ROH - Semangat nge-BLOG 24 hari menuju Syawal


Roh (bahasa Arab: روح, ruuh) adalah unsur non-materi yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan.






ROH DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF AGAMA



Pandangan Islam (sekilas, penjelasan detail di bawah)
 
Ruh-ruh manusia ketika berada di alam ruh

Menurut agama Islam, manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah Ta'ala, setelah diciptakan-Nya makhluk lain seperti malaikat, jin (Iblis), alam semesta, hewan (binatang), tumbuhan dan lainnya. Allah menciptakan manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memakmurkannya.

Pada persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an di dalam surah Al A'raf, yang berbunyi

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172)

Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia dianggap sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan ajaran yang lurus.



Pandangan Kristen

Etimologi

Roh atau roh ( Ibrani רוח baca: ru-ach ) adalah unsur ketiga yang membentuk kehidupan manusia. Paulus menyebutkan bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: roh, jiwa dan tubuh (1 Tes 5:23). Unsur tubuh jasmani adalah wadag yang dapat kita raba, jiwa disebut juga nyawa ada di dalam darah, sedangkan unsur ketiga yaitu roh adalah yang memberi manusia kesadaran. Tubuh jasmani dapat binasa, tetapi roh manusia bersifat kekal.

Allah adalah Roh

Kepercayaan Kristen mengakui bahwa Allah adalah Roh (Yohanes 4:24). Yesus Kristus menyebut Allah sebagai bapa Bapa sehingga dalam pemahaman Kristen, maka Bapa juga adalah Roh.

Roh Kudus

Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, atau Roh TUHAN itu sendiri. Roh Kudus tidak diciptakan, melainkan keluar dari Bapa (Yohanes 15:26). Roh Kudus hanya satu, namun dapat sekaligus memenuhi sejumlah besar manusia dan memberikan rupa-rupa karunia Roh (1 Korintus 12:4)

Arwah

Arwah adalah roh manusia yang sudah meninggal dunia. Kristen mempercayai bahwa setiap arwah orang benar, ketika mereka meninggal, arwahnya ditempatkan oleh Malaikat Tuhan ke Firdaus Allah yaitu ke pangkuan Abraham(Lukas 16:23), sedangkan orang yang tidak benar maka arwahnya akan ditempatkan di Hades.

Roh-roh jahat
  • Iblis disebut juga Satan dipercayai Kristen sebagai seorang pribadi roh (tunggal, bukan jamak) yang berasal dari penghulu malaikat yang memberontak kepada Allah, lalu diusir dari Sorga.
  • Setan-setan yang juga disebut roh-roh jahat bermakna banyak, adalah sepertiga jumlah malaikat yang terpengaruh Iblis, ikut memberontak, dan lalu diusir dari Sorga, dan dijatuhkan ke Bumi. Baik Iblis maupun roh-roh jahat mempunyai kecenderungan menggoda umat manusia supaya berbuat dosa agar kelak mendapat hukuman Tuhan di Neraka setelah Hari Penghakiman.


Pandangan Hindhu

Atman atau Atma dalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Brahman, bagaikan matahari dengan sinarnya. Brahman sebagai matahari dan atman-atman sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.


Pandangan Buddha

Dalam tubuh kita dibedakan ada dua penghuni yaitu roh dan jiwa. Roh mengandalkan sinar roh di cakra dahi/hati langit. Sementara jiwa mengandalkan kesadaran palsu yang berada di hati fisik. Kita harus melatih roh kita untuk menghidupkan sinar roh sehingga dapat menundukkan kesadaran palsu, dengan kata lain menggunakan sifat sejati. Menundukkan kesadaran palsu. Untuk mempermudah pengertian kita memakai istilah Tao untuk positip sebagai "Yang" dan negatip sebagai "Im".

Roh adalah unsur “Yang” (positip, terang) hawa yang terang dan bersih bermukim di “sifat sejati”(cakra dahi). Jiwa adalah unsur “im” (negatip, gelap) hawa kotor dan gelap bermukim di “kesadaran palsu”(hati). Bila roh anda kuat anda akan naik kelangit dan dapat menjadi seorang Buddha.

Bila jiwa anda yang kuat anda akan masuk neraka menjadi arwah.  Para penekun tao banyak berlatih keras berusaha menghabiskan unsur "im". Sewaktu unsur "im" musnah hanya tersisa unsur "yang" murni tersisa akan menjadi seorang mahluk suci.

Manusia pada umumnya tidak memahami dan mengenal sifat/roh sejati dirinya sendiri karena belum muncul bila tidak bermeditasi.

Yang berkuasa pada manusia, awalnya adalah kesadaran/jiwa palsu bermukim di hati, yaitu hati secara fisik ditutupi oleh paru-paru.

Kesadaran/jiwa palsu biasa disebut juga dengan hati abu-abu yaitu hati yang terpengaruh oleh panca indra kita yang menyebabkan nafsu jahat muncul. Hati abu menimbulkan pikiran-pikiran yang tidak sehat ide jahat, tujuh perasaan, enam napsu, pandangan-pandangan yang keras kepala, pemikiran-pemikiran yang tidak adil. Hati abu akan menjadi panic bila diserang, menjadi marah bila dikecam, menjadi sedih bila ditinggal orang yang dikasihi, menajadi mabuk melihat wanita cantik. Ini semua merupakan akibat bekerjanya kesadaran palsu.

Ada ungkapan mengenai hubungan antara Roh sejati dan jiwa palsu seperti yin dan yang.
Roh sejati adalah “yang = dewa dan Buddha” sedangkan “kesadaran/jiwa palsu = im” adalah mara/iblis.

Mereka terus bergulat mencari kemenangan. Bila jiwa palsu sedang di atas angin akan merangsang diri dengan pikiran jahat tanpa henti. Bila Roh sejati orang tersebut buram dengan tidak terfokusnya sinar di dahi, berarti tidak ada sinar atau gelap. Orang seperti ini sudah pasti masuk neraka.

Cakra dahi/hati langit adalah tempat dari pikiran juga surga. Surga adalah tempat para Buddha dimana Roh asal/sejati kita bermukim. Roh sejati adalah sinar roh yang merupakan prana (chi) yang juga merupakan tempat pemukiman penerangan sempurna.

Orang yang berlatih meditasi atau konsentrasi maka “Roh sejati”nya akan menampakkan diri dan berada di cakra dahi /hati langit yang mana akan menundukkan “jiwa palsu”.



PENGERTIAN DAN PERBEDAAN ANTARA JIWA DAN ROH



Jiwa, dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut Psyche yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit.

Jadi, sebenarnya, sejak manusia mengalami proses kejadian Sampai sempurna menjadi janin dan dilahirkan ke atas dunia, telah ada unsur lain yang bukan fisik material yang ikut menyusun semua peristiwa penciptaan itu. Justru adanya unsur non-fisik inilah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya sebagai satu kelebihan. Kelebihan ini akhirnya tampak nyata pada norma-norma nafsiyah (psikologis) dengan segala kegiatannya.

Jadi, apa jiwa itu?

Plato (477-347 sM) berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian is bersarang di tubuh manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di dada (thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat ini kemudian dikenal dengan istilah Trichotomi. Menurut Plato, ketiga unsur inilah yang mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain, seluruh kegiatan hidup kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada ketiga unsur tersebut. Sejajar dengan trichotominya, Plato mengatakan bahwa manusia akan memiliki sifat Bijaksana (jika pikiran menguasai dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika kehendak menguasai dirinya) serta Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada akalnya). Maka apabila ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah memiliki kesadaran sebagai manusia. Sadar artinya mengerti secara aktif. Dengan kesadaran inilah, manusia selalu cenderung untuk menentukan sendiri bentuk-bentuk aktivitas hidupnya dan tingkah-laku yang diwujudkannya, maupun finalita dalam kehidupannya.

Aristoteles (384-322 sM) berpendapat lain dari gurunya. Menurut dia jiwa itu adalah daya hidup bagi makhluk hidup. Jadi, di mana ada hidup di situlah ada jiwa. Daya kehendak dan mengenal merupakan dua fungsi jiwa manusia. Kemudian pendapatnya ini dikenal dengan istilah dichotomi. Selanjutnya dia menjelaskan, bahwa jiwa sebagai sesuatu yang abstrak (dunia idea) halus menempati atau berada dalam tubuh (dunia materi) menjadi daya hidup yang nyata, (realita). Karena realisasi dari jiwa ini memang merupakan tujuan untuk membentuk sesuatu (tingkah laku) menurut hakikatnya yang sudah ditentukan terlebih dahulu untuk mencapai suatu tujuan, maka ia menjadi. Menjadi di sini berarti kemungkinan untuk berwujud. Artinya, semua potensi yang ada akan menampak nyata (aktual). Jiwa itulah potensi yang ada dalam tubuh sehingga mengaktualisasi dalam bentuk tingkah-laku. Sebelum tingkah laku itu terwujud, ia masih merupakan kemungkinan (potensial) dan setelah terbentuk atau terjadi maka ia disebut Hule. Setiap kejadian (hule) pasti ada yang menjadikan (Murphe) dengan demikian, dalam diri manusia terdapat unsur Hule-Morpheisme.

Rene Descartes (1596-1656 M) berpendapat bahwa jiwa merupakan Zat Rohaniah, dan tubuh adalah Zat Jasmaniah. Dari zat rohaniah inilah munculnya tingkah laku manusia yang disebut tingkah laku rasional. Sedangkan dari zat jasmaniah itu muncul tingkah laku mekanis. Antara dua zat kejiwaan dan zat ketubuhan itu berada dalam perbedaan yang terpisah, tetapi keduanya dihubungkan dengan adanya kelenjar Pinealis, sehingga rangsang-rangsang ketubuhan dapat diteruskan melalui kelenjar ini ke aspek kejiwaan dan sebaliknya. Selanjutnya dia menyatakan bahwa jiwa manusia berpokok pada kesadaran atau akal pikirannya, sedangkan tubuhnya tunduk kepada hukum-hukum alamiah dan terikat kepada nafsu-nafsunya. Paham ini dikenal dengan Dualisme.

Selain Descartes ada sarjana yang berpendapat bahwu untura ketubuhan dan kejiwaan (jiwa dan raga) itu tidak dapat bedakan karena keduanya merupakan kesatuan secara interaksi, dan tidak saling terpisah, tetapi merupakan satu hubungan kausalitas.  Pendapat ini kemudian dikenal dengan teori Monisme.





Kemudian, apa perbedaan jiwa dengan roh?

Diambil rata, membicarakan masalah roh itu memang kurung menarik perhatian, kecuali beberapa orang tertentu yang memperhatikan dirinya serta ingin memahami fungsi roh pada tubuhnya. Yang mempersoalkan roh pertama kali adalah kaum Yahudi, yang dijawab oleh wahyu: "Katakanlah Muhammad, bahwa roh itu menjadi urusan Tuhanku saja." (QS Al Isra': 85).

Mengapa demikian?

Memang, sampai sekarang masalah roh merupakan ruang kosong dalam analisis dunia sains. Hakikat wujudnya tidak terjaring oleh kemampuan penalaran rasional manusia, apalagi hanya dengan pengamatan mata telanjang. Berpijak pada ayat di atas, para mufassir mencoba memberikan sedikit pengertian tentang roh ini, antara lain:

Ibnu Qayyim al Jauzy menyatakan pendapatnya, bahwa, roh merupakan jisim nurani yang tinggi, hidup bergerak menembusi anggota-anggota tubuh dan menjalar di dalam diri manusia. Kalau tubuh sehat dan menerima bekas-bekas dari jisim halus ini, maka ia akan tetap kekal berjalin dengan tubuh dan menghasilkan beberapa daya atau kemampuan rohaniah. Sebaliknya kalau tubuh itu rusak, maka ia melepaskan diri dan berpisah menuju alam arwah. Akan tetapi ia tidak musnah. Yang mati itu adalah nafs. Jadi, perbedaan antara nafs dan roh adalah perbedaan dalam sifatnya.

Imam Al Gazaly berpendapat bahwa roh itu mempunyai dua pengertian; Roh Jasmaniah dan Roh Rohaniah. Roh jasmaniah ialah zat halus yang berpusat di ruangan hati (jantung)serta menjalar pada semua urat nadi (pembuluh darah) tersebut,- ke seluruh tubuh. Karenanya manusia bisa bergerak (hidup) dan dapat merasakan berbagai perasaan serta bisa berpikir, atau mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan roh rohaniah adalah bagian dari yang ghoib. Dengan roh ini manusia dapat mengenal cirinya sendiri, dan mengenal Tuhannya serta menyadari keberadaan orang lain, (berkepribadian, ber-Ketuhanan dan berperikemanusiaan), serta bertanggung jawab atas segala tingkah-lakunya. Roh inilah yang memegang komando dalam seluruh hidup dan kehidupannya, karena roh ini yang menerima perintah dari Allah dan larangan-Nya. Tetapi ia bukan jisim, bukan nafs, dan bukan sesuatu yang melekat pada lainnya. Ia merupakan substansi yang wujud, berdiri sendiri, diciptakan, oleh karenanya hanya menjadi urusan Penciptanya saja.

Prof. Dr. Syekh Mahmoud Syaltout mengatakan bahwa Roh itu memang sesuatu yang ghoib dan belum dibukakan oleh Allah bagi manusia. Akan tetapi pintu penyelidikan tentang hal-hal yang ghoib masih terbuka karena tidak ada nash agama yang m'enutup kemungkinannya. Selanjutnya dia menegaskan bahwa Roh merupakan sesuatu kekuatan ghoib yang menyebabkan -kehidupan pada makhluk hidup. Roh (faktor X) inilah yang berfungsi sebagai penegak nafs. Dalam Al Quran' (Quran) ada 19 ayat tentang roh dengan konteks pembicaraan yang berbeda-beda.

Para ulama pun tidak sampai dengan tegas menyatakan pendapatnya apakah roh itu sama dengan nafs, sesuku dengan tubuh, suatu sifat, substansi atau atom yang terlepas samasekali dengan lainnya. Sedangkan ayat yang menyatakan bahwa setelah penciptaan tubuh fisik ini sempurna kemudian Allah meniupkan roh-Nya (Al Hijr: 29), menurut pendapat yang lebih bersifat psikis adalah, terwujudnya pengaruh roh itu pada jasad sehingga jasad kasar ini berfungsi dan melakukan perannya, baik yang berhubungan dengan aspek kejiwaan maupun aspek ketubuhan.

Mempersoalkan tentang sesuatu yang sifatnya ghaib seperti jiwa itu terasa agak ganjil bagi sementara orang, karena, orang hanya akan mengira-ngirakan kepada sesuatu yang tidak dapat dipegang, diraba, dilihat, ditimbang, diukur bahkan abstrak secara total. Dugaan itu ada benarnya, tetapi, banyak salahnya. Jiwa sebagai sesuatu yang abstrak, bersifat subjektif, bebas dan pribadi, dapat menimbulkan kesadaran, tapi memerlukan hubungan dengan fisik (tubuh). Karenanya ia dapat dipelajari bagaimananya dan tidak dapat diketahui apanya, kebalikan dari wujud Tuhan yang dapat dipelajari apa (wujud)-nya tetapi tidak bisa diketahui bagaimananya.

Berbicara tentang manusia dari kejadiannya, tidak dapat terlepas dari pada hukum-hukum penciptaan keseluruhannya. Setiap insan yang beriman sependapat bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan, artinya bukan ada dengan sendirinya. Akan tetapi belum semua manusia sependapat bahwa penciptaan atas manusia itu meliputi jasmani-rohani, lahir-batin, jiwa-raganya, atau keseluruhannya secara utuh. Berbeda dengan logika semu yang ditarik-tarik oleh pola pemikiran insani dalam menetapkan adanya Allah sebagai Maha Pencipta, maka Al Quran ,memakai dalil-dalil aksioma (patokan-patokan yang berdasar kenyataan) dengan tekanan-tekanan yang jelas, sederhana dan mudah dicerna oleh segala tingkat pemikiran mulai dari pemikiran kampungan sampai ke pemikiran filosofis. Orang yang berpikir sederhana pun dapat mengetahui dalil-dalil tersebut dalam garis-garis yang pokok karena kesederhanaan, kejelasan dan keaksiomaan yang terkandung di dalam dalil-dalil itu sendiri. Adapun bagi orangorang alim dan cerdik pandai, maka dalil-dalil tersebut dapat diperdalam secara terinci, yang secara keseluruhan dapat membentuk suatu rumusan pikiran yang tersusun, sehingga pengingkaran terhadapnya sama saja dengan mengingkari terhadap 2 x 2 = 4.

Tentang kejadian manusia jasmani dan rohani kita dihadapkan kepada kenyataan adanya aktualita Bina Cipta Ilahi yang bersumber pada dalil aksiomatis ini:


a.       Dalil Penciptaan (ikhtira')
Tuhan adalah Pencipta Tunggal atas adanya segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tidak (lahir-batin). Informasi tentang ini dapat kita baca dalam Surat Al Mu'min: 62

b.      Dalil Pembinaan (al 'inayah)
Tuhan bukan hanya pencipta kemudian setelah jadi lalu dibiarkan begitu saja berjalan tanpa hukum dan aturan-aturan tertentu. Balk makhluk hidup ataupun benda mati, diikat oleh hukum dan aturan tertentu yang dicipta sebagai proses. Informasi tentang ini dapat kita baca dalam Surat Al A'la: 2-3

c.       Dalil Keteraturan (an nidham )
Semua ciptaan Tuhan berada dalam proses (tidak statis), serta berada dalam kadar sebab akibat tertentu. Segala benda itu punya tabiat sendiri-sendiri, berproses secara tetap dan berulang. Kalau keteraturan ini tidak ada, manusia tidak mungkin punya jiwa, dan sebagainya. Informasi tentang ini dapat kita baca dalam Surat Al Furgan: 2.

Adapun penjabaran dan pengembangan proses tentang adanya hukum dan aturan itu, diserahkan kepada kemampuan akal intelek manusia untuk menerjuni selidik sedalam-dalamnya, karena AlQuran memang bukan buku pelajaran yang memuat deretan dalil-dalil fisika, kimia atau biologi, dan bukan pula buku ensiklopedi, juga bukan tujuan Al Quran untuk menuntun manusia kepada ilmu-ilmu pengetahuan melalui pengajaran. Ayat-ayat yang disusun di dalamnya lebih bersifat memberi isyarat akan adanya rangkaian ilmiah yang terdapat di dalam penciptaan alam semesta dan seisinya dan pada diri manusia sendiri, yang sebagian telah berhasil diungkap oleh kemampuan dan potensi psikis manusia, walaupun masih lebih banyak yang belum tergali.

"Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran (Quran) itu adalah benar." (Fushshilat: 53)

Menanggapi ayat seperti ini, orang yang berpikiran sederhana pun mudah menangkap bahwa apa yang terdapat pada penciptaan alam semesta dan diri manusia itu sendiri merupakan tanda-tanda adanya Kehendak- Kekuasaan- Kebijaksanaan-ilmu Ketelitian- Keseimbangan-Kerapian- Kesengajaan- yang semuanya itu menguatkan adanya penciptaan yang dahsyat. Untuk mengarahkan dan memelihara pemahaman semacam inilah kepada manusia diberikan kesadaran yang berpusat pada adanya Jiwa (akal pikiran, kehendak-perasaan) yang dengannya pula manusia dilimpahi kepercayaan serta dibebani kewajiban sehingga hubungan manusia dengan Tuhannya menimbulkan tingkah laku bermotivasi, yang dilatarbelakangi nilai-nilai ibadah.

Tentang mengapa Allah memilih manusia sebagai pelaksana dari amanat-Nya itu adalah karena manusia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. (Baca: Surat Al Isra': 70). Dan kelebihan itu tampak pada adanya norma-norma nafsaniyah (psikologis) dengan segala potensi yang mendukungnya, sehingga manusia yang sadar sepenuh jiwanya, akan mengarahkan seluruh kegiatan hidup kejiwaannya itu menuju taqwa.




---




Dirangkum dari berbagai sumber:

Wikipedia


Kategori:

Bagikan:

2 komentar