Secret Admirer

"Dit, katanya kamu cinta sama dia? Tapi kok kamu cuek aja? Nggak ada sedikit pun kamu nunjukin perasaan mu sama dia.." tanya Lila

"Emang gue harus gimana? Kan udah jelas semua orang juga tahu gue pacarnya. Apa gue harus buat pengumuman di mading sekolah?" jawabku bete.

"Masalahnya si Reza nanya sama gue, dia majang foto lo berdua di picure profile Facebooknya, di twitternya, bahkan di avatar BBMnya, tapi elo? Boro-boro foto, status aja nggak ada tentang dia dan elo.." tambah Lila.

Lila dan Reza adalah sahabat karib sejak SMP, sementara aku tidak begitu dekat dengan Lila, namun semenjak Reza jadi pacarku aku jadi dekat dengannya. Aku menatap Lila yang seperti menghakimiku. Aku tak habis pikir, ada apa dengan semua orang di sekolah ini, apakah Facebook, twitter dan BBM itu begitu penting bagi mereka? Sementara aku merasa eksis di social media itu hanya sekedar iseng saja. 

Sudah cukup banyak kesibukanku sepulang sekolah. Mulai dari eskul basket, les drum sampai terkadang harus menemani Mama berbelanja di sore hari, sehingga jadwal dari Senin sampai Sabtu sangat padat dan membuatku malas eksis di social media itu yang terkadang memakan banyak waktu.

"La, emangnya penting yah majang-majang foto gue sama Reza?" tanyaku skeptis.

"Bukannya begitu, Dit. Reza bilang sama gue dia hanya merasa nggak diakui sama lo. Yah semacam kekasih nggak dianggap gitu. Lo tau kan dia cinta banget sama lo, dia bahagia banget bisa pacaran sama lo. Dia maklumin lo walau lo sedikit banget punya waktu buat dia untuk malam mingguan atau sekedar ngobrol di sekolah, tapi setidaknya lo perhatiin dia kek' di FB, atau di Twitter, atau BBM-in dia kek' sekedar nanya kabarnya.." imbuh Lila.
"Iya iya, gue ngerti. Gue nggak perhatiin dia kan maksud lo? Next time gue bakal lebih perhatiin dia lagi deh.." jawabku berlalu meninggalkan Lila.

"Dit.. Mestinya lo sadar, kalau lo nggak perhatiin dia, nanti akan ada cewek lain yang lebih memperhatikan dia. Dan lo akan kehilangannya.." teriak Lila.

Aku menengok ke belakang. Menatap Lila dari kejauhan. Apa maksud dari kata-katanya? Apakah dia mengancamku akan merebut Reza? Ah, aku tak peduli. Lagipula, pacaran bukan prioritas utamaku sekarang.

---

"Ada waktu sebentar, Dit?" tanya Reza sepulang sekolah di parkiran mobil. Aku baru saja hendak masuk mobilku.

"Ada, Za.." jawabku sembari tersenyum padanya. Ada kerinduan sedikit di hatiku untuknya. Tapi aku berusaha membendungnya.

"Aku ingin bicara sebentar aja. Bisa? Kalau bisa, kita ke taman yuk.." ajak Reza.

Akhirnya kami menuju taman sekolah. Kami duduk di tepian air mancur di tengah taman, saat itu cuaca mendung. Aku menatap awan gelap. Dan sebentaran aku menatap wajah tampannya. Dia tersenyum, tampak gigi ginsul yang menambah senyumnya menjadi semakin manis.

Jantungku berdebar, sudah lama aku tak merasakan debaran seperti ini. Tanganku keringat dingin, basah. Sebenarnya aku tak menyukai situasi seperti ini. Aku tak suka duduk bersebelahan dengannya, sangat dekat hingga lengan kami bersentuhan.

"Dita.. Kita sudah nggak komunikasi 2 minggu. Setiap aku menghubungi kamu, kamu selalu sibuk. Aku tahu jadwalmu memang sibuk, tapi sekedar mengobrol saja apa nggak sempat?" tanyanya membuka obrolan.

Lututku gemetar. Aku ingin menjawab, tapi bibirku juga ikut bergetar. Hatiku berebutan ingin mengeluarkan isi hati, namun lidah seperti tak bisa diajak kerja sama. Akhirnya aku hanya diam saja menunggunya berbicara lagi.

"Dita, kamu nggak mau jawab?" tanyanya lagi yang kini duduk berlutut dihadapanku, jemarinya memegang jemariku yang basah karena keringat. Aku semakin gemetar, mungkin dia tahu aku gugup seperti ini. Entah kenapa walau sudah pacaran lama, aku masih saja gugup dihadapannya.

"Maaf, Za.. Aku bukan menghindarimu. Hanya saja.." suaraku kembali tertahan di kerongkongan. Kali ini bukan hanya tertahan tapi lidahku ikut kelu. Rasanya aku ingin menangis kencang.

"Dita, aku kangen kamu. Aku sayang kamu.." katanya mengecup jemariku. Tanpa terasa air mataku menetes di pipi. Rasanya hati ingin meledak, karena begitu banyak perasaan campur aduk di dalamnya.

Reza mengusap air mataku. "Aku nggak bisa pacaran seperti ini, aku butuh kehadiranmu. Bukan hanya status pacaran atau apa pun. Tapi aku butuh kamu.." tambahnya lagi.

Aku menarik jemariku dari genggamannya, kututup wajahku agar dia tak melihat aku semakin menangis. Aku tak sanggup menunjukkan wajah sedihku.

Aku kembali teringat ucapan Kakakku yang baru meninggal 2 bulan lalu, sejak Kakak meninggal aku menyibukkan diri tanpa henti. Yang penting aku tak diam di rumah, tak bengong yang bisa menyebabkan aku kembali teringat kenangan dengan Kakakku.

"Kamu masih sedih yah dengan kepergian Kak Mario?" tanyanya seperti membaca pikiranku.

Aku mengangguk pelan. Reza langsung memelukku. Dia seperti paham perasaanku. 

"Za, Kak Mario pernah bilang waktu dia putus sama Kak Cindy. Saat mereka sudah merencanakan pernikahan, Kak Mario bilang jangan terlalu cinta karena jika putus akan sangat sakit.." kataku memberanikan diri cerita pada Reza.

"Maksudmu apa, Dit?" tanya Reza bingung.

Sejak Kak Mario meninggal, aku selalu teringat kata-kata itu. Aku berpikir Kak Mario sangat menderita karena putus ama Kak Cindy, dan akhirnya dia divonis sakit pankreastistis dan akhirnya meninggal. Walau saat di rumah sakit sudah berulang kali Kak Mario bilang itu bukan karena Kak Cindy, tapi aku yakin sakitnya Kak Mario pasti karena pikiran, karena dia terlalu terluka.

"Dit, jangan berpikir macam-macam. Bukannya Kak Mario sudah bilang di rumah sakit kalau dia sakit karena kebanyakan rokok dan kopi, dan karena dia juga kebanyakan begadang mengerjakan pekerjaannya. Bukan karena Kak Cindy.." kata Reza yang lagi-lagi seperti membaca pikiranku.

"Za, maafin aku. Aku hanya berusaha agar nggak terlalu cinta kamu. Aku nggak mau jika aku kehilangan kamu dan berakhir seperti Kak Mario.." kataku dengan tangis terisak.

Reza menatap mataku. Tatapannya sangat sejuk dan menenangkan. Hati kecilku berkata betapa aku menyayanginya. Tak ingin kehilangannya.

"Aku nggak akan ninggalin kamu seperti Kak Cindy ninggalin Kak Mario. Jika memang kita ditakdirkan bersama, maka kita akan bersama selamanya, tapi jika Tuhan berkata lain kita harus meneguhkan hati untuk menerimanya, Dit. Kita tidak bisa menyalahi takdir. Karena Tuhan yang punya kuasa atas itu. Tugas kita sebagai manusia hanya menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dan memberi yang terbaik." jawab Reza sembari mengelus rambutku.

Hatiku mengembang, seperi roti dalam oven yang hampir matang. Yang harumnya membumbung memenuhi rongga hati. Dan seperti bunga tulip di musim semi, tumbuh mekar warna-warni. Ah, aku jadi semakin cinta padanya.

"Kamu tahu nggak, Dit? Hehehhehe, aku punya rahasia kecil, sebenarnya aku nggak mau cerita sama kamu." kata Reza tersenyum kecil.

"Apa, Za?" tanyaku heran.

"Hmmm.. Janji jangan ngeledek yah?" tanyanya lagi sembari menahan senyuman.

"Nggak kok.." jawabku semakin penasaran.

"Hmmm... Sebenarnya sejak kita SMP, aku sudah suka sama kamu. Cuma aku nggak pernah berani bilang sama kamu. Kamu terlalu sibuk sama banyak kegiatan sekolah dan les. Jadi aku hanya mampu diam-diam mengawasi seluruh aktivitasmu. Kamu ingat ketika kamu kepleset di tangga sekolah? Siapa yang membopongmu?" kata Reza.

Aku tertegun, aku baru menyadarinya. Selama ini setiap aku kena masalah atau musibah Reza pasti ada di sana. Saat aku jatuh di tangga, Reza yang membopongku padahal saat itu banyak orang. Lalu saat mobilku mogok di jalan, Reza juga yang membantuku walau akhirnya kami menunggu mobil derek bersama. Dan saat aku terpilih sebagai ketua seni di sekolah, kata Pak Dirman guru seni musik kami, Reza yang mengusulkanku menjadi ketua. Dan saat aku dan teman gank-ku ketahuan bolos jam pelajaran, saat itu kami sedang nongkrong di kantin. Bu Indri guru BP kami yang 'killer' memergoki kami yang sedang bercanda. Lalu kami digelandang di tengah lapangan, seperti buronan yang baru saja tertangkap. Tiba-tiba Reza yang saat itu jadi ketua OSIS membela kami, katanya kami kelaparan dan terpaksa ijin sebentar untuk makan. Akhirnya kami bebas dari hukuman dijemur seharian. Dan banyak lagi kejadian yang meloloskanku dari masalah, dan dari semua masalah itu penolongku adalah Reza.

Aku tertegun menatapnya, aku kembali terpesona padanya. Reza hanya membalas dengan senyuman.

"Secret admirer.." katanya lagi sembari mengelus rambutku. 
Ya Tuhan, jadi selama ini Reza diam-diam menyimpan rasa untukku. Dan dia baru mengutarakannya saat SMU. Hatiku semakin mengembang. Kini perasaan takut kehilangannya perlahan sirna. Berganti dengan perasaan rindu yang menggebu.

"Za, maafin aku yah.. Aku hanya takut.." kataku menahan isak tangis.

"Aku sayang kamu, Dit. Aku juga kangen kamu.. Jangan menghilang lagi yah" katanya menggenggam tanganku.

Tiba-tiba awan gelap menghilang, berganti awan cerah. Burung-burung pun berkicauan. Ah, aku tak mau 'menghilang' lagi. Aku juga kangen padanya, tapi kali ini harus kusampaikan, tak mau cuma dalam hati saja lalu jadi jerawat.

"Aku juga kangen banget sama kamu.." jawabku tersenyum.

Ternyata, perasaan tak cukup hanya di hati. Lebih baik diutarakan agar dia tahu hati kita, agar dia mengerti apa yang kita rasakan, agar tak salah paham dan akhirnya timbul perpisahan. Ah, Reza.. Aku cinta kamu banget, deh.

Kategori:

Bagikan:

5 komentar