Langsung ke konten utama

Where do you go?

Seperti barang tak terpakai, tersimpan di gudang yang gelap dan berdebu, terkunci rapat hingga usang. Entah sampai kapan harus menunggu, barang tak punya kaki, tak punya tangan untuk berpindah sendiri, yang tersisa hanya tinggal harapan, yang mungkin takkan kunjung datang.

Seperti gurun pasir pengharap hujan, gersang, panas, penuh terik, hanya menunggu harapan kosong yang tak tahu kapan kan datang.

Seperti tempat terasing di planet yang terjauh dari mentari, dingin, ber-es, sepi, senyap, tak ada kehidupan, menanti mendapatkan setitik cahaya matahari agar mencairkan bekunya es, hanya menunggu, entah kapan datang cahaya itu.

Seperti rumah kosong tak berpenghuni, berdebu, kotor, usang, barang-barang rongsokan berserakan, sepi menunggu sang manusia yang akan menghuninya, entah sampai kapan..

Seperti langit tanpa awan, kosong, melompong, tak ada angin, tak ada hiasan, tak ada hujan, tak ada pelangi, tak ada badai, hanya biru datar, entah kapan terisi dengan indahnya warna pelangi.

Seperti itulah penggambaran hati yang sepi, yang telah letih mengembara mencari cahaya, jika ada yang mengisi hanya datang silih berganti, kosong, e.m.p.t.y

Hati yang sepi, tak terisi oleh dzikrullah, tak ada nama ALLAH terukir di dindingnya, tak ada shalawat yang pernah terbesit, tak ada ukiran tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Bibir pun kelu tak pernah lagi mengucap dzikir dan doa, mata pun buta tak pernah lagi melihat keindahan masjid dan tatapan syahdu rindu kepada nama Illahi, telinga pun tuli tak pernah lagi mendengar suara adzan memanggil, wajah pun kusam tak pernah lagi terkena air wudhu, tangan pun kasar tak pernah lagi tersentuh oleh sedekah dan memberi pertolongan, kaki pun berat tak pernah melangkah lagi ke masjid dan majlis.

Kemana kah hati yang kosong itu melangkah? Kemana kah harapannya bersandar? Kemana kah senyumnya tertuju? Kemana kah tangisnya mengadu? Kemana kah jiwanya menghadap?

Kemanakah kita sebenarnya?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...