Aku tak kuat lagi menahan air
mata yang tumpah dari pelupuk mata. Ku pandang sekitar komplek rumah ku yang
sepi, hanya bunyi suara gemerisik tikus yang mencari makan di selokan, dan
suara kucing yang tidak punya induk semang.
Satu jam lalu tak begini, satu
jam lalu semuanya terasa hangat. Aku pulang ke rumah dan disambut dengan
senyuman manis istriku tercinta. Juga gelak tawa anakku yang masih batita.
Makanan istimewa selalu terhidang di meja makan, siap ku santap ketika sudah
bersih-bersih dari pulang kerja.
Satu jam lalu tak begini..
Maria, dia istriku tercinta.
Sudah lima tahun aku menikahinya, walau dia seorang janda dua anak sebelum
kunikahi, itu tak masalah buatku. Dari pernikahanku dengannya kami mempunyai
seorang putri yang kini usianya tiga tahun.
Maria seorang pekerja di
perusahaan BUMN. Karirnya selalu maju pesat, tak jarang membuat iri teman-teman
sekantornya, apalagi ditambah dengan wajahnya yang kelihatan seperti anak umur
20-an dan bodynya yang tak seperti ibu tiga anak membuat siapa saja akan iri
padanya.
Sementara aku, aku hanya pekerja
serabutan. Tepatnya nyaris seperti pengangguran. Dengan modal pendidikan
pas-pasan aku berusaha mencari nafkah untuk istri dan anak-anakku. Tapi, dengan
segala kesemawrutan ekonomi, apa yang kudapatkan tidak pernah cukup untuk biaya
pengeluaran bulanan.
Maria tak pernah mempersoalkan
itu, dia selalu menerima dengan senyum apa yang kuberi untuknya, walau hanya
lima ratus ribu per bulan pun dia tetap menerima dan mengucapkan terima kasih.
Aku tahu itu kurang untuk pengeluaran bulanan kami, anak tiga dengan dua orang
sekolah dan satu orang batita, belum lagi membayar gaji pembantu, itu tidak
akan pernah cukup untuk keluarga kami. Belum lagi kami masih membantu orang tua
yang harus berobat rutin cuci darah tiap bulan, sudah pasti semua akan kurang.
Maria bekerja keras, aku tahu
itu. Setiap hari walau di tengah himpitan persaingan karir di kantornya dia
tetap optimis dan berusaha mencari tambahan untuk keluarga kami. Apa pun dia
lakukan untuk mendapatkan uang untuk pengeluaran kami tiap bulannya, walau tiap
bulan kami tak pernah bisa menyisihkan untuk sekedar menabung.
Di kantornya Maria selalu ramah
pada siapa saja, tak terkecuali laki-laki yang selalu menggodanya. Laki-laki
itu bernama Michael. Aku selalu cemburu padanya, Michael terlampau baik pada
Maria. Jika Maria pulang terlalu malam, dan aku tak bisa menjemputnya dengan motor bututku ini,
Michael selalu mengantar Maria ke rumah dengan mobil mewahnya.
Aku merasa minder, aku tak
mempunyai apa-apa. Aku hanya bekerja sebagai marketing yang menjual produk
Korea yang bonusnya sedikit sekali, sementara untuk menjualnya saja aku harus
dari rumah ke rumah menawarkan barang itu. Sementara Michael, segalanya dia
punya. Dari kekayaan hingga jabatan. Hanya saja dia belum beristri, itulah yang
aku kawatirkan suatu saat Michael akan merebut Mariaku.
Hari ke hari aku berusaha sabar,
hingga pada akhirnya tadi aku lelah pulang dari kerja aku melihat Maria turun
dari mobil dan diantar Michael. Aku melihat Maria tersenyum untuk Michael.
Entah setan mana yang merasukiku, seketika aku marah melihatnya.
Di dalam rumah aku menunggu
Maria, aku melihatnya menaruh tas dan mencium putri kecil kami. Dia menyapaku
dan menawarkan ku minum yang diambilnya dari kulkas. Dia tampak sangat kehausan.
Putri kecil kami digendongnya,
padahal dia masih tampak lelah, namun dia selalu tak pernah lupa menyempatkan
waktu untuk bermain dengan anak kami. Sementara dua orang yang sudah besar
sedang di kamarnya masing-masing.
“Udah makan, Yah?” tanya istriku.
“Belum..” Jawabku ketus.
Dahinya berkerut.
“Kenapa harus selalu diantar
laki-laki itu?” tanyaku marah.
Maria mencium gelagat tak baik,
disuruhnya pembantu kami membawa putri kecil kami masuk ke dalam kamar.
“Sini duduk, Yah.. Kita bicara
baik-baik. “ Istriku mengajakku duduk.
“Michael hanya teman sekantorku.
Tak ada lebih dari itu, mungkin kami memang terlihat akrab karena kami memang
sahabat..” tambahnya.
Aku tak bisa menerima jawabannya
begitu saja. Aku sudah marah, dan cemburu.
Tiba-tiba seekor binatang buas
lepas dari hatiku, dan merusak akal pikiranku.
“AKU TIDAK TERIMA JAWABANMU! KAMU
SELINGKUH DENGANNYA! HANYA KARENA DIA KAYA DAN LEBIH MUDA KAMU SELINGKUH
DARIKU!” aku memaki.
Maria tersentak. Bibirnya
bergetar, dari pelupuk matanya tampak setetes air mata.
“Aku tidak selingkuh dengan
Michael, Yah.. Dia itu..” jawab Maria terpotong.
“DIA APA??” tanyaku.
Mulut Maria terkunci rapat. Dia
seperti menyimpan rahasia yang tak boleh diceritakan oleh siapa pun.
“Maaf, aku sudah berjanji untuk
nggak cerita pada siapa pun, Yah..” Maria menangis.
“KAMU MEMANG SELINGKUH DENGANNYA.
ITULAH SEBABNYA KAMU NGGAK BISA MENJAWAB APA-APA” aku membentaknya sembari membanting gelas.
Tangan ku lepas kontrol, entah mengapa tangan kiri ini memegang jilbabnya.
Kutarik jilbabnya hingga hampir
terlepas dari kepalanya, dia tampak kesakitan. Tapi binatang buas yang
menguasai hatiku tak terkontrol lagi, dan semuanya terjadi dengan spontanitas.
“Sumpah demi Allah aku tidak
selingkuh, Yah..” Maria menangis.
“KAMU BANYAK ALASAN. AKU SUDAH
TIDAK PERCAYA KAMU LAGI. AKU CERAIKAN KAMU!” Aku berteriak kencang hingga
anakku yang kecil menangis dalam kamar.
Maria berlari menuju kamar, dia
menangis dan tubuhnya gemetar. Aku duduk berlutut tak percaya dengan apa yang
baru saja ku katakan.
Tak lama terdengar bunyi SMS dari
HP Maria di dalam tas, karena penasaran kuambil HP itu dari dalam tasnya. Ku
buka keylocknya dan kulihat SMS dari Michael.
Karena amarah yang masih
menyelimuti, aku berpikir pasti ini SMS kata-kata mesra dari laki-laki bajingan
itu.
Aku tak sabar membukanya, tak
lama muncul text
‘Cyin, maaf ya gue curhat mulu sama loe. Habis gue bingung mau curhat
kemana lagi, hanya elo sahabat gue satu2nya yang gue percaya. Tapi gue nggak
bisa ngelupain Dirga, cyin, gue cinta mati ama dia..’
Aku meletakkan HP di meja.
Dirga? Dirga adalah atasan Maria. Dan dia laki-laki.
Kakiku gemetar, aku segera keluar
rumah. Aku tak percaya seperti ini, ternyata Michael adalah gay.
Aku menangis sejadi-jadinya. Ya
Tuhan, apa yang telah aku lakukan.. Aku kejam.

Suruh rujuk lagi aja. Gapapa kok. Huehehehe... :)
BalasHapusNice post, Deb! Lugas dan rapi. Bravo!
wohooo keren!!!
BalasHapusmaaciih mbak nin and yudii...
BalasHapus