Langsung ke konten utama

Roseola Infantum

Seminggu lalu saya harusnya pergi ke Probolinggo, sudah lama saya menginginkan pergi ke sana. Alasannya.. Adalah BROMO.
 
Bromo, Semeru dan Rinjani adalah tiga keagungan Tuhan yang sudah lama saya impikan sejak kecil. Tiga keagungan Tuhan sebagai simbol bagaimana kita bertafakur.
 
Saya berhasil mendapatkan tugas ke sana. Saya sangat bahagia, saya akan mengajak serta anak dan pengasuh saya.
 
Tapi Tuhan berkehendak lain, 3 hari sebelum keberangkatan Hafidz tiba-tiba sakit demam tinggi, suhunya sampai mencapai 40'. Saya panik dan sedih bukan main. Saat itu hari Minggu. Semua Dsa di Rumah Sakit tidak praktek, akhirnya saya terpaksa membawanya ke dokter umum.
 
Dokter memberi obat penurun panas dan puyer untuk sakit Hafidz. Dokter mengira Hafidz sakit radang tenggorokan.
 
Malam pun datang, demam Hafidz tak kunjung turun. Hati saya semakin sedih, malam itu saya memutuskan untuk membatalkan pergi ke Probolinggo.
 
Senin saya masuk kerja, meninggalkan Hafidz yang demam tinggi. Pada pukul sepuluh pagi Ayahnya menelepon, melaporkan Hafidz akan dibawa ke Rumah Sakit lagi, demamnya sudah mencapai 40,6'. Saya menangis di kantor. Memohon bantuan teman agar saya bisa membatalkan tugas yang tinggal esok hari. Hati saya berat, keindahan Bromo sirna begitu saja, semangat perjalanan lenyap entah kemana, tergantikan oleh senyum Hafidz yang kini menghilang diganti oleh suara tangisnya yang tak henti.
 
Dipojokan meja Doan, salah satu teman kerja saya menangis. Memohon bantuannya agar bisa membantu saya menghadap atasan untuk bisa membatalkan kepergian saya. Saya tak peduli digantikan oleh siapa, asal saya bisa menemani Hafidz saya akan berterima kasih pada siapa saja yang bisa menggantikan saya.
 
Akhirnya Doan menemani saya menghadap atasan, ketika duduk di depan atasan saya tak kuasa menahan tangis. Bagaimana tidak, saya mendapat SMS bahwa anak saya akan dirawat.
 
Beruntung memiliki atasan yang baik, saya diijinkan batal tugas. Dan saya diijinkan pulang dan ijin untuk beberapa hari. Setelah saya berterima kasih pada Doan tanpa menunggu lama saya langsung pulang.
 
Di rumah saya mendapatkan suami dan pengasuh yang sedang menenangkan Hafidz yang menangis terus. Saya langsung memeluk Hafidz, saya bertanya kenapa tidak jadi dirawat? Kata dokternya tidak usah dan dikasih obat penurun panas yang dimasukan ke dubur. Obat itu sangat keras, dan kata dokter dijamin ketika sudah dimasuki, maka 3 jam kemudian panasnya akan turun.
 
Waktu berlalu, 3 jam sudah berlalu, bahkan sampai sore pun demam Hafidz tidak turun juga, saya menyanksikan kata-kata dokter itu. Karena penasaran saya mengukur suhu Hafidz lagi. Saya terkejut ketika mendapatkan termometer menunjukkan angka 40,8'. Tanpa musyawarah lagi saya ngotot pada suami untuk membawa Hafidz ke Rumah Sakit untuk dirawat.
 
Ketika sampai di RS, saya langsung menuju UGD. Hafidz ditangani oleh dokter UGD, yang melaporkan bahwa dia harus dirawat. Akhirnya suami mengurus administrasi rawat inap.
 
Saat itu saya tidak memikirkan kondisi ekonomi yang lagi carut marut. Pokoknya Hafidz harus sembuh, hanya itu dalam pikiran saya. Masalah uang bisa dicari nanti.
 
Malam pertama saya dan Hafidz menginap di RS. Angan saya melayang pada setahun lalu, Hafidz juga dirawat karena kuning. Saya menangis terus, dan Hafidz juga menangis. Entah karena sakit, atau karena sedih karena saya bersedih. Belum lagi tangan Hafidz yang sakit karena harus diinfus. Saya semakin sedih melihatnya.
 
Keesokannya, dokter mendiagnosa Hafidz sakit infeksi saluran nafas. Saya agak menyanksikan diagnosanya, entah karena feeling seorang ibu atau apa. Karena saya tidak sreg sama dokternya, saya meminta untuk ganti dokter.
 
Ketika ganti dokter, dokternya lebih baik dari sebelumnya. Dia meminta Hafidz cek feses dan darah.
 
Saat hari ke 4 di RS, dokter jaga menyatakan Hafidz sakit campak, karena dokter itu melihat Hafidz mempunyai bintik merah di seluruh tubuhnya.
 
Saya sedih bukan main, campak adalah sakit yang sangat lama penyembuhannya, dan belum lagi kami harus pindah kamar ke kamar yang sendiri. Karena takut menulari yang lain. Biaya RS pun semakin bengkak, saya belum mengetahui jumlah persis tagihan biayanya, sementara suami sudah stres duluan memikirkan darimana kami akan mendapat uang untuk membayar.
 
Saya terus berdoa, berharap semua bisa diatasi. Kalau pun kami harus mengutang, kami akan mengutang. Alhamdulillah kami dapat tambahan biaya dari teman-teman kantor saya dan keluarga, saya berharap kami hanya tinggal sedikit mencari tambahannya.
 
Pada hari ke5, dokter memeriksa lagi. Dokter terkejut kalau dokter jaga mengatakan Hafidz campak. Padahal tidak ada tanda-tanda campak. Setelah memeriksa dengan cermat, Hafidz dinyatakan sakit Roseola Infantum. Sakit yang menyerupai campak, tandanya:
- demam tinggi 3-4 hari
- pilek, batuk, radang tenggorokan
- diare
- mengantuk terus
- setelah demam tingginya turun, akan timbul bintik merah di seluruh tubuh.
- bintik merah akan hilang dalam 3-4 hari.
- masa pemulihan
 
Pada hari ke 5 malam, dokter mengijinkan Hafidz pulang besok asal suhu Hafidz sudah normal. Dan dokter mengijinkan infus Hafidz dilepas. Saya senang akhirnya mimpi buruk ini berakhir, saya tak sabar menunggu esok hari untuk cepat pulang.
 
Akhirnya Sabtu tiba, hari kepulangan kami. Senyum Hafidz mengembang lagi, gerakannya lincah lagi, walau berat badannya turun banyak, hafidz tetap ceria.
 
Setelah seminggu menginap di RS, giliran saya yang sakit. Badan saya kaku sakit semua, pilek dan batuk juga menyertai. Tak apalah sakit sedikit begini, yang penting Hafidz sehat. Selama di RS saya banyak belajar, bagaimana saya harus bersabar menangani suatu masalah, agar tidak panik ketika menghadapi musibah, banyak berdoa dan percaya kekuatan doa, bagaimana menjadi cekatan dan memaknai apa yang terjadi. Semua ada hikmahnya, semua ada pelajaran yang tersirat, yang saya yakini saya semakin tangguh setelah musibah ini. Sehat terus ya sayang, ibu selalu sayang kamu...
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...