Langsung ke konten utama

Apa yaa judulnyaa

Java Jazz Festival 2008, 9 maret 2008

* Foto selanjutnya nanti yaaaa ...

---

Bingung mau nulis apa, lagi habis ide..eh sebenarnya seh banyak yang pengen dituangkan disini. Tapi kerjaan lagi banyak banget, jadi ga sempat nulis banyak. Nanti aja deh gw tulis di word dulu baru gw copast kemari..
Kabar terbaru? rumah gw dah 50% jadi, perkiraan april selesai semuanya..Doain lancar yaa...
Trus, gw lagi ada masalah neh sama narkoba..HAH? bukan gw looooh..ada lah seseorang yang dekat sama gw, tapi dia user, hiks...what can i do to stop him use that? hiks.. i hate drugs..

--

Nanti lah gw ceritain lanjutnya, oia gw punya cerpen yang pengen gw ikutin lomba di blog Indosiar tapi gw ga sempat kirim..gw copast disini aja yaaa..
Selamat membaca...

---

Terik matahari makin membakar dan membuat peluh ku semakin mengailr deras siang ini. Debu jalanan pun tak kunjung usai berhembus mengotori muka ku yang sudah sangat kumel ini. Disudut terminal ini, kakak ku semata wayang mbak ratmi tengah sibuk menjajakan kue hasil buatannya sendiri untuk dijual demi mencari sesuap nasi untuk kami berdua. Sedang ayah bekerja menjadi pedagang asongan dari bis ke bis yang ngetem di terminal ini. Sebenarnya aku belum pantas untuk bekerja di usia ku yang masih 15 tahun ini. Seharusnya aku masih duduk dibangku SMP. Namun karena ekonomi keluarga ku yang pas pasan membuatku hanya bisa sekolah sampai dibangku SD saja. Semenjak aku lulus SD, aku berniat untuk mencari kerja ntah itu dipabrik atau dikonveksi, yang jelas pekerjaan yang mempunyai gaji tetap setiap bulannya. Namun dijaman yang carut marut ini, sulit sekali mencari pekerjaan dengan bermodalkan ijasah SD. Dan hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menjadi penjaga kios buah milik teman ayah di terminal ini.

Matahari mulai menenggelamkan dirinya, tak terasa senja telah tiba. Mbak Ratmi dan aku sibuk menghitung uang hasil jerih payah hari ini, memang dibanding dengan keluarga yang lain, keadaan kami masih untung karena masih bisa makan minimal 1x setiap harinya.

Malam pun tiba. Dari jauh ayah kelihatan berjalan menuju rumah kami yang terletak dekat pasar dibelakang terminal tempat biasa kami mencari uang. Tapi tak seperti biasanya ayah terlihat sangat lelah dan tampak sakit. Setiba dirumah, ayah banyak diam dan hanya bicara nya seadanya. Benakku berpikir, apakah yang terjadi pada ayah hingga dia tidak biasanya seperti ini. Kesehariannya ayah banyak bersenda gurau dengan kami, banyak bercerita tentang hari yang dilaluinya. Banyak menasihati kami dengan cerita cerita yang lucu namun mengandung makna yang tersirat. Namun, malam ini ayah berbeda.

Seusai makan malam bersama seharusnya ayah menyuruh kami belajar, karena walau kami putus sekolah itu tidak menghentikan ayah untuk tetap membelikan kami buku walaupun bekas hingga kami bisa belajar tanpa harus duduk dibangku sekolah. Namun malam ini ayah hanya diam. Ketika ku bertanya apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya menggeleng dan mengatakan tidak apa apa. Namun ketika ku menggenggam tangan rapuhnya, tangannya panas sekali, dan tatapan matanya pun tampak pucat. Hatiku menjadi risau dan bimbang, apakah yang harus aku lakukan. Aku yakin ayah sakit, namun ayah sepertinya tidak mau membuat aku dan Mbak Ratmi repot sehingga dia tidak menunjukkan sakitnya didepan kami. Hingga larut malam pun tiba, mata ini tidak bisa terpejam tenang. Kebimbangan ku kembali melanda. Aku harus mengatakan ini kepada Mbak Ratmi, kulihat Mbak Ratmi sudah tertidur kelelahan, namun aku tetap harus mengatakannya. Pelan pelan ku beranjak dari dipan ku dan pergi menuju dipan Mbak Ratmi, ku goyang goyangkan tangannya agar dia segera terbangun,sesaat ku lirik ayah yang tengah tertidur pulas, kawatir ayah terbangun dengan suara yang kubuat. Namun sepertinya ayah tidak terganggu dengan suaraku. “mbak, bangun mbak..” bisikku membangunkan Mbak Ratmi, dan Mbak Ratmi pun terbangun bingung.”Ada apa dek?” tanya Mbak Ratmi dengan suara terkantuk kantuk,”Kamu belum tidur dek?”Tanya nya lagi.”Mbak, ayah sepertinya sakit, adek takut ayah kenapa kenapa..”Jawabku,Mbak Ratmi langsung kaget dan bangkit menuju dipan ayah, dipegangnya kening ayah, dan wajahnya seketika tampak kawatir dan memancarkan kebingungan. Digoyang goyangkan tubuh ayah bermaksud ingin membangunkan ayah, dan seketika itu pula Mbak Ratmi berteriak dan menangis. “Ayah, banguuunnn...” namun ayah tetap saja tertidur pulas. “Mbak, ayah kenapa? ayah kan sedang tidur, kenapa harus dibangunkan?” tanya ku panik. “Ayah dek, ayah..”Dan jerit tangis pun menghiasi gubuk kami yang hanya diterangi lampu patromak.


Pagi ini, bendera kuning menghiasi gubuk kami. Ayah telah pergi. Untuk selamanya. Tetangga tetangga kami berdatangan mengucapkan belasungkawa, dan banyak yang menanyakan hendak dimakamkan dimana jasad ayahku ini. Mbak Ratmi sebagai yang tertua kini hanya bisa bingung, kami tidak punya uang untuk membeli tanah di TPU, kami tidak punya uang untuk membayar tukang gali kubur, untuk memandikan jenasah ayah dan sebagainya. Dan tetangga2 itu pun perlahan pergi. Meninggalkan kami dengan jasad ayah yang bahkan belum diapa apakan. Mbak Ratmi menangis dan bingung harus bertindak apa, mbak, bagaimana kalo ayah kita bawa kerumah sakit, siapa tau pihak rumah sakit mau membantu kita? Usulku, Mbak Ratmi yang buntu pun mengiyakan usulku, dengan gerobak dorong, ku letakkan jenasah ayah, berjalan bersama Mbak Ratmi menuju rumah sakit pemerintah didaerah Salemba. Sesampai disana, kami ditolak, dan bahkan kami dicurigai dan kami pun digiring kekantor polisi. Saya yang tidak mengerti birokrasi pemerintah bingung apa yang harus kami lakukan. Apa yang kami lakukan apa melanggar hukum dinegara ini? Sepenggal hukum yang aku tahu hanya UUD’45 dimana didalamnya terdapat pasal yang berisikan bahwa fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh Negara. Namun yang terjadi pada kami sepertinya berbeda dengan hak yang seharusnya kami terima sebagai warna Negara Indonesia. Tak kusangka hidup ini begitu kerasnya. Kami hanya ingin memakamkan ayah. Bukan maksud yang lainnya. Dimana letak hati nurani manusia ketika ada saudaranya yang susah?

Siang ini, hujan turun membasahi bumi pertiwi. Gemuruh petir pun menghiasi langit hitam yang memancarkan kemarahan pada manusia manusia serakah. Dan siang ini, aku Mbak Ratmi dan jenasah ayahku masih ditahan dikantor polisi. Hingga sore pun tiba, ayah kami belum juga dikebumikan. Ntah apa yang ada dipikiran manusia manusia dewasa seperti mereka? Aku dan Mbak Ratmi hanyalah anak kecil yang terperangkap dalam roda kehidupan manusia dewasa yang penuh dengan keserakahan dunia. Aku dan Mbak Ratmi berusaha melawan segala arus dan tetap pada jalurnya. Ntah apa yang akan terjadi pada kami sepeninggal ayah..

---



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...