Raja Adityawarman sang Bhairawa



Siang itu aku menyusuri jalan berbatu yang berada di sekeliling taman segi empat di dalam komplek musem jodoh. Hatiku berdebar, seperti rumor yang beredar, tempat ini adalah tempat di mana orang sering menemukan jodohnya, aku ingin memandang mata-mata bercahaya orang yang telah menemukan jodohnya, merasakan energi jatuh cinta yang luar biasa, energi kebahagiaan yang menular yang membuat orang sekeliling ikut merasakan kebahagiaan, sungguh gedung ini begitu luar biasa, itulah mengapa disebut museum Jodoh. Tapi bagi sebagian orang yang lain, mungkin mengenalnya dengan museum Gajah. Itu karena adanya patung Gajah besar yang terbuat dari perunggu hadiah dari raja Thailand.


Aku duduk di pojok tangga, bersender pada pilar besar di bawah ukiran batu yang berbentuk singa. Ukiran itu adalah tempat untuk membuang air hujan dari atas. Indahnya gedung ini, dulunya adalah tempat perkumpulan rahasia yang dibawa dari Eropa, para penjajah yang ditugaskan di Hindia Belanda juga ikut mendirikan loji untuk meneruskan perkumpulan ini di tanah nusantara.


Mataku menatap arca besar yang menghadap taman. Arca itu terkenal dengan arca Bhairawa, disebut bhairawa karena menggambarkan dewa raksasa dalam aliran sinkretisme Tantrayana yang dianut oleh seseorang yang terkenal di masa lampau. Dia adalah raja Adityawarman, itulah sosok yang digambarkan di arca tersebut. Bhairawa adalah pengejawantahan Siwa sekaligus Buddha sebagai raksasa yang menakutkan, berkategori ugra (ganas), digambarkan bersifat kejam, berwujud mengerikan, memiliki taring, tubuh besar seperti raksasa, rambutnya disanggul besar ke atas menyerupai bola, tapi ditengahnya terdapat arca Buddha Amitabha, laksana atau atribut seperti ini, merupakan atribut bodhisattwa awalokiteswara. Bhairawa mengenakan perhiasan berupa mahkota dan kalung, sementara kelat bahu, gelang tangan dan gelang kakinya berupa belitan ular, sedangkan ikat pingganya berukir kepala kala. Inilah sosok raja Adityawarman seperti Bhairawa sebagai penganut aliran tantrayana kalachakra, dia adalah sosok menakutkan di jamannya.


Aku mencoba membayangkan jika aku hidup di masa raja itu berkuasa, mungkin aku sudah mati muda dan menjadi korban dalam upacaranya. Bayangkan saking seramnya sosok tersebut, sudah digambarkan persis di arca. Arca ini memegang sebuah mangkuk dan sekelilingnya adalah tengkorak. Tangan kiri arca memegang mangkuk dari tengkorak berisi darah manusia, sementara tangan kanannya memegang belati. Sementara tubuhnya tengah berdiri di atas tubuh manusia cebol, dan delapan tengkorak yang berjajar yang menggambarkan sebagai lapangan mayat. Menurut penjabarannya, memang arca ini menunjukkan sedang melakukan upacara ritual Matsya atau Mamsa, dimana mangkuk yang menampung darah tersebut adalah didapat dari pengorbanan manusia dan meminum darahnya.


Tubuhku bergidik, seram sekali ritual yang menggunakan manusia sebagai kurbannya. Aku membayangkan film Apocalypse tentang suku Maya yang melakukan ritual pengorbanan manusia, yang jantungnya diambil saat manusia itu masih hidup, lalu kepalanya dipenggal, dan tubuhnya dibuang dari atas kuil ritualnya.
Tapi apakah ritual Matsya atau Mamsa menggunakan pengorbanan manusia? Aku tidak begitu tahu tentang tantrayana, sekilas yang pernah ku baca bahwa sebenarnya ada beberapa aliran dalam tantrayana selain Matsya atau Mamsa. Aliran tersebut adalah Mada atau Madya, Mudra, dan Maithuna.


Tantra termasuk dalam kitab Smrti dalam kodefikasi Veda sebagai akar Hindhu. Karena veda dibagi dua, yaitu Sruti dan Smrti. Pengikut tantra disebut tantrik, para tantrik melakukan pemujaan kepada Shakti atau Dewi sebagai pusat perhatiannya. Menurut beberapa literatur yang pernah kubaca, bahwa adanya kekuatan kundalini dalam tubuh manusia, itulah mengapa ada beberapa ritual dalam membangkitkan kundalini dalam tubuh. Salah satu ritual tantra yang terkenal adalah cakra puja atau puja pada lingkaran, dalam artian adalah sebuah ikatan suci dua individu manusia. Pada jaman dahulu, sekte-sekte yang mengikuti ritual ini, pria dan wanita sering bertemu pada malam hari dan melakukan ikatan suci (seksual suci) yang merupakan simbol penyatuan laki dan perempuan. Kalau menurut beberapa ahli dalam Hindhu, tentu ini menyimpang dari ajarannya, karena sebenarnya yang dimaksud dengan cakrapuja adalah membangkitkan kekuatan energi kundalini yang terpendam dalam tubuh manusia dengan melaksanakan tahapan panca makara dalam tantrayana, yaitu Madya, Mamsa, Matysa, Mudra dan Maithuna.


Pada masa lampau, ada beberapa sekte yang menganut ajaran leluhur yang sebenarnya mengajarkan kebaikan tapi diplesetkan menjadi ajaran yang mengandung ritual penuh kejahatan. Contohnya adalah Raja Adityawarman ini, yang menganut aliran penganut Bhairawa memplesetkan ajaran  tantrayana menjadi panca tattwa. Selanjutnya aku akan menyebutnya sebagai oknum, karena bukan hanya sang raja saja, tapi para penganutnya yang lain melakukan ritual ini. 


Sang oknum mengartikan Madya yang seharusnya dinalarkan kebingungan lalu diartikan sebagai mengetahui baik dan buruk, malah diartikan sebagai mabuk, yaitu mabuk alkohol. Mamsa,  diartikan oleh oknum sebagai daging, diinterpretasikan sebagai daging yang dipersembahkan dalam ritual, pengorbanan manusia, sesungguhnya mengandung arti yang berbeda, yaitu, tercapainya paham bahwa tidak ada perbedaan, menurut asal kata mam adalah aku, sa adalah dia, pertiwi atau tanah, kata ini mengandung arti memadamkan nafsu dan keinginan dalam arti lain mematikan semua indriya. Matsya, artinya nyaman, luwes, air, mengalir. Namun pada praktek sang oknum ini diartikan sebagai memakan ikan. Mudra, sikap tangan, diartikan oleh sang oknum sebagai gerak gerik dalam melakukan ilmu hitam, menurut arti sesungguhnya adalah gerakan, bayu, tekad, angin dan jiwa.  Dalam penjabarannya adalah melakukan penjiwaan yang mendalam, penuh tekad, pelaksanaan tindakan dan pembuktian. Maithuna, sang oknum mengartikannya sebagai hubungan seksual, padahal arti sesungguhnya adalah persatuan, api, siwa, panas, dalam konteks pembelajarannya  harus menyatukan pikiran kepada kosmis, menghancurkan pikiran tenggelam pada kehampaan, atau mencapai kebebasan pikiran.


Mataku menatap bacaan yang tersanding di sampingku, membaca tulisan tentang aliran sesat yang tengah berjamur di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Hayalku kembali kepada raja Adityawarman, sekte aliran sesat bukan hanya ada baru-baru ini, tapi sejak lampau pun sudah ada. Semua tergantung bagaimana pemahaman manusia terhadap ajaran dari Tuhan yang diturunkan lewat nabi-nabinya. Apakah pemahaman itu setengah-setengah, atau menyimpang jauh dari kitabNya.


Tak ada yang mengetahui kebenaran sesungguhnya selain ajaran Tuhan. Rasulku mengatakan, orang yang belajar seorang diri tanpa guru, sesungguhnya ditemani oleh syaitan.


Aku langsung bangkit dari duduk, mencari guide untuk mengawali tour ku di museum Jodoh ini. Aku ingin mempelajari sejarah, tapi tidak sendiri, aku perlu guru ya sebut saja guide di museum ini untuk menularkan pengetahuannya padaku.







 -
 
sumber: dari berbagai sumber



Bagikan:

1 komentar