Dia kupanggil Bang Deddy. Tubuhnya gendut, orangnya lucu, ramah, dan dialek Makassarnya sangat ketara.
Kukenal dia sejak baru pindah ke unit baru pada tahun 2007, walau berbeda subbagian, aku sering nongkrong di tempatnya, yaitu Gudang.
Gudang Barang Cetak dulu sebelum dirobohkan dan diganti dengan gedung baru 16 lantai, tempatnya lumayan besar, tersedia sofa set ala kadarnya dengan kain sofa robek-robek, meja dari peti kayu, dan beberapa asbak rokok yang tersedia.
Ada Pak Man, Office Boy yang sudah bukan 'boy' lagi alias sudah tua renta. Namun fisiknya seperti anak muda usia 25 tahunan, kerjanya gesit, ramah dan suka membuatkanku teh manis dikala berkunjung ke Gudang.
Bang Deddy adalah 'penunggu' resmi Gudang, alias orang yang punya kuasa atas keluar masuknya barang di Gudang, di tambah lagi dengan Bos bernama Pak Agus yang orangnya sangat ramah, namun saat ini beliau sudah nggak di tempatkan di gudang lagi, sudah di mutasi entah kemana.
Selain Bang Deddy ada Mas Erry, abang yang satu ini asli Belitong negeri Laskar Pelangi kelahiran penulis tenar Andrea Hirata. Dialek Belitongnya juga masih kentara, dan ada satu lagi yaitu (alm) Mas Arif Wicaksono, beliau adalah orang Jawa yang sebenarnya posisinya bukan di Gudang, namun dia sepertiku, sering main dan nongkrong di Gudang kelewat sering. Kalau kami nggak ke Gudang untuk sekedar nge-teh atau ngopi rasanya hari itu nggak akan lengkap.
Nongkrong tiap hari di Gudang sudah membuatku mirip PNS malas bekerja makan gaji buta, namun kalau pagi atau sore hari nggak nongkrong, sekedar meluangkan waktu setengah atau satu jam saja untuk ngobrol bersama para sesepuh itu rasanya tak ada tawa canda yang menghiasi hari.
Namun sekarang semua berubah, aku masih di sini. Masih di bagian ini. Sementara mereka sudah bubar jalan. Pak Agus komandan seru sudah pindah sejak lama, Mas Erry mendapat promosi pindah ke kantor lain, Mas Arif meninggal dunia karena demam berdarah beberapa tahun lalu, dan Bang Deddy baru saja meninggal kemari sehari sebelum lebaran, sebelumnya beliau sudah pindah lama di kota lain dan aku mendengar kabarnya dari sahabatku yang juga suka nongkrong di Gudang.
Pagi ini, ketika aku memindahkan file-file lama dari laptop coklat yang mau kujual, kutemukan tulisan alm Bang Dedy di sana. Aku menangis membacanya, petuah bijak yang suka ditulis dan dibaginya untukku hampir tak pernah kubaca, dan baru ku baca tadi sebelum menulis ini.
Ku copast di sini, semoga bisa jadi abadi, kelak suatu saat ada seseorang yang mengenalnya bisa mengenangnya di sini.
---
Kukenal dia sejak baru pindah ke unit baru pada tahun 2007, walau berbeda subbagian, aku sering nongkrong di tempatnya, yaitu Gudang.
Gudang Barang Cetak dulu sebelum dirobohkan dan diganti dengan gedung baru 16 lantai, tempatnya lumayan besar, tersedia sofa set ala kadarnya dengan kain sofa robek-robek, meja dari peti kayu, dan beberapa asbak rokok yang tersedia.
Ada Pak Man, Office Boy yang sudah bukan 'boy' lagi alias sudah tua renta. Namun fisiknya seperti anak muda usia 25 tahunan, kerjanya gesit, ramah dan suka membuatkanku teh manis dikala berkunjung ke Gudang.
Bang Deddy adalah 'penunggu' resmi Gudang, alias orang yang punya kuasa atas keluar masuknya barang di Gudang, di tambah lagi dengan Bos bernama Pak Agus yang orangnya sangat ramah, namun saat ini beliau sudah nggak di tempatkan di gudang lagi, sudah di mutasi entah kemana.
Selain Bang Deddy ada Mas Erry, abang yang satu ini asli Belitong negeri Laskar Pelangi kelahiran penulis tenar Andrea Hirata. Dialek Belitongnya juga masih kentara, dan ada satu lagi yaitu (alm) Mas Arif Wicaksono, beliau adalah orang Jawa yang sebenarnya posisinya bukan di Gudang, namun dia sepertiku, sering main dan nongkrong di Gudang kelewat sering. Kalau kami nggak ke Gudang untuk sekedar nge-teh atau ngopi rasanya hari itu nggak akan lengkap.
Nongkrong tiap hari di Gudang sudah membuatku mirip PNS malas bekerja makan gaji buta, namun kalau pagi atau sore hari nggak nongkrong, sekedar meluangkan waktu setengah atau satu jam saja untuk ngobrol bersama para sesepuh itu rasanya tak ada tawa canda yang menghiasi hari.
Namun sekarang semua berubah, aku masih di sini. Masih di bagian ini. Sementara mereka sudah bubar jalan. Pak Agus komandan seru sudah pindah sejak lama, Mas Erry mendapat promosi pindah ke kantor lain, Mas Arif meninggal dunia karena demam berdarah beberapa tahun lalu, dan Bang Deddy baru saja meninggal kemari sehari sebelum lebaran, sebelumnya beliau sudah pindah lama di kota lain dan aku mendengar kabarnya dari sahabatku yang juga suka nongkrong di Gudang.
Pagi ini, ketika aku memindahkan file-file lama dari laptop coklat yang mau kujual, kutemukan tulisan alm Bang Dedy di sana. Aku menangis membacanya, petuah bijak yang suka ditulis dan dibaginya untukku hampir tak pernah kubaca, dan baru ku baca tadi sebelum menulis ini.
Ku copast di sini, semoga bisa jadi abadi, kelak suatu saat ada seseorang yang mengenalnya bisa mengenangnya di sini.
---
Not just a Writing
Well, mungkin
ada kesamaan antara saya dengan org yang satu lagi, saya juga tidak tahu apa
yang ada di benak seorang pelacur dan saya tidak tahu apa yang dipikirkan
seorang pemulung. But just say, I would rather think positive. Setiap orang
pasti pernah tersiksa atau tidak suka dengan beberapa bagian dari dirinya atau
dari hidup yang dijalaninya. Apalagi secara evolutif, manusia memang terkadang tidak
punya pilihan. Walaupun secara sosial, memilih adalah tugas kita, yang juga
dilakukan untuk sebuah tujuan evolutif; survival; to choose a way, to change a
behavior, to see things with different perspectives. Pheww.. don’t you hate
life sometimes? Because life is not easy. But it is our job to do challenges.
Setidaknya bagi mereka yang ingin berkembang.
Dan, poin yang
paling penting adalah, kenapa kita harus tidak menyukai apa yang kita lakukan?
Setidaknya salah satu ciri bahwa kita hidup, maksud saya benar-benar hidup,
adalah ketika kita menjalani hari-hari kita dengan semua nilai-nilai yang kita
pilih. Dengan semua benar dan salah yang kita yakini.
So, kalau
seorang pelacur tidak bisa menikmati bagaimana ia melacur, jangan jadi pelacur.
Dan kalau tidak suka melacur, berjuanglah untuk tidak melacur. Kalau ia kalah
dalam perjuangan itu, berarti ia belum cukup layak untuk keluar dari hidup yang
tidak mau ia jalani. Atau mungkin, istilah yang lebih tepatnya, tidak layak
untuk jadi pelacur.. Karena pelacur sejati tidak akan merasa ada yang salah
dengan melacur, karena mungkin baginya melacur adalah seni. Pemulung sejati
juga tidak akan merasa tersiksa dengan memulung, karena baginya itu adalah
bagaimana cara ia menjalani hidup. Mungkin sesuatu yang ia tahu sejak kecil,
bahkan sesuatu yang ia cintai. Jangan kira anak jalanan tidak memilih untuk
tinggal di jalan. Sebagian besar dari mereka justru menganggap jalanan adalah
surga yang penuh dengan sederet tantangan yang menandakan bahwa mereka hidup,
dan karenanya mereka berulang kali kabur dari kehidupan lain yang bagi sebagian
besar orang lainnya merupakan tempat yang lebih aman dan nyaman.
Dan ini tidak
hanya berlaku bagi pelacur, pemulung, atau sederet profesi lainnya yang sudah
dikenakan cap ‘kehinaan’, ‘kemiskinan’ atau apalah.. oleh pemuja moralitas
umum. Ini juga berlaku bagi pastor, kyai, filsuf, politikus, mahasiswa, atau
sederet profesi lainnya yang sudah dikenakan cap ‘tinggi’ oleh (juga) pemuja
moralitas umum.
Mungkin memang
susah melihat hal ini di dalam kelompok yang pertama. Tapi apa bedanya ketika
kita melihat seorang pastor juga masih tersiksa dengan gairah seksualnya?
Atau seorang
kyai yang tidak mau mempublikasikan ketiga istri simpanannya? Atau filsuf yang
menjadi risih dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri tentang hidup sehingga ia
malah tidak bisa menemukan diri yang sebenarnya? Atau politikus yang merasa
bahwa ia lelah bermain tusuk belakang dengan sesama kolega partainya? Atau...
mahasiswa yang tidak bisa menemukan makna dibalik ke-Maha-an nya?
The point
is...orang bisa memilih, walaupun terkadang pilihannya tidak selalu
‘menyenangkan’. And the first choice is whether we want to love ourselves or
not. Terus terang, menurut saya there is no such thing as ‘absolute free will’.
Human does not only created by nurture, but also by nature. Ketika dilahirkan,
manusia sudah memiliki bakat-bakat tersendiri yang diwariskan; inherited by its
origin. Dan manusia tidak bisa lari dari kenyataan itu. Hey, truth sometimes
hurts, but it doesn’t mean that we can’t love it and learn from it. Sama
seperti menerima sekaligus belajar dari setiap kesalahan dan kegagalan. Tapi
perlu diingat bahwa manusia punya kemampuan yang, menurut saya, tidak terbatas
untuk mentransformasi dirinya. Dan untuk membawa dirinya menuju tujuan hidup
yang diinginkannya. Di sinilah free social will berperan. Melalui lingkungan,
melalui orang lain dan semua unsur semesta, manusia bisa memilih jalannya
sendiri. Sekarang tergantung apakah ia mampu melampaui segala tantangan yang
ada dan terus melaju, atau diombang-ambing oleh lingkungannya sendiri. Dibawa
arus yang tidak dapat dilawannya.
So my dearest
friend, don’t be just grateful of what they don’t have. But be grateful of what
we have. Can you see the different?
Dalam istilah
yang kedua, kita tidak bersyukur semata-mata karena kita memiliki kondisi yang
lebih baik dari orang lain, tapi karena memang sudah seharusnya kita menjalani
hidup kita masing-masing. And of course, take all the responsibilities of our
own choices of life. Kita tidak bisa memandang hidup dari keberuntungan. Karena
kita hidup di alam semesta dengan sebab dan akibatnya, dengan relativitasnya.
Dan
ngomong-ngomong soal bersyukur, saya juga bersyukur. Walaupun bukan kepada
Tuhan dengan ke-99 sifatnya. Tapi kepada tuhan kecil di dalam diri saya yang
selalu membiarkan saya memilih dan menerima apapun pilihan itu. Yang membiarkan
saya menyesali keputusan saya sesekali dan menangis bersama saya. Mendampingi
saya dalam mengatasi segala kelemahan yang sulit untuk diterima. Yang
membiarkan saya menjalani berbagai emosi dan keputusasaan untuk belajar
mengenali diri saya dan mencintainya. Dan saya bersyukur karena saya
benar-benar menyadari bahwa saya bahagia dalam pilihan hidup saya, walaupun
banyak hal menyakitkan terjadi, termasuk di antaranya terluka karena apa yang
saya bentuk dan pikirkan sendiri. Kepada tuhan yang tidak perlu maaf dari saya
yang terkadang lari dari tanggung jawab terhadap pilihan yang telah saya ambil,
atau ketika saya menganggapnya a selfish bastard dalam rasa kesepian dan
ketidaksadaran bahwa sesuatu itu bukannya tidak ada. Juga tuhan yang tidak
perlu dihujani rasa terima kasih karena ia tahu kapanpun saya bahagia dan ikut
berbahagia karenanya. Karena ia selalu setia hidup di dalam diri saya dan tidak
pernah sekalipun keluar darinya. A partner in all sorrows and happiness. A god
in mine.
Medio April 2002
DEN BHABE
I love you, God.
Komentar
Posting Komentar