Langsung ke konten utama

Pembelajaran

Saatnya kembali pulang, menghentikan pengembaraan. Lelah sudah jiwa mencari, letih sudah kaki menapaki. Saatnya kembali, kembali ke rumah Tuhan.


Seseorang berkata pada saya, lelah dia menapaki hidupnya yang serba sulit, menyerah rasanya terus menjalani kehidupan yang dianugerahkan padanya. Saya tak dapat berbicara banyak, karena terkadang saat penyakit putus asa menghinggapi jiwa saya, saya pun terbesit seperti itu. Karena saya hanyalah manusia biasa yang sedang belajar tentang kematian dalam hidup dan kehidupan sesudah mati.

Jika hidup sudah kian menyulitkan, kepada siapakah kita harus menyalahkan? Apakah kepada takdir? Keadaan? Nasib? Atau lingkungan yang menempatkan kita pada situasi yang sulit? Bagi saya, kita tidak dapat menyalahkan siapa-siapa. Takdir adalah kuasa Tuhan, sementara keadaan adalah kita sendiri yang menciptakan, sadar atau tidak sadar kitalah yang menentukan nasib kita sendiri. Ada pendapat yang mengatakan bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan manusia dan peradabannya adalah takdir Tuhan.

Saya setuju, tapi juga tidak menelan mentah-mentah. Karena Tuhan memberi kita kehidupan, memberi kita cobaan atau masalah, agar kita belajar agar kita mengerti kehidupan. Tidaklah mungkin Tuhan membuat sesuatu tanpa alasan tertentu, walau alasan itu terkadang kita tidak tahu atau kita tidak mengerti.

Manusia, dalam pengembaraan hidupnya menemui berbagai macam persoalan dan masalah. Dari kecil, ketika kita hendak belajar berjalan tanpa kita sadari kita terlatih untuk tidak menyerah. Saat kita terjatuh pada langkah pertama kita, kita menangis. Lalu orang tua membantu kita berdiri kembali, kembali belajar berjalan. Apakah kita menyadari saat itu kita mengalami kegagalan? Tentu tidak, karena kita terus saja berjalan, mencoba walau terus terjatuh.

Begitu pun yang seharusnya terjadi saat kita beranjak dewasa. Saat melalui masa remaja, dengan memiliki emosi yang begitu labil, pasang surutnya hidup membuat kita senang atau bahkan hancur sekali pun, mengalami patah dan gagal berkali-kali, tapi apakah saat remaja kita berhenti dan menyerah?

Saat kita duduk di bangku sekolah semisalnya kelas 3 SMP, kita akan mengalami ujian untuk naik ke SMU, guru-guru kita memberi soal sesuai dengan materi yang kita pelajari selama kelas 3 SMP, tidaklah mungkin sang guru memberi pelajaran kelas 3 SMU. Maka, soal ujian itu sesuai dengan porsi kita pada saat itu.

Begitu pun masalah dalam hidup, Tuhan tentu akan memberi ujian sesuai porsi kita masing-masing. Tak akan mungkin Tuhan memberi tanpa kita mampu melaluinya. Karena Tuhan adalah Maha Mengetahui, Dia memebri cobaan agar kita lulus menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, karena Tuhan Maha Penyayang, yang menyayangi kita. Jika kita tidak lulus ujian itu, Tuhan akan memberi ujian serupa hingga kita lulus dan dapat memetik hikmah dari semua kejadian yang telah kita alami. Untuk itu, mengapa kita masih mengidap penyakit menyerah?

Mungkin, jika menyerah adalah penyakit akut yang paling banyak diderita manusia pada peradabannya, tidak akan ada kemajuan jaman, tidak akan ada teknologi, tidak akan ada pengetahuan, karena semua itu didapat dari hasil pencarian, pembelajaran dan terutama doa. Maka, mungkin itulah sang pengalaman berbicara, mengatakan pada manusia agar terus mempelajari tanpa henti.

Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
- J. Rumi -


Komentar

  1. Kerennn, postingan yang mencerahkan jiwa raga :D

    BalasHapus
  2. jadi intinya harus tetap berusaha, meskipun jalannya terjal dan berliku... dan kegagalan adalah jalan untuk mencapai keberhasilan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...