Roh (bahasa Arab: روح,
ruuh) adalah unsur non-materi yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan
sebagai penyebab adanya kehidupan.
ROH DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF AGAMA
Pandangan Islam
(sekilas, penjelasan detail di bawah)
Ruh-ruh manusia ketika berada di alam ruh
Menurut agama Islam,
manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah
Ta'ala, setelah diciptakan-Nya makhluk lain seperti malaikat, jin
(Iblis), alam semesta, hewan
(binatang), tumbuhan dan lainnya. Allah menciptakan
manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena,
manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan
memakmurkannya.
Pada persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon
manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil
sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an di dalam surah
Al
A'raf, yang berbunyi
“
|
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh
mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab:
“Betul, (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian
itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al
A’raf: 172)
|
”
|
Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia
dianggap sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan
ajaran yang lurus.
Pandangan
Kristen
Etimologi
Roh atau roh ( Ibrani רוח baca: ru-ach )
adalah unsur ketiga yang membentuk kehidupan manusia. Paulus menyebutkan
bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: roh, jiwa
dan tubuh (1 Tes 5:23). Unsur tubuh jasmani adalah
wadag yang dapat kita raba, jiwa disebut juga nyawa ada di dalam darah,
sedangkan unsur ketiga yaitu roh adalah yang memberi manusia kesadaran.
Tubuh jasmani dapat binasa, tetapi roh manusia bersifat kekal.
Allah adalah Roh
Kepercayaan Kristen mengakui bahwa Allah adalah Roh (Yohanes 4:24). Yesus Kristus menyebut Allah
sebagai bapa
Bapa sehingga dalam pemahaman Kristen, maka Bapa juga adalah Roh.
Roh Kudus
Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, atau Roh TUHAN itu sendiri. Roh Kudus
tidak diciptakan, melainkan keluar dari Bapa (Yohanes 15:26). Roh Kudus hanya satu, namun
dapat sekaligus memenuhi sejumlah besar manusia dan memberikan rupa-rupa
karunia Roh (1 Korintus 12:4)
Arwah
Arwah adalah roh manusia yang sudah meninggal dunia. Kristen mempercayai bahwa setiap arwah
orang benar, ketika mereka meninggal, arwahnya ditempatkan oleh Malaikat Tuhan
ke Firdaus Allah yaitu ke pangkuan Abraham(Lukas 16:23), sedangkan orang yang tidak
benar maka arwahnya akan ditempatkan di Hades.
Roh-roh jahat
- Iblis disebut juga Satan dipercayai Kristen sebagai seorang pribadi roh (tunggal, bukan jamak) yang berasal dari penghulu malaikat yang memberontak kepada Allah, lalu diusir dari Sorga.
- Setan-setan yang juga disebut roh-roh jahat bermakna banyak, adalah sepertiga jumlah malaikat yang terpengaruh Iblis, ikut memberontak, dan lalu diusir dari Sorga, dan dijatuhkan ke Bumi. Baik Iblis maupun roh-roh jahat mempunyai kecenderungan menggoda umat manusia supaya berbuat dosa agar kelak mendapat hukuman Tuhan di Neraka setelah Hari Penghakiman.
Pandangan
Hindhu
Atman atau Atma dalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brahman
yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia
disebut: Jiwatman atau jiwa
atau roh
yaitu yang menghidupkan manusia. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani
(makhluk di alam semesta ini). Indria
tak dapat bekerja bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Brahman, bagaikan matahari
dengan sinarnya.
Brahman sebagai matahari dan atman-atman sebagai sinar-Nya yang terpencar
memasuki dalam hidup semua makhluk.
Pandangan
Buddha
Dalam tubuh kita dibedakan ada
dua penghuni yaitu roh dan jiwa. Roh mengandalkan sinar roh di cakra dahi/hati
langit. Sementara jiwa mengandalkan kesadaran palsu yang berada di hati fisik. Kita
harus melatih roh kita untuk menghidupkan sinar roh sehingga dapat menundukkan
kesadaran palsu, dengan kata lain menggunakan sifat sejati. Menundukkan
kesadaran palsu. Untuk mempermudah pengertian kita memakai istilah Tao untuk
positip sebagai "Yang" dan negatip sebagai "Im".
Roh adalah unsur “Yang”
(positip, terang) hawa yang terang dan bersih bermukim di “sifat sejati”(cakra
dahi). Jiwa adalah unsur “im” (negatip, gelap) hawa kotor dan gelap bermukim di
“kesadaran palsu”(hati). Bila roh anda kuat anda akan naik kelangit dan dapat
menjadi seorang Buddha.
Bila jiwa anda yang kuat anda
akan masuk neraka menjadi arwah. Para
penekun tao banyak berlatih keras berusaha menghabiskan unsur "im". Sewaktu
unsur "im" musnah hanya tersisa unsur "yang" murni tersisa
akan menjadi seorang mahluk suci.
Manusia pada umumnya tidak
memahami dan mengenal sifat/roh sejati dirinya sendiri karena belum muncul bila
tidak bermeditasi.
Yang berkuasa pada manusia,
awalnya adalah kesadaran/jiwa palsu bermukim di hati, yaitu hati secara fisik
ditutupi oleh paru-paru.
Kesadaran/jiwa palsu biasa
disebut juga dengan hati abu-abu yaitu hati yang terpengaruh oleh panca indra
kita yang menyebabkan nafsu jahat muncul. Hati abu menimbulkan pikiran-pikiran
yang tidak sehat ide jahat, tujuh perasaan, enam napsu, pandangan-pandangan
yang keras kepala, pemikiran-pemikiran yang tidak adil. Hati abu akan menjadi
panic bila diserang, menjadi marah bila dikecam, menjadi sedih bila ditinggal
orang yang dikasihi, menajadi mabuk melihat wanita cantik. Ini semua merupakan
akibat bekerjanya kesadaran palsu.
Ada ungkapan mengenai hubungan
antara Roh sejati dan jiwa palsu seperti yin dan yang.
Roh sejati adalah “yang = dewa dan Buddha” sedangkan “kesadaran/jiwa
palsu = im” adalah mara/iblis.
Mereka terus bergulat mencari
kemenangan. Bila jiwa palsu sedang di atas angin akan merangsang diri dengan
pikiran jahat tanpa henti. Bila Roh sejati orang tersebut buram dengan tidak
terfokusnya sinar di dahi, berarti tidak ada sinar atau gelap. Orang seperti
ini sudah pasti masuk neraka.
Cakra dahi/hati langit adalah tempat
dari pikiran juga surga. Surga adalah tempat para Buddha dimana Roh asal/sejati
kita bermukim. Roh sejati adalah sinar roh yang merupakan prana (chi) yang juga
merupakan tempat pemukiman penerangan sempurna.
Orang yang berlatih meditasi
atau konsentrasi maka “Roh sejati”nya akan menampakkan diri dan berada di cakra
dahi /hati langit yang mana akan menundukkan “jiwa palsu”.
PENGERTIAN DAN
PERBEDAAN ANTARA JIWA DAN ROH
Jiwa, dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut
Psyche yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan
Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit.
Jadi, sebenarnya, sejak manusia mengalami proses kejadian Sampai sempurna
menjadi janin dan dilahirkan ke atas dunia, telah ada unsur lain yang bukan
fisik material yang ikut menyusun semua peristiwa penciptaan itu. Justru adanya
unsur non-fisik inilah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya
sebagai satu kelebihan. Kelebihan ini akhirnya tampak nyata pada norma-norma
nafsiyah (psikologis) dengan segala kegiatannya.
Jadi, apa jiwa itu?
Plato (477-347 sM) berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan
sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian is bersarang di tubuh
manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di dada
(thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat ini kemudian
dikenal dengan istilah Trichotomi. Menurut Plato, ketiga unsur inilah yang
mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain, seluruh kegiatan hidup
kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada ketiga unsur tersebut. Sejajar
dengan trichotominya, Plato mengatakan bahwa manusia akan memiliki sifat
Bijaksana (jika pikiran menguasai dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika
kehendak menguasai dirinya) serta Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada
akalnya). Maka apabila ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah
memiliki kesadaran sebagai manusia. Sadar artinya mengerti secara aktif. Dengan
kesadaran inilah, manusia selalu cenderung untuk menentukan sendiri
bentuk-bentuk aktivitas hidupnya dan tingkah-laku yang diwujudkannya, maupun
finalita dalam kehidupannya.
Aristoteles (384-322 sM) berpendapat lain dari gurunya. Menurut dia jiwa itu
adalah daya hidup bagi makhluk hidup. Jadi, di mana ada hidup di situlah ada
jiwa. Daya kehendak dan mengenal merupakan dua fungsi jiwa manusia. Kemudian
pendapatnya ini dikenal dengan istilah dichotomi. Selanjutnya dia menjelaskan,
bahwa jiwa sebagai sesuatu yang abstrak (dunia idea) halus menempati atau
berada dalam tubuh (dunia materi) menjadi daya hidup yang nyata, (realita).
Karena realisasi dari jiwa ini memang merupakan tujuan untuk membentuk sesuatu
(tingkah laku) menurut hakikatnya yang sudah ditentukan terlebih dahulu untuk
mencapai suatu tujuan, maka ia menjadi. Menjadi di sini berarti kemungkinan
untuk berwujud. Artinya, semua potensi yang ada akan menampak nyata (aktual).
Jiwa itulah potensi yang ada dalam tubuh sehingga mengaktualisasi dalam bentuk
tingkah-laku. Sebelum tingkah laku itu terwujud, ia masih merupakan kemungkinan
(potensial) dan setelah terbentuk atau terjadi maka ia disebut Hule. Setiap
kejadian (hule) pasti ada yang menjadikan (Murphe) dengan demikian, dalam diri
manusia terdapat unsur Hule-Morpheisme.
Rene Descartes (1596-1656 M) berpendapat bahwa jiwa merupakan Zat Rohaniah, dan tubuh adalah Zat Jasmaniah. Dari zat rohaniah inilah munculnya tingkah laku manusia yang disebut tingkah laku rasional. Sedangkan dari zat jasmaniah itu muncul tingkah laku mekanis. Antara dua zat kejiwaan dan zat ketubuhan itu berada dalam perbedaan yang terpisah, tetapi keduanya dihubungkan dengan adanya kelenjar Pinealis, sehingga rangsang-rangsang ketubuhan dapat diteruskan melalui kelenjar ini ke aspek kejiwaan dan sebaliknya. Selanjutnya dia menyatakan bahwa jiwa manusia berpokok pada kesadaran atau akal pikirannya, sedangkan tubuhnya tunduk kepada hukum-hukum alamiah dan terikat kepada nafsu-nafsunya. Paham ini dikenal dengan Dualisme.
Rene Descartes (1596-1656 M) berpendapat bahwa jiwa merupakan Zat Rohaniah, dan tubuh adalah Zat Jasmaniah. Dari zat rohaniah inilah munculnya tingkah laku manusia yang disebut tingkah laku rasional. Sedangkan dari zat jasmaniah itu muncul tingkah laku mekanis. Antara dua zat kejiwaan dan zat ketubuhan itu berada dalam perbedaan yang terpisah, tetapi keduanya dihubungkan dengan adanya kelenjar Pinealis, sehingga rangsang-rangsang ketubuhan dapat diteruskan melalui kelenjar ini ke aspek kejiwaan dan sebaliknya. Selanjutnya dia menyatakan bahwa jiwa manusia berpokok pada kesadaran atau akal pikirannya, sedangkan tubuhnya tunduk kepada hukum-hukum alamiah dan terikat kepada nafsu-nafsunya. Paham ini dikenal dengan Dualisme.
Selain Descartes ada sarjana yang berpendapat bahwu untura ketubuhan dan kejiwaan (jiwa dan raga) itu tidak dapat bedakan karena keduanya merupakan kesatuan secara interaksi, dan tidak saling terpisah, tetapi merupakan satu hubungan kausalitas. Pendapat ini kemudian dikenal dengan teori Monisme.
Kemudian, apa perbedaan jiwa dengan
roh?
Diambil rata, membicarakan masalah roh itu memang
kurung menarik perhatian, kecuali beberapa orang tertentu yang memperhatikan
dirinya serta ingin memahami fungsi roh pada tubuhnya. Yang mempersoalkan roh
pertama kali adalah kaum Yahudi, yang dijawab oleh wahyu: "Katakanlah
Muhammad, bahwa roh itu menjadi urusan Tuhanku saja." (QS Al Isra': 85).
Mengapa
demikian?
Memang, sampai
sekarang masalah roh merupakan ruang kosong dalam analisis dunia sains. Hakikat
wujudnya tidak terjaring oleh kemampuan penalaran rasional manusia, apalagi
hanya dengan pengamatan mata telanjang. Berpijak pada ayat di atas, para
mufassir mencoba memberikan sedikit pengertian tentang roh ini, antara lain:
Ibnu Qayyim al Jauzy menyatakan pendapatnya, bahwa, roh merupakan jisim nurani yang tinggi, hidup
bergerak menembusi anggota-anggota tubuh dan menjalar di dalam diri manusia.
Kalau tubuh sehat dan menerima bekas-bekas dari jisim halus ini, maka ia akan
tetap kekal berjalin dengan tubuh dan menghasilkan beberapa daya atau kemampuan
rohaniah. Sebaliknya kalau tubuh itu rusak, maka ia melepaskan diri dan
berpisah menuju alam arwah. Akan tetapi ia tidak musnah. Yang mati itu adalah
nafs. Jadi, perbedaan antara nafs dan roh adalah perbedaan dalam sifatnya.
Imam Al Gazaly berpendapat bahwa roh itu mempunyai dua pengertian; Roh Jasmaniah dan Roh Rohaniah. Roh jasmaniah ialah zat halus yang berpusat di ruangan hati (jantung)serta menjalar pada semua urat nadi (pembuluh darah) tersebut,- ke seluruh tubuh. Karenanya manusia bisa bergerak (hidup) dan dapat merasakan berbagai perasaan serta bisa berpikir, atau mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan roh rohaniah adalah bagian dari yang ghoib. Dengan roh ini manusia dapat mengenal cirinya sendiri, dan mengenal Tuhannya serta menyadari keberadaan orang lain, (berkepribadian, ber-Ketuhanan dan berperikemanusiaan), serta bertanggung jawab atas segala tingkah-lakunya. Roh inilah yang memegang komando dalam seluruh hidup dan kehidupannya, karena roh ini yang menerima perintah dari Allah dan larangan-Nya. Tetapi ia bukan jisim, bukan nafs, dan bukan sesuatu yang melekat pada lainnya. Ia merupakan substansi yang wujud, berdiri sendiri, diciptakan, oleh karenanya hanya menjadi urusan Penciptanya saja.
Imam Al Gazaly berpendapat bahwa roh itu mempunyai dua pengertian; Roh Jasmaniah dan Roh Rohaniah. Roh jasmaniah ialah zat halus yang berpusat di ruangan hati (jantung)serta menjalar pada semua urat nadi (pembuluh darah) tersebut,- ke seluruh tubuh. Karenanya manusia bisa bergerak (hidup) dan dapat merasakan berbagai perasaan serta bisa berpikir, atau mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan roh rohaniah adalah bagian dari yang ghoib. Dengan roh ini manusia dapat mengenal cirinya sendiri, dan mengenal Tuhannya serta menyadari keberadaan orang lain, (berkepribadian, ber-Ketuhanan dan berperikemanusiaan), serta bertanggung jawab atas segala tingkah-lakunya. Roh inilah yang memegang komando dalam seluruh hidup dan kehidupannya, karena roh ini yang menerima perintah dari Allah dan larangan-Nya. Tetapi ia bukan jisim, bukan nafs, dan bukan sesuatu yang melekat pada lainnya. Ia merupakan substansi yang wujud, berdiri sendiri, diciptakan, oleh karenanya hanya menjadi urusan Penciptanya saja.
Prof. Dr. Syekh Mahmoud Syaltout mengatakan bahwa Roh itu memang sesuatu yang ghoib dan belum dibukakan oleh Allah bagi manusia. Akan tetapi pintu penyelidikan tentang hal-hal yang ghoib masih terbuka karena tidak ada nash agama yang m'enutup kemungkinannya. Selanjutnya dia menegaskan bahwa Roh merupakan sesuatu kekuatan ghoib yang menyebabkan -kehidupan pada makhluk hidup. Roh (faktor X) inilah yang berfungsi sebagai penegak nafs. Dalam Al Quran' (Quran) ada 19 ayat tentang roh dengan konteks pembicaraan yang berbeda-beda.
Para ulama pun
tidak sampai dengan tegas menyatakan pendapatnya apakah roh itu sama dengan
nafs, sesuku dengan tubuh, suatu sifat, substansi atau atom yang terlepas
samasekali dengan lainnya. Sedangkan ayat yang menyatakan bahwa setelah
penciptaan tubuh fisik ini sempurna kemudian Allah meniupkan roh-Nya (Al Hijr:
29), menurut pendapat yang lebih bersifat psikis adalah, terwujudnya pengaruh
roh itu pada jasad sehingga jasad kasar ini berfungsi dan melakukan perannya,
baik yang berhubungan dengan aspek kejiwaan maupun aspek ketubuhan.
Mempersoalkan tentang sesuatu yang sifatnya ghaib seperti jiwa itu terasa agak ganjil bagi sementara orang, karena, orang hanya akan mengira-ngirakan kepada sesuatu yang tidak dapat dipegang, diraba, dilihat, ditimbang, diukur bahkan abstrak secara total. Dugaan itu ada benarnya, tetapi, banyak salahnya. Jiwa sebagai sesuatu yang abstrak, bersifat subjektif, bebas dan pribadi, dapat menimbulkan kesadaran, tapi memerlukan hubungan dengan fisik (tubuh). Karenanya ia dapat dipelajari bagaimananya dan tidak dapat diketahui apanya, kebalikan dari wujud Tuhan yang dapat dipelajari apa (wujud)-nya tetapi tidak bisa diketahui bagaimananya.
Berbicara
tentang manusia dari kejadiannya, tidak dapat terlepas dari pada hukum-hukum
penciptaan keseluruhannya. Setiap insan yang beriman sependapat bahwa manusia
merupakan makhluk yang diciptakan, artinya bukan ada dengan sendirinya. Akan
tetapi belum semua manusia sependapat bahwa penciptaan atas manusia itu
meliputi jasmani-rohani, lahir-batin, jiwa-raganya, atau keseluruhannya secara
utuh. Berbeda dengan logika semu yang ditarik-tarik oleh pola pemikiran insani
dalam menetapkan adanya Allah sebagai Maha Pencipta, maka Al Quran ,memakai
dalil-dalil aksioma (patokan-patokan yang berdasar kenyataan) dengan
tekanan-tekanan yang jelas, sederhana dan mudah dicerna oleh segala tingkat
pemikiran mulai dari pemikiran kampungan sampai ke pemikiran filosofis. Orang
yang berpikir sederhana pun dapat mengetahui dalil-dalil tersebut dalam
garis-garis yang pokok karena kesederhanaan, kejelasan dan keaksiomaan yang
terkandung di dalam dalil-dalil itu sendiri. Adapun bagi orangorang alim dan
cerdik pandai, maka dalil-dalil tersebut dapat diperdalam secara terinci, yang
secara keseluruhan dapat membentuk suatu rumusan pikiran yang tersusun,
sehingga pengingkaran terhadapnya sama saja dengan mengingkari terhadap 2 x 2 =
4.
Tentang
kejadian manusia jasmani dan rohani kita dihadapkan kepada kenyataan adanya
aktualita Bina Cipta Ilahi yang bersumber pada dalil aksiomatis ini:
a.
Dalil
Penciptaan (ikhtira')
Tuhan adalah Pencipta Tunggal atas adanya segala
sesuatu, baik yang tampak maupun yang tidak (lahir-batin). Informasi tentang
ini dapat kita baca dalam Surat Al Mu'min: 62
b.
Dalil Pembinaan
(al 'inayah)
Tuhan bukan hanya pencipta kemudian setelah jadi lalu
dibiarkan begitu saja berjalan tanpa hukum dan aturan-aturan tertentu. Balk
makhluk hidup ataupun benda mati, diikat oleh hukum dan aturan tertentu yang
dicipta sebagai proses. Informasi tentang ini dapat kita baca dalam Surat Al
A'la: 2-3
c.
Dalil
Keteraturan (an nidham )
Semua ciptaan Tuhan berada dalam proses (tidak
statis), serta berada dalam kadar sebab akibat tertentu. Segala benda itu punya
tabiat sendiri-sendiri, berproses secara tetap dan berulang. Kalau keteraturan
ini tidak ada, manusia tidak mungkin punya jiwa, dan sebagainya. Informasi
tentang ini dapat kita baca dalam Surat Al Furgan: 2.
Adapun penjabaran dan pengembangan proses tentang
adanya hukum dan aturan itu, diserahkan kepada kemampuan akal intelek manusia
untuk menerjuni selidik sedalam-dalamnya, karena AlQuran memang bukan buku
pelajaran yang memuat deretan dalil-dalil fisika, kimia atau biologi, dan bukan
pula buku ensiklopedi, juga bukan tujuan Al Quran untuk menuntun manusia kepada
ilmu-ilmu pengetahuan melalui pengajaran. Ayat-ayat yang disusun di dalamnya
lebih bersifat memberi isyarat akan adanya rangkaian ilmiah yang terdapat di
dalam penciptaan alam semesta dan seisinya dan pada diri manusia sendiri, yang
sebagian telah berhasil diungkap oleh kemampuan dan potensi psikis manusia,
walaupun masih lebih banyak yang belum tergali.
"Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda
kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah
bagi mereka bahwa Al Quran (Quran) itu adalah benar." (Fushshilat: 53)
Menanggapi ayat seperti ini, orang yang berpikiran
sederhana pun mudah menangkap bahwa apa yang terdapat pada penciptaan alam
semesta dan diri manusia itu sendiri merupakan tanda-tanda adanya Kehendak-
Kekuasaan- Kebijaksanaan-ilmu Ketelitian- Keseimbangan-Kerapian- Kesengajaan-
yang semuanya itu menguatkan adanya penciptaan yang dahsyat. Untuk mengarahkan
dan memelihara pemahaman semacam inilah kepada manusia diberikan kesadaran yang
berpusat pada adanya Jiwa (akal pikiran, kehendak-perasaan) yang dengannya pula
manusia dilimpahi kepercayaan serta dibebani kewajiban sehingga hubungan
manusia dengan Tuhannya menimbulkan tingkah laku bermotivasi, yang
dilatarbelakangi nilai-nilai ibadah.
Tentang mengapa Allah memilih manusia sebagai
pelaksana dari amanat-Nya itu adalah karena manusia mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan makhluk lainnya. (Baca: Surat Al Isra': 70). Dan kelebihan
itu tampak pada adanya norma-norma nafsaniyah (psikologis) dengan segala
potensi yang mendukungnya, sehingga manusia yang sadar sepenuh jiwanya, akan
mengarahkan seluruh kegiatan hidup kejiwaannya itu menuju taqwa.
---
Dirangkum dari
berbagai sumber:
Wikipedia


nike huarache
BalasHapusnike huarache
longchamp bags
adidas nmd for sale
skechers shoes
cheap air jordan
adidas nmd
adidas nmd
oakley vault
hermes belt
new england patriots jerseys
BalasHapuscoach outlet store online
cheap ray ban sunglasses
toms shoes
burberry canada
tiffany jewelry
louis vuitton outlet online
michael kors outlet
converse shoes
lebron james shoes