JIN - Semangat nge-BLOG 25 hari menuju Syawal








Jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin adalah salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api. Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa, di antara yang bernyawa adalah jin. Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.

Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas.

Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menceritakan tentang Jin. Diantaranya:

1.          Surah Al-Hijr ayat 26 – 27:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat yang kering kerontang yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan Kami telah ciptakan Jin sebelum di ciptakan manusia dari api yang sangat panas.”
2.          Surah Ar-Rahman ayat 15:
Artinya: “Dia (Allah) menciptakan Jann (Jin) dari nyala api (Pucuk api yang menyala-nyala atau Maarij)”
3.          Surah Al-’Araf ayat 12:
Artinya: “Engkau ciptakan aku (kata Iblis) dari api sedangkan ciptakan dia (Adam) dari tanah.”
4.          Dari Hadis Nabi saw yang telah diriwayatkan oleh Muslim ra:
“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jaan diciptakan dari lidah api sedangkan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kamu (tanah).”
5.          Al-A’raf Ayat 72:
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”


Asal Mula Penciptaan Jin

-Qs Al-Hijr : 26 – 27 :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”

– Qs Al-Baqarah ayat 30 :
Yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

– Qs Ar-Rahman ayat 15 :
Yang artinya : “dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”

Menurut suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud  menyatakan bahwa angin Samuun yang dijadikan Jaan itu hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian angin Samuun yang sangat panas.
Dari api yang sangat panas inilah Allah telah menciptakan Jin, yaitu dari sel atau atom atau dari nukleas-nukleas api. Kemudian Allah masukkan roh atau nyawa padanya, maka jadilah ia hidup seperti yang diinginkan oleh Allah. Jin juga di beri izin oleh Allah merubah diri kebentuk yang disukai dan dikehendakinya kecuali bentuk rupa Rasulullah SAW.

Jin juga diperintahkan oleh Allah menerima syariat Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada manusia. Bentuk asal Jin setelah diciptakan dan ditiupkan roh itu hanya Allah dan Rasulnya saja yang mengetahuinya. Menurut beberapa ulama rupa, tabiat, kelakuan dan perangai Jin adalah 90 persen mirip ke manusia.

Asal kejadian manusia adalah campuran dari Massa Kathif yaitu tanah dan air, Massa Syafaf yaitu campuran api dan angin dan nurani, yaitu roh, akal, nafsu dan hati yang dinamakan “Latifatur-Rabbaniah” sesuai dengan manusia sebagai sebaik-baik kejadian yang diciptakan Allah dan sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini. Sedangkan kejadian Jin pula ialah campuran Massa Syafaf yaitu campuran api dan angin dan Nurani yaitu roh, akal, nafsu dan hati yang sesuai dan cocok dengan kejadian Jin.

Sedangkan mahkluk-makluk lain pula Allah jadikan dari salah satu unsur tersebut, misalnya, binatang yang dijadikan dari campuran Massa Ksayif dan Massa Syafaf saja. Batu dan tumbuh-tumbuhan pula dijadikan dari Massa Kasyif semata-mata. Sedangkan Malaikat pula dijadikan dari Nurani semata-mata.


Cara Reproduksi Jin

Manusia membutuhkan waktu mengandung selama sembilan bulan untuk melahirkan dan anak manusia juga membutuhkan waktu yang lama untuk matang dan menjadi baligh.

Berbeda dengan Jin dimana bila di sentuhkan alat kelamin lelaki dengan alat kelamin perempuan, maka Jin perempuan akan mengandung dan melahirkan, anak Jin yang baru lahir itu terus mukallaf. Begitulah keadaannya sampai ke hari kiamat.

Iblis pula apabila disentuhkan paha kanan dengan paha kiri akan mengeluarkan 33 biji telur. Dalam setiap biji telur itu ada 33 pasang benih. Setiap pasang benih itu apabila menyentuh paha kanan dengan paha kiri akan keluar seperti yang terdahulu. Begitulah proses reproduksi Jin dan Iblis sampai pada hari kiamat.

Bunian atau biasanya disebut juga orang Ghaib ialah hasil campuran laki-laki atau perempuan Jin dengan laki-laki atau perempuan dari kalangan manusia. Anak yang dihasilkan dari percampuran itu dikenal dengan nama Bunian. Perangai dan tingkah laku serta bentuk rupa orang Bunian ini dalam beberapa hal mirip manusia dan juga mirip Jin.

Jika nenek moyang manusia adalah Nabi Adam, maka nenek moyang Jin juga ialah “Jaan” yang asalnya adalah beriman kepada Allah dan melahirkan keturunan yang beriman. Setelah itu terdapat juga keturunan Jaan yang kufur dan melahirkan keturunan yang kufur. Anak cucu Jaan yang asalnya beriman itu ada yang kuat imannya, ada pula yang kufur dan ada juga yang beriman kembali kepada Allah.


Bentuk dan Jenis Jin

– Bentuk Jin

Pada dasarnya bentuk rupa Jin tidak banyak berbeda dari bentuk rupa manusia, yaitu mereka memiliki jenis kelamin, memiliki hidung mata, tangan, kaki, telinga dan sebagainya, sebagaimana yang di miliki oleh manusia. Pada dasarnya 80 hingga 90 persen Jin menyerupai manusia.

Hanya perbedaan fisik Jin adalah lebih kecil dan halus dari manusia. Bentuk tubuh mereka itu ada yang pendek, ada yang tinggi dan bermacam-macam warnanya, yaitu putih, merah, biru, hitam dan sebagainya. Jin kafir dan Jin Islam yang fasik itu memiliki rupa yang buruk dan menakutkan. Sedangkan Jin Islam yang saleh memiliki paras yang elok.

Menurut beberapa pendapat, tinggi Jin yang sebenarnya adalah sekitar tiga hasta saja. Pengetahuan mereka lebih luas dan berumur sangat panjang sampai beribu-ribu tahun umurnya. Kecepatan Jin bergerak melebihi kecepatan cahaya dalam suatu waktu. Karena Jin terdiri dari mahkluk yang seni dan tersembunyi, tidak zahir seperti manusia dan tidak sepenuhnya ghaib seperti Malaikat, maka ruang yang kecil pun bisa di duduki oleh jutaan Jin dan juga dapat merasuki dan menghuni tubuh manusia.

Jumlah Jin terlalu banyak sehingga menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa jika jumlah semua manusia dari Nabi Adam sampai hari kiamat dikalikan dengan hewan-hewan, dikalikan dengan batu-batu, dikalikan dengan pasir-pasir dan semua tumbuh-tumbuhan. Itu pun hanya sepersepuluh dari total Jin.

Sedangkan total Jin adalah sepersepuluh dari total Malaikat. Total Malaikat hanya Allah dan Rasulnya saja yang mengetahuinya.

Alam tempat berdiamnya Jin adalah di lautan, daratan, di udara dan di Alam Mithal yaitu suatu alam yang terletak diantara alam manusia dan alam malaikat. Jika kita diberikan oleh Allah kemampuan untuk melihat Jin, sudah tentu kita akan melihat jarum yang jatuh dari atas tidak akan jatuh ke bumi, tetapi jatuh dibelakang Jin, karena sangat banyaknya jumlah mereka.

Oleh sebab itu orang tua kita selalu berpesan agar anak-anaknya segera kembali ke rumah apabila tiba waktu maghrib dan pintu serta jendela rumah harus di tutup, agar tidak dimasuki oleh setan dan Iblis.
Sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rasulullah:

“Bila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada di sebagian malam maka tahanlah anak-anakmu karena sesungguhnya setan berkeliaran ketika itu dan apabila berlalu sesuatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah, padamkan lampu-lampu mu serta sebutlah nama Allah, ikatlah minuman mu serta sebutlah nama Allah dan tutuplah sisa makanan mu serta sebutlah nama Allah (ketika menutupnya) “

Hadist di atas berarti bahwa Jin dan setan tidur di waktu siang dan menjelang petang mereka keluar untuk mencari rezeki dan makanan, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang dewasa atau anak-anak.

Jenis Jin

1.  Al-Jan
Jenis yang pertama ini adalah pengertian jin secara umum, yaitu jenis jin yang berpotensi seperti layaknya manusia. Jin ada yang laki-laki dan adapula yang perempuan, ada jin yang muslim dan adapula yang non muslim, jin juga membutuhkan makan, minum, tidur, bersenggama dan sebagainya. Walhasil jin pada kategori JAN tidak banyak berbeda dengan manusia pada kategori al-insan

2.  Al-A’mir
Biasanya disuatu tempat, dikamar mandi, dirumah atau dimanapun ada suara atau bunyian yang menirukan perbuatan manusia. Seperti halnya ada suara orang wudhu atau orang mandi, padahal dikamar mandi tersebut tidak ada siapa-siapa. Hal ini boleh jadi adalah perbuatan jin pada kategori AL-A’MIR. Maka biasanya orang menyebutnya sebagai setan tek-tek. Karena memang jenis jin ini suka menirukan perbuatan atau kebiasaan manusia, dengan maksud menakut-nakuti.

Al-A’mir juga terkadang mengikuti orang yang sedang membaca, bernyanyi dan sebagainya atau mengikuti orang yang sedang shalat dibelakangnya. Meskipun demikian kita tidak usah takut, karena bisa saja dia tidak jahat, hanya karena ingin menjadi mak’mum atau ingin belajar membaca atau menyanyi.

 3. AL-Ifrit
Ifrit adalah jenis jin yang berpotensi sebagai pembantu ataupun khodam bagi manusia. Dalam hal ini ada ifrit yang muslim dan baik, yang tentunya bisa menjadi khodam pada manusia yang muslim dan baik pula. Adapula ifrit yang berprilaku jahat dan kafir yang dimanfaatkan oleh para tukang sihir dan dukun, seperti ifrit-ifrit yang bekerjasama dengan pesihir.

4.  Al-Arwah
Jenis jin yang keempat inilah yang sering dan biasa menggoda manusia, terkadang al-arwah menjelma dirinya sebagai orang tua kita yang telah meninggal atau sebagai dedemit dan sebagainya. Sehingga dapat mengelabuhi sebagian masyarakat kita dan menakut-nakuti mereka yang mempercayainya. Sebenarnya jenis jin al-arwah ini termasuk golongan jin yang sangat kuat dan sangat nakal. Disebutkan paling kuat karena mereka dapat menjelma dirinya menjadi apa saja dengan mengerahkan kekuatan ilmu yang dimilikinya dan disebut nakal karena sering menggoda dan menakut-nakuti manusia. Jika diibaratkan manusia, maka jenis jin dari golongan Al-arwah semacam preman yang suka usil terhadap masyarakat setempat dan terutama kepada perempuan sendirian dijalanan.

5.  As-Syaiton
Berbeda dengan al-arwah, as-syaiton adalah jenis jin yang selalu menggoda manusia dari segi keimanan, kerohanian dan kejiwaan. As-syaiton sangat berbahaya dibandingkan  jenis jin lainya, karena as-syaiton merasuk kedalam hati manusia untuk membisikan kekafiran, keingkaran dan kejahatan. Dalam surat an-naas dijelaskan bahwa bukan hanya jin jahat dan ingkar yang termasuk dalam golongan as-syaiton, manusia yang yang berprilaku dzalim dan lalai termasuk dalam kategori ini. Mengenai hal ini ada sebagaian ulama yang berpendapat bahwa setan adalah sebuah sifat jahat dari manusia dan jin. Jadi kesimpulanya adalah setan bukan berupa wujud atau benda, melainkan sebuah sifat atau perbuatan.

Kelompok Jin

Jin juga seperti manusia yang ingin melanjutkan keturunan dan hidup berkelompok-kelompok. Suku dan kelompok Jin sangat banyak dan berbicara dalam berbagai dialek dan bahasa. Ada beberapa ulama membagi Jin ke beberapa kelompok, diantara adalah kelompok yang menunggu kubur, kelompok yang menunggu gua, kelompok yang menunggu mayat manusia, kelompok yang menunggu hutan, kelompok yang menunggu bukit tinggi, kelompok yang menunggu air, mata air, grup yang menunggu danau, kolam, teluk, kuala, pulau dan sebagainya.

– Jin, Ifrit, Setan dan Iblis

Jin, Ifrit, setan dan Iblis adalah merupakan bagian dari golongan Jin, hanya saja tugas dan fungsi mereka yang berbeda. Jin sebagaimana yang telah dijelaskan di atas adalah sejenis mahkluk Allah yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia. Pengetahuan mereka lebih luas dan sangat panjang usianya.
Sedangkan Ifrit adalah golongan Jin yang sangat kuat dan pandai menipu serta sangat busuk hati terhadap manusia. Golongan ini sangat sombong dan durhaka kepada Allah.

Iblis dan setan juga terdiri dari golongan Jin dan mereka adalah kaum Jin yang sangat sombong lagi durhaka, pengacau dan menjadi musuh utama manusia dan mendapat kutukan Allah hingga hari kiamat.
Sebagaimana Firman Allah:

“Iblis menjawab: Sebab engkau telah menghukum saya dengan tersesat, saya akan mencegah halangi mereka dari jalan Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangani mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tak akan menemukan kebanyakan dari mereka bersyukur (taat).”

Beberapa ulama berpendapat bahwa Azazil itu bukanlah nenek moyang Jin, sebenarnya ia adalah Jin yang paling abid dan alim di kalangan Jin yang diangkat menjadi ketua ahli-ahli ibadah kepada Jin dan Malaikat. Dia menjadi angkuh dan diri di atas keilmuan, ketakwaan dan banyak beribadat serta asal usul kejadiannya dibandingkan dengan manusia (Adam). 

Maka dengan sifatnya yang sombong itu Allah telah melaknatnya menjadi kafir dengan nama Iblis. Mulai dari saat itulah Iblis melancarkan gerakan permusuhan dengan manusia sampai hari kiamat.

Allah telah menjelaskan bahwa ada tiga jenis permusuhan dilakukan oleh Jin ke atas manusia yaitu:

1.    Dalam Kejahatan (As-Suu’): yaitu gemar membuat dosa-dosa dan maksiat hati dan segala anggota tubuh.
2.    Kekejian (Al-Fahsyaa ‘): yaitu kejahatan yang lebih buruk dan jahat. Kekejian ini adalah bagian dari hal yang membawa kepada kedurhakaan dan maksiat kepada Allah.
3.    Dalam kebohongan dan menipu Allah dalam perbuatan, kata dan nawaitu.

– Khadam

Khadam adalah pembantu atau suruhan yang akan membantu tuannya apabila di minta. Khadam terbagi atas dua golongan, yaitu:

1.       Khadam Asal.
Khadam asal adalah terdiri dari rohani Malaikat dan Jin Islam peringkat tinggi yang nama mereka adalah nama malaikat. Ia tidak meminta syarat apapun kepada tuannya. Khadam jenis ini diharuskan oleh syarak.

2.       Khadam Bersyarat.
Khadam jenis ini adalah terdiri dari Jin alam rendah terdiri dari Jin Islam atau Jin kafir. Golongan ini datang ke tuannya dengan perjanjian dan beberapa syarat khusus dan umum, baik yang bertepatan dengan hukum syariah atau yang diharamkan oleh syarak. Khadam jenis ini diharamkan oleh Islam.

Khadam bersyarat ini akan datang menolong melalui salah satu cara berikut:

A.         Dampingan Luar.
Khadam ini akan mendampingi dan menolong tuannya melalui eksternal saja, yaitu hanya dalam perbuatan, ucapan atau qasad hati.

B.          Dampingan Internal.
Khadam jenis ini juga dikenal sebagai Tanasakhul aruah atau penjelmaan khadam atau Jin dalam diri seseorang (menurun) dengan menamakan diri mereka, saat menurun dengan nama-nama tertentu seperti Nabi Khidhir, Panglima Hitam, Wali Songo dan sebagainya.

Jin yang meresap dalam cara ini memungkinkan orang yang diresapi itu menunjukkan keajaiban dan hal-hal yang luar biasa seperti berbicara dalam bahasa Jawa, Arab, Inggris dan sebagainya, padahal sebelumnya orang tersebut tidak mengetahui sedikit pun bahasa-bahasa tersebut.



Kehidupan Jin

– Pemerintah-Pemerintah Jin

Jin juga memiliki pemimpin dan kerajaannya yang tersendiri. Raja Jin alam bawah yang kafir adalah seperti Mazhab, Marrah, Ahmar, Burkhan, Syamhurash, Zubai’ah dan Maimon. Empat raja Jin Ifrit (Jin yang paling jahat) yang memiliki pemerintah besar yang menjadi menteri pada Nabi Allah Sulaiman as adalah Thamrith, Munaliq, Hadlabaajin dan Shughal.

Sedangkan Raja Jin Alam atas yang Islam adalah Rukiyaail, Jibriyaail, Samsamaail, Mikiyaail, Sarifiyaail, ‘Ainyaail dan Kasfiyaail. Raja Jin yang menguasai Teman Jin tersebut bernama THOTHAMGHI YAM YA LI. Sedangkan Malaikat yang mengontrol seluruh Jin-Jin di atas bernama Maithotorun yang bergelar QUTBUL Jalalah.

Anak-anak Iblis juga memiliki pemerintah yang besar antaranya:

1.    Thubar Merasuk manusia yang di timpa musibah dan bala
2.    Daasim Merasuk manusia untuk menceraikan ikatan silatulrahim, rumah tangga, keluarga, sahabat handai, jemaah dan sebagainya.
3.    Al-’Awar Merasuk manusia untuk meruntuhkan akhlak, berzina, minum arak, berjudi dan sebagainya.
4.    Zalanbuur Merasuk manusia dengan api permusuhan dan pembunuhan.

– Agama Suku-suku Jin

Jin Juga seperti manusia, yaitu ada yang baik, ada yang jahat, ada yang saleh, ada yang tidak saleh, ada yang alim lagi mukmim, ada ada yang kufur, ada yang murtad, fasik dan zalim, ada yang masuk surga dan ada yang disiksa oleh Allah ke neraka di akhirat.

Mayoritas suku-suku Jin terdiri dari golongan Jin kafir. Golongan Jin kafir ini kebanyakanya beragama Yahudi, Kristen, Komunis dan sangat sedikit dari mereka yang beragama Buddha dan Majusi. Ada juga golongan Jin yang tidak beragama. Golongan Jin yang memeluk Islam hanyalah sedikit dan terdiri dari kaum minoritas jika di bandingkan dengan keseluruhan jumlah Jin.

Seperti juga manusia biasa, Jin juga mempunyai tingkat-tingkat iman, ilmu dan praktik tertentu yang berdasarkan iman dan amal mereka kepada Allah. Walaupun Jin Islam yang paling tinggi imannya dan paling saleh amalannya serta paling luas serta banyak ilmunya, tetapi masih ada pada diri mereka sifat-sifat madzmumah seperti menyombongkan diri, riak dan sebagainya, tetapi mereka mudah menerima teguran dan pengajaran.

Mungkin inilah yang sering dikatakan bahwa “sebaik-baik Jin itu adalah sejahat-jahat manusia yang fasik.” Tetapi perbedaannya manusia yang paling jahat susah menerima pengajaran dan teguran yang baik.

Golongan Jin Islam yang umum dan Jin kafir suka merasuk manusia yang awam dengan berbagai cara, karena pada pandangan mereka manusia-manusia yang umum itu bukanlah manusia sebenarnya, sebaliknya adalah rupa seekor binatang. Manusia yang Khawas dan Khawasil-Khawas tidak dapat di rasuk oleh Jin, bahkan Jin pula akan datang kepada mereka untuk bersahabat.


 Interaksi Antara Manusia dan Jin

– Melihat Jin

Pada prinsipnya Jin tidak dapat di lihat, di sentuh dan di dengar oleh manusia dalam bentuk yang asal sebagaimana saat diciptakan, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu, Jin dapat di lihat dalam bentuk rupa yang diingininya.

Jin juga bisa di lihat oleh manusia dalam keadaan dibuka mata batinnya atau ketika meminum air yang sudah dido’akan atau kemauan Jin itu sendiri untuk memperlihatkan dirinya kepada manusia.

Di dunia semua Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia yang Khawas dan Khawasil-Khawas saja yang dapat melihat Jin selain para Nabi dan Rasul. Sedangkan di akhirat semua manusia mukmin yang ahli surga dapat melihat Jin sedangkan Jin yang Khawas dan Khawasil-Khawas saja yang dapat melihat manusia.

Adapun kelebihan Jin yang telah diberikan oleh Allah adalah kemampuannya untuk mengubah dirinya dalam berbagai bentuk. Misalnya dalam perang Badar, Iblis telah menampakkan dirinya dalam bentuk seorang lelaki dari Bani Mudlij dan setan juga dalam rupa Suraqah bin Malik yang datang membantu tentara musrikin memerangi tentara Islam. (Iblis dan setan adalah juga merupakan bagian dari golongan Jin).

Dalam Sahih Bukhari juga ada meriwayatkan bahwa adanya Jin yang menampakkan dirinya dalam bentuk ular dan membunuh seorang pemuda yang mencoba membunuh ular tersebut. Selain itu Jin juga bisa menampakkan dirinya dalam bentuk rupa hewan lain seperti bentuk rupa kucing, anjing dan sebagainya.

– Bersahabat dengan Jin

Banyak di kalangan orang-orang Indonesia yang bersahabat dan menjadikan Jin sebagai pembantu dan Khadam mereka untuk membantu mereka melaksanakan tugas-tugas tertentu. Misalnya seperti dukun, pesulap, pengobatan alternatif dan sebagainya.

Namun tidak semua kaum di atas yang menggunakan Jin dalam kerja harian mereka. Ada juga golongan tersebut yang benar-benar memiliki keterampilan alami tanpa pertolongan dari Jin.

Singkatnya kita sebagai seorang Islam yang bersahabat dengan para Jin Islam maupun Jin kafir akan lebih banyak mendapatkan keburukannya dibanding kebaikan yang akan kita peroleh. Jin akan selalu merasuk dan mendorong manusia supaya melakukan kejahatan dan maksiat tanpa kita sadari.

– Masuknya Jin Kedalam Tubuh Manusia

Jin bisa merasuk dan masuk ke dalam diri manusia dengan berbagai cara dan manusia yang mengunakan layanan Jin untuk melakukan pengkhianatan kepada manusia lain pun melalui berbagai cara.

Sebagaimana sebuah hadis Rasulullah saw yang telah diriwayatkan oleh Sayidah Syafiyyah binti Huyay, bahwa Rasulullah pernah bersabda yang maksudnya:

“Sesungguhnya setan (Jin) itu berjalan dalam tubuh anak Adam sebagaimana darah yang mengalir dalam tubuhnya”.

Dari hadis di atas jelaslah bahwa Jin dapat masuk kedalam tubuh manusia dan berjalan melalui urat nadi dan darah manusia. Jin dapat berjalan dalam tubuh manusia seperti arus listrik yang mengalir dalam kabel. Jin juga dapat menguasai manusia sehingga ia dapat menyebabkan perkelahian antar sesama manusia, manusia hilang ingatan, hilang kesadaran dan lain-lain lagi.

Jin bisa merasuki tubuh manusia baik diminta sendiri oleh manusia atau tanpa di sadari oleh manusia itu sendiri. Jin mendampingi dan merasuki manusia melalui salah satu cara berikut.

Diantaranya Melalui Khadam atau manusia itu sendiri yang menjadikan Jin sebagai sahabatnya.

1.     Melalui “saka Baka”.
2.     Melalui Mantra-mantra yang di lakukan oleh manusia lain.
3.   Karena manusia itu sendiri lupa terhadap Allah atau melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, berarti mendekatkan diri untuk diperdaya oleh jin dan syaithan.
4.    Melakukan kejahatan terhadap Jin, seperti menjatuhkan benda berat ditempat yang ada Jinnya,tanpa menyebut nama Allah sehingga menyebabkan kematian anak Jin.
5.    Karena ada Jin laki-laki yang jatuh cinta kepada perempuan yang suka bersolek atau perempuan yang suka keluar rumah untuk memperlihatkan kecantikannya dan tidak memakai kerudung serta suka menunjukkan auratnya.
6.    Membaca jampi-jampi, doa atau ayat-ayat tertentu yang dapat mendatangkan Jin.

Apabila Jin telah merasuki raga manusia, walaupun dengan cara apapun Jin tersebut akan mendiami salah satu dari tempat berikut di anggota tubuh manusia. (mekipun sebenarnya mereka bebas bergerak kemanapun dalam raga manusia) Diantara tempat-tempat tersebut adalah:

1.    Mereka berkumpul di mata kanan dan kiri. Oleh sebabitu jika seseorang telah dirasuki Jin didalam badan mereka, mereka tidak akan berani berhadapan mata dengan orang lain.
2.    Berada di telinga kanan dan kiri, oleh karena itu manusia yang telah dirasuki Jin tidak suka mendengar nasehat dan teguran yang baik dan sangat suka mendengar hal-hal maksiat seperti musik yang melalaikan dan sebagainya.
3.    Berada di mulut manusia, oleh sebab itu manusia yang telah dirasuki Jin sangat suka berbicara hal-hal yang tidak berguna dan mendatangkan dosa seperti mengumpat, mencela, menghina manusia lainnya dan sebagainya.
4.    Berada di hidung manusia, sehingga menyebabkan manusia suka menghirup hal-hal yang tidak tidak dan dapat merusak diri manusia sendiri.
5.    Berada dipusar, sehingga menyebabkan orang tersebut selalu mengalami sakit perut dan berbagai penyakit yang tidak dapat dideteksi oleh dokter.
6.    Berada di kemaluan manusia, sehingga menyebabkan manusia suka melakukan hal-hal maksiat seperti berzina dan sebagainya.

Manusia yang selamat dari ganguaan Jin, Iblis dan setan adalah manusia yang selalu berada dalam Tauhid dan jalan Allah, melalui lidah, anggota badan dan hati, mereka juga berakhlak seperti akhlak Rasulullah serta rajin beramal dan menjalankan syariat Islam.

Jalan terdekat untuk berada dalam tauhid Allah adalah dengan kita mengambil contoh perbuatan dan akhlak orang-orang yang berada dalam tauhid Allah, seperti Nabi Muhammad, sahabat-sahabat beliau, para ulama dan sebagainya.

Dengan mengikuti segala ajaran yang telah di ajarkan oleh rasulullah, melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya kita akan aman dari gangguan para Jin, Iblis, setan atau sejenisnya.

Seperti kata para Ulama:

“Kun Ma’Allah fain lam Takun ma’Allah, fakun ma’a man ma’Allah fainnahu yusiluka illallaah”

Maksudnya adalah:

“Hendaklah jadikan diri kamu bersama Allah, maka jika kamu tidak dapat menjadikan diri kamu bersama Allah hendaklah kamu jadikan diri kamu bersama dengan mereka yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya yang demikian itu akan menyampaikan diri kamu kepada Allah”



Hubungan Raja Sulaiman dengan Jin

Menurut riwayat, jin bekerja di istana nabi Sulaiman,  seorang nabi dan raja yang dianugerahi Allah   banyak ilmu pengetahuan, jin dengan tertibnya mengabdi kepada nabi Sulaiman.  Jin tetap tunduk dan berada di bawah kendali raja Sulaiman, mereka  diperintahkan untuk melakukan berbagai pekerjaan.

“... Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. (QS Saba’ 34:12)

“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (QS an-Naml 27:17]

Al-Qur'an menceritakan bahwa nabi Sulaiman meninggal ketika ia sedang bersandar pada tongkatnya.  Ia nampak oleh jin tetap tegak bersandar pada tongkatnya, jin mengira bahwa nabi Sulaiman masih hidup dan mengawasi mereka, sehingga mereka terus bekerja.  Mereka menyadari keadaan sebenarnya ketika Allah memerintahkan kepada rayap untuk menggerogoti tongkat nabi Sulaiman sampai tubuhnya jatuh ke lantai.  Al-Qur'an kemudian menjelaskan bahwa jika jin mengetahui yang gaib, mereka tidak akan tinggal dalam siksa yang menghinakan karena diperbudak.

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” [QS Saba’34:14)


Keberadaan dan Penggunaan jin dalam Budaya Lainnya

Pada suku Guanche (penduduk asli di Kepulauan Canary) mitologi dari Tenerife, di sana ada kepercayaan kepada makhluk yang sama dengan jin, seperti maxios (dewa kecil kebajikan atau jin) atau paredros dioses (‘dewa penolong’, penjaga rumah dan sejenis ruh) dan tibicenas (jin jahat), serta setan Guayota (dewa kejahatan aborigin), seperti Iblis di kalangan Arab, kadang-kadang diidentifikasi dengan jin.


Jin Dalam Bibel

Dalam tradisi Yahudi - Kristen, kata atau konsep jin seperti itu tidak terdapat dalam teks Bibel Ibrani asli, tetapi jin dari kata bahasa Arab sering digunakan dalam terjemahan kuno bahasa Persia dan bahasa Arab.
Dalam beberapa ayat pada terjemahan bahasa Parsi dan Arab, kata Jin yang disebutkan dalam terjemahan adalah ruh yang dikenal atau (obe) untuk Jin dan setan untuk Iblis.

Dalam Bibel terjemahan bahasa Arab Van Dyck, kata-kata ini disebutkan dalam Lev 19:31, Lev 20:06, 1Sa 28:3, 1Sa 28:9, 1Sa 28:7, 1CH 10:13, Mat 4:1, Mat12:  22, Luk 4:5, Luk 8:12, Joh 8:44 dan ayat-ayat lainnya juga.  Selain itu, dalam buku apocryphal Perjanjian Sulaiman, ia menggambarkan jin tertentu yang diperbudak untuk membantu membangun kuil,  Sulaiman mengajukan pertanyaan kepada jin mengenai tingkah-lakunya serta bagaimana mereka bisa bertahan menjaganya?, dan jawaban yang diberikan adalah semacam petunjuk self-help terhadap aktivitas setan.


Jin Dalam Okult

Dalam buku-buku sihir, Jin dikelompokkan ke dalam empat garis silsilah menurut unsur-unsur klasik, yaitu Bumi, Udara, Api; (Ifrit) dan Air, (Marid) dan tinggal di dalamnya.  Mereka berkumpul dalam satu keluarga, biasanya terdiri dari tujuh orang, masing-masing dengan seorang raja.  Setiap raja mengontrol sukunya dan dikontrol oleh seorang Malaikat.  Nama Malaikat ini sangat ditakuti  karena bisa menimbulkan penderitaan yang luar biasa, baik kepada raja jin maupun kepada anggota sukunya.

Tidak seperti penyihir putih dan penyihir jahat, jin memiliki kehendak bebas, namun mereka bisa dipaksa untuk melakukan kedua perbuatan sihir yang baik dan yang jahat.  Sebaliknya iblis hanya akan menyakiti makhluk hidup, dan seorang malaikat hanya akan memiliki niat baik hati (sihir putih).  Mengetahui apa yang harus diminta kepada ruh untuk melakukan sesuatu adalah kunci, seperti meminta kepada ruh untuk melakukan tugas yang berlawanan dengan kecenderungan alaminya mungkin bisa mengundang kemarahan ruh dan membalas dendam terhadap tukang sihir.


Hikmah adanya bangsa Jin (diambil dari postingan lama Kiyudi di Kaskus)

Mengapa Allah membiarkan manusia hidup berdampingan dengan jin, iblis dll????
Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Hikmah adanya bangsa Jin:

1. Agar Manusia mau belajar instropeksi diri. Godaan, gangguan dan tipuan dari para syetan tentu akan membawa dampak bagi manusia. Ada dampak positif dan tentu ada dampak negatif.Dampak positifnya, agar tak terlena bujukan oleh bujukan syetan paling tidak manusia jadi semakin berhati-hati dalam berpikir dan bertindak. Dampak negatifnya: Manusia akan mudah terbujuk oleh rayuan syetan tersebut dan ikut dalam permainan/jebakan syetan.

2. Agar Manusia tidak menjadi sombong. Bukan hanya manusia yang diberi beban kehidupan di dunia ini dan diminta pertanggung jawabannya. Tetapi juga bangsa Jin.

3. Agar manusia pantang putus asa. Godaan syetan yang lahir dari keinginan mereka untuk menggaet manusia sebagai kawan di neraka, akan menjadi tantangan bagi manusia untuk mengasah kepekaan ruhaninya.

4. Agar manusia selalu belajar menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan hadirnya setan penggoda, maka manusia mau tak mau harus berpegang teguh pada kunci-kunci kehidupan yg Allah telah beri, agar manusia selalu selamat.

5. Agar manusia belajar lebih khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Syetan selalu memunculkan rasa waswas dan bisikan-bisikan halus yang ditujukan untuk mengganggu kosentrasi manusia dalam beribadah dan membujuk manusia agar melebih-lebihkan atau mengurangi ibadahnya.

6. Agar manusia selalu belajar mencermati lingkungan dan setiap kejadian yg ada di sekitarnya. Dengan menyadari terhadap kegigihan iblis dan para pengikutnya dalam menyeret manusia kepada kemusyrikan, diharapkan manusia akan lebih memperhatikan gejala’’ atau kejadian aneh yg muncul di sekitarnya. Sebab, gejala atau kejadian aneh yang muncul disekitar manusia boleh jadi merupakan bagian syetan dalam memperdaya umat manusia.

7. Agar manusia selalu belajar Ingat kepada Allah. Selalu meminta perlindungan kepada Allah SWT.

8. Agar manusia selalu ingat untuk mohon ampun kepada Allah. Kasih sayang Allah yang begitu besar kepada Manusia, menyebabkan penyesalan dan istighfar manusia itu menjadi ‘Garansi keselamatan’ bagi manusia di dunia ini. Terutama setelah bertobat lantaran telah tergoda oleh bujuk-rayu setan dan hawa nafsunya sendiri.

9. Agar manusia punya kesempatan yang luas untuk belajar bersyukur kepada Allah. Segala sesuatu ang diciptakan Allah di muka bumi tidak ada yang sia-sia. Semuanya pasti sudah memiliki takdir atau ukurannya masing-masing. Kehadiran setan dan para pengikutnya itu, sesungguhnya justru dapat membuat manusia makhluk ‘terpilih’. Godaannya justru membuat manusia bisa makin ingin berjuang dan belajar untuk lebih dekat dengan Allah. Tipu muslihatnya membuat manusia terpacu untuk mengasah kepekaan dan mengendalikan hawa nafsunya.

10.  Agar manusia selalu belajar untuk bertakwa kepada Allah. Penciptaan bangsa Jin dan setan kerap memunculkan mitos di tengah masyarakat. Karena itu berbagai kepercayaan dan keyakinan tentang kekuatan dunia ghaib hadir dan berkembang dengan maraknya. Pengalaman” mistik, terkadang menjadi acuan bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Bisa ke arah spiritual, supranatural atau kedua-duanya beriringan. Pada saat itu, kepada siapa hati kita terpaut dan kepada siapa kita pantas untuk takut? Semuanya tergantung pada seberapa jauh kita mengenal dunia ghaib sendiri. Orang yang sering bersentuhan dengan dunia ghaib belum tentu bisa mengenal dengan baik tentang dunia ghaib sebenarnya. Sebab, mereka yang diberi pengetahuan tentang dunia ghaib itu hanyalah mutlak atas ijin Allah. Adapun orang yang betul-betul mengerti akan dunia ghaib, Insya Allah hal itu justru akan menjadi pemicu baginya, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaannya Kepada Allah SWT.




--





Sumber:

Wikipedia
Gambar : Google image.


Kategori:

Bagikan:

3 komentar