Penjaga Nusantara



Kebayang nggak kamu punya rumah besar dengan banyak bangunan bangunan terpisah oleh luasnya hamparan hutan lebat dengan sungai dalam dan berkelok? Kamu mempunyai harta yang  sangat banyak, emas berlimpah ruah, stok makanan menggunung untuk  anak cucu kamu dan penerus kamu, sehingga kamu harus menjaganya benar-benar dari pencuri nakal yang nekat mengambil hartamu, dan kamu memperkerjakan banyak security untuk menjaga rumah-rumah mu dan hartamu dari orang nekat yang nggak baik niatnya.

Kira-kira itulah Indonesia. Negeri ini negeri kepulauan dengan pulau sebanyak tujuh belas ribu lebih yang terpisah oleh lautan dalam dan dua samudera serta dua benua yang mengapitnya. Indonesia adalah negara surga, bahkan digambarkan sebagai Atlantis yang hilang oleh banyak penulis dan peneliti terkenal. Sebut saja Profesor Santos dengan karyanya Atlantis ada di Indonesia. Bagi yang mengetahui kisah Atlantis yang dipopulerkan oleh filsuf terkenal Plato, bahwa Atlantis adalah negeri gemah ripah loh jinawe, negeri dambaan semua umat manusia di dunia ini. Tanahnya yang subur, airnya yang kaya mineral dan sumber daya alam yang tak terhitung banyaknya, membuat Indonesia menjadi rebutan berbagai bangsa untuk menjajahnya. 

Sebut saja Belanda, Jepang, Portugis, Inggris, Spanyol, Perancis, berapa negara yang pernah menduduki Indonesia, mencoba ingin menguasai negeri ini untuk mengeruk kekayaan alamnya sebanyak-banyaknya. Tapi nenek moyang kita tak pernah menyerah mempertahankan tanah gemah ripah loh jinawe ini tetap mempunyai  jati diri dan identitas bernama nusantara. 

Namun penjajah nusantara tak pernah mau kecolongan hartanya, sejak dulu saat penjajahan Belanda, Belanda mengetahui harta nusantara begitu berlimpah hingga membentuk semacam sistem administrasi dan pungutan untuk mengatur keluar masuknya barang di nusantara. Dulu petugas pungutan dikenal dengan nama “Tollenar” yang secara harfiah diterjemahkan sebagai penjaga tapal batas negara atau pantai. 

Selain itu ada istilah lain seperti “Mantriboom” dan “Opasboom” yang dikaitkan pengertiannya dengan tanda tapal batas untuk pemeriksaan barang yang masuk dan keluar dari pelabuhan. 

Hingga pada saat Belanda dijajah Perancis, dan Belanda menjajah nusantara, secara tidak langsung bahasa dipengaruhi oleh Perancis dan mengubah istilah menjadi Douane dalam bahasa Perancis, yang artinya adalah petugas pungutan. Namun pada masa VOC, pemerintah Hindia Belanda meresmikan nama Bea Cukai adalah De Dienst der Invoer en Uitboerrechten en Accijnzen (I.U & A) yang artinya Jawatan Bea Impor dan Ekspor serta Cukai.

 Dan jaman pun berganti, Indonesia merdeka. Indonesia punya badan/instansi sendiri untuk menjaga tanah dan airnya dari rampok rampok yang mau mengambil kekayaan Indonesia. Salah satu instansi yang menjaga adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (disingkat DJBC), unit eselon I di bawah Kementerian Keuangan (dulu Departemen Keuangan).

Selain menjaga perbatasan dari penyelundup yang ingin membawa barang keluar dan masuk wilayah Indonesia, DJBC juga sebagai pelayan masyarakat dalam bidang kepabeanan dan cukai. Melayani pengadministrasian prosedur masyarakat yang ingin membawa barang atau jual beli barang baik keluar atau masuk wilayah Indonesia.

Coba bayangkan, Indonesia dengan luas 1,904,569 km2 yang wilayah utaranya berbatasan dengan negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km, Singapura, Filipina, dan laut Tiongkok Selatan (dulu Laut Cina Selatan), wilayah selatan berbatasan dengan Australiia, Timor Leste dan samudera Indonesia, wilayah barat dengan samudera Indonesia, wilayah timur dengan negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820km, Timor Leste dan samudera Pasifik dan dijaga oleh petugas Bea Cukai sebanyak sebelas ribuan orang?

Apakah tercukupi? Tertangani?

Kita tidak bisa bilang tidak, karena begitu banyak prestasi Bea Cukai di perbatasan yang menangkapi ribuan penyelundup sejak mereka berdiri. Kita juga tidak bisa bilang iya, karena pastinya ada celah celah yang diketahui penyelundup untuk bebas keluar masuk ke wilayah Indonesia.

Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km adalah kekayaan tak ternilai yang tak dimiliki negara manapun di dunia ini, membuat begitu banyak pihak yang tergiur ingin mengambil harta Indonesia diam-diam bahkan merampok secara terang-terangan.

Dalam Wikipedia, tugas dan fungsi DJBC adalah berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan negara, antara lain memungut bea masuk berikut pajak dalam rangka impor (PDRI) meliputi (PPN Impor, PPh Pasal 22, PPnBM) dan cukai. Sebagaimana diketahui bahwa pemasukan terbesar (sering disebut sisi penerimaan) ke dalam kas negara adalah dari sektor pajak dan termasuk didalamnya adalah bea masuk dan cukai yang dikelola oleh DJBC.

Selain itu, tugas dan fungsi DJBC adalah mengawasi kegiatan ekspor dan impor, mengawasi peredaran minuman yang mengandung alkohol atau etil alkohol, dan peredaran rokok atau barang hasil pengolahan tembakau lainnya. Seiring perkembangan zaman, DJBC bertambah fungsi dan tugasnya sebagai fasilitator perdagangan, yang berwenang melakukan penundaan atau bahkan pembebasan pajak dengan syarat-syarat tertentu.

Tugas lain DJBC adalah menjalankan peraturan terkait ekspor dan impor yang diterbitkan oleh departemen atau instansi pemerintahan yang lain, seperti dari Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Departemen Pertahanan dan peraturan lembaga lainya.

Semua peraturan ini menjadi kewajiban bagi DJBC untuk melaksanakannya karena DJBC adalah instansi yang mengatur keluar masuknya barang di wilayah Indonesia. Esensi dari pelaksanaan peraturan-peraturan terkait tersebut adalah demi terwujudnya efisiensi dan efektivitas dalam pengawasan dan pelayanan, karena tidak mungkin jika setiap instansi yang berwenang tersebut melaksanakan sendiri setiap peraturan yang berkaitan dengan hal ekspor dan impor, tujuan utama dari pelaksanaan tersebut adalah untuk menghidari birokrasi panjang yang harus dilewati oleh setiap pengekspor dan pengimpor dalam beraktivitas.

Karena tugas yang berat itulah, besar harapan Indonesia bertumpu pada petugas Bea Cukai agar kekayaan alam Indonesia, kekayaan ekonomi Indonesia tumbuh besar untuk kemajuan bangsa dan sebagai warisan untuk anak cucu di tahun mendatang. Maju terus Bea dan Cukai....




Sumber: wikipedia

Bagikan:

1 komentar