Try To Stop Being Addicted to Social Media

Pertama-tama saya mau mengucapkan Minal Aidin Wal Fa Idzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Happy Ied 2013 for all.




Kedua, saya mau minta maaf  kepada pembaca blog ini, baik yang silent rider atau yang sering komen (Ih geer amat, kayak banyak aja yang baca...) kalau semangat nge-BLOG 30 hari menuju Syawalnya nggak kekejar karena kesibukan sebagai Ibu Rumah Tangga sejati sejak asisten saya pulang kampung, saya menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Akhirnya gagal deh rencana saya ngeblog selama 30 hari Ramadhan.. Maaf ya semuanya... 


Ketiga saya mau curhat, udah lama nggak curhat nggak di blog ini.


Beberapa bulan ini saya aktif banget di berbagai social media, seperti Facebook, Twitter, Line, dll. Salah satu socmed yang membuat saya ketagihan adalah Facebook (FB). Kalau yang lain, saya nggak begitu suka. Setiap pagi sampai kantor saya buka FB, balas komen ini itu di status saya, lalu komen di status orang lain, buka grup yang saya buat, bikin tulisan, lalu komen di grup lain. Seharian rasanya nge-FB terus, seperti ada kewajiban untuk membalas komen-komen, karena kalau nggak dibalas nanti disangka tidak peduli, belum lagi ketika menjadi admin suatu grup, semacam ad keharusan untuk mengurusnya, menengok setiap hari, membuat topik agar grup ramai, ketika topik yang sudah saya buat susah payah lalu gagal meramaikan grup rasanya sedih sekali. Dan jika lagi ada topik yang seru, tak jarang saya melewatkan jam makan siang karena sibuk balas komen, tidak menepati jam sholat karena sibuk baca notes seru, belum lagi kerjaan keteteran dan akhirnya banyak hal-hal penting terlewati.


Belum lagi saya akhir-akhir ini sering cemburu dengan suami, kalau suami sudah sibuk dengan laptop atau HP nya karena meladeni FB nya, suami saya pun begitu, dia menjadi ketergantungan dengan FB, saya tiduran di sebelahnya di kamar, kami bersebelahan itu adalah waktu kami berdua yang jarang kami dapatkan, juga tak jarang ada anak kami yang menyertai waktu yang seharusnya kami nikmati bertiga, tapi kami malah sibuk dengan HP masing-masing melihat FB dan chatting dengan teman-teman di FB, sementara anak kami menangis, teriak-teriak minta di ajak main, akhirnya kami nyalakan TV acara Baby First supaya anak kami diam tidak teriak dan menangis dan kami melanjutkan kesibukan kami di FB.


Dan tak jarang juga saya sering melihat suami ketawa sendiri karena ngobrol dengan temannya di FB walau itu laki-laki tapi membuat saya cemburu karena saya ada di sebelahnya dia tidak mengobrol dengan saya, dan begitu pun sebaliknya, suami juga sering cemburu. Dan akhirnya kami sering bertengkar karena masalah FB.

Saya jadi berpikir, ini kok FB semacam mengatur hidup saya, mengatur perasaan dan waktu saya, saya menjadi mempunyai kewajiban mengurusnya, padahal itu hanya social media yang kebetulan tema-teman di dalamnya adalah sebagian besar saya kenal dan sudah pernah saya jumpai di dunia nyata, jadi bukan hanya sekedar kenal di dunia maya saja. Dan karena socmed itu saya jadi jarang ngobrol sama suami secara langsung, yang padahal bisa dilakukan di rumah, malah ngobrolnya via chatting di FB. Belum lagi waktu saya dan suami dan anak menjadi sedikit untuk bermain bersama. 


Lama-lama saya menjadi berpikir ulang, kok FB seperti merusak hidup saya yah, bukan salah FB nya sih, FB tidak salah sama sekali, tapi karena ketergantungan saya terhadap socmed membuat saya menjadi jauh dengan orang yang berada di dekat saya (suami dan anak), dan menjadi dekat dengan orang yang berada jauh dari saya (teman-teman di FB).


Akhirnya saya memutuskan untuk deaktif FB, saya mencoba selama liburan lebaran dua minggu lebih lamanya untuk tidak FB-an, saya menyibukkan diri dengan mengurus anak yang kebetulan asisten saya pulang kampung sehingga saya ada kesempatan untuk lebih dekat dengan anak dan suami. Alhamdulillah saya bisa menghentikan semacam keinginan/sugesti untuk FB-an.


Dan sekarang saya memutuskan untuk deaktif selamanya, semoga saya bisa.


Pssst, suami saya juga sepakat untuk deaktif FB nya loh. Dan kami jadi banyak waktu berkualitas bersama anak kami, terbukti liburan lebaran kemarin kami banyak jalan-jalan bersama anak dan banyak waktu untuk ngobrol secara langsung, nggak via message lagi. Semoga kedepannya saya ga ketergantungan sama socmed lagi.



Bagikan:

1 komentar