Suara Sumbang
Ibu
Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak
terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke
arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi
pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa
juga salah. Tidak ada yang sempurna.
Dua belas tahun lalu pertemuan
kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan
apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata
orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias
non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama
sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku
adalah rakyat jelata.
Ibu Dita adalah atasanku,
pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja.
Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya ngurusi
surat masuk. Semua orang di kantor kagum padanya, memujinya, karena dia atasan
yang baik, dan secara kemanusiaan juga sering membantu orang yang susah.
Secara struktural masih ada
atasan langsungku, tapi Ibu Dita seringkali yang turun tangan “menengok” anak
buahnya, lebih sering daripada atasan langsungku. Suatu hari Ibu Dita meminta
tolong padaku untuk merapikan arsip-arsip yang berserakan di ruang kerjanya,
dengan sigap aku mengerjakannya. Selain karena aku takut karena dia adalah
pejabat eselon III, juga takut kena “semprit” atasan langsungku.
Ibu Dita melihat hasil
pekerjaanku, dia suka. Lama-kelamaan dia sering meminta tolong padaku hal-hal
lainnya. Hingga suatu hari dia menawarkan padaku agar aku mengerjakan hal yang
lebih sulit lagi, mengerjakan laporan barang di kantorku. Aku yang masih amatir
kelas berat tentunya kebingungan, tapi Ibu Dita percaya padaku dan dengan
berjalannya waktu aku bisa mengerjakan semua tugas yang diberikannya.
Tugas tersebut membuat kami
sering tugas luar kota untuk rekonsiliasi dengan Kantor Pusat, Ibu Dita membuat
Tim yang terdiri dari empat orang, dua
laki-laki dan dua perempuan. Aku dan Ibu Dita termasuk ke dalam dua perempuan
itu. Karena tugas luar kota yang mewajibkan menginap di hotel, aku dan Ibu Dita
jadi ditempatkan dalam satu kamar untuk menghemat anggaran. Awalnya canggung
dan tidak enak karena dia pejabat eselon III dan aku hanya CPNS tapi Ibu Dita
meyakinkanku agar santai dan cuek saja.
Di dalam kamar, Ibu Dita
merasa nyaman denganku, dia banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya.
Awalnya juga aku merasa tidak enak, namun Ibu Dita meyakinkanku dan
menempatkanku sebagai sahabatnya. Dinding tinggi yang membatasi kami seakan
hilang ketika sudah bicara berdua. Usianya terpaut delapan tahun dariku, tapi
walau berbeda usia Ibu Dita seperti anak muda. Penampilannya sangat kekinian
dan tahu macam-macam hal yang up to date.
Dari gosip selebritis sampai trend
fashion terbaru, Ibu Dita tahu itu semua.
Jujur, aku mengaguminya.
Melihat kehidupannya begitu sempurna, seorang perempuan muda yang sudah sukses
dalam karir dan keluarga. Sering aku merasa Tuhan tidak adil, aku anak yang hidup dalam kesusahan,
karir pas-pasan, kepintaran juga pas-pasan kalau dalam prosesor komputer
mungkin otakku hanya pentium dua, sementara Ibu Dita core i7.
Ibu Dita terlahir dari
keluarga ningrat di Jawa, punya suami sukses dan anak-anak yang cerdas. Aku
yang sering mengantar laporan ke rumah Ibu Dita di luar jam kerja, sering
bertemu dengan anak-anaknya dan ngobrol dengan mereka. Anak-anaknya bahagia dan
sukses dalam sekolahnya. Tidak ada kecacatan apapun dalam hidupnya, ibarat
kalau selebritis mungkin dia setara dengan Nia Ramadhani. Tak ada kurang
satupun.
Waktu berlalu hingga tanpa
terasa dua tahun kami bertugas bersama, hingga suatu hari AK1-itu adalah
istilah kami untuk surat keputusan mutasi atau pindah pejabat atau pelaksana-
memisahkan kami. Ibu Dita pindah ke luar kota.
Aku sedih. Tapi AK1 tidak bisa
ditolak walau dalam keadaan apapun juga, mau tidak mau ya harus mau Ibu Dita
pindah. Suatu Jumat sore Ibu Dita menghubungiku via BBM (Blackberry Messangger).
Deb, kita rayain yuk..
Rayain gimana Bu?
Kita jalan-jalan luar kota,
kita berempat aja..
Kapan Bu?
Besok, aku udah beli tiket
buat kalian bertiga.
Siap.
Tanpa diduga Ibu Dita
membelikan tiket untuk kami ke Bali. Melihat harga tiketnya saja aku terkejut,
ditambah lagi dengan menginap di hotel yang bagus dipinggiran pantai Nusa Dua.
Di pantai Nusa Dua Ibu Dita
mengajakku untuk ke café, ibu Dita
bilang hanya aku dan dia saja. Sebenarnya aku bingung, kenapa tidak mengajak
dua temanku, tapi Ibu Dita bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan.
“Deb, dari awal aku tuh
sebenernya pengen cerita ke kamu. Tapi nyari sikon yang enak tuh susah.. Kalau
di rumah udah sibuk sama anak-anak, di kantor sibuk kerjaan, bingung aku tuh
Deb..” katanya membuka pembicaraan.
“Ya Bu? Ada cerita apa ya Bu?..”
tanyaku
Aku menatap deburan ombak,
menyeruput es jeruk yang menambah kesegaran di sore hari.
“Aku mau minta maaf sama kamu,
selama ini kamu sudah banyak bantu aku Deb..”
Aku bingung dalam hati
bergumam, ’gila aja pejabat minta maaf ke umbi-umbian, lagian jika soal
pekerjaan ya memang sudah tugas gue kan..’
Belum selesai heranku,
tiba-tiba ada laki-laki paruh baya yang entah datang dari mana muncul di
samping Ibu Dita. Dia memeluk dan mencium bibir Ibu Dita. Aku tahu itu bukan
suaminya.
Aku menelan ludah. Seketika
aku kikuk, bingung harus bagaimana.
“Deb, kenalin.. Ini pacar
aku..”
Sekujur tubuhku langsung
merinding. ‘Wait.. WHAT??’ dalam otakku timbul pertanyaan besar yang mungkin
dengan kemampuan pentiium dua tidak mampu mencerna dengan cepat.
Aku tak bisa berkata apapun.
Hanya tertegun sesekali menelan ludah. Padahal gelas es jeruk yang masih ada separuh
isinya ada di depanku, tinggal ambil dan teguk tapi susah dilakukan, tanganku
seperti membeku.
“Aku tahu apa yang kamu
pikirin Deb, kamu pikir aku selingkuh?”
‘Padahal gue nggak mikir
seperti itu, kok Ibu langsung negatif saja’ kataku dalam hati
Aku geleng-geleng kepala.
Si laki-laki melihatku,
mungkin dia merasa bingung dengan ekspresi terkejutku. Bisa jadi dia berpikir
aku tidak tahu apa-apa tentangnya dan ini informasi pertama yang aku terima.
“Aku ke kamar dulu deh ya
sayang, kamu ngobrol aja dulu sama anak buahmu..” pamit si laki-laki sambil
mencium bibir Ibu Dita. Ibu Dita mengangguk, menatap si laki-laki berjalan jauh
membelakanginya.
Aku merasa hal yang tidak
nyaman, walau sebenarnya wajar saja ini kan Bali, pulau kebebasan.
“Jadi gini Deb, sembari
diminum es jeruknya..” Ibu Dita bicara santai sembari makan kentang goreng.
“Aku bercerai. Dan dia
pacarku. Kami mau nikah dalam waktu dekat. Simpelnya seperti itu”
“Ooh..” Cuma Oh yang keluar
dari mulutku.
Bagaimana tidak Oh, ini Ibu
Dita. Sosok perempuan yang aku kagumi, bahkan aku bercita-cita bisa menjadi
sepertinya. Ibu Dita yang kukenal selalu bercerita keharmonisan keluarganya,
bahkan belum lama dia cerita suaminya minta dia hamil lagi, lalu kapan
cerainya?
“Bu, kan Ibu belum lama cerita
ke aku mau punya anak lagi? Aku bingung” akhirnya kalimat pertama keluar dari
mulutku, seakan menggedor pintu-pintu jawaban.
“Aku bohong sama kamu”
“Ibu bohong ke aku maksudnya
apa Bu?”
“Deb, kita ini PNS, PNS hidup
harus sempurna. Punya rumah tangga baik-baik aja, punya kehidupan baik-baik
aja. Jadi ya aku cerita ke kamu hal yang baik-baik aja. Supaya kamu nanti saat
menjadi PNS kamu bisa seperti aku, jadi PNS yang baik-baik aja. Bangun imej
kaya gitu..”
“Bu, tapi apa gunanya bohong
sama aku? Aku kan nggak akan cerita ke siapa-siapa juga kalau Ibu cerita apa
adanya..”
“Ya justru itu sekarang aku
cerita ke kamu, apalagi nanti mungkin kita nggak akan ketemu lagi. Kemungkinan
kita satu kantor lagi itu kecil.. Terus karena pisah kantor, kita akan
disibukkan dengan kegiatan kita masing-masing. Aku nggak mau bohong lagi sama
kamu”
“Tapi kenapa Bu? Selama ini
aku kagum sama Ibu, kagum dan pengen seperti Ibu..”
Dalam hati aku merasa sangat
kurang ajar bicara seperti itu kepada pejabat eselon III. Sesaat aku merasakan
kekecewaan, buat apa dia cerita hal-hal bagus kalau ternyata dalamnya palsu.
“Suatu saat kamu akan ngerti
Deb, kantor kita tidak bisa menerima hal yang tidak lazim. Aku cerai, itu hal nggak
lazim, nggak wajar. Kalau kamu tahu, dan banyak orang tahu, aku akan dianggap
contoh yang nggak baik.”
“Ya apa peduli mereka Bu? Kan
yang gaji bukan mereka, kenapa mikirin banget omongan orang?” aku bicara
semakin lepas kendali. Mungkin karena emosi. Hari begini di abad yang sudah
maju, orang cerai bagiku wajar sekali. Daripada menjalani pernikahan palsu,
atau bahkan kehidupan palsu, banyak orang pura-pura bahagia, dalamnya sengsara.
“Aku tahu kamu kecewa, aku
minta maaf ya.. Makanya aku ajak kamu kesini, aku mau nebus, aku nggak mau kamu
berpikiran aku ini sempurna. Aku tahu kamu sering cerita ke teman-teman lain
kalau kamu ingin seperti aku. Makanya aku kasih tahu sekarang, Deb. Kamu jangan
seperti aku. Jika kamu ingin apa adanya, jadilah apa adanya kamu dari sekarang
sebelum kamu memulai karirmu, hidupmu di instansi ini. Sebelum terlambat
seperti aku, orang-orang tidak mentolerir cacat sedikit di dalam kehidupan
sempurna, biasanya akan hancur dan terbawa selamanya.”
Aku diam.
Pikiranku berkecamuk hebat,
kalau dipikir ulang semua kata-katanya benar. Memang yang aku lihat banyak
kehidupan palsu tapi juga buat apa menunjukkan kehidupan sebenarnya ke
orang-orang kantor? Bagiku mereka kan hanya kehidupan pekerjaan, ada circle lain di luar kehidupan pekerjaan.
Teman-teman kampus, teman-teman pergaulan, mengapa harus terpaku pada kehidupan
di kantor?
Sekilas aku merasakan
kesedihan melihat Ibu Dita. Dia berjuang bertahun-tahun tampil seperti
perempuan sempurna, ternyata kehidupannya begitu rapuh dan menyedihkan. Aku
masih bingung apa yang harus aku rasakan, sedih atau senang? Ya seharusnya aku
merasa senang, akhirnya Ibu Dita menemukan laki-laki yang sepertinya sangat
menyayanginya. Bukan laki-laki yang bercerai dengannya yang mungkin saja
menyakitinya, karena perceraian itu terjadi pasti karena disakiti, kan?
“Aku terpaksa begini, Deb.
Kalau orang-orang tahu aku cerai dan tau-tau ada pacar, pasti pikirannya
macam-macam. Pasti komennya macam-macam. Aku nggak mau Deb, aku jaga imej ku
dan anak-anakku”
“Jangan kamu kira ini mudah,
aku juga lelah berjuang selama ini sendirian, keluargaku nggak ada yang mau
bantu, aku mengusahakan semuanya sendirian. Sakit dan sedih yang aku rasakan
tiap saat harus pura-pura semua baik-baik saja setiap harinya. Belum lagi
dengan anak-anakku, perjuangan agar mereka mau menerima keputusan perceraian
ini, berat Deb..Namun akhirnya mereka semua menerima dan sekarang malah bahagia”
tambahnya.
Aku mengangguk. Aku merasa iba
padanya. Ibu Dita, sosok yang dikagumi di kantor, di pergaulan ternyata
kehidupannya tidak seperti yang dituturkan. Berjuang tampil sempurna, tersenyum
dan tertawa dihadapan orang-orang tapi dia menangis di tengah malam dalam
kesendirian, berjuang menghadapi perceraian yang bahkan aku tidak tahu kapan.
Aku merasa menyesal karena seperti orang lain yang menuntut kesempurnaan
darinya. Dari raut wajahnya terbesit sisa-sisa kelelahannya dalam
pertarungannya, dan juga kemenangan akhir yang dia tunjukan tadi di depanku,
dengan mendapatkan laki-laki yang menyayanginya. Melihatnya aku berpikir betapa
hebat perempuan di depanku ini, dia berjuang dan bertarung dalam diam, tanpa
heboh, tanpa bantuan dan support
orang. Aku berpikir ingin meneguhkan hati, ingin apa adanya saja, tidak ingin
memedulikan suara sumbang omongan orang, biarlah aku menjadi apa adanya, yang jauh
dari kesempurnaan.
Tapi bukankah tidak ada orang
yang sempurna?

Komentar
Posting Komentar