Selingkuh?

Beberapa bulan ini saya begitu banyak menerima curhatan dari teman-teman perempuan saya. Kebanyakan curhatannya seputar masalah rumah tangganya dengan suaminya. Memang tak bisa dipungkiri, masalah rumah tangga tak akan ada habisnya dan jika sudah selesai satu akan muncul masalah lain. Yah, namanya juga hidup, kalau tidak mau ada masalah ya tak usah hidup, begitu celotehan yang saya dengar dari mulut orang yang apatis terhadap kehidupan.

Jadi ceritanya begini, ini bukan untuk membuka aib orang, saya hanya ingin sedikit share dan tentunya menggunakan nama samaran.

Sebut saja teman perempuan itu namanya Ani, dia ini tipekal yang pendiam di luar, namun buas di dalam. Maksudnya, dia tipe alim yang orang lihat pasti akan bilang dia adalah perempuan yang baik-baik saja. Tak punya kehidupan liar di luar seperti menghabiskan waktu muda dengan dugem, senang-senang, gonta ganti pacar dll. Dan memang benar, teman saya si Ani ini memang kehidupan masa single nya baik-baik saja, dia nggak pernah nakal, pergaulannya lurus dan membuatnya tak mengenal kehidupan keras di luar sana, tsaaah...

Lalu dia menikah dengan laki-laki yang juga alim, datang ke pengajian bersama, sholat jamaah rutin, dll. Yah pokoknya kehidupan mereka berdua baik-baik saja lah. Hingga berjalannya waktu, anak lahir dan tumbuh besar, tak bisa dipungkiri seperti postingan saya sebelumnya tentang nafkah lahir dan batin yang wajib dipenuhi oleh kedua belah pihak tak bisa diabaikan apalagi diremehkan. Anak ketika besar dan belum ada anak lagi sudah pasti si istri dan suami akan intens lagi menghabiskan waktu berdua. Yang sebelumnya selama bertahun lamanya ( sejak anak lahir hingga kira-kira anak umur 3-5 tahun) mereka jarang berduaan, bahkan kehidupan seks pun hambar karena sibuk mengurus anak, saat anak sudah besar pastinya mereka akan kembali ke fase seperti saat baru menikah belum punya anak.


Istri akan kembali membutuhkan perhatian lebih seperti pengantin baru, begitu pun suami. Namun karena banyak pasangan yang lupa bahkan keasyikan bekerja dan sibuk di dunianya sendiri karena diabaikan/mengabaikan pasangannya selama umur anak 0-5 tahun mereka lupa caranya bermesraan seperti pengantin baru, saling memberi perhatian atau sekedar basa basi menyenangkan hati pasangan.

Sang ayah sibuk bekerja, sang ibu sibuk bekerja, rata-rata yang seperti ini tanpa disadari akan mengalami fase hambar, fase di mana perasaan akan biasa saja, tak ada getar atau gregetnya seperti pengantin baru, fase di mana pasangan seperti teman dan tak ada unsur cinta yang mendalam lagi.

Nah biasanya di fase seperti ini rawan dengan perselingkuhan. Inilah yang dialami Ani teman saya itu. Dia merasa tak mendapat perhatian lebih dari suaminya yang sibuk bekerja, walau materi dipenuhi bahkan berlebih, tapi nafkah batin biasa saja. Sekedar seks, 10-15 menit lalu setelah itu saling cuek, tak ada ngobrol lalu tidur.

Si Ani mendapatkan hal berbeda dari lelaki lain yang menggodanya, perhatian demi perhatian dilimpahkan padanya. Dia terbuai oleh bujuk rayu godaan si lelaki lain, perhatian yang diberikan bahkan berlebih melebihi suaminya. Karena biasanya, kalau pernikahan sudah bertahun, suami yang waktu pacaran suka nanya "sudah makan belum?", "sudah sholat belum?" , maka tak akan ada lagi pertanyaan itu, dan hal itulah yang dimanfaatkan oleh lelaki lain yang menjadi penyusup dalam rumah tangga ini.

Saya tak bisa menyalahkan si penyusup, begitu pun Ani, mereka sama-sama butuh perhatian lebih, karena si penyusup tak mendapatkan perhatian dari istrinya begitu pun Ani, dua manusia yang sama-sama membutuhkan kasih sayang seperti orang pacaran dan lupa dengan statusnya bisa membakar api perselingkuhan. Ditambah lagi jika unsur seks yang merupakan unsur fatal dalam rumah tangga. Pasangan yang tak dapat memenuhi kebutuhan pasangannya, rumah tangga itu beresiko mengalami masalah dikemudian hari.

Akhirnya Ani berselingkuh, dan namun ketahuan. Saya tak habis pikir ketika dia membuat semacam pembelaan diri dan menyalahkan suaminya yang cuek tak pernah perhatian padanya, saya hanya merasa Ani tidak menghargai poin keempat dalam dasar-dasar rumah tangga (ada di posting sebelumnya), yang mana isinya adalah beriman lebih dan mempunyai rasa syukur yang tinggi.

Kita tidak dapat protes kalau mendapat pasangan yang tidak romantis bahkan galak suka membentak, kita tak dapat protes kalau dapat pasangan super alay dengan kata-kata gombalnya, karena saat kita menikahinya, kita yang memilihnya dengan segala resiko dan konsekwensi yang harus siap tak siap kita hadapi dan terima.

Saya menasihati Ani, juga suaminya secara tak langsung, saya bilang bahwa mereka harus berubah, jangan saling meminta pasangan harus seperti yang kita mau, tapi rubahlah diri kita apakah kita cukup pantas untuk disayangi orang jika punya sifat dan prilaku buruk?

Kok jadi menjudge si Ani ya? Hahahhaha..

Selain Ani, ada juga teman saya yang lain, modelnya sama seperti itu, hanya saja masalahnya lebih rumit. Suaminya tak bekerja sementara  dia bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Bagi saya ini lebih bahaya, karena suaminya berarti tidak memahami kodratnya sebagai imam, kepala keluarga, suami dan ayah sebagai pemenuh nafkah lahir primer (istri : pemenuh nahkah lahir sekunder), ya kalau dia tak menyadari, sampai mati pun kehidupan rumah tangga seperti itu takkan ada bahagianya.

Dan akhirnya sampai kepada saya, saya akui rumah tangga saya juga tak mulus, sudah pasti ada masalah dan pertengkaran, namun saya berusaha untuk menyelesaikan secara musyawarah. Saya tak mau seperti teman-teman saya yang melarikan diri dengan berselingkuh. Saya tak ada keinginan berselingkuh sampai detik ini, yang ada jika saya ingin berselingkuh, saya akan bertanya, apakah saya masih bisa untuk jatuh cinta lagi setelah patah berkali-kali? Saya percaya, selingkuh bukan solusi untuk menyelesaikan masalah rumah tangga, tak guna berlari dan dak menyelesaikannya. Kita hanya belum tahu cara terbaik apa untuk menyelesaikan konflik rumah tangga kita, namun selingkuh bukan jawabnya.

Yah semoga saja iman dan rasa syukur saya tak habis-habis dan terus recharge, dan semoga saya cukup pantas menjadi orang yang disayangi, dan semoga suami saya juga menyadari dan introspeksi diri lalu memantaskan dirinya untuk dicintai dan disayangi.

 
gambar nyolong dari google image



Bagikan:

2 komentar