Langsung ke konten utama

Conclusion

Backstage Cafe, Ancol

Angin laut dimalam hari berhembus syahdu. Kutuang chinesse tea ke cangkir ku. Dia masih sibuk membaca postingan ku. Sesekali dia berdecak dan geleng geleng kepala. Ada satu harapan yang terbesit di benak ku. Berharap dia dapat membuka pikiran dan melihat kenyataan yang ada.

Kutatap dirinya yang melamun setelah membaca postingan ku. Matanya jauh memandang lautan yang gelap. Binar matanya tampak samar dalam keremangan cahaya lilin di meja. Suara musik dari live band masih mengiringi pertemuan kami malam ini. Waitress mengantar pesanan makanan kami. Perut ku yang lapar sudah tidak tahan ingin menyantap makanan yang kami pesan.

Setelah makan dia berkata, dia bercerita tentang nya. Tentang hatinya. Bagaimana tertekannya dia dengan ku. Kudengarkan dengan seksama. Hingga tak tahan dan menitikkan air mata. Menurutnya aku begitu membencinya sehingga dia tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan hidup bersama dengan ku.

Aku menangis. Tak ku sangka dia berpikir seperti itu. Aku sangat paham akan rasa tertekan dia. Ini memang salah ku. Begitu sulitnya menyampaikan rasa cinta. Karena trauma ku yang mendalam. Yang sudah sering kali disakiti laki laki. Membuat ku sulit sekali untuk jatuh cinta lagi.

Tapi bukan berarti aku tidak menyayangi nya. Aku mencintai nya, hanya saja aku tidak pernah mengucapkannya. Bagi ku, kata kata hanyalah sebuah kalimat. Yang penting adalah hati. Bagaimana aku menyampaikan hati ku padanya.

Dia belum mengerti tuntas. Bagaimana tentang diriku. Tentang luka ku yang begitu dalam. Tentang rasa trauma takut kehilangan, tentang bagaimana aku yang sudah lelah menunggu atau pun mencari pria sejati yang bisa mendampingi ku seumur hidup.

Namun, sekali lagi. Aku sampaikan padanya. Inilah aku, dan itulah kamu. Kita berbeda. Punya jalan dan kemauan yang berbeda pula. Tapi ada satu benang merah yang menghubungkan kita. Yaitu cinta. Cintalah yang bisa menyatukan kita hingga detik ini, hingga kau merasa sudah tidak sanggup lagi berjalan bersama ku.

Tertekan mu, juga tertekan ku. Kita seperti saling menyakiti. Seperti hukum rimba. Membunuh atau di bunuh. Sikap takut disakiti kita membuat kita menyakiti orang lain terlebih dahulu, sebelum kita disakiti oleh orang lain.

Sakit ku, juga sakit mu. Hampir sama. Hanya saja, sudah banyak pikiran orang lain yang tercampur dalam keputusan mu. Yang menyebabkan kita seperti ini.

Kita yang menjalani, kita yang melalui. Bukan mereka yang tidak ingin kita bersama. Jangan dengarkan mereka, yang tidak ingin kita bahagia bersama.


Backstage Cafe, menjadi saksi malam ini.

Terima kasih ya Allah..hati ku lega sudah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Sumbang

  Suara Sumbang       Ibu Dita membisu beku, bahkan matanya hanya sesekali berkedip, pertemuan yang tak terduga membuahkan hasil mengejutkan. Sesekali Ibu Dita hanya melirik ke arahku, seperti mengamati apakah aku akan sedih, atau malah bahagia? Tapi pertemuan ini menjadikanku mempelajari sesuatu, bahkan seorang Ibu pun bisa juga salah. Tidak ada yang sempurna. Dua belas tahun lalu pertemuan kami, aku adalah seorang aparatur negara yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Hanya seorang pegawai kelas umbi-umbian,’rendahan’ kalau kata orang-orang. Apalagi dengan penempatanku di tempat yang tidak strategis, alias non teknis. Cuma mengurusi surat-menyurat, segala remeh temeh hal yang sama sekali tidak penting, mungkin kalau dikonversikan ke dalam sistem kasta, aku adalah rakyat jelata. Ibu Dita adalah atasanku, pejabat eselon III yang terkenal karena ramah dan kebaikannya pada siapa saja. Sering tegur sapa dengan cleaning service, PKD bahkan aku yang hanya...

BISOT, dia membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan

Bekasi, 04/08/19 - Bekasi saat itu sangat panas, kemarau panjang membuat tanah-tanah lapang tampak tandus, sawah pun mengering. Dari kejauhan tampak seorang lelaki paruh baya bersusah payah mengangkat dus-dus berisi buku sumbangan para dermawan untuk perpustakaan kecil yang terletak di pelosok desa Sukamekar Kabupaten Bekasi.   Namanya adalah David M, biasa dipanggil Bang Bisot . Dia adalah seorang PNS di suatu Kementerian di Jakarta, yang menggadaikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk berbagi kepada anak-anak di daerah Bekasi yang tertinggal dalam hal pendidikan. Dia mendirikan taman bermain dan rumah baca untuk anak-anak kurang mampu bernama Rumah Pelangi. Berbagai kegiatan dia lakukan bersama para dermawan lainnya untuk membantu anak-anak di daerah Bekasi agar bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menjadi orang yang berhasil.  Selain mendirikan Rumah Pelangi, Bang Bisot juga aktif di berbagai kegiatan amal seperti salah satunya menggalang dana untuk pembangunan...

Merdeka bagi individu, seperti apa?

Apa arti merdeka? Bagi saya merdeka bagi individu manusia adalah orang yang bisa menjadi dirinya sendiri, dia mempunyai kebebasan menjadi diri sendiri tanpa harus mengenakan topeng demi menyenangkan orang lain. Foto mbah google  Merdeka bagi individu adalah merdeka tanpa mengkawatirkan pendapat orang lain tentang pribadinya, penampilannya, apapun yang terkait individualnya. Tak kawatir dibilang gendud, jerawatan, ga pakai hermes, dan hal2 individu lainnya.  Merdeka bagi individu adalah tidak membully orang lain karena merasa terganggu dgn kejiwaan dirinya sendiri (bagi saya org yg suka bully adl org yg terganggu kejiwaannya, bukan gila, tapi ada gangguan psikis, tekanan batin, merasa hidupnya sendiri krn suka bully agar dpt perhatian). Merdeka bagi individu adl tidak terusik dgn kebahagiaan org lain, tdk iri, tdk cari perhatian, drama queen/king, bisa menjalani hidup dan menikmati hidup dgn mjd dirinya sendiri. Saya pernah membaca, di atas kereta kuda HOS Cokro...