Langsung ke konten utama

Save Your Marriage

Setiap rumah tangga tak pernah luput dari prahara, setiap masalah silih berganti datang menerpa seperti badai yang menghantam.

Seperti dalam rumah tangga saya, tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Saat kita masih pacaran, segalanya serba indah. Apa yang ada di dirinya tak ada cela sedikit pun, semua serba sempurna seperti pangeran dari negeri impian. Begitu pun dengannya, dia pasti menganggap kita adalah seperti putri dari khayangan. Walau kita gendut, jelek, jerawatan, dan bawel, dia takkan melihat itu. Karena saat itu adalah masa di mana segalanya dibutakan oleh cinta.

Ketika menikah, saat-saat penyesuaian pun dimulai. Hal yang tadinya kita abaikan dan kita anggap biasa saja, kemudian menjadi hal yang tak bisa kita terima. Sedikit saja cela dari nya kita kan protes. Lalu kita menuntut agar dia berubah seperti yang kita inginkan, sesuai ego kita.

Tapi dia atau kita, hanya manusia biasa. Yang mana sudah mempunyai sifat, karakter dan prilaku masing-masing, kalau sudah karakter, kita tak akan bisa menuntutnya untuk berubah. Ambil contoh, misalnya (bukan menjeleki suku tertentu), pasangan kita orang Padang (ini pengalaman saya pribadi yaa), sudah seperti sifat sukunya yang terkenal bahwa orang Padang itu sukanya berdagang, dia takkan bisa kerja di bawah perintah orang dalam suatu perusahaan dan tak bisa kerja dibawah tekanan. Suami saya seperti itu, setiap dia kerja sama orang lain dalam perusahaan dia pasti ada ribut atau protes dengan atasan, dia tak terima di perintah yang baginya tak masuk akal, walau bagi saya pribadi sebenarnya masuk akal karena wajar saja kita sebagai bawahan ya harus siap diperintah apa saja dan kapan saja oleh atasan, kecuali kalau yang sudah melanggar norma-norma.

Tapi karena dia orang Padang, dia menolak, akhirnya dia memutuskan untuk resign dan membuka usahanya sendiri, menjadi bos untuk dirinya sendiri. Walau tidak semua orang Padang seperti itu ya..

Atau juga orang Surabaya, saya sebagai keturunan Solo yang merupakan Jawa halus, merasa kaget dan shock kalau ngomong sama orang Surabaya, kata-kata jancoek, asu dll itu keluar dari mulutnya ketika sedang marah terhadap seseorang atau sesuatu, walau dia hanya sekedar curhat dan cerita ke saya dan marahnya bukan untuk saya tapi nada dan kata-katanya begitu kasar menurut saya. 

Sebenarnya dia baik dan halus hatinya, hanya saja kata-katanya yang kasar tak menggambarkan itu. Saya tak menyalahkan dia, karena memang sudah bawaan asal daerahnya memang berdialeg seperti itu, sama halnya dengan orang Batak, Ambon dll. Bukan berarti mereka jahat dan kasar, karena terbiasa dengan dialeg asal daerah merekalah yang bagi orang Jawa itu mereka kasar.

Dalam pernikahan, hal yang sepele itu bisa jadi masalah besar. Suami orang Surabaya semenetara istri orang Solo, bisa menjadi pemicu pertengkaran tanpa ujung. Satu-satunya cara adalah adaptasi dan saling mengerti bahwa pembawaan dari kecil sulit diubah.

Selain dialeg, selera makanan/masakan juga bisa jadi penyebab pertengkaran. Istri Jawa penyuka kecap dan manis tentu tak sesuai dengan suami Minang yang suka pedas dan anti kecap, lagi-lagi semua itu bila tak ditangani dengan bijak akan menjadi sebabnya perselingkuhan. Yup, ada loh yang gara-gara masakan suami/istri bisa berpaling.

Walau, menurut penelitian saya pribadi, penyebab selingkuh dan perpecahan rumah tangga adalah:
1. tak ada uang
2. tak hebat di ranjang
3. tak ada kasih sayang.
4. tak ada iman dan rasa bersyukur.

Hey laki-laki dan perempuan, 3 syarat itulah yang mutlak harus dipenuhi dalam berumah tangga. Maaf saya menempatkan posisi uang dalam posisi pertama, karena kebanyakan memang perceraian karena uang, suami tak bekerja istri tak dipenuhi/kurang ekonominya, gaji istri lebih besar dari suami, atau suami kebanyakan uang dan istri tak bekerja lalu suami main perempuan dan si istri cemburu minta cerai, dll.

Dan sebab saya menempatkan kasih sayang di bawah tak hebat di ranjang karena memang tak bisa dipungkiri, seks itu unsur penting melebihi kasih sayang, kalau masih pacaran jelas kasih sayang itu di atas segala-galanya, tapi ketika sudah menikah apalagi usia pernikahannya sudah lama jelas seks penting. Banyak orang selingkuh karena seks di luar lebih hebat dibanding pasangannya sendiri. 

Tak ada kasih sayang, sudah syarat mutlak pernikahan tanpa cinta dan kasih sayang tak akan mungkin bisa dipertahankan, sementara tak ada iman dan rasa bersyukur maka segala yang dipunyai dan diberi oleh pasangan akan terasa kurang terus walau dia sudah memberi 3 point sebelumnya. Jadi semua itu adalah masalah hati individual  orang yang tak pernah bersyukur akan apa yang telah dimilikinya, dan selalu iri kepada apa yang dimiliki orang lain.

Bila dianalogikan menjadi suatu rumah, uang/kekayaan/kejahteraan (nafkah lahir*) adalah batu batanya, seks (nafkah batin*) adalah semen/perekatnya, maka iman/rasa bersyukur adalah pondasi/tiangnya, dan kasih sayang  adalah atapnya. Tak ada rumah tangga (mendekati) sempurna tanpa unsur itu semua.

Jadi yang punya masalah pernikahan, selesaikan dan penuhi dulu 4 persyaratan di atas. 

Demikian analisa saya, sekian dan terima kasih :))




*Laki-laki sebagai imam dan kepala keluarga adalah sebagai pewajib yang harus memenuhi nafkah lahir dan batin, perempuan sebagai istri, ibu dan pengatur rumah tangga pewajib yang juga harus memenuhi nafkah batin, dan nafkah lahir sebagai optional apabila suami butuh bantuan finansial (istri bekerja) 






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korea oh Korea

Hi all ^^. Berhubung gue lagi suka banget sama yang berbau Korea gue mau copast beberapa hal yang lagi gue sukai. ^^ Lagu yang lagi gue suka. Lagu lama siih, tapi gue masih suka aja, lagu ini adalah original soundtrack dari film lama korea yang judulnya Full House. Dengan bintang kesukaan gue, yakni RAIN! ^^. Synopsis A story about love and heartbreak, sadness and self-preservation.A naive, cheerful albeit, somewhat of a recluse writer, Han Ji Eun (Song Hye Gyo) is swindled out of everything she owns. Not by strangers, but her best friends! Stranded in another country, she is determined to get home with the help of an actor, Lee Young Jae (Bi), only to find that all which is precious to her has been sold. In an attempt to get her possessions back, she has entered in a contract marriage with Young Jae. It is quite simple, until feelings start to develop. Everyone around them test the “love” Young Jae and Ji Eun have for one another, including Young Jae’s grandmother.In spite of it all, ...

Kutukan Maut Berantai

Dapat kutukan maut dari si RIU , yah mau gimana lagi.. Belum diselesaikan kutukannya eh dapat lagi kutukan dari YUDI dan TEBEH . Arh, sial -______-". Karena isi kutukannya harus membuka kartu 11 FACT ABOUT ME, okay here we go... 1. Gue sangat membenci KECOA. I hate you paparoach! Gue harap lo punah kayak dinosaurus. 2.Gue tipe orang yang berpikir nggak ada duit = dunia datar. Yah walau ada pepatah uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang bro. *Astajim, matre amat gue -______-" 3.Walau gue nggak begitu suka buku Twilight Saga, tapi sumpah gue suka banget sama si Edward Cullen, gue suka cowok romantis, ganteng, baik hati, tidak sombong, keren dan terutama RICH. *masih matre juga gue -____-" 4. Walau gue suka banget horror, uka-uka, adrenaline pumping, tapi gue penakut abis sama hal-hal ghaib. Gue mudah parnoan kalau ngeliat yang sekelebat nggak jelas. 5. Gue takut air yang banyak. Misalnya kolam renang, laut, danau,, sungai. Gue hanya berani di pinggir-...

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...