Langsung ke konten utama

Divorce



Ada keanehan saat mataku bertemu dengan matanya. Satu titik berkilau menetes dari sudut matanya. Air mata. Laki-laki ini kukenal adalah seorang yang kuat, tangguh dan pantang menangis. Tak pernah setetes air mata yang ku lihat setelah sepuluh tahun bersaman dengannya. Tak ada sedikit pun.

Pernah saat aku menangis saat menonton film romantis, saat membaca novel sedih, saat anjing kesayanganku mati, saat kami memutuskan pindah rumah, jauh dari tanah kelahiran kami berdua. Saat-saat itu aku menangis, tapi dia tidak.

Aku sempat berpikir, bahwa dia memang dilahirkan untuk tak memproduksi air mata, semacam kelainan dari lahir. Aku pernah bertanya padanya, apakah seumur hidupnya pernah menangis? Saat dia merasa sakit atau sedih, pernahkah dia menangis? Dia menjawab tidak. Dia bilang bahkan ibunya pernah bercerita, bahwa saat dia masih bayi, dia menangis sangat jarang, dan dia memang orang yang pendiam.

Aku langsung menilai, bahwa laki-laki ini adalah manusia super seperti Superman, yang mempunyai kesaktian maha tinggi, kalau Superman adalah laki-laki yang mempunyai kekuatan baja, kalau dia kekuatannya ada di hati. Kesabaran dan keteguhannya melebihi malaikat. Dia sering di sakiti, aku tahu itu. Tapi tak pernah dia menunjukkan raut sedih, apalagi menangis. Sungguh hebat.

Tapi kali ini, detik ini, aku melihat setetes air mata itu mengalir melalui sudut matanya dan jatuh membasahi pipinya. Setetes itu diikuti oleh tetes air mata yang lain. Dia menangis.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Pikiranku sibuk, memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk pengalaman pertama kali ini.

“Aku..” kataku berusaha mencairkan suasana.

“Deb, ini.. “ katanya dengan kalimat terputus.

Aku menyentuh pipinya, menyeka air matanya. Dan dia menyeka air mataku.

“Sepuluh tahun bukan waktu sebentar..” katanya.

“Aku tak ingin berdusta lagi..” jawabku.

“Aku tahu.”

Sepuluh tahun kami bersama, sepuluh tahun aku mengucap cinta padanya. Sepuluh menit ini aku meminta perpisahan.

Rasanya tak bisa membohongi hati lagi, hatinya dan hatiku tak lagi terpaut. Selama ini kami hanya berpura-pura bahagia, padahal kami saling mendera. Aku hanya meminta dimengerti, sementara dia pun begitu. Pengertian menjadi harga yang sangat mahal untuk diberikan. Pedih memang, tapi aku merasa ini adalah jawaban dari sepuluh tahun kebohongan, tak ada lagi berdusta kepada hati.

Aku sayang padanya, sangat. Tapi arti kebersamaan tak lagi indah, hanya pura-pura. Aku sadar, sepuluh menit lalu, sebelum aku mengatakan sejujurnya, mungkin aku akan menjalani kesendirian. Dan dia pun begitu. Tapi sendiri lebih baik dari pada bersama tapi saling menyakiti.

“Maaf..” jawabku.

“Peluk aku.. Sekali ini lagi..” pintanya.

Kupeluk dirinya, badannya bergetar.

“Maaf..” kataku lagi.

“Sekali saja... Ku mohon..” pintanya lagi

“Aku.. tak bisa..” jawabku melepas pelukannya.

Aku berlalu meninggalkannya, mengangkat koper dan keluar rumah. Aku berdiri di bawah dinginnya malam, ini adalah penyelesaiannya, aku tak bisa menunggu lama lagi untuk menjemput kebahagiaan yang sesungguhnya. Tak lama lagi, sepuluh jam lagi, aku akan tiba pada kebahagiaanku. Dia, yang sudah menungguku di kota lain.


--


Terinspirasi dari temanku yang ingin bercerai, karena merasa menemukan cinta sejatinya di luar sana.

Friend, saya speechless denganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korea oh Korea

Hi all ^^. Berhubung gue lagi suka banget sama yang berbau Korea gue mau copast beberapa hal yang lagi gue sukai. ^^ Lagu yang lagi gue suka. Lagu lama siih, tapi gue masih suka aja, lagu ini adalah original soundtrack dari film lama korea yang judulnya Full House. Dengan bintang kesukaan gue, yakni RAIN! ^^. Synopsis A story about love and heartbreak, sadness and self-preservation.A naive, cheerful albeit, somewhat of a recluse writer, Han Ji Eun (Song Hye Gyo) is swindled out of everything she owns. Not by strangers, but her best friends! Stranded in another country, she is determined to get home with the help of an actor, Lee Young Jae (Bi), only to find that all which is precious to her has been sold. In an attempt to get her possessions back, she has entered in a contract marriage with Young Jae. It is quite simple, until feelings start to develop. Everyone around them test the “love” Young Jae and Ji Eun have for one another, including Young Jae’s grandmother.In spite of it all, ...

Kutukan Maut Berantai

Dapat kutukan maut dari si RIU , yah mau gimana lagi.. Belum diselesaikan kutukannya eh dapat lagi kutukan dari YUDI dan TEBEH . Arh, sial -______-". Karena isi kutukannya harus membuka kartu 11 FACT ABOUT ME, okay here we go... 1. Gue sangat membenci KECOA. I hate you paparoach! Gue harap lo punah kayak dinosaurus. 2.Gue tipe orang yang berpikir nggak ada duit = dunia datar. Yah walau ada pepatah uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang bro. *Astajim, matre amat gue -______-" 3.Walau gue nggak begitu suka buku Twilight Saga, tapi sumpah gue suka banget sama si Edward Cullen, gue suka cowok romantis, ganteng, baik hati, tidak sombong, keren dan terutama RICH. *masih matre juga gue -____-" 4. Walau gue suka banget horror, uka-uka, adrenaline pumping, tapi gue penakut abis sama hal-hal ghaib. Gue mudah parnoan kalau ngeliat yang sekelebat nggak jelas. 5. Gue takut air yang banyak. Misalnya kolam renang, laut, danau,, sungai. Gue hanya berani di pinggir-...

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...