Langsung ke konten utama

Pemikiran kecil, efeknya besar

Berawal dari pemikiran kecil saya, ketika saya berteman dengan begitu banyak orang yang berbeda keyakinan. Saya sering menerima curhatan mereka, bahwa mereka mencintai orang yang sekeyakinan dengan saya. Bicara tentang keyakinan, memang sangat berat dan dalam. Karena menyambung dengan nurani dan hati masing-masing manusia. Tak ada paksaan di antara saya dan teman-teman ketika berbicara itu, kami saling open minded dan open heart. Tak ada yang membatasi pemikiran masing-masing, semua berjalan dengan penuturan masing-masing dan tak ada ego yang menekannya.

Sebut saja si A, dia adalah seorang Muslim taat. Dari kecil dia sekolah di Madrasah, bahkan kuliahnya pun di Sekolah Tinggi Islam. Hingga dia mendapat beasiswa dan terbang ke negeri seberang untuk melanjutkan kuliah S2.

Di sana, dia jatuh cinta pada seseorang. Masih orang Indonesia juga, tapi berkeyakinan beda dengannya. Mungkin, pergaulan luar yang sangat liberal membuat dirinya tak mempermasalahkan untuk menjalin hubungan lebih akrab dengan gadis itu.

Tapi ketika dia pulang ke Indonesia, lain lagi ceritanya. Dia punya keluarga yang semuanya dibebankan padanya. Sebagai tulang punggung dan tumpuan keluarga dia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti nasihat orang tua. Termasuk memilih calon istri yang seiman.

Saya tidak habis pikir, mengapa masih ada orang tua yang berpikiran seperti itu -Yang belakangan ternyata saya juga punya orang tua yang masih berpikiran seperti itu - mereka melarang teman saya untuk menikahi gadis pujaannya.

Saya merasa sedih, curhatan teman saya begitu dalam. Dia sangat mencintai gadis itu. Bahkan dia bilang, harus ada yang dikorbankan. Dengan jalan, dia akan pindah keyakinan.

Saya terdiam, tak dapat berkomentar apa-apa. Selain saya juga sudah mengalami masalah cinta seperti itu, saya tak mampu menasihatinya.

Keyakinan, memang masalah fatal. Siapa yang bisa memilih kamu akan beragama apa saat lahir, semuanya sudah ditentukan orang tua. Begitu kamu lahir, entah akan di adzani atau di baptis semuanya adalah agama turunan dari orang tua.

Keyakinan, sekali lagi hanya bisa kembali pada individu masing-masing.

Sementara bagi saya pribadi, tak masalah kamu harus berkeyakinan sama atau tidak dengan saya, setidaknya kamu punya agama kamu percaya Tuhan, saya bisa mempercayaimu sebagai orang terdekat saya..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...