Langsung ke konten utama

Ketika hujan ..

Ibarat air yang jatuh ketanah mengalir begitu saja ke tepi yang lebih rendah, itulah perasaanku sabtu lalu ketika mengunjungi tempat kelahiranku. Mengalir perlahan dengan indah dan apa adanya.
Ketika aku dan suamiku menyusuri dengan motor, perlahan menuju daerah Cempaka Putih tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Rasanya sudah lama tidak berkunjung kesana padahal baru saja aku pindah 7 bulan lalu.
Lama ku tak mengunjunginya hanya sedikit yang berubah, rumah tua tempat kelahiranku dan tempat aku tumbuh lama sudah di beli oleh Ko' Seki cina hokkian yang rumahnya tidak jauh dari rumah lamaku.
Rumah itu sudah direnovasi sana sini, banyak sekali yang berubah, sudah dipasangi pagar besi tempa, di cat ulang, dan dipasangi lampu penerang di terasnya.
Dulu waktu kami sekeluarga masih menempati rumah itu, sebenarnya ayahku sudah memasangi pagar buatannya sendiri. Pagar itu terbuat dari bambu yang dibelah dua dan dirangkai indah, tidak ketinggalan bambu itupun di cat agar kelihatan menarik.
Namun karena kenakalanku dan ulah abangku, pagar itu sering copot dan akhirnya ayahku dengan gemas melepasnya dan membiarkan teras rumah kami tanpa pagar.
Selain memasangi pagar, dulu ayahku juga membuatkan kolam ikan diteras rumah kami. Kolam ikan itu beliau isi dengan ikan-ikan hias yang lucu, namun keindahan kolam ikan itu tidak bertahan lama. Tapi sebabnya bukan karena kenakalanku lagi, melainkan karena si Lulu, kucing peliharaan kami yang berulah memakan semua ikan-ikan hias cantik itu. Karena ayahku tidak ada pelampiasan amarah, akhirnya aku lagi yang kena omelan. Namun aku tidak menanggapi dengan serius, karena aku tahu saat itu ayahku hanya ngedumel (marah yang sebentaran saja).
Aku rindu sekali masa-masa itu, rindu disaat ayahku ngedumel karena aku gak kasih makan si Lulu. Rindu disaat abangku memainkan gitar bernyanyi disore hari seperti ingin melepas penatku yang lelah karena habis bekerja. Rindu disaat kakak perempuanku yang tertua memasakkan tempe tepung yang dimakan hangat-hangat disaat hujan turun pada senja hari.
Kerinduan itu kemarin sepertinya agak terobati, ketika kumenatap jalan aspal yang basah yang habis disiram air yang turun dari langit. Senja itu kutuntaskan dengan indah dengan menyantap bakmie ayam kesukaanku dari kecil, bakmie ayam yang dijual oleh pria jawa bernama Kasmo yang menurunkan resepnya pada anaknya, yang kelak juga akan diwariskan turun-temurun.
Ayah dan abangku. Dua lelaki yang tidak akan pernah terhapus dari hatiku, merekalah pengawalku, pelindungku, dan guru besarku. Mereka yang sedari ku kecil mengajari ku berbagai macam hal yang sangat menakjubkan. Kebiasaan kami selalu berawal disore hari. Semua itu dikarenakan pagi hingga sore aku sibuk bekerja, sedang ayah dan abangku menganggur dirumah. Ayahku sudah lama tidak bekerja, semenjak aku SMP ayah berhenti bekerja. Semua itu karena penyakit yang telah lama menggerogoti kesehatannya.
Sedangkan abangku adalah seorang musisi,m beliau banyak menciptakan lagu dan membuat aransemen musiknya. Dari kecil aku diajari berbagai macam alat musik. Dari drum, gitar, bass, keyboard dan biola. Namun yang paling aku sukai diantara alat musik itu adalah drum. Ketika ku marah aku sering kali melampiaskannya dengan menabuh sekeras mungkin. Sering aku diomeli abangku karena merusak alat-alat musiknya. Tapi ayahku selalu membelaku. "Sedang tahap belajar si Debby ini, Den..jangan dimarahi nanti dia tak semangat lagi.." kata ayahku pada abangku.
Sejak itu abangku semakin sabar mengajariku, hingga aku membentuk band dengan teman-teman sekolah. Hingga aku menginjak bangku SMU, band ku menjadi band yang lumayan tenar dikalangan sekolah SMU. Mengikuti berbagai macam perlombaan dan memenanginya adalah langganan bandku. Sayang sekali ketika menginjak bangku kuliah, band kami harus bubar karena kesibukan masing-masing personilnya.
Dan semenjak itulah abangku kecewa kepadaku.
---
Kutuliskan karena aku rindu pada mu Papi dan Mas Denny..dua lelaki ku, dua pahlawanku..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...