Langsung ke konten utama

ISLAM KTP



"Saya bukan seorang muslim sejati. Saya hanyalah seorang yang kebetulan dilahirkan sebagai muslim sebagai agama turunan dari kedua orang tua saya, jadi jangan libatkan saya dengan aktivitas muslim yang tidak berkenan di hati saya, atau di pemikiran saya!"


Kata-kata itu mengejutkan saya di pagi hari ini, ketika ada teman saya yang sering ngobrol di YM menuliskan itu di YM saya. Bukan.. Bukan saya yang mengajak dia untuk melakukan aktivitas muslim, dia hanya mengcopast kata-katanya saat ada seseorang yang mengajaknya melakukan aktivitas muslim.

Sebenarnya aktivitas muslim yang dia maksud adalah seperti sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, zakat, dsb.

Lalu teman saya melanjutkan kalimatnya,
"Jadi gue diancam masuk neraka, seret rejeki dan nggak tenang kalo nggak sholat dan nggak puasa, Deb! Dia pakai copast ayat-ayat Al Quran dan Hadist, pake ngomong kafir-kafir segala.." katanya pada saya.

"Lalu gue diajak ikut pengajian dan majelis-majelis gituu.. Emangnya gue punya banyak waktu apa.. Gue kan sibuk kerja.." sambungnya lagi.

Spontanitas saya mengirim icon tertawa. Jujur saja, saya memang tertawa membacanya. Bukan mentertawakan teman saya, tapi mentertawakan seseorang yang mengajak teman saya itu.

Karena bukan saya membela teman saya, juga bukan karena saya sepaham dengannya - walau ada pemahaman yang sama yakni muslim KTP :D - tapi saya memang tidak sependapat dengannya bila ada orang yang 'memaksa' kami beribadah - dengan sengaja saya menebalkan kata kami karena saya dan teman saya kali ini sepaham -.

Kata dipaksa disini yang saya maksud adalah suatu ajakan/mengingatkan tapi kelewat semangat sehingga mencantumkan ayat-ayat atau hadist yang kesannya seperti memojokkan dan menyalahkan.



Bukan saya menyanksikan kebenaran dari ayat-ayat tersebut, juga bukan menyepelekannya. Saya masih percaya dengan ayat-ayat dan hadist, saya masih mengimani itu. Hanya saja jika seseorang menyuguhi kata-kata yang seperti 'menjudge' malah tidak akan bisa masuk ke orang yang akan diingatkan. Karena jika diilustrasikan itu akan tampak seperti ada orang pengikut setan yang hendak di ruqyah/di ritualkan agar tobat dan ingat Tuhan. Tampak begitu mengerikannya si pengikut setan itu sampai-sampai diperlakukan seperti itu.

Sebenarnya si pengingat itu harusnya mengerti tata cara mengingatkan yang elegan, beradab dan beretika. Tidak main copy paste ayat-ayat lalu melemparnya pada kami para si Islam KTP, toh juga apa yang dia kutip belum tentu dia lakukan, who knows..

Hal ini langsung mengingatkan saya dengan kisah saat saya baru menjalin kasih dengan kekasih saya. Dia yang agamais tampil seperti seorang ustad yang hendak meruqyah saya, seakan ada roh jahat dan iblis yang mendiami dalam diri saya. Lalu saya yang iseng malah ikut mendramatisir keadaan, saya tampil dengan jubah Atheis, saya menampiknya habis-habisan, saya menentang apa pun yang dia katakan walau dia mengutipnya dari Al Qur'an atau Hadist, dia sampai menganggap saya adalah sosok mengerikan bertopeng jilbab. Keadaan itu berlangsung hingga dua bulan lamanya.

Hingga pada akhirnya ketika dia mengenal saya lebih dalam, dia mulai memperkenalkan agamanya pada saya, bukan berarti agama kami berbeda. Agama kami sama, tapi rasanya pemikiran kami sangat jauh berbeda. Bisa dibilang dia sangat fanatik sementara saya adalah demokratis dan liberal, saya merangkul semua yang berbeda agama, jelas saja yang atheis saja saya rangkul apalagi para theis. Saya tidak memungkiri, dalam tubuh Islam sendiri begitu banyak perbedaan yang menimbulkan banyak aliran. Walau muaranya tetap sama, ibadahnya tetap sama dan tetap meyakini Muhammad adalah utusan Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah.

Lalu saya menenangkan teman saya,

"Biar saja jika ada orang yang menilai kita Islam KTP, kita iyakan saja. Jika dia mengingatkan kamu, ya kamu iyakan saja. Urusan dijalankan atau tidak kan dia tidak tahu, hanya Tuhan yang mengetahui, jika dia memaksa kamu untuk ikut-ikut pengajian atau gabung di majelis yah kamu nggak mau ya tolak halus saja, bilang saja kamu sibuk, bilang saja time is money. Jika dia menampik, kamu balikin aja masa iya dia nggak butuh money.. Beres, kan.."

Lalu teman saya membalas,

"Terus soal rejeki gue seret gimana? surga neraka?"

Saya membalasnya dengan,

"Selama ini seret nggak? Lagian soal seret atau nggak, kalau loe bersyukur atas apa yang loe terima dan loe berusaha lebih keras lagi gue rasa nggak ada deh lo akan merasa seret. Dan kalau loe merasa yakin Tuhan Maha Penyayang, nggak akan masukin loe lama-lama di neraka karena menyayangi loe yang suka beramal dan beribadah tulus dan ikhlas tanpa paksaan atau suruhan orang ya elo ngapain takut?"

Lalu teman saya membalas dengan icon :)

Karena bagi saya dan bagi teman saya, tidak ada orang yang berhak menilai seseorang itu kafir, sesat, Islam KTP dsb selain Sang Maha Pencipta, manusia hanya bertugas saling mengingatkan, urusan keimanan itu urusan masing-masing individu, kita boleh mengenal agama dari kecil, kita boleh mengenal Tuhan dari agama yang diturunkan Nya, tapi soal keimanan itu adalah hadiah dari Tuhan yang ketika kita menerimanya adalah tugas individu masing-masing untuk mengasahnya atau mendiaminya hingga tumpul.


Dilema kehidupan. Hidup bagai labirin, tidak tahu arah mana yang benar, maka agama adalah lentera kehidupan, dan Tuhan sebagai cahayanya. Agama apa pun yang kita pilih sebagai lentera, sudah pasti adalah arah yang benar menuju jalan kebaikan dan berujung surga.

Komentar

  1. senang nya membaca post dari individu yang satu aliran... :)

    BalasHapus
  2. Makasih semoga bermanfaat :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korea oh Korea

Hi all ^^. Berhubung gue lagi suka banget sama yang berbau Korea gue mau copast beberapa hal yang lagi gue sukai. ^^ Lagu yang lagi gue suka. Lagu lama siih, tapi gue masih suka aja, lagu ini adalah original soundtrack dari film lama korea yang judulnya Full House. Dengan bintang kesukaan gue, yakni RAIN! ^^. Synopsis A story about love and heartbreak, sadness and self-preservation.A naive, cheerful albeit, somewhat of a recluse writer, Han Ji Eun (Song Hye Gyo) is swindled out of everything she owns. Not by strangers, but her best friends! Stranded in another country, she is determined to get home with the help of an actor, Lee Young Jae (Bi), only to find that all which is precious to her has been sold. In an attempt to get her possessions back, she has entered in a contract marriage with Young Jae. It is quite simple, until feelings start to develop. Everyone around them test the “love” Young Jae and Ji Eun have for one another, including Young Jae’s grandmother.In spite of it all, ...

Kutukan Maut Berantai

Dapat kutukan maut dari si RIU , yah mau gimana lagi.. Belum diselesaikan kutukannya eh dapat lagi kutukan dari YUDI dan TEBEH . Arh, sial -______-". Karena isi kutukannya harus membuka kartu 11 FACT ABOUT ME, okay here we go... 1. Gue sangat membenci KECOA. I hate you paparoach! Gue harap lo punah kayak dinosaurus. 2.Gue tipe orang yang berpikir nggak ada duit = dunia datar. Yah walau ada pepatah uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang bro. *Astajim, matre amat gue -______-" 3.Walau gue nggak begitu suka buku Twilight Saga, tapi sumpah gue suka banget sama si Edward Cullen, gue suka cowok romantis, ganteng, baik hati, tidak sombong, keren dan terutama RICH. *masih matre juga gue -____-" 4. Walau gue suka banget horror, uka-uka, adrenaline pumping, tapi gue penakut abis sama hal-hal ghaib. Gue mudah parnoan kalau ngeliat yang sekelebat nggak jelas. 5. Gue takut air yang banyak. Misalnya kolam renang, laut, danau,, sungai. Gue hanya berani di pinggir-...

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...