Langsung ke konten utama

Idealism


Today I feel sad, but because so long I sent my manuscript to a publisher the manuscript of the novel but continued to decline. Just because my script does not match the market demand that many ask for writing such a dramatic love story drama on television.

I don't like it, I write because my soul calls, I am writing to express my wild imagination and I wrote to spill the entire contents of my feelings and thoughts. and it can not be set. What it all goes there, without restriction and without regulation.

I just gave up, I think the publishers must comply with a request, but then I thought why do I have to follow them? I have the soul itself. I like the painter who paints on my soul, on the basis of my inspiration. not based on rules from other people.

So I'll keep writing as my soul, I don't care if my manuscript was rejected several times, I'm sure there will be publishers who accept it someday. I am sure of it.

My status on facebook today:

I am an idealist in writing. I remain principled in my soul. If no publisher who accepted my script, it does not matter, it will not stop me to keep writing and will not alter my course to write a love story like a television drama for the sake of following the market share. Because for me, writing is the soul and the media scratching my wild imagination. No need to express the rules in.

Komentar

  1. Ada saatnya kita maju, baik perlahan, normal atau berlari.
    Ada saatnya kita berhenti, baik sejenak untuk istirahat atau memikirkan langkah yg terbaik atau berhenti untuk selamanya.
    Dan ada saatnya kita mundur, baik selangkah ataupun beribu langkah. Bukan mundur untuk menyerah, tapi mundur untuk mengambil langkah berikutnya menuju tujuan yg baru.

    Btw, tumben pake bahasa Inggris. Ya meski agak amburadul, tapi patut diacungi jempol lah usahanya untuk berbahasa Inggris. Sippp...

    BalasHapus
  2. Ini kan dr google translate. wkwkwkkwkw.. Thanks.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...