Menjadi Agen Bea Cukai Yang Baik

Siang makin memanas, begitu pun obrolan kami saat itu. Tak ada yang istimewa, hanya dua cangkir berisi kopi yang hampir habis, dan asbak penuh abu dan puntung rokok.

Sebut saja namanya Bisot, dia adalah kawan saya yang paling baik di kantor. Ya bukan berlebihan, tapi dia adalah sosok kakak, senior, dan pejabat yang memberi masukan teramat istimewa untuk junior seperti saya.
Saya dan Bisot, adalah pegawai dan pejabat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, kami sama-sama dari penerimaan umum, bukan dari sekolah istimewa STAN. Yang membedakan Bisot dan saya adalah, saya dari penerimaan umum D1 sementara dia dari penerimaan sarjana yang membuatnya cepat naik jabatan menjadi pejabat Eselon IV. Saat itu Bisot menjabat kepala kantor di salah satu kantor pelayanan yang dekat dengan perbatasan timur Indonesia.

“Deb, nggak ada yang keren di sana.. Hanya ada kelompok penjaga perbatasan dengan pegawai kurang dari dua puluh orang dan semangat kerjanya redup terang.. ” Bisot berusaha menurunkan semangat saya.
Awal pembicaraannya adalah sejak muda, sejak semangat jiwa muda masih berkibar seperti bendera, saya ingin sekali menjelajah daerah perbatasan, ingin melihat realita di sana. Saat menikah semua menjadi tertunda, atau mungkin takkan terwujud, namun keinginan itu masih tetap ada dan masih membara, ditambah lagi saya punya paman dari suami yang bekerja di Metro TV, yang suka meliput ke daerah perbatasan.

Apa yang diceritakan paman sungguh luar biasa, begitu beratnya perjuangan untuk hidup untuk sepiring makan pemenuh kebutuhan pun harus bertarung nyawa. Mengapa saya sebut demikian? Karena tingkat kemiskinan luar biasa besarnya, tak terliput oleh media, tak terekspos oleh dunia, bahkan pemerintah pusat pun seakan tak peduli dengan realita yang ada. Miris melihatnya dari potret-potret yang paman saya berikan.

Begitu pun Bisot, seperti pegawai Bea Cukai lainnya, sepertinya untuk orang kelahiran daerah barat, takkan mau ditempatkan bekerja di daerah timur, apalagi daerah gersang dan jauh pula dari keluarga. Semangat kerja itu seperti balon yang harus senantiasa dititup agar tetap cantik dilihat. Tapi Bisot berbeda, dia memang kelahiran timur, tapi bukan timurnya Indonesia yang ada di ujung NTT atau Papua, dia dari Makassar, itulah sebabnya banyak orang memanggilnya Daeng Bisot. Walau sesama timur, timurnya tempat Bisot bekerja sekarang sangat jauh dari kampung halamannya, naik pesawat saja harus ganti ganti, apalagi naik kapal laut, bisa berhari hari sampainya. Tapi itu tidak memadamkan semangatnya untuk bekerja. 

Saya mendengar dari anak buahnya pada acara pelaporan keuangan, dulu sebelum Bisot menjabat jadi Kepala Kantor, anak buahnya begitu malas bekerja, datang ke kantor hanya absen, sesudah itu menghilang. Mungkin karena sang atasan tak dapat “membakar” semangat anak buah. Atasan sibuk main golf, mancing dan cari duit sendiri. Anak buah merasa dicuekin, tak diperhatikan, mungkin karena bukan satu suku atau asal daerah, atau sebab lainnya. Tapi sejak ada Bisot, semua berubah, anak buah dilibatkan dalam berbagai kegiatannya, dari mancing bersama, jalan-jalan ke pedalaman sama-sama, semua dilakukan bersama. Hal itu membuat anak buah menjadi akrab dan dianggap saudara. Mungkin, sikap itulah yang perlu dilakukan oleh semua atasan di dunia ini. 

“Kerjamu di sana apa saja, Sot” tanya saya penasaran

“Ah kerja biasa saja… Tak ada yang istimewa, tapi sungguh pengalaman luar biasa. Ku anggap ini petualangan, Deb. Setiap hari kita melihat begitu banyak kejadian konflik antar warga, juga warga yang berusaha menyelundupkan kebutuhan pokoknya yang dibeli dari negeri seberang, yah banyaklah.. Pekerjaan, sejauh apapun, setidak enak apapun, anggaplah itu petualangan, pasti akan seru..” jelas Bisot.

"Kamu bayangkan, di sana itu penuh konflik. Karena saking susahnya mendapatkan produk dalam negeri untuk kebutuhan sehari-hari, warga sampai harus beli di negeri tetangga, tapi karena untuk menghindari petugas bea cukai, mereka rela melintasi hutan perbatasan.." tambahnya.

"Wah, kok begitu? Apa warga di sana nggak tahu prosedur Bea Cukai?" tanya saya

"Ya sedikit banyak sudah ada yang tahu, kan sudah sering sosialisasi ekspor impor. Sesering mungkin kita di sana mengadakan sosialisasi baik resmi atau sekedar ramah tamah kepada warga, supaya tahu prosedurnya.." jawab Bisot

"Dulu, sebelum negeri ini terpecah, sebelum ada negara tetangga, warga mana tahu ada perbatasan, turun temurun sejak nenek moyang ya mereka lewat ya lewat saja. Tidak ada prosedur kepabeanan.. Tapi kan semua berubah sejak terpecah. Mereka sudah terbiasa dengan kebiasaan sejak dulu, jual beli tanpa prosedur, akhirnya ada warga yang protes, dan konflik pun tercipta. Disitulah tantangannya pegawai Bea Cukai di perbatasan itu. Susah susah gampang.." tambahnya lagi.

"Ah, Sot.. Makin penasaran jadinya nih.." jawab saya.

"Pegawai di sana itu miris Deb.. Sulit sekali penghidupan di sana.. Biaya hidup mahal, barang-barang mahal. Mau makan saja mahal. Bayangkan, orang Jawa orang Sumatera di tempatkan di sana, tidak biasa makan makanan orang Timur, pastinya nyari makanan Jawa atau Sumatera, karena jarang jadi mahal itupun jauh. Akhirnya Gaji dan TKPKN tidak mencukupi. Sungguh berat..." 

"Memangnya nggak ada putera daerah yang kerja di sana??" tanya saya

"Ya kau tahulah sistem mutasi kita. Kepala kantor di daerah sana kebanyakan bukan putera daerah. Bagaimana bisa mengatasi konflik dan masalah jika bukan putera daerah, kau tahulah tidak semua tempat itu bisa bersosialisasi atau toleransi dengan suku lain. Masih banyak suku yang berkonflik dengan suku lainnya.." jawabnya

"Mungkin itu solusinya, Sot. Kepala Kantor harusnya orang yang mengerti daerah yang dipimpinnya, alias putera daerah. Penerimaan CPNS harusnya merata dari semua suku, pengangkatan atau promosi jabatan juga jangan sentralisasi, jangan kebanyakan orang Jawa, harusnya juga banyak putera daerah supaya bisa memimpin daerahnya masing-masing.." tiba-tiba saya jadi timbul ide itu. Ah, tapi saya pikir hanya sebuah ide, tapi tak ada salahnya saya berdoa semoga suatu saat ide itu bisa didengar oleh Pak Dirjen.

"Juga kesejahteraan, Deb.. Karena di sana tidak ada tunjangan wilayah terpencil. Apa-apa di sana sangatlah mahal.." tambahnya.

"Iyah Sot, kesejahteraan. Karena terlalu sentralisasi mungkin yah, jadi di sana kurang diperhatikan. Berapa pegawai yang berlomba ingin di tempatkan di KPU Tanjung Priok, semua berebut ya Sot. Sementara yang ditempatkan di kantormu, pada menolak semua. Ya mungkin karena selain jauh, kesejahteraan juga kurang. KPU boleh lah ada TKT untuk menghindari korupsi, tapi kantor di timur harusnya juga ada semacam TKT, semacam tunjangan tambahan karena sulitnya dan mahalnya biaya hidup di sana.." tambah saya.

"Iya benar, Deb.. Itulah kubilang, karena semua serba mahal di sana.. Andaikata ada tunjangan tambahan, itu menjadi semacam penyemangat tambahan.."  

“Ayolah Sot, sekali aja aja aku ke sana… Kepingin lihat seperti apa di sana..” saya membujuk rayu Bisot

“Cuma ada debu, bukit, tapiiii.. juga ada pantai yang indaah..” Bisot membuat hidung saya mekar membayangkan pantai biru dengan barisan pasir yang putih.

“Bagi turis, akan senang kesana.. Tapi bagi pegawai di pindahkan ke sana, yah sebulan dua bulan dia akan senang, sudahannya bosan..” tambahnya.

“Maybe..” jawab saya ragu.

“Apa yang bisa ditawarkan oleh alam untuk mengganti keindahan kota metropolitan yang dekat dengan keluarga?” tanya Bisot

Maksudnya adalah, bagaimana bisa kita menukar kehidupan yang sudah rutin kita jalani belasan tahun dekat dengan keluarga, lalu dengan alasan promosi dia dimutasikan ke ujung Indonesia yang gersang dan penuh konflik.

“Pengabdian?” jawab saya sebisa mungkin.

“Ah kau. Melek lah kau dengan dunia, Deb.. Jangan polos. Berapa pegawai yang kau temui di kantor mu itu yang bekerja dengan sepenuh hati karena memang cinta kantornya, cinta negerinya?”

Saya termangu.

“Berapa banyak berita yang kau baca, yang kau tonton di televisi yang meliput tentang trafficking, pembakaran hutan, penyelundupan minyak, dll” tambahnya.

“Berapa sering kau melihat di televisi para koruptor melambai lambai tangannya seakan bangga dengan hasil rampokannya?”

Saya menggigit bibir. Ngeri membayangkan pemberitaan itu, bahwa Indonesia memang sudah benar-benar ironi.

“Pegawai Bea Cukai bukan sekedar menjaga perbatasan atau menjaga negara ini dari penyelundupan narkoba yang merusak generasi kita, atau BBM atau bahkan kebutuhan pokok masyarakat sekitar yang tidak didapat dari negerinya sendiri dan terpaksa membeli ke negeri seberang, pegawai juga harus meneladani sikap dan sifat cinta negerinya sendiri dengan berjiwa nasionalis agar masyarakat yang melihat juga mencontoh..”

“Maksudmu, Sot?”

“Ah, berapa barang impor yang kau pakai di tubuhmu itu? Tas, sepatu, jam mu?”

Saya diam. Iya juga sih, adanya penyelundupan karena adanya permintaan. Andai kata produk dalam negeri sudah mumpuni memenuhi kebutuhan rakyat ini, takkan ada impor, takkan ada penyelundupan yang menghindari bea masuk. Seperti ada dalam iklan partai politik yang pernah saya lihat, beras yang kita makan, impor. Gula yang kita pakai, impor. Kedelai, sapi, bahkan sampai cabe saja impor. Masih mending kalau resmi, tapi kalau tidak resmi, alias diselundupkan. 

“Kau ngaku cinta negerimu, tapi barang yang kau pakai, makanan yang kau makan, hampir semua impor..”

“Kau ngaku cinta instasimu, tapi pengetahuanmu tentang instasimu minim, sehingga kau tak memberi contoh yang baik untuk masyarakat ketika kau bekerja…”

“Ibaratnya, jadilah agen  Bea Cukai yang baik dengan membiasakan diri menjadi orang yang nasionalis..” jelasnya panjang.

Saya terdiam lagi. Hari ini memang berat sekali obrolannya, bahkan secangkir kopi pun tak dapat membantu saya untuk mencerna semua maksudnya.

Definisi nasionalisme itu memang sungguh luas dan berat. Bukan hanya sekedar pakai merah putih di pertandingan bola, atau marah ketika pulau mau direbut, atau ketinggalan kereta saat batik mau diakui negara lain. Perlu pemahaman panjang, browsing sana sini, bahkan mempraktekkannya ke kehidupan sehari-hari pun pasti berat. Tapi kalau saya tidak memulai, bagaimana saya “mengompori” teman-teman saya di kantor untuk bergerak.  

“Tak perlu malu dengan pangkat putih satu strip mu, Deb.. Menjadi agen Bea Cukai yang baik, sebenarnya tak perlu pangkat tinggi, dan tak perlu juga jadi pegawai Bea Cukai, kalau dia cinta negerinya, cinta Indonesia, dia hanya perlu menjadi seorang yang nasionalis, menggerakkan diri sendiri untuk menggerakkan orang terdekatnya, dan nanti akan merembet dan meluas..” tambahnya.

“Hmm… Iya suhu Bisot..” jawab saya mencairkan situasi yang sudah mulai membara oleh semangat.

“Hahahahhaha…” dia tertawa, lalu menghisap rokoknya yang sudah hampir habis. Menyeruput kopi di siang yang panas.

Saya begitu mengaguminya, jarang saya temui seorang pejabat dan atasan yang sepertinya. Memberi contoh yang baik dengan tidak korupsi, tidak hedonis, dan cinta produk dalam negeri.

“Oke deh, Sot. Aku pamit dulu ya.. Sebagai agen Bea Cukai yang baik, aku harus kembali ke kantor tepat waktu setelah istirahat jam makan siang ini. Aku harus ikhlas dan semangat dengan tugas yang telah diberikan ini, dimanapun kita ditempatkan, itulah tugas dan tantangan kita untuk jadi orang yang lebih baik, tak perlu mengeluh di mana pun posisinya. Ya kan?” 

You've got the point, Deb…” Senyum Bisot menutup perbincangan saya dan dirinya siang ini. Tak kan 
ada lagi saya memohon-mohon padanya untuk memindahkan saya ke tempat yang saya inginkan. Tak kan ada lagi bekerja separuh-separuh. Jika saya sedang moody-an, yups saya harus segera mengingat orang di perbatasan sana, bahwasanya seharusnya saya bersyukur saya masih bisa bekerja, daripada tidak.

Jalan santai bersama instansi lain saat acara 17 agustusan (NTT)






Bagikan:

2 komentar