PROLOG
Kutuliskan ulang diary ini, berharap anak cucuku
membacanya suatu saat nanti. Diary seorang wanita yang sangat tangguh, dan
keberaniannya melebihi pria. Dia adalah Sophie, wanita indodutch yang sangat
cantik, awalnya dia seorang trootsmeisjest, tapi kemudian dia bertransformasi
menjadi istri pejabat kaya di Stadhuis.
Anna Sophie Lynn adalah nama
lengkapnya, tanpa nama family yang menjelaskan siapakah ayah atau ibunya yang
menurunkan darah Netherland. Dia lahir sebatang kara, dititipkan oleh seorang
tua renta kepada Madam Lynn di Gelach Huis, rumah para trootsmeistjest, itulah
mengapa dia mendapatkan nama belakang Lynn karena Madam Lynn yang
memberikannya. Harusnya dia tumbuh menjadi gadis cantik dan terpandang, karena
dia seorang indodutch. Tapi nasib mengatakan lain, dia menjadi seorang simpanan
kompeni, musuh para pribumi. Namun jiwa Indies nya tak pernah mati, sepertinya
dia mewarisi sifat pejuang ayah atau ibunya yang Indies, dan dia pada akhirnya
menjadi agen mata-mata untuk tentara PETA pada perang kemerdekaan Indonesia.
Sophie, nasib berkata berbeda, kini dia bersemayam
di Pemakaman Belanda di Bandung.
1.
10 Okober 1935
Hari ini ulang
tahun yang ke 12 tahun. Seperti biasa, tak ada hadiah dari Ayah, apalagi ibu.
Aku tak seperti Mary yang mendapatkan hadiah dari ayah dan ibunya setiap
ulang tahunnya. Aku hanya bisa mendapatkan kue-kue yang dibuat oleh bibi Emma.
Padahal aku mengharapkan pakaian baru dari ibu, setidaknya agar aku tampil
cantik dan menarik di mata para pemuda yang suka berkumpul di dekat kedai kopi
depan rumah.
Mary lahir 1 bulan
sebelum aku, setiap dia mendapatkan hadiah ulang tahunnya, pasti dia selalu
bercerita padaku. Pamer dan membanggakannya di depanku. Aku merasa kesal,
karena saat itu aku berharap penuh agar ibu membelikan sesuatu untukku. Namun
hari ini, hingga petang hari tiba, hadiah itu tak kunjung tiba. Entah apa yang
bisa kubanggakan di depan Mary besok. Pasti di sekolah dia akan mencibirku,
karena aku tak punya apa-apa yang baru.
Masih 10 Okober
1935
Akhirnya setelah
menunggu hingga malam ini, aku mendapatkan hadiah dari Ayah. Aku tak mengerti,
mengapa Ayah yang tinggal jauh di Netherland sana mengirimkan paket untukku
dari jauh-jauh hari. Sehabis makan malam tadi ibu memberikan paket itu padaku,
katanya tidak boleh dibuka malam ini. Padahal ulang tahun kan hari ini, tapi
kenapa tidak boleh dibuka. Menurut ibu, pesan Ayah agar dibuka besok sebelum
berangkat ke sekolah.
Aku sudah tak
sabar, hingga rasanya tak bisa tidur.
15 Oktober 1935
Aku malas
menulis diary ini. Benar-benar malas, paket dari Ayah kemarin itu mengecewakan
sekali. Dia memberikan jepit rambut dari batu jamrud yang kata ibu harganya
sangat mahal, dan itu adalah peninggalan dari nenekku, ibunya ayah di
Netherland. Namun jepit rambut itu tak bisa dipakai saat ini. Ayah lagi-lagi
meninggalkan pesan bahwa jepit itu dipakai nanti setelah aku berulang tahun ke
tujuh belas. Lalu untuk apa Ayah memberikannya sekarang? Rasanya aku mau
menangis, menunggu lima tahun lagi hanya untuk memakai jepit rambut itu. Belum
lagi pesan Ayah yang terakhir, aku harus pindah sekolah ke Batavia. Aku
benar-benar sedih, rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya. Aku tak mau
meninggalkan Buitenzorg. Aku begitu mencintai kota ini. Batavia begitu asing
bagiku, dan ibu.. Aku harus berpisah dengan ibu.. Ayah tak mengijinkan tinggal
bersama ibu di Batavia. Aku tak mengerti mengapa kami harus berpisah. Ayah tak
menjelaskan segalanya dengan detail. Aku benar-benar membenci Ayah..
2.
5 Januari 1936
Tahun baru sudah
lewat, ini adalah seminggu aku tinggal di Batavia. Tanpa ibu, dan bibi Emma.
Aku hanya sendirian di sini. Satu-satunya temanku hanyalah Bibi Lynn, dia
adalah pemilik Gelach Huis. Aku benar-benar benci tempat ini. Ayah menitipkanku
di sini, seharusnya aku tinggal dengan salah satu temannya, bukan gundiknya.
Aku benci bibi Lynn.
10 Februari 1936
Sebulan sudah
aku melalui semua ini, tak ada kabar dari ibu, juga ayah. Setiap ku tanya pada
bibi Lynn dia selalu menjawab tidak tahu. Aku benci dengannya. Aku tahu Ayah
mempunyai serong dengannya. Tingkahnya benar-benar menjijikkan. Kemarin aku
melihatnya berciuman dengan lelaki yang lebih tua dari Ayah. Aku heran, mengapa
Ayah mempercayainya untuk menitipkanku tinggal bersama perempuan murahan ini.
Dia seperti ular yang merayu setiap orang yang datang ke rumah ini. Gelach Huis
dia menyebutnya, baginya, rumah ini adalah hidupnya. Aku sering kali melihat
laki-laki yang berbeda hilir mudik masuk ke kamar atas bersama
perempuan-perempuan yang juga tak ku kenal. Rumah macam apa ini?
Aku juga rindu
sekolah, semenjak di sini, aku berhenti sekolah. Aku benar-benar merindukan
sekolah. Kemarin, aku menangis. Aku tak mengerti mengapa dari kemaluanku
mengeluarkan darah. Aku segera melaporkannya ke Bibi Lynn, dia malah tertawa
kencang, dan memberi selamat padaku. Aku tak mengerti, andai saja ada Ibu dia
pasti menjelaskan semua ini dengan detail padaku. Aku rindu Buitenzorg, rindu
Ibu, rindu bibi Emma.. Rindu Mary..
25 Maret 1936
Ternyata, darah
yang keluar itu adalah pertanda kedewasaanku. Bibi Lynn menjelaskannya dengan
detail setelah aku mengamuk meminta dia menjelaskan padaku. Dadaku juga terasa
sakit, rasanya ingin meledak. Namun katanya lagi, dadaku akan membesar, akan
mirip seperti miliknya. Aku jadi merasa bangga, Mary punya dada yang besar,
padahal dia hanya beda 1 bulan denganku. Menurut Bibi Lynn, pertumbuhanku telat
karena kurang gizi. Bibi memberikan semacam obat-obatan untuk ku makan. Katanya
itu meringankan sakit di perutku dan di dadaku. Semoga penderitaan ini cepat
berakhir. Aku tak kuat lagi kesakitan seperti ini.
Oktober 1936.
Rasanya sudah
lama sekali meninggalkan buku ini, di ulang tahunku yang 13 ini aku berjanji
akan sering menulis di sini, kelak suatu saat ketika aku sudah menikah aku akan
membaca ulang buku ini. Hari ini adalah hari ulang tahunku, sepuluh bulan aku
tak bertemu Ibu, tak ke Buitenzorg, tak bertemu pula dengan kawan-kawanku di
sana. Aku begitu merindukannya. Di sini aku tinggal dengan Bibi Lynn, simpanan
Ayah di Batavia, yah begitulah aku menyebutkannya. Karena bibi Lynn pernah bercerita
bahwa Ayah dan dirinya pernah ada hubungan spesial, dan itulah sebabnya Ayah
mempercayakan Bibi Lynn untuk merawat dan mendidikku.
Gelach Huis
tempat tinggal sekaligus tempat usaha bibi Lynn adalah rumah bagi
trootstmeisjes atau perempuan penghibur didikannya. Bukan seperti yang ada di
Pecinan itu, tapi gadis-gadis di sini benar-benar untuk kelas atas. Aku
mengenal semua gadis itu yang berjumlah 7 orang. Bibi Lynn menceritakan mengapa
dia hanya punya sedikit, karena dia tak mau disulitkan oleh kemauan orang
banyak. Kelak dia akan mempunyai 8 orang, yaitu aku.
Aku sebenarnya
tak mau menjadi anak didiknya bibi Lynn. Pekerjaan seperti itu bagiku
menjijikkan, tapi aku butuh uang. Sebentar lagi Ayah akan menyetop semua
kirimannya yang dititipkan pada bibi Lynn dan aku harus menghidupi diriku
sendiri. Karena itulah tugas perempuan dewasa, mencari uang sendiri sebelum
pada akhirnya dia dipinang oleh lelaki. Begitulah yang bibi Lynn jelaskan
padaku.
Satu-satunya jalan
agar aku tak menjadi troostmeisjeis adalah aku harus mencari lelaki yang mau
mengawiniku. Tapi siapa? Kesehariannya aku selalu di Gelach Huis, sekali pun
keluar hanya di sekitaran pasar dan bioskop. Itu juga aku pergi bersama bibi
Lynn. Memang banyak lelaki yang mencuri pandang melihatku, bahkan ada lelaki
inlader bilang bahwa aku seorang indodutch yang cantik. Ah, tapi aku tak
mungkin bersamanya. Dia seorang inlader.
17 November 1936
Maaf diaryku,
aku meninggalkanmu lama. Padahal bulan lalu aku berjanji akan menulis tiap
hari. Tapi semenjak hari ulang tahunku bulan lalu, aku begitu sibuk dengan
berbagai kegiatan dari bibi Lynn. Aku belajar menari, menyanyi, memasak, bahkan
menjahit. Segala kegiatan perempuan aku lakukan, aku memang sudah lama berhenti
sekolah, hingga rasanya rindu belajar lagi. Itulah mengapa aku begitu
bersemangat diberi kursus ini. Bahkan aku disuruh berlatih menulis surat, kelak
jika ada lelaki yang ingin mengawiniku, aku harus menulis surat yang amat cakap
untuknya. Begitulah ajaran bibi Lynn. Aku merasa senang dan bangga jika aku
mampu melakukan semua itu dengan keahlian yang tinggi, walau bibi Lynn berkata
masakanku tidak enak, namun suaraku sangat merdu dan membuat orang merinding
ketika aku menyanyikan lagu sedih. Bulan depan, aku akan tampil menyanyi di
kedai Gelach Huis, jika aku mendapat sambutan yang meriah, aku akan menyanyi di
Van Mook Cafe setiap malam Minggu dan mendapat bayaran yang cukup untuk
kehidupanku.
Ya Tuhan, semoga
aku bisa memukau para penonton bulan depan.
23 November 1936
Bibi Lynn
mengubah rencana, bulan depan yang seharusnya aku tampil bernyanyi di Gelach
Huis dimajukan jadi semalam. Aku gugup luar biasa, aku takut mereka yang
mendengar kecewa dengan suaraku. Ternyata tidak! Tepuk tangan bertumpahan di
kedai, aku sampai menitikkan air mata menyambut tepuk tangan yang meriah itu,
para penonton sampai berdiri dan memandangku tak habis-habisnya hingga aku
berjalan menuju belakang panggung. Kakiku sampai lemas hingga ingin pingsan.
Kepalaku berkunang-kunang, semua seperti berputar dan rasanya benar-benar luar
biasa. Aku menerima beberapa kuntum bunga dari laki-laki yang namanya tak
pernah ku kenal sebelumnya, ada satu laki-laki yang tak memberi bunga, namun
dia memberi senyum menawan. Aku penasaran, siapakah namanya.
30 November 1936
Van Mook cafe
akan menyewaku untuk minggu depan, kemarin saat aku tampil untuk pertama
kalinya, Mr. Pieter pemilik cafe itu melihatku, aku tak menyangka bahwa dia
telah melihat penampilan perdanaku, malam ini aku akan tampil lagi di Gelach
Huis, setiap malam bernyanyi untuk para pendatang di sini. Rasanya menyenangkan
menjadi penyanyi, bersolek dan memakai pakaian mahal dari bibi Lynn, aku merasa
seperti wanita kelas atas yang sering mengopi di Van Mook. Ohya, lelaki yang
mempunyai senyum menawan itu bernama Harold, dia adalah staff di StadHuis. Tiap
malam dia selalu datang melihatku bernyanyi, aku merasa tersanjung. Rasanya aku
menyukainya, tapi apakah dia juga suka padaku?
3
7 Desember 1936
Setelah semalam
tampil perdana di Van Mook, aku akhirnya merasakan sesuatu yang aneh, tak
pernah merasa seperti ini sebelumnya. Pemuda itu, Harold. Hanya nama depannya
saja yang kuketahui, karena saat dia memperkenalkan diri semalam, dia hanya
menyebut Harold, dan dia berhasil membuatku tak bisa tidur semalaman. Aku ingin
menemuinya lagi, rasanya aku jatuh cinta dengannya. Jika ini cinta, aku tak
mengira mengapa begitu membahagiakan membuatku senyum sepanjang hari di pagi
ini. Malam minggu nanti, Harold mengajakku nonton di bioskop, sungguh
mengembirakan. Semoga bibi Lynn mengijinkannya.

Komentar
Posting Komentar