadah saya adalah sebagai wujud syukur dan terima kasih mendalam untuk Tuhan saya, bukan untuk meminta yang padahal saya sudah diberi sangat banyak oleh Nya. Apalagi ibadah dengan ditakut-takuti akan neraka dan surga. Coba bayangkan, jika surga dan neraka nggak pernah ada dalam kitab suci dan ajaran agama, apakah kita masih beribadah untuk Tuhan?

Saya sungguh tak mengerti dengan orang yang kesulitan bertoleransi, padahal dengan toleransi keindahan dan kedamaian hidup berdampingan antar manusia akan mudah dicapai. Lalu, apalagi yang harus dirisaukan?

Biarlah jalannya berbeda menuju kedekatan terhadap Tuhan. Biarlah keyakinan tentang jalan kebenaran itu berbeda, biarlah cara beribadah pun berbeda, biarlah dengan anggapan Tuhan yang berbeda, bagi saya tak masalah. Karena saya percaya, apa pun yang melandasi perbedaan itu, kami semua yakin bahwa kami adalah mahluk ciptaan Tuhan, dan kami semua sama-sama manusia di mata Nya.

Tak peduli akan cibiran orang, tak peduli gunjingan orang. Saya yakin, bahwa apa yang saya kerjakan dan saya lakukan sesuai dengan petunjuk Nya, dan apa yang saya jalankan sesuai dengan syariat Nya.

Tak perlu merasa benar sendiri, tak perlu merasa kelompoknya benar, atau dirimu benar. Karena saya yakin, semua agama mengajarkan kebaikan, dan mengandung nilai-nilai kebenaran di dalamnya, dan saya yakin kebenaran hanya milik Tuhan, bukan manusia yang selalu bisa berbuat salah.

--

catatan kecil : Semua hanyalah pemikiran kecil saya, jika tak berkenan dimaafkan dan dimaklumkan adanya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...