Langsung ke konten utama

Postingan

Penjaga Nusantara

Kebayang nggak kamu punya rumah besar dengan banyak bangunan bangunan terpisah oleh luasnya hamparan hutan lebat dengan sungai dalam dan berkelok? Kamu mempunyai harta yang   sangat banyak, emas berlimpah ruah, stok makanan menggunung untuk   anak cucu kamu dan penerus kamu, sehingga kamu harus menjaganya benar-benar dari pencuri nakal yang nekat mengambil hartamu, dan kamu memperkerjakan banyak security untuk menjaga rumah-rumah mu dan hartamu dari orang nekat yang nggak baik niatnya. Kira-kira itulah Indonesia. Negeri ini negeri kepulauan dengan pulau sebanyak tujuh belas ribu lebih yang terpisah oleh lautan dalam dan dua samudera serta dua benua yang mengapitnya. Indonesia adalah negara surga, bahkan digambarkan sebagai Atlantis yang hilang oleh banyak penulis dan peneliti terkenal. Sebut saja Profesor Santos dengan karyanya Atlantis ada di Indonesia. Bagi yang mengetahui kisah Atlantis yang dipopulerkan oleh filsuf terkenal Plato, bahwa Atlantis adalah negeri gema...

Menjadi Agen Bea Cukai Yang Baik

Siang makin memanas, begitu pun obrolan kami saat itu. Tak ada yang istimewa, hanya dua cangkir berisi kopi yang hampir habis, dan asbak penuh abu dan puntung rokok. Sebut saja namanya Bisot, dia adalah kawan saya yang paling baik di kantor. Ya bukan berlebihan, tapi dia adalah sosok kakak, senior, dan pejabat yang memberi masukan teramat istimewa untuk junior seperti saya. Saya dan Bisot, adalah pegawai dan pejabat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, kami sama-sama dari penerimaan umum, bukan dari sekolah istimewa STAN. Yang membedakan Bisot dan saya adalah, saya dari penerimaan umum D1 sementara dia dari penerimaan sarjana yang membuatnya cepat naik jabatan menjadi pejabat Eselon IV. Saat itu Bisot menjabat kepala kantor di salah satu kantor pelayanan yang dekat dengan perbatasan timur Indonesia. “Deb, nggak ada yang keren di sana.. Hanya ada kelompok penjaga perbatasan dengan pegawai kurang dari dua puluh orang dan semangat kerjanya redup terang.. ” Bisot berusaha...

SADAR

Aku melirik jam dinding, rasa kantuk masih menyelimuti mataku. Huuft, baru jam 22.00. Tapi jam segini sudah terbangun. Rasanya harus memulai lagi rutinitas sepi. Entah mengapa beberapa waktu ini hidupku berubah, aku tak ingat mengapa aku yang tak pernah tidur lebih dari jam 09 malam kini menjadi berubah menjadi seperti orang yang mengalami insomnia. Sekarang aku selalu terbangun pukul 22.00. Dan mataku terjaga hingga pukul 04.00 pagi. Lalu, aku tertidur kembali hingga malam harinya dan terbangun lagi pukul 22.00. Karena perubahan waktu itu, aku jadi tak lagi menjadi orang normal. Setiap hari seperti itu, tak lagi menjalani rutinitasku seperti sebelumnya. Kuliah dan menghabiskan jatah bulanan ayah di rumah yang diwariskannya untukku di kota Bandung ini. Rumah tampak sepi, bi Inah sudah pergi pastinya. Dia selalu pergi sebelum aku terbangun, dia menyiapkan segelas susu, kue dan bunga sedap malam yang kusukai. Aku bangkit dari tempat tidurku, menjejakkan kaki dan melangkah ke dapur,...

PELUK - Dee Lestari

Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini? Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri? Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta. Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanmu sendiri dengan mulut terkatup rapat dan rahang mengencang. Aku ingin bilang, aku paham kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah katapun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. ...