Bea Cukai Indonesia, sejak kapan ada?


Seperti yang kita ketahui, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah unit Eselon I yang dipimpin oleh Direktur Jenderal di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Saat ini Bea Cukai memiliki 18 Kantor Wilayah dengan pimpinan Eselon II yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan pada masing kantor wilayah tersebut mempunyai kantor pelayanan dan kantor pos bantu. Selain  kantor wilayah, Bea Cukai juga mempunya unit Eselon II lainnya yaitu Direktorat yang bertempat di Kantor Pusat.

Hampir semua negara memiliki institusi Bea Cukai, itulah mengapa Bea Cukai disebut institusi global, karena merupakan perangkat pemerintah yang sangat penting seperti halnya Angkatan Bersenjata, Polisi, dll.
Istilah keren Bea Cukai adalah Customs (bahasa inggris) atau Douane (bahasa perancis), istilah ini merujuk pada kegiatan pemungutan biaya atas barang-barang yang diperdagangkan yang masuk atau pun keluar dari daratan Inggris pada jaman dulu.

Karena “pungutan” jadi semacam kebiasaan maka istilah customs lah yang muncul. Sedangkan istilah douane berasal dari bahasa Persia, yang artinya register atau orang yang memegang register. 

Sementara kata Bea Cukai berasal dari kata serapan bahasa sansekerta dan India, Bea yang berasal dari bahasa Sansekerta asal katanya adalah vyaya yang berarti ongkos, sementara Cukai dari bahasa India.

Di Indonesia sendiri, Bea Cukai ada sejak jaman penjajahan Belanda, semua bermula saat VOC datang ke tanah Batavia dan memulai perdagangan. Walau sebelum VOC datang, sistem “pungutan” seperti Bea Cukai sudah ada, namun belum ditemukan bukti-bukti tertulis yang menguatkannya. Dulu petugas “pungutan” dikenal dengan nama “Tollenaar” yang secara harfiah diterjemahkan sebagai penjaga tapal batas negara atau pantai yang bertugas memungut “Tol” atau sejenis upeti terhadap barang-barang tertentu yang dibawa masuk atau keluar lewat suatu tapal batas.

Selain itu, ada juga istilah lain seperti “Mantriboom” dan “Opasboom” yang dikaitkan pengertiannya dengan tanda tapal batas untuk pemeriksaan barang yang masuk dan keluar dari pelabuhan. Boom bisa berarti pohon, blok, tiang dll.

Hingga pada masa pemerintahan Hindia Belanda sifat “pungutan” itu baru resmi ada sejak VOC menerapkan “pungutan” secara nasional.

Pada masa Hindia Belanda tersebut, ada istilah douane untuk sebutan para petugas “pungutan” tersebut ini karena dipengaruhi oleh para pedagang dan pembeli dari Perancis. Namun pada masa VOC, pemerintah Hindia Belanda meresmikan nama Bea Cukai adalah De Dienst der Invoer en Uitboerrechten en Accijnzen (I.U & A) yang artinya Jawatan Bea Impor dan Ekspor serta Cukai.



Para petugas IU & A mempunyai tugas memungut Invoer – Rechten ( Bea Impor/masuk), Uitvoererechten (bea ekspor/keluar), dan Accijnzen (excise/ cukai). Tugas memungut bea, ekspor dan cukai inilah yang memunculkan istilah Bea dan Cukai di Indonesia.

Pada jaman sebelum pengakuan oleh Belanda kepada Indonesia sebagaimana yang terjadi pada jaman penjajahan Jepang, tidak terlalu diketahui tentang perkembangan lembaga Bea Cukai. Catatan sejarah sangat kurang dan belum ditemukannya dokumen-dokumen pendukung tentang perkembangan lembaga ini. Karena pada masa itu, segala sesuatunya dilakukan secara darurat.

Hingga akhirnya setelah Indonesia merdeka, Bea dan Cukai resmi dibentuk pada tanggal 01 Oktober 1945 dengan nama Pejabatan Bea dan Cukai, yang kemudian pada tahun 1948 diubah menjadi Jawatan Bea dan Cukai sampai dengan tahun 1965, dan pada tanggal 19 Desember 1948 Presiden Republik Indonesia, Soekarno memberi mandat untuk disusun Organisasi Kementerian Keuangan. Struktur organisasinya terlihat sekali mengambil alhi bentuk “Zaimubu” (Jaman Jepang) dengan berbagai modifikasi sesuai dengan kebutuhan saat itu. 

Pada tanggal 5 Juli 1959 pemerintah RIS (Republik Indonesia Serikat) memutuskan untk memberlakukan kembali UUD 1945 dan struktur organisasi gaya lama (I.U & A) dengan sedikit modifikasi masih tetap berlaku hingga 1960.

Pada tahun 1966 karena alasan yang kurang jelas, status Direktorat Jenderal Bea dan Cukai turun menjadi di bawah Direktorat Jenderal Pajak. Namun setelah timbul reaksi pimpinan Bea dan Cukai langsung menghadap Menteri Keuangan maka statusnya segera ditetapkan kembali menjadi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai hingga saat ini.

Tugas dan fungsi DJBC antara lain memungut bea masuk, pajak dalam rangka impor (PDRI), dan cukai. DJBC juga bertugas mengawasi kegiatan ekspor dan impor, mengawasi peredaran minuman yang mengandung alkohol, tentunya mencegah terjadinya penyelundupan barang impor dan ekspor serta narkoba yang merusak bangsa. 

Penyelundupan kerap terjadi di perbatasan Indonesia, karena wilayah yang sangat luas, peralatan yang kurang memadai, dan tenaga kerja yang kurang membuat DJBC mengalami kesulitan menangkap penyelundup, tapi kendala tersebut tidak mengurangi kinerja DJBC dalam menjalankan tugasnya. Jika kita melihat dari pemberitaan di media, dari tahun ke tahun prestasi DJBC begitu luar biasa dalam menangkap penyelundup, terutama penyelundup narkoba.

Perekonomian Indonesia sangatlah terpengaruh dari penyelundupan, bayangkan saja kalau penyelundup tekstil misalnya bisa masuk ke Indonesia tanpa membayar bea masuk, tentunya dia akan menjual dengan harga murah, dan akan menghancurkan harga pasaran industri dalam negeri. Dan akhirnya perekonomian Indonesia pun terancam tidak stabil, itulah mengapa peran DJBC dalam perekonomian Indonesia sangatlah fatal. 

Harapan saya untuk DJBC yang lebih baik, semoga ke depannya mendapat peralatan yang memadai, kapal patroli yang bagus, karena saya pernah melihat di link youtube saat petugas patroli laut mengejar penyelundup, kapalnya kalah cepat dengan penyelundup. Juga selain peralatan, tenaga kerja putera daerah untuk mengatasi permasalahan dan memajukan daerahnya sendiri agar dapat membantu memajukan DJBC secara nasional, dan meningkatnya kesejahteraan para pegawai di perbatasan dengan ditambahnya tunjangan perbatasan, semoga bisa memacu semangat para pegawai tersebut.

Seperti tertuang dalam MARS Bea Cukai yang saya kutip dari salah satu blog, bahwa semangat DJBC dalam memberantas penyelundupan dan meningkatkan perekonomian Indonesia sangatlah besar. Semoga Indonesia terus maju. Hidup DJBC..


bea dan cukai naungan kita
berbulat tekad bersatu padu
junjung amanat, ‘tuk membangun negri
kobarkan visi lantang bergema
bersanding jarak dengan dunia
demi tegaknya martabat bangsa
jernihkan budi pekerti
pribadi penuh kharisma
memegang teguh komitmen kita bersama
pancarkan sifat sahaja
menggapai empati massa
berkarya menuju kejayaan bangsa
kerahkan segala daya dan upaya
berbakti ‘tuk ibu pertiwi
berbalut semangat
profesionalisme, efisiensi dan pelayanan
bea cukai kebanggaanku
visimu jalan jiwaku
misimu aliri darahku
strategimu derap langkahku
seiring puji untuk Tuhan yang Esa
sembahkan bakti adipura
dan amanat kita tuntaskan
maju terus bea dan cukai

 





Sumber: Wikipedia, dan sumber lainnya.

Bagikan:

2 komentar