Hujan dan Penulis

Salam rindu dari penghayal kecil untuk alam semesta..

Sembilan belas Februari dua ribu tiga belas, pagi ini saya menyusuri jalanan yang macet, basah karena terguyur hujan semalaman. Ini adalah ritual setiap pagi yang saya lalui, bangun pagi, mandi, shalat, nge teh, bersiap untuk bekerja, mencium anak dan suami lalu naik ojek menuju tempat di mana mobil jemputan kantor menunggu. Ribuan bahkan jutaan orang melakukan ritual setiap paginya, ada yang mirip dengan saya atau bahkan mereka baru mau menuai mimpi karena begadang semalaman.

Seperti biasa, saya adalah penyuka hujan, selalu. Saat hujan angan saya melambung jauh, berpetualang ke negeri yang tak dikenal, bahkan sering terbesit ide-ide cerita yang ingin saya rangkai dalam kata. Itulah penulis, sering kali membuai orang dengan kata.

Saya pernah menasihati seseorang yang jatuh cinta pada saya, bukan saya tak menyukainya, hanya saja saya tak mampu membalas cintanya. Saya bilang padanya, jangan terbuai dengan tulisan saya, saya adalah perayu dan pembohong ulung dalam tulisan. Saya mampu membuatmu jatuh cinta lewat kalimat, tapi itu hanya ungkapan buah pikiran, hanya rangkaian ide yang memutar di kepala, penulis mampu memplotkan skenario kisahnya dalam cerita, menyelipkan sedikit jiwanya dalam karakter utamanya, jangan kamu cintai saya, nanti kamu menyesal setelah mengetahui siapa sesungguhnya saya.

Dia tak mendengar, tak peduli apa yang saya katakan. Dia ngotot mencintai saya, walau saya beribu kali mencoba bahkan membohongi untuk bersikap "kejam", dia tak bergeming.

Hingga ketika, Tuhan tahu akan takdir manusia, membalikkan keadaan, memberikan karma kepada hamba Nya yang berbuat salah, itulah saat di mana saya mendapatkan karma. Dia membalikkan rasa, di mana dulu yang dia mencintai saya, kini saya yang mencintai dia. Tak ada lagi basa basi, tak ada tawar menawar. Tuhan meniupkan karma kepada kami.

Akhirnya waktu berlalu, saya termakan oleh dusta-dusta, termakan pembohongan hati, kini siapakah yang menjadi penipu?

Dan sejak itulah saya menyukai hujan, hujan tak menipu, hujan polos menurunkan air, jika dia marah, airnya akan sangat banyak menyebabkan banjir dan kemacetan di mana-mana. Jika dia sedang senang, airnya hanya sedikit, menyisakan embun pagi untuk para penikmat pagi. Hujan, menyadarkanku untuk tak jadi penipu.


Kategori:

Bagikan:

0 komentar