Satu kali lagi

Dalam perjalanan di bis tengah malam menuju Jombang beberapa minggu lalu, sosok berpakaian lusuh seperti pengemis yang duduk di samping saya memberi permen tolak angin yang mungkin hanya itu yang dia punyai.
 
Dia tahu saya sedang tak enak badan dan sakit kepala, dan sudah pasti saya membutuhkan permen itu. Dia tahu dia sudah tak punya apa-apa, bahkan wajahnya pun menampakkan dia sangat lapar. Tapi dia rela memberi benda kecil yang mungkin harta satu-satunya itu, yang bahkan saya bisa membelinya berbungkus-bungkus jika saya bertemu pedagang yang menjajakannya.
 
Saya malu pada diri sendiri, saya sering menolak memberi pada pengemis padahal saya punya uang untuknya.
 
Dari situ saya petik pelajaran berharga, relakah kita memberi kepada orang yang membutuhkan sekali pun hanya itu satu-satunya milik kita? ..
 
Tuhan, pertemukan saya sekali lagi dengannya, saya ingin berterima kasih sebesar-besarnya. Saya malu sekali, saya malu pada keangkuhan saya, saya hanya manusia biasa yang terlena dengan kekayaan dunia.


-Untuk seseorang di luar sana, semoga kita bertemu kembali. Seharian ini saya memikirkan kamu terus..-

Bagikan:

0 komentar