Menyambut bulan suci Ramadhan, saya ingin mengaktifkan kembali jiwa nge-Blog, dan berusaha membuat tulisan selama 29/30 hari di bulan ini. Tulisan yang akan saya angkat adalah seputar kisah nabi-nabi yang ada dalam agama Abrahamik, seputar demonology dan angelology. Untuk kisah pertama saya ingin mengangkat manusia pertama di bumi yaitu Adam.
Cekidot..
--
Cekidot..
--
Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa Adam (Ibrani:
אָדָם; Arab:آدم, berarti tanah, manusia,
atau cokelat muda) (hidup sekitar 5872-4942 SM) adalah dipercaya oleh agama-agama
Samawi sebagai manusia pertama, bersama dengan istrinya yang bernama
Hawa. Menurut Agama Samawi
pula, merekalah orang tua dari semua manusia yang ada di dunia. Rincian kisah
mengenai Adam dan Hawa berbeda-beda antara agama Islam, Yahudi, Kristen,
maupun agama lain yang berkembang dari ketiga agama Abrahamik ini.
Adam menurut
Islam
Adam hidup
selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM), sedangkan Hawa lahir ketika Adam
berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah
[2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25.
Menurut
ajaran agama Abrahamik, anak-anak Adam dan Hawa dilahirkan secara kembar,
yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan.
Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar
dengannya.
Menurut Ibnu Humayd, Ibnu Ishaq,
dan Salamah anak-anak Adam
adalah: Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda, Sith dan Azura, Ashut dan saudara
perempuannya, Ayad dan saudara perempuannya, Balagh dan saudara perempuannya,
Athati dan saudara perempuannya, Tawbah dan saudara perempuannya, Darabi dan
saudara perempuannya, Hadaz dan saudara perempuannya, Yahus dan saudara
perempuannya, Sandal dan saudara perempuannya, dan Baraq dan saudara
perempuannya. Total keseluruhan anak Adam sejumlah 40.
Adam menurut
Kristen dan Yahudi
Kisah
tentang Adam terdapat dalam Kitab
Kejadian pada Torah dan Alkitab pasal 2 dan 3,
dan sedikit disinggung pada pasal 4 dan 5.
Beberapa rincian lain tentang kehidupannya dapat ditemukan dalam kitab-kitab apokrif,
seperti Kitab Yobel, Kehidupan
Adam dan Hawa, dan Kitab Henokh.
Menurut
kisah di atas, Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Adam kemudian
ditempatkan di dalam Taman Eden yang berarti tanah daratan, terletak di hulu
Sungai Pison, Gihon, Tigris, dan Efrat (di sekitar wilayah Irak saat ini). Ia
kemudian diperintahkan oleh-Nya untuk menamai semua binatang. Allah juga
menciptakan makhluk penolong, yaitu seorang wanita yang oleh Adam dinamai Hawa.
Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden dan berjalan bersama Allah, tetapi akhirnya
mereka diusir dari taman itu karena mereka melanggar perintah Allah untuk tidak
memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Setelah
diusir dari taman itu, Adam harus bekerja untuk menghidupi keluarganya. Adam
dan Hawa mempunyai tiga orang putra yang disebut dalam Kitab
Kejadian, yaitu Kain, Habel, Set,
dan sejumlah putra dan putri yang tidak disebutkan jumlahnya. Kitab Yobel menyebutkan
dua orang anak perempuan Adam dan Hawa, yaitu Azura yang menikah dengan Set dan
Awan, yang menikah dengan Kain. Baik Kitab
Kejadian maupun Kitab Yobel menyatakan
bahwa Adam mempunyai anak yang lain, tetapi nama mereka tidak disebutkan.
Menurut
silsilah Kitab Kejadian, Adam meninggal dunia pada usia
930 tahun. Dengan angka-angka seperti itu, perhitungan seperti yang dibuat oleh
Uskup Agung Ussher,
memberikan kesan bahwa Adam meninggal hanya sekitar 127 tahun sebelum kelahiran
Nuh, sembilan generasi setelah
Adam. Dengan kata lain, Adam masih hidup bersama Lamekh (ayah Nuh) sekurang-kurangnya
selama 50 tahun. Menurut Kitab Yosua,
kota Adam masih dikenal pada saat bangsa Israel
menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki Kanaan.
Menurut
legenda, setelah diusir dari Taman Eden, Adam pertama kali menjejakkan
kakinya di muka bumi di sebuah gunung yang dikenal sebagai Puncak Adam
atau Al-Rohun yang kini terdapat di Sri Lanka.
Adam menurut
Baha’i
Agama Bahá’í dimulai di
Iran pada abad 19.
Pendirinya bernama Bahá’u’lláh. Pada
awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahá’í sekitar enam juta orang yang
berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.
Dalam ajaran
Bahá’í, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat
manusia melalui para utusan Tuhan, yang disebut para "Perwujudan Tuhan".
Bahá’u’lláh dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru. Dia mengaku sebagai
pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam
agama Kristen,
Islam,
Buddha,
dan agama-agama lainnya. Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan
pondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan
keadilan, yang dipercayai umat Bahá’í pasti akan datang.
Mendasari
ajaran Bahá’í adalah asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat
manusia. Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran
kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Bahá’í. Misalnya, orang-orang Bahá’í
tidak menganggap "persatuan" sebagai suatu tujuan akhir yang hanya
akan dicapai setelah banyak masalah lainnya diselesaikan lebih dahulu, tetapi
sebaliknya mereka memandang persatuan sebagai langkah pertama untuk memecahkan
masalah-masalah itu. Hal ini tampak dalam ajaran sosial Bahá’í yang
menganjurkan agar semua masalah masyarakat diselesaikan melalui proses musyawarah.
Sebagaimana dinyatakan Bahá’u’lláh: "Begitu kuatnya cahaya persatuan,
sehingga dapat menerangi seluruh bumi." Iman Baha'i adalah agama
Abrahamik.
Menurut pandangan Baha'i,
Adam adalah perwujudan Allah yang pertama dalam sejarah. Penganut Baha'i
meyakini bahwa Adam memulai siklus Adamik yang berlangsung selama 6.000 tahun
dan berpuncak pada Nabi Muhammad.
Wujud Adam
menurut Islam
Menurut hadits
Muhammad
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan
ketinggian 60 hasta
(kurang lebih 27,432 meter). Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim
dan Imam Ahmad,
namun dalam sanad yang berbeda.
Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan
ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga yang berperadaban maju. Turun ke
muka bumi bisa sebagai manusia dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan
jauh lebih cerdas dari peradaban manusia sampai kapanpun, oleh karena itulah
Allah menunjuknya sebagai `khalifah` (pemimpin) di muka bumi.
Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan
oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain
sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al
Israa' 70, yang berbunyi:
|
“
|
...dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak
Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki
dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna
atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Al Israa' 17:70)
|
”
|
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:
|
“
|
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya. (At Tiin 95:4)
|
”
|
Menurut riwayat di dalam Al-Qur'an, ketika Nabi Adam as baru selesai
diciptakan oleh Allah, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran
kemuliaan dan kecerdasannya itu, menjadikannya makhluk yang punya derajat amat
tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari
gambaran manusia purba menurut Charles
Darwin, yang digambarkan berjalan dengan empat kaki dan menjadi
makhluk purba berpakaian seadanya.
Diriwayatkan dari Abu Huraira, Nabi berkata: “Allah
menciptakan Adam dan tingginya 60 kubit. Kemudian Ia berkata, ‘Pergilah dan
berilah salam kepada para malaikat dan dengarkanlah bagaimana mereka memberi
salam kepadamu, karena itu akan menjadi salam bagimu dan salam bagi
keturunanmu’. Ia berkata, `Al-salaamu `alaykum (damai besertamu).’ Mereka
berkata, `Al-salaamu `alaykum wa rahmat-Allaah (damai ada atasmu dan kemurahan
Allah).’ Maka mereka menambahkan kata-kata `wa rahmat Allaah.’ Dan setiap orang
yang memasuki firdaus akan memasukinya dalam bentuk/wujud Adam. Orang
senantiasa menjadi semakin pendek hingga sekarang”. Imam Bukhari no. 3336 juga
no.246; Muslim 7092, juga al-Haafiz ibn Hajar di Fath al-Baari (6/367)
Penciptaan
Adam menurut Islam
Penciptaan Adam adalah kisah penciptaan manusia yang pertama. Adam
diriwayatkan sebagai satu daripada ciptaan Allah swt. yang paling kontroversi
atau paling disebut-sebut oleh makhluk Allah yang lain. Peristiwa
tersebut disebut dalam al-Qur'an dan hadits Rasulullah Muhammad saw.
|
“
|
Ketika Allah berfirman kepada malaikat:
Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. Mereka bertanya
(tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): Adakah Engkau (Ya Tuhan
kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan
menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan
mensucikanMu?. Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang
kamu tidak mengetahuinya. (Surat Al
Baqarah: 30)
|
Allah telah memerintahkan Malaikat
Jibril turun ke bumi untuk mengambil sebahagian tanah sebagai bahan
untuk menjadikan Adam. Walau bagaimanapun, bumi enggan membenarkan tanahnya
diambil malah bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak rela untuk
menyerahkannya kerana kebimbangannya seperti yang dibimbangkan oleh para
malaikat.
Jibril kembali setelah mendengar sumpah tersebut lalu Allah mengutuskan
pula Malaikat Mikail dan kemudiannya Malaikat
Israfil tetapi kedua-duanya juga tidak berdaya hendak berbuat
apa-apa akibat sumpah yang dibuat oleh bumi. Maka, Allah memerintahkan Malaikat
Izrail untuk melakukan tugas tersebut dan mendesak bumi agar tidak
menolak walaupun bumi bersumpah karena tugas tersebut dijalankan atas perintah
dan nama Tuhan.
Maka, Izrail turun ke bumi dan mengatakan yang kedatangannya adalah atas
perintah Allah dan memberi amanat kepada bumi untuk tidak membantah yang
memungkinkan bumi mendurhakai Allah. Menurut Ibnu Abbas, tanah bumi dan syurga
digunakan untuk dijadikan bahan mencipta Adam. Tanah tersebut adalah:
- Tanah Baitulmuqaddis (Palestin) - kepala sebagai tempat kemuliaan untuk diletakkan otak dan akal.
- Tanah Bukit Tursina (Mesir) - telinga sebagai tempat mendengar dan menerima nasihat.
- Tanah Iraq - dahi sebagai tempat sujud kepada Allah.
- Tanah Aden (Yaman) - muka sebagai tempat berhias dan kecantikan.
- Tanah telaga Al-Kautsar - mata sebagai tempat menarik perhatian.
- Tanah Al-Kautsar - gigi sebagai tempat memanis-manis.
- Tanah Kaabah (Makkah) - tangan kanan sebagai tempat mencari nafkah dan bekerjasama.
- Tanah Paris (Perancis) - tangan kiri sebagai anggota untuk melakukan istinjak.
- Tanah Khurasan (Iran) - perut sebagai tempat berlapar.
- Tanah Babilon (Iraq) - kelamin sebagai organ seks dan tempat bernafsu serta godaan syaitan.
- Tanah Tursina (Mesir) - tulang sebagai peneguh manusia.
- Tanah India - kaki sebagai anggota berdiri dan berjalan.
- Tanah Firdaus (Syurga) - hati sebagai tempat keyakinan, keimanan, dan kemahuan.
- Tanah Taif (Arab Saudi) - lidah sebagai tempat untuk mengucapkan syahadah, syukur dan do'a.
Penyempurnaan
Tubuh Adam mempunyai sembilan rongga atau liang. Tujuh liang di kepala dan
dua di bawah badan yaitu dua mata, dua telinga, dua hidung, satu mulut, satu dubur dan satu uretra. Lima panca indera
dilengkapi dengan anggota tertentu seperti mata untuk penglihatan, telinga
untuk pendengaran, hidung untuk pengesanan bauan, lidah untuk perasa seperti
asam, asin, manis dan pahit dan kulit untuk
sentuhan bagi panas,
dingin, tekanan,
viskositas
dan sakit.
Ketika Allah menjadikan tubuh Adam, tanah dicampurkan dengan air tawar,
asin dan anyir beserta api dan angin. Kemudian Allah resapkan Nur ke dalam
tubuh Adam dengan pelbagai "sifat". Lalu tubuh Adam digenggam dengan
genggaman Jabarut dan diletakkan di dalam Alam Malakut. Tanah itu
dicampurkan lagi dengan istilah wewangian dan ramuan dari Nur-Sifat Allah dan
dirasmi dengan "Bahrul Uluhiyah". Kemudian, tubuh tersebut
dibenamkan dalam "Kudral 'Izzah" iaitu sifat "Jalan dan
Jammal" lalu disempurnakan tubuh tersebut.
Waktu kejadian manusia tidak disebut berapa lama walaupun melalui apa cara
perhitungan sekalipun seperti dalam al-Quran:
"Bukankah telah berlalu kepada manusia satu ketika dari masa (yang
beredar), sedang dia (masih belum wujud lagi dan) tidak menjadi sesuatu benda
yang disebut-sebut..." (Surat Al
Insaan:1)
Menurut keterangan ulama, tubuh Adam diselubungi dalam tempo 120 tahun, 40
tahun di tanah yang kering, 40 tahun di tanah yang basah dan 40 tahun di tanah
yang hitam dan berbau. Dari situ, Allah ubah tubuh Adam dengan rupa kemuliaan
dan tertutuplah dari rupa hakikatnya. Karena proses kejadian itu melalui
peringkat yang "kotor", tidak heran Malaikat dan Iblis memandang
rendah akan kejadian manusia yang diciptakan dari tanah.
Masuknya roh
Roh diperintah Allah untuk memasuki jasad Adam tetapi seperti makhluk lain,
roh juga enggan, malas dan segan karena jasad yang seperti batu. Dikatakan ruh
berlegar-legar mengelilingi jasad Adam sambil disaksikan malaikat. Kemudian,
Allah memerintahkan Malaikat Izrail memaksa ruh memassuki tubuh
tersebut masuk ke dalam tubuh Adam. Ia memasukkannya ke dalam tubuh dan roh
secara perlahan-lahan masuk hingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun.
Setelah meresapi ke kepala Adam, maka berfungsilah otak dan tersusunlah urat saraf dengan sempurna.
Lalu, terjadilah mata dan terus terbuka melihat tubuhnya yang masih keras dan
malaikat di sekelilingnya. Telinga mulai berfungsi dan didengarnya kalimah tasbih para
malaikat. Apabila roh tiba ke hidung, lalu ia bersin dan mulutnya juga terbuka.
Allah mengajarkan kalimah "Alhamdulillah" yang merupakan
kalimah pertama diucapkan Adam dan Allah sendiri yang membalasnya.
Kemudian, roh tiba ke dadanya lalu Adam berkeinginan untuk bangun padahal
tubuhnya yang bawah masih keras membatu. Ketika itu ditunjukkan sifat manusia
yang terburu-buru. Ketika roh sampai di perut, maka organ dalam dan perut
tersusun sempurna dan saat itu Adam mula merasakan lapar. Akhirnya, roh meresap
ke seluruh tubuh Adam, tangan dan kaki dan berfungsilah dengan sempurna segala
darah daging, tulang, urat saraf dan kulit. Menurut riwayat, kulit Adam amat
baik ketika itu berbanding kulit manusia di kini dan warnanya masih dapat
dilihat di kuku sebagai peringatan kepada keturunan manusia.
Dengan itu, sempurnalah sudah kejadian manusia
pertama dan Adam digelar sebagai "Abul Basyar" iaitu Bapa
Manusia. Walau bagaimanapun, hanya Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelaran
"Abul Ruh" atau "Abul Arwah" iaitu Bapa
segala Roh.
Ada pertanyaan
menarik, adakah mahluk sejenis manusia sebelum Adam? Apakah Adam orang ke
delapan yang hidup di muka bumi?
Makhluk sebelum Adam
Mengenai penciptaan Adam sebagai khalifah di muka bumi diungkapkan dalam
Al-Qur'an:
|
“
|
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
Malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”.
Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah
Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat
bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami senantiasa
bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya
Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Baqarah 30)
|
”
|
Menurut syariat
Islam, Adam tidak diciptakan di Bumi, tetapi diturunkan dimuka bumi sebagai
manusia dan diangkat /ditunjuk Allah sebagai Khalifah (pemimpin/pengganti
/penerus) di muka bumi atau sebagai makhluk pengganti yang tentunya ada makhluk
lain yang di ganti, dengan kata lain adalah Adam 'bukanlah makhluk berakal
pertama' yang memipin di Bumi.
Dalam Al-Quran
disebutkan tiga jenis makhluk berakal yang diciptakan Allah yaitu manusia, jin,
dan malaikat. Manusia dan Jin memiliki tujuan penciptaan yang sama oleh karena
itu sama-sama memiliki akal yang dinamis dan nafsu namun hidup pada dimensi
yang berbeda. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis dan tidak
memiliki nafsu karena tujuan penciptaanya sebagai pesuruh Allah. Tidak tertutup
kemungkinan bahwa ada makhluk berakal lain selain ketiga makhluk ini.
Dari ayat
Al-Baqarah 30, banyak mengundang pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat
kerusakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat di atas. Dalam Arkeologi,
berdasarkan fosil
yang ditemukan, memang ada makhluk lain sebelum manusia. Mereka nyaris seperti
manusia, tetapi memiliki karakteristik yang primitif
dan tidak berbudaya.
Volume otak
mereka lebih kecil dari manusia, oleh karena itu, kemampuan mereka berbicara
sangat terbatas karena tidak banyak suara vowel yang mampu mereka bunyikan.
Sebagai contoh Pithecanthropus Erectus memiliki volume
otak sekitar 900 cc, sementara Homo sapiens
memiliki volume otak di atas 1000 cc (otak kera maksimal sebesar 600 cc). Maka
dari itu bisa diambil kesimpulan bahwa semenjak 20.000 tahun yang lalu, telah
ada sosok makhluk yang memiliki kemampuan akal yang mendekati kemampuan
berpikir manusia pada zaman sebelum kedatangan Adam.
Surah Al Hijr
ayat 27 berisi:
|
“
|
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari
api yang sangat panas. (Al Hijr 15:27)
|
”
|
Dari ayat ini,
sebagian lain ulama berpendapat bahwa makhluk berakal yang dimaksud tidak lain
adalah Jin seperti dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan: "Yang
dimaksud dengan makhluk sebelum Adam diciptakan adalah Jin yang suka berbuat
kerusuhan."
Menurut salah
seorang perawi hadits yang bernama Thawus al-Yamani, salah
satu penghuni sekaligus penguasa/pemimpin di muka bumi adalah dari golongan
jin.
Walaupun begitu
pendapat ini masih diragukan karena manusia dan jin hidup pada dimensi yang
berbeda. Sehingga tidak mungkin manusia menjadi pengganti bagi Jin. (wikipedia)
Dari website http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa6471
dinukil pertanyaan:
Apakah ada
hadis dan riwayat yang menyebutkan bahwa Adam adalah orang kedelapan yang hidup
di muka bumi? Sembari menjelaskan hal ini, tolong Anda terangkan siapa saja
tujuh orang sebelum Nabi Adam itu? Apakah terdapat nabi di antara mereka?
Apakah mereka adalah orang-orang pintar?
Jawaban Global
Berdasarkan
ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan
bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal
dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini.
Kedua: Sebelum
Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia
yang disebut sebagai “insan atau Nsnas” kendati kita tidak memiliki informasi
yang akurat terkait dengan hal-hal detilnya, tipologi personal dan model
kehidupan mereka.
Karena itu,
mungkin saja tatkala penciptaan Adam juga masih terdapat beberapa orang dari
generasi sebelumnya sebagaimana sebagian ulama menyebutkan hal ini dalam
menjelaskan pernikahan anak-anak Adam.
Kami tidak
menjumpai teks-teks agama yang menetapkan bahwa Adam adalah manusia kedelapan
di muka bumi. Benar bahwa terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa
generasi Nabi Adam adalah setelah tujuh periode dan tujuh generasi semenjak
penciptaan Adam. Namun boleh jadi riwayat-riwayat ini tengah menyinggung
banyaknya periode-periode masa lalu.
Syaikh Shaduq
dalam al-Khishâl, meriwayatkan dari Imam Baqir As yang bersabda, “Allah
Swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya
(kemudian punah) dimana tidak satu pun dari alam-alam ini berasal dari generasi
Adam Bapak Manusia dan Allah Swt senantiasa menciptakan mereka di muka bumi dan
mengadakan generasi demi generasi dan alam demi alam muncul hingga akhirnya,
menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya berasal darinya.
Adapun terkait
dengan pertanyaan apakah mereka juga merupakan nabi atau nabi-nabi dan termasuk
sebagai manusia-manusia pintar atau tidak? Kita tidak menemukan penjelasan
tentang hal ini dalam ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat. Namun mengingat
bahwa mereka sama dengan kita, manusia (atau Nisnas) maka dari sisi ini kita
serupa dengan mereka. Dan tentu saja mereka memiliki kecerdasan dan sangat
boleh jadi dapat dikatakan bahwa untuk membimbing mereka diutuslah nabi atau
nabi-nabi kepada mereka.
Jawaban Detil
Dengan
memanfaatkan al-Quran dan riwayat-riwayat secara pasti dapat dikatakan bahwa
sebelum Nabi Adam terdapa generasi atau beberapa generasi yang mirip dengan
manusia disebut sebagai “insan atau bangsa Nisnas” meski terkait
dengan hal-hal detilnya, tipologi personal dan model kehidupan mereka,
kita tidak memiliki informasi yang akurat.
Allamah
Thabathabai berkata, “Dalam sejarah Yahudi disebutkan bahwa usia jenis manusia
semenjak diciptakan hingga kini tidak lebih dari tujuh ribu tahun
lamanya...namun para ilmuan Geologi meyakini bahwa usia genus manusia lebih
dari jutaan tahun lamanya. Mereka menyuguhkan sejumlah argumen untuk dari
fosil-fosil yang menyebutkan bahwa terdapat peninggalan manusia-manusia pada
fosil-fosil tersebut. Di samping itu, mereka juga membeberkan dalil-dalil
skeleton (tengkorak) yang telah membatu milik manusia-manusia purbakala yang
usianya masing-masing dari fosil dan skeleton itu ditaksir, berdasarkan
kriteria-kriteria ilmiah, kira-kira lebih dari lima ratus ribu tahun. Demikian
keyakinan mereka. Namun dalil-dalil yang mereka suguhkan tidak memuaskan. Tidak
ada dalil yang dapat menetapkan bahwa fosil-fosil ini adalah badan yang telah
membatu milik nenek moyang manusia-manusia hari ini. Demikian juga tidak ada
dalil yang dapat menolak kemungkinan ini bahwa tengkorak-tengkorak yang telah membatu
ini berhubungan dengan salah satu dari periode manusia-manusia yang hidup di
muka bumi, karena boleh jadi demikian adanya, dan boleh jadi tidak. Artinya
periode kita manusia-manusia boleh jadi tidak bersambung dengan periode-periode
fosil-fosil yang telah disebutkan, bahkan boleh jadi berhubungan degan
manusia-manusia yang hidup di muka bumi sebelum penciptaan Adam Bapak Manusia (Abu
al-Basyar) dan kemudian punah. Demikian juga kemunculan
manusia-manusia yang kepunahannya berulang, hingga setelah beberapa periode
tibalah giliran generasi manusia masa kini.[1]
Karena itu,
dapat disimpulkan bahwa terdapat manusia sebelum penciptaan Adam dan setelah
manusia Adam ditemukan kemudian malaikat ditugaskan untuk sujud kepadanya.[2]
Hanya saja
al-Quran tidak menyebutkan secara tegas tentang proses kemunculan manusia di
muka bumi, apakah kemunculan jenis makhluk ini (manusia) di muka bumi terbatas
hanya pada periode sekarang yang kita hidup di dalamnya, atau periode-periode
yang banyak dan periode kita manusia-manusia sekarang ini merupakan periode
terakhir?
Kendati mungkin
sebagian ayat al-Quran menengarai bahwa sebelum penciptaan Adam As terdapat
manusia-manusia yang hidup dimana para malaikat dengan ingatan pikiran mereka
tentang manusia, bertanya kepada Allah Swt, “Apakah Engkau akan menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan
menumpahkan darah” [3]
dimana dapat disimpulkan dari ayat ini bahwa terdapat masa yang telah berlalu
sebelum penciptaan Nabi Adam.[4]
Namun terdapat
beberapa riwayat dari para Imam Ahlulbait As yang sampai kepada kita menegaskan
bahwa sebelum generasi ini, terdapat generasi-generasi sebelumnya yang telah
punah dan riwayat-riwayat ini menetapkan periode-periode manusia sebelum
periode yang ada sekarang ini.
Sebagai contoh
kami akan menyebutkan sebuah hadis berikut ini:
Penyusun Tafsir
Ayyasyi meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dan Hisyam bin Salim dari Imam
Shadiq As yang bersabda, “Apabila malaikat-malaikat tidak melihat
makhluk-makhluk bumi sebelumnya, yang menumpahkan darah lantas dari mana mereka
dapat berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang
yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah?”[5]
Adapun
sehubungan dengan apakah Adam merupakan manusia kedelapan di muka bumi ini
harus dikatakan bahwa kami tidak menjumpai teks-teks agama yang menetapkan
bahwa Adam adalah manusia kedelapan di muka bumi. Benar terdapat beberapa
riwayat yang menjelaskan bahwa generasi Nabi Adam setelah tujuh periode dan
tujuh generasi semenjak penciptaan Adam. Namun boleh jadi riwayat-riwayat ini
tengah menyinggung banyaknya periode-periode masa lalu. Misalnya Syaikh Shaduq
dalam al-Khishâl, meriwayatkan dari Imam Baqir As yang bersabda, “Allah
Swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya
(kemudian punah) dimana tidak satu pun dari alam-alam ini berasal dari generasi
Adam Bapak Manusia dan Allah Swt senantiasa menciptakan mereka di muka bumi dan
mengadakan generasi demi generasi dan masing-masing, alam demi alam muncul
hingga akhirnya, (Allah Swt) menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya
berasal darinya.[6]
Boleh jadi
riwayat-riwayat ini dengan memperhatikan riwayat-riwayat lainya yang menetapkan
periode-periode yang banyak pada masa silam, tengah menyinggung tentang
banyaknya periode pada masa silam; misalnya Syaikh Shaduq dalam kitab Tauhid
mengutip riwayat dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Kalian mengira bahwa Allah
Swt tidak menciptakan manusia lain selain kalian. Bahkan (Allah Swt)
menciptakan ribuan ribuan Adam dimana kalian adalah generasi terakhir Adam dari
generasi-generasi Adam (lainnya).”[7]
Demikian juga
dalam al-Khisâl diriwayatkan dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Allah
Swt menciptakan dua belas ribu alam yang masing-masing (dari dua belas ribu
itu) lebih besar dari tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Tiada satu pun
dari penghuni satu alam pernah berpikir bahwa Allah Swt menciptakan alam lainya
selain alam (yang ia huni).”[8]
Akan tetapi
sebagaimana yang Anda perhatikan riwayat terakhir menyinggung tentang
penciptaan alam-alam dan boleh jadi alam-alam tersebut berada di luar planet bumi
dan kita dapat memandang riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang tujuh periode
sebelumnya di muka bumi itu tidak bertentangan satu sama lain
Namun (dengan
asumsi adanya manusia-manusia sebelum Adam) apakah tatkala penciptaan Nabi Adam
As manusia dari generasi manusia-manusia sebelumnya masih tersisa?
Dengan
memperhatikan beberapa indikasi bukan mustahil bahwa pada masa penciptaan Adam
terdapat orang-orang dari generasi-generasi sebelumnya yang masih tersisa dan
tengah mengalami kepunahan. Artinya mereka masih tetap ada (pada masa
penciptaan Adam) sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama.[9]
Salah satu ulama kontemporer terkait dengan pernikahan anak-anak Adam berkata,
“Di sini juga terdapat kemungkinan lain bahwa anak-anak Adam menikah dengan
manusia-manusia yang tersisa dari generasi sebelum Adam karena sesuai dengan
riwayat Adam bukanlah manusia pertama yang hidup di muka bumi. Penelitian
ilmiah manusia hari ini menunjukkan bahwa genus manusia kemungkinan telah hidup
di muka bumi semenjak beberapa juta tahun sebelumnya, padahal sejarah
kemunculan Adam hingga masa sekarang ini tidak terlalu lama (kurang lebih 7000
tahun). Karena itu kita harus menerima bahwa sebelum Adam terdapat
manusia-manusia lainnya yang hidup di muka bumi yang tatkala kemunculan Adam
tengah mengalami kepunahan. Apa halangannnya anak-anak Adam menikah dengan
manusia dari salah satu generasi sebelumnya yang masih tersisa?”[10]
Tentu saja
tidak terdapat keraguan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama dari generasi
yang ada sekarang ini.
Al-Quran
nampaknya menegaskan bahwa generasi yang ada sekarang ini berasal dari ayah dan
ibu yang berujung pada satu ayah (bernama Adam) dan satu ibu (yang dalam
beberapa riwayat dan Taurat bernama Hawa) dan kedua manusia ini adalah ayah dan
ibu seluruh manusia. Demikian juga ayat-ayat berikut menyokong makna ini, “Kemudian
Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).” (Qs.
Al-Sajdah [32]:8); “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah
seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah
berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia) , maka jadilah dia.” (Qs.
Ali Imran [3]:59); “(Ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat,
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah
Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka
hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Qs. Shad [38]:71
& 72)
Seperti yang
Anda saksikan ayat-ayat yang telah dikutip memberikan kesaksian bahwa sunnah
Ilahi menjamin lestarinya generasi manusia melalui pembuahan sperma namun
penciptaan dengan sperma ini terjadi setelah dua orang dari jenis ini (manusia
sekarang ini) diciptakan dari tanah liat dan Dia menciptakan Adam kemudian
setelah Adam istrinya yang diciptakan dari tanah liat (dan setelah memiliki
badan dan alat-alat reproduksi, Allah menciptakan anak-anaknya dengan
menciptakan sperma pada badan Adam dan istrinya). Karena itu, tidak terdapat
keraguan bahwa generasi manusia (sekarang ini) berujung pada Adam dan istrinya
berdasarkan bentuk lahir ayat-ayat yang disebutkan di atas.[11]
Adapun
pertanyaan berikutnya apakah di antara generasi tersebut terdapat seorang nabi?
Apakah mereka juga termasuk orang-orang yang memiliki intelegensia? Kita tidak
menemukan penjelasan tentang hal ini dalam ayat-ayat al-Quran dan
riwayat-riwayat. Namun mengingat bahwa mereka sama dengan kita, manusia (atau
Nisnas) maka dari sisi ini kita sama dengan mereka. Dan tentu saja mereka
memiliki intelegensia dan kecerdasan serta sangat boleh jadi dapat dikatakan
bahwa untuk membimbing mereka diutuslah nabi atau nabi-nabi kepada mereka.
[iQuest]
Indeks Terkait:
·
Nabi-nabi Jin
Sebelum Penciptaan Manusia, Pertanyaan 792 (Site: 851)
·
[1].
Muhammad Husain Thabathabai, terjemahan Persia Tafsir al-Mizân, jil. 4,
hal. 222, Penerjemah Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, Intisyarat Jami’ah
Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qum, Qum, 1374 S, Cetakan Kelima.
·
[2].
Ibid, jil. 16, hal. 389.
·
[3].
(Qs. Al-Baqarah [2]:30)
·
[4].
Muhammad Husain Thabathabai, Terjemahan Persia Tafsir al-Mizan, jil. 4, hal.
222 dan 223.
·
[5].
Allamah Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 11, hal. 117, Muassasah al-Wafa,
Beirut, Libanon, 1404 H.
·
Syaikh Shaduq, al-Khishâl,
jil. 2, hal. 652, Hadis 54.
·
[6].
Diadaptasi dari Pertanyaan 2999 (Site: 3297)
·
[7].
Syaikh Shaduq, Tauhid, jil. 2, hal. 277, Cetakan Teheran.
·
[8].
Al-Khishâl, jil. 2, hal. 639, Hadis 14, Diadaptasi dari Pertanyaan 516
(Site: 563)
·
[9].
Bagaimanapun tadinya kita (pada masa-masa sebelumnya) tidak memiliki
informasi dan referensi ketika para Imam Syiah berkata-kata tentang manusia pra
Adam (Bapak Manusia) yang berasal dari manusia-manusia yang telah menjadi
fosil. Namun mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini, nilai
ucapan-ucapan seperti ini akan dipahami lebih baik dan akan lebih mudah
memahamkan kepada kita tentang hubungan mereka dengan dunia metafisika.
·
[10].
Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 3, hal. 247, Dar al-Kutub
al-Islamiyah, Teheran, 1374 S, Cetakan Pertama; Silahkan lihat, Ya’qub
Ja’fari, (Tafsir) Kautsar, jil. 2, hal. 349.
·
[11].
Muhammad Husain Thabathabai, Terjemahan Persia Tafsir al-Mizân, jil. 4,
hal. 224 dan 225.
--
Sumber:
Wikipedia

nike huarache
BalasHapusnike huarache
longchamp bags
adidas nmd for sale
skechers shoes
cheap air jordan
adidas nmd
adidas nmd
oakley vault
hermes belt
nike air force 1
BalasHapusnike air max 90
nike trainers
nike blazer
michael kors outlet
ecco shoes outlet
the north face
los angeles lakers
yeezy boost 350 black
tiffany jewelry