Langsung ke konten utama

Postingan

Bersyukurlah, kemudian pinta pada Tuhan

Siang ini ada obrolan menggelitik hati saya. Maklum, saya kan bekerja di lingkungan hanya itu-itu saja. Maksudnya ruang lingkup pergaulan hanya seputaran pegawai bea dan cukai aja. Jadinya kalo ngobrol sama teman kantor itu pasti nggak jauh dari ‘Eh, kenal si A gak? Dulu dia ditempatin di bagian X, sekarang udah pindah aja ke bagian Z, makin makmur aja dia..’, atau ‘ Si B tanahnya di mana-mana, kaya banget dia, ditambah lagi tugasnya di bagian D, makin kaya aja dia..’ dan bla bla bla. Kayaknya setiap hari kalau nggak menggosipi orang lain tuh seperti nggak afdol hidup ini bagi teman kantor saya ini. Well, saya sih sebenernya hanya senyum-senyum aja dengerinnya, maklum aja kalau saya nggak tanggepin ya gak enak dong mereka kan senior sementara saya orang baru, tapi kalau saya menyahuti saya ikut-ikutan menggosipi orang, jadi saya hanya mendengarkan dengan maksud untuk menghargai mereka saja. Kalau saya mengikuti emosi dan perasaan saya, saya akan merasa iri mendengarnya ket...

Just Opinion

Di jepang ada yakuza Di hongkong ada triad Di italia ada Mafioso Di amrik ada hell angels Di Indonesia?? -- Beberapa bulan ini pemberitaan media semakin meresahkan, begitu banyak media/wartawan yang menayangkan berita yang belum jelas dengan judul berisi propaganda. Contohnya ketika saya menerima broadcast message berisi berita : Eksploitasi wali berjubah wali, yang menyertakan sebuah link menuju web Gatra yang memberitakan tentang kasus Habib H pemilik Majlis Taklim dan Dzikir NM. Lalu tak lama setelah itu, adalagi tentang Habib Rizieq Shihab pimpinan FPI, yang belum lama didemo Indonesia tanpa FPI oleh sejumlah masaa dan kemudian FPI 'membalasnya' dengan ramai-ramai mengadakan demo Indonesia tanpa Liberal. Halow Indonesiaaah?? Sadarkah kalian rakyar Indonesia sedang diapakan? Yah mungkin inilah periode 'kiamat' 2012. Bukan dalam arti secara sebenarnya akan kiamat, maybe. Tapi dalam artian memang akan 'kiamat', tanpa disadari bangsa Indonesia ten...

Filosofi Hujan

Seperti hujan yang jatuh dari langit menyejukkan bumi, begitu pun kamu, jatuh dari langit seperti bidadari, menyejukkan hatiku.. Seperti hujan, membasahi lahan yang tandus, begitu pun kamu, membasahi hatiku yang kering.. Seperti hujan dan petirnya, kadang kamu mengejutkanku dengan tingkahmu.. *edisi diduain* Seperti hujan dan badainya, kamu juga kadang membuatku terhempas.. *edisi diputusin* Seperti hujan dan gelapnya, kadang kamu membuatku gelap karena cinta yang buta.. *edisi cinta buta* Seperti hujan yang syahdu, kadang kamu menenangkanku *edisi baikan pasca berantem* Seperti hujan dan angin ributnya, berisik seperti kamu saat marah *edisi dapat pacar yang tukang ngomel* Seperti hujan dalam rintiknya, diam. Seperti kamu yang sedang tenang.. *ini pacarnya habis dibeliin BB jadi diem deh* Seperti hujan yang datang tanpa kbr, berhenti juga tanpa kabar.. Seperti kamu yang tak pernah mengabariku.. *ini pacarnya : aku gak punya pulsaaaaaa* Seperti hujan yangg tak kunjung datang ...

So What?

Kawan, ijinkan saya share tentang sedikit permasalahan yang sedang saya hadapi. Biarlah saya di cap sebagai tukang curcol, karena saya butuh pendapat kawan tentang ini. Begini permasalahannya.. Saya sebagai orang muslim bukan berarti saya tidak pernah mempelajari agama lain. Jujur saja, saya pernah meminjam injil dari sahabat saya yang belum saya pulangin sampe sekarang :P hanya karena saya butuh sebagai bahan di salah satu novel yang sedang saya buat. Novel itu menceritakan tentang komunitas rahasia di Jakarta yang mengikuti paham satanic. Komunitas itu memuja iblis-iblis yang namanya tercatat dalam buku kuno the lesser key of Solomon, buku yang mengkisahkan tentang Solomon yang mempunyai kerajaan jin dan iblis, Solomon yang menguasai raja jin dan iblis untuk menjadi pasukannya. Solomon yang hebat yang mengunci iblis dan jin agar patuh padanya. Dan dari buku itulah saya kisahkan komunitas yang menggunakan mantra-mantra dalam buku itu dan menjadikan jin dan iblis sebagai pasuk...

Where do you go?

Seperti barang tak terpakai, tersimpan di gudang yang gelap dan berdebu, terkunci rapat hingga usang. Entah sampai kapan harus menunggu, barang tak punya kaki, tak punya tangan untuk berpindah sendiri, yang tersisa hanya tinggal harapan, yang mungkin takkan kunjung datang. Seperti gurun pasir pengharap hujan, gersang, panas, penuh terik, hanya menunggu harapan kosong yang tak tahu kapan kan datang. Seperti tempat terasing di planet yang terjauh dari mentari, dingin, ber-es, sepi, senyap, tak ada kehidupan, menanti mendapatkan setitik cahaya matahari agar mencairkan bekunya es, hanya menunggu, entah kapan datang cahaya itu. Seperti rumah kosong tak berpenghuni, berdebu, kotor, usang, barang-barang rongsokan berserakan, sepi menunggu sang manusia yang akan menghuninya, entah sampai kapan.. Seperti langit tanpa awan, kosong, melompong, tak ada angin, tak ada hiasan, tak ada hujan, tak ada pelangi, tak ada badai, hanya biru datar, entah kapan terisi dengan indahnya warna p...

Renungan

Kawan, ijinkan saya menshare hasil renungan saya disaat sedih. *curcol :P*. Saat ini saya sedang sedih, prahara rumah tangga dan sakitnya anak saya membuat saya down. Sudah seminggu lebih anak saya tidak mau menyusu langsung dari saya. Saya jadi berpikiran anak saya lebih cinta pada dotnya dibanding puting saya, dan saat saya menggendong anak saya, dia malah menangis kencang, tapi pas digendong mbaknya, dia malah tertawa. Saya jadi berpikir lagi, kalau anak saya tak cinta saya lagi, dia lebih memilih mbaknya, karena keseharian lebih banyak dihabiskannya dengan mbaknya. Sedih saya semakin memupuk. Saya membutuhkan bantuan, saya tak sanggup menghadapi ini sendiri, saya butuh motivasi, tapi suami sibuk dengan pekerjaannya, dia lupa bahwa ada sosok istri yang sedang down menjalani masalah ini. Ditambah lagi dengan masalah ekonomi yang kian menghimpit, tuntutan hutang yang harus segera dilunasi, saya semakin down, saya tak tahu harus bagaimana lagi, betapa beratnya ujian yang harus ...

Right way or?

Pagi tadi saat perjalanan di bus jemputan saya berbalas tweet dengan teman saya yang orang Bea Cukai juga. Lucunya kami membahas masalah agama sepagi ini, bahasan yang berat untuk dimulai pagi hari. Saya sharing dengannya, kalau sebelum tahun 2008 saya tidak percaya agama. Saya percaya Tuhan itu ada, tapi saya tak percaya agama. Saya menjelaskan, karena saat itu saya berada dalam ruang lingkup pergaulan yang kacau. Saya sering membaca artikel yang saya browsing dari google, saya melihat berita di televisi dan koran yang kebanyakan memuat tentang perang Israel – Palestina, perang agama dan bahkan membaca sejarah tentang perang salib. Kebanyakan orang yang membaca itu dia akan membela agamanya dan membenci agama yang menjadi saingannya dalam perang itu, tapi tidak terjadi dengan saya. Saya memang terlahir sebagai Islam, karena orang tua saya Islam, tapi bukan berarti ketika membaca itu saya membela Islam. Saya berpikir terbalik, saya muak dengan perang, hati saya tersayat de...