Mataku masih menatap tajam pagar
besi yang menghalangi tubuhku dan rumah besar itu. Sore ini hujan turun tanpa
permisi, tiba-tiba saja awan gelap menyerbu dan menumpahkan segala kesahnya.
Mataku masih terpaku, hatiku pun begitu. Rangga, dia adalah sosok yang kutunggu
dibalik jeruji pagar tinggi ini.
Tanganku mengenggam dinginnya
besi, keangkuhan akan tahta terpatri erat di tanda masuk pintu rumah yang
terlihat di balik pagar.
“RANGGA!!” teriak ku percuma,
karena aku tahu dia takkan mendengar suaraku.
Ingatanku masih sangat jelas
peristiwa satu jam lalu, saat itu hujan belum turun mengamuk seperti saat ini.
Aku masih di terima di rumah ini, masih disambut baik oleh ibunya. Bu Hanafi,
panggilannya melekat karena menikah dengan sosok terpandang di kota Pekan Baru
ini. Pak Hanafi adalah anggota DPRD, dan satu lagi yang membuatnya makin
menjadi sosok terhormat, Pak Hanafi adalah seorang Sayyid, Sayyid menurut dunia
Islam adalah gelar untuk laki-laki yang mempunyai garis keturunan dari nabi
Muhammad, sementara perempuannya mendapat gelar Syarifah.
Tentu saja Rangga sebagai anak
Pak Hanafi juga mendapatkan gelar itu, itulah yang membuat dia spesial di mata
teman-teman dan keluarganya, tapi tidak padaku. Aku tahu Rangga persis seperti
apa, dia tidak sependiam yang keluarganya pikir, Rangga menyukai musik punk,
karena musik itulah yang mempertemukan aku dengannya.
Setahun lalu saat untuk pertama
kalinya aku bertemu dengan Rangga di Universitas Indonesia saat the Hawk yang
drummernya adalah karibku, Ikhsan akan tampil. Rangga menyukai the Hawk dari
lagu-lagunya yang sudah dirilis dan diperdengarkan di radio-radio ternama, dan
setelah Rangga tahu drummer the Hawk adalah teman kuliahnya di ITB membuatnya
semakin suka. Sejak saat itulah aku dan Rangga semakin seru bertemu, bersama
dan kami memutuskan untuk berpacaran.
Awalnya Ikhsan tak menyetujui hal
ini, karena ku tahu Ikhsan diam-diam menyukaiku, hanya karena aku tak mau
merusak pertemanan ku yang sudah lama dengan Ikhsan aku tak mau membahas itu
dengannya.
Rangga, laki-laki paling spesial
dalam hidupku, tanpanya rasanya hidupku tak berwarna, seperti kanvas kosong
yang menunggu sang pelukis mewarnai dengan ritmenya, dan Rangga adalah pelukis
hidupku.
Air mataku semakin mengalir,
dingin menusuk tulang tak lagi kurasakan, pedih hati ini lebih sakit di banding
dinginnya air hujan sore ini.
Baru saja satu jam lalu aku
melihat senyumnya, tawanya, dan candanya. Ibu Hanafi menyambut dengan ramah, Ibu
Hanafi menyediakan teh dan kue buatannya. Menawarkan dengan senyum manis yang
masih tampak jelas di wajah yang sudah mulai menua.
“Jadi kamu pacarnya Rangga?”
tanya Bu Hanafi
“Iya, Tante..” aku tersipu malu.
“Ayo silahkan dicicipi kuenya,
Tante buat sendiri loh. Emang sih rasanya nggak seperti rasa di toko kue..”
kata Bu Hanafi ramah.
“Makasih Tante, enak kok..”
“Halo sayang... Gimana perjalanan
dari bandara?” tanya Rangga yang muncul dari dalam kamar.
“Baik.. “ mataku tak lepas
memandangnya. Rasa rindu, cinta dan ingin memeluk menjadi satu. Aku sangat menyukainya,
mencintainya seperti mencintai diriku sendiri. Bisa dibayangkan ketika kita
mencintai diri sendiri maka kita akan sangat merawatnya hati-hati, tak ingin
lepas tak ingin pisah, karena sudah menyatu seperti jiwa dan raga.
“Kamu bandel banget sih, kenapa
nggak mau dijemput. Kalau kesasar gimana?” tanya Rangga.
“Loh kok nggak mau dijemput? Mama
kira kamu yang nggak mau jemput, Rangga” timpa Bu Hanafi
“Nggak Tante, saya nggak mau
merepotkan Rangga”
“Masa merepotkan, jemput pacar
sendiri kok repot..” Rangga tertawa duduk di sampingku. Tangannya mengenggam
erat jemariku, aku sempat ragu saat dia mengenggam jariku, takut dengan Bu
Hanafi yang baru kutemui sekali, tapi Rangga cuek saja.
“Ma, Dinda nginap di sini aja..
Kan ada kamar kosong di atas..” tambah Rangga
“Nggak usah, Ngga. Aku di hotel
saja. Nggak apa-apa kok..” aku sungkan
“Eh jangan, anak gadis di kota
asing belum pernah kemari kan kamu? Nginap di sini aja..” kata Bu Hanafi.
Aku terdiam, rasanya tidak enak
menginap di rumah pacar sendiri.
“Aku ke atas deh, Ma. Bilang ke
Bi Inah untuk nyiapin kamar. Dinda pasti capek dan lapar.. Mama ngobrol aja
dulu yah sama Dinda..” kata Rangga
Aku dan Bu Hanafi terdiam,
suasana semakin kaku karena aku tak tahu harus membuka obrolan apa. Sejak
perjalanan dari Jakarta aku sudah merancang apa saja yang ingin aku obrolkan
dengan Bu Hanafi, bahkan sudah kutuliskan dalam secarik kertas agar aku tak
kaku dan gugup. Tapi begitu aku berhadapan dengannya langsung, kertas itu
tiba-tiba menghilang dari saku jaketku, dan ingatanku buyar entah apa yang
harus aku bicarakan.
Aku merogoh saku jaket, mencoba
mencari ulang kertas coretan itu.
Tiba-tiba rosarioku terjatuh dari
kantong celana, bunyinya berdencing bersentuhan dengan keramik lantai ruang
tamu.
Bu Hanafi terkejut, dia melirik
ke bawah meja, dilihatnya rosario dengan salib dari bahan metal yang terjatuh
dari kantongku.
“Kamu??” Bu Hanafi tak
melanjutkan kalimatnya.
“Ya Tante?” saya bertanya heran.
“Kamu Kristen?” tanyanya
Aku terheran, mengapa Bu Hanafi
tak tahu bahwa aku Katolik, tak pernahkah Rangga menceritakan tentang diriku.
“Katolik, Tante” jawabku.
Wajah Bu Hanafi langsung pucat
pasi. Cangkir teh yang hendak diminumnya ditaruhnya kembali ke alasnya. Suara
dentingan cangkir terdengar beradu dengan alas cangkir porselein putih itu.
“Kamu menginap di hotel saja..”
katanya tiba-tiba.
“Bapaknya Rangga sebentar lagi
pulang, nanti akan diomeli kalau ada anak gadis tidur di sini. Apalagi yang
belum dikenalnya..” tambahnya.
Aku terkejut, baru beberapa menit
lalu dia menawarkan aku tidur di rumah ini, dan kemudian berubah setelah
melihat rosarioku.
“Iya Tante..” jawabku sedih.
“Saya langsung bilang saja yah.
Saya tak suka basa basi. Kamu tahu Rangga itu seorang Sayyid, dia wajib menikah
dengan Syarifah. Yang sesama Islam saja saya lihat bebet bobot bibit nya,
apalagi yang bukan Islam.” Tambah Bu Hanafi ketus.
Hatiku seperti tersambar petir
tiba-tiba, tanganku mendadak keringatan, jantungku berdegup lebih cepat dari
biasanya, kepalaku seperti orang vertigo, pusing dan berputar tiba-tiba.
“Tapi..” aku tak mampu
melanjutkan kalimat.
Sayyid dan Syarifah, aku pernah
mendengar kisah itu dari Rangga, bahwa ayahnya sangat memaksa dia menikah
dengan Syarifah. Tapi Rangga tak peduli, dia tak mau diatur oleh aturan orang
tuanya. Dia meyakinkan bahwa jika aku masuk Islam maka aku akan menikah
dengannya. Setahun perjalanan kisah cinta aku dan dengannya, walau ayahku
melarang aku tetap saja aku tak bisa meninggalkan Rangga. Aku pergi dari
Jakarta, membawa segala harapan dan impian untuk bertemu dengan Rangga, untuk
bisa bersatu dengannya, membangkang pada Ayah dan meninggalkan kehidupanku
hanya untuk Rangga. Dan disini, aku malah mengalami penolakan.
Aku tak mampu menahan air mata
yang jatuh. Bu Hanafi berdiri, membuka pintu dan mempersilahkan aku keluar.
Rangga baru turun dari lantai dua, melihat aku menangis dan berdiri dekat pintu
membawa koperku langsung terkejut.
“Din, mau ke mana? Ada apa ini,
Ma?” tanya Rangga
“Rangga . Sudah berulang kali
Mama bilang sama kamu. Ini kedua kalinya kamu pacaran sama orang Kristen.” Mamanya
berbicara dengan nada tinggi.
‘Kedua kali? Rangga tak pernah cerita hal itu..’ batinku.
Mataku mengucap selamat tinggal
pada Rangga, pahit memang tapi aku tak bisa memaksakan keadaan. Rasanya belum
cukup pengorbanan yang kulakukan.
“Ma, Dinda mau masuk Islam..”
kata Rangga
“Untuk apa? Masuk Islam pun
percuma, kamu Sayyid Rangga. Kamu harus dengan Syarifah..” bentak Bu Hanafi.
“Nggak, Ma.. Aku nggak mau nikah
sama Syarifah. Dengan perempuan yang bahkan nggak aku kenal!” jawab Rangga
“Rangga. Jangan membantah Mama!
Pergi kamu perempuan Kristen!” Bu Hanafi semakin marah.
“Maaf, Tante..” kataku
Aku melangkahkan kaki menuju
pintu pagar rumah besar itu. Rangga teriak, menahan tanganku agar tak
meninggalkan tempat itu.
“Pak Warsaa..” teriak Bu Hanafi
memanggil satpam depan, seketika Pak Warsa datang menarikku keluar ke jalan.
Tiba-tiba petir menyambar, hujan
tumpah melengkapi sedihku. Pintu rumah besar sudah ditutup dan dikunci untuk
selamanya. Namun Rangga tak keluar, mengapa? Apakah dia tidak mengejarku?
Apakah dia tidak ingin memperjuangkanku? Mengapa? Haruskah kutunggu dirinya di
sini? Haruskah aku membalikkan tubuh dan kembali pada keluargaku di Jakarta?
Ku bukan Syarifah, juga bukan muslimah, tapi aku taat agama, tak pernah ku cela agama Tuhan mana pun..

toms outlet store
BalasHapusadidas yeezy boost
http://www.oakley-sunglass.in.net
reebok outlet
nike air huarache
adidas stan smith
fitflops outlet
michael kors handbags
tiffany and co uk
Cheap Jordans For Sale
nike air force 1
BalasHapusnike air max 90
nike trainers
nike blazer
michael kors outlet
ecco shoes outlet
the north face
los angeles lakers
yeezy boost 350 black
tiffany jewelry