Langsung ke konten utama

Filosofi Monopoli

Hi friends, mungkin ini terakhir kalinya saya ngeblog mungkin juga nggak. Saya nggak tahu hidup ke depan seperti apa. Beberapa hari lalu, saya mendapatkan kabar yang amat menyedihkan, habibana guru mulia yang telah membimbing saya dengan berbagai tausyiahnya selama ini telah kembali ke pangkuan Allah, tak lain adalah Habib Munzir Al Musawa, beliau adalah pimpinan Majelis Rasulullah. Doa mengiringi kepergiannya, Al Fatihah.


Hidup memang misteri, kita nggak tau apa yang akan terjadi sedetik, semenit atau beberapa jam kemudian. Selalu ada kejutan entah menyenangkan atau menyedihkan. Beberapa bulan lalu, saya berpikir, saya mungkin akan selamanya menjadi PNS di Kantor Pusat ini. Saya mungkin akan menjalani rutinitas yang membosankan, atau menyenangkan jika ada uang untuk jalan-jalan, karena saya nggak mungkin seharian di kantor tanpa pekerjaan yang tak ada untuk saya. Yups, sudah 10 bulan ini saya nyaris tak mengerjakan apa-apa di kantor. Semenjak pindah ke bagian baru, saya tak mendapatkan pekerjaan yang menyibukkan, hanya tata usaha persuratan yang dalam mengerjakannya hanya beberapa menit saja, itu juga jarang. 


Lalu beberapa bulan lalu saya mengajukan diri untuk melamar di LPDP, memang saat itu LPDP memberikan surat kepada Kemenkeu untuk seluruh pegawai Kemenkeu yang berminat pindah ke LPDP bisa melamar. Lalu saya coba untuk melamar, tapi surat permohonan pindah itu mentok di Eselon II yang tidak mengijinkan pegawai dari instansi ini pindah dengan alasan kekurangan pegawai.


Beberapa hari sejak kejadian itu saya menangis, saya merasa hilang sudah kesempatan saya untuk mencoba dunia yang berbeda dari instansi di sini. Saya menangis merasa tak ada lagi kesempatan untuk move on. Saya mungkin akan terperangkap selamanya di bagian ini dan hanya menjadi itu itu saja.


Lalu waktu berlalu, saya pasrah akan keadaan saya, saya mencoba membujuk suami saya untuk melamar di KPK yang memang saat itu ada lowongan, dengan harapan ketika dia sudah menjadi pegawai KPK yang katanya gajinya besar, saya bisa resign dari kantor ini dan menikmati kehidupan baru sebagai ibu rumah tangga seutuhnya. Tentu akan jauh lebih menyenangkan di rumah menghabiskan waktu bersama Hafidz anak saya dibanding di kantor hanya bengong menunggu jam pulang karena memang tak ada pekerjaan. 


Tapi setelah melalui beberapa tes KPK itu, suami saya gugur karena tidak memenuhi tes wawancara. Saya sedih lagi, entah ke depannya akan seperti apa, apalagi kehidupan ekonomi kami sedang sangat sulit, kemarin terakhir masuk sebelum libur Lebaran, suami saya dipecat dari kantornya. Padahal dia datang ke kantor dengan harapan mendapatkan THR dan gaji bulanannya, malah dipecat. Karena perusahaan di kantornya kolaps.


Saya sangat sedih, ya Allah, begitu banyak cobaan yang kami lalui, tagihan utang semakin merongrong minta dibayar, gaji asisten rumah tangga, kebutuhan sehari-hari, belum lagi kebutuhan anak kami yang semakin besar pun semakin membuat saya pusing luar biasa.


Alhamdulillah doa suami dan saya perlahan dikabulkan, selang sebulan suami di pecat, dia mendapatkan pekerjaan baru. Dan baru beberapa hari lalu saya mendapatkan kejutan yang benar-benar membuat kaget.


Saya di mutasi ke tempat yang katanya gemah ripah loh jinawe.


Alhamdulillah saya bersyukur. Akhirnya saya mendapatkan titik terang dari semua kesuraman yang saya alami selama 10 bulan ini, sebenarnya tidak suram-suram amat sih, hanya saja jenuh membunuh saya karena nyarisnya tak ada pekerjaan. Dan di tempat baru itu katanya begitu banyak pekerjaan hingga kami yang dipindahkan ke sana diminta segera datang dan melapor untuk menempati tempat baru.


Dan ini hari terakhir saya di tempat lama. Saya ingin menghabiskannya dengan kontemplasi, melihat berbagai macam prilaku orang di sini, berbagai nasihat dan petuah dari senior saya terima dan saya saring.  Dan juga tentunya dengan bermain monopoli Modoo Marble yang terakhir dengan rekanan saya, hehehe.. Memang sih, selain bengong, mendesign rumah di ruangan ini saya sering banget main monopoli online.


Hidup memang seperti monopoli, kita nggak tahu dadu apa yang akan keluar, entah ganjil entah genap. Kartu apa yang akan kita terima, entah bonus atau penjara, kita juga nggak tau akan bagaimana investasi (harta, keilmuan, prilaku) yang kita lakukan akan berbuah apa, entah malah merugi atau menguntungkan. Kalau di monopoli kita membeli tanah, rumah, gedung bangun landmark, bisa jadi menguntungkan karena disinggah lawan main, atau merugi karena pajak yang menggigit. Kita nggak tau ke depan seperti apa. Itulah mengapa di monopoli, kita sering bergambling dengan nafsu kita. Serakah membeli ini itu malah menjadi bangkrut, tapi kalau nggak beli ini itu nggak ada aset maka nggak ada tax yang kita terima jika lawan main menginjak tanah kita. Itulah segi psikologi dalam bermain monopoli kita harus pandai-pandai mengatur nafsu, jangan sampai kita yang diatur oleh nafsu. Belajar dari kekalahan, taktik mana yang bisa kita gunakan, taktik mana yang harus kita tinggalkan, dan taktik itu, harus bisa beradaptasi dengan situasi kondisi saat itu.




Tetap semangat, jangan pesimis. Jalani saja apa yang sudah di takdirkan Tuhan terhadap kita, kalau kita selalu mengeluh dengan takdir yang ada maka kita nggak akan bisa hidup bahagia. Susah atau senang, selalu ada hikmah. Siapa bilang cobaan hanya ada pada saat kita susah/kekurangan/miskin, justru dengan banyaknya uang malah semakin berat cobaannya. Itulah hidup, di setiap keadaan selalu ada cobaan.


Pssst, kemarin saya habis melamar di KPK loh, kebetulan banget ada lowongan khusus PNS, dan surat itu sudah sampai ke Bagian Kepegawaian. Semoga saja Eselon II di sini mengijinkan dan saya bisa ikut tes KPK itu. Optimis saja, jika memang tak dijinkan, mungkin KPK bukan untukku.


Semangat..



Yesterday is history, tomorrow is mistery, but today is gift, thats why its called the present. - Kungfu Panda




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...