Bersyukurlah, kemudian pinta pada Tuhan

Siang ini ada obrolan menggelitik hati saya. Maklum, saya kan bekerja di lingkungan hanya itu-itu saja. Maksudnya ruang lingkup pergaulan hanya seputaran pegawai bea dan cukai aja. Jadinya kalo ngobrol sama teman kantor itu pasti nggak jauh dari ‘Eh, kenal si A gak? Dulu dia ditempatin di bagian X, sekarang udah pindah aja ke bagian Z, makin makmur aja dia..’, atau ‘ Si B tanahnya di mana-mana, kaya banget dia, ditambah lagi tugasnya di bagian D, makin kaya aja dia..’ dan bla bla bla.
Kayaknya setiap hari kalau nggak menggosipi orang lain tuh seperti nggak afdol hidup ini bagi teman kantor saya ini. Well, saya sih sebenernya hanya senyum-senyum aja dengerinnya, maklum aja kalau saya nggak tanggepin ya gak enak dong mereka kan senior sementara saya orang baru, tapi kalau saya menyahuti saya ikut-ikutan menggosipi orang, jadi saya hanya mendengarkan dengan maksud untuk menghargai mereka saja.
Kalau saya mengikuti emosi dan perasaan saya, saya akan merasa iri mendengarnya ketika para teman kantor saya ini bergosip. Wajar saja, mereka menggosipi apa yang mereka punya, apa yang mereka banggakan, apa yang mereka timbun, dan apa yang mereka jeleki, sementara saya? Saya hanya pegawai II b yang belum punya apa-apa, rumah masih numpang alias ngontrak, pendapatan masih pas-pasan untuk gali lobang tutup lobang, bahkan malah lebih banyak utang dari pada pendapatan per bulannya. Kalau orang yang berpikir harta lebih besar dari segalanya, dia tentu akan merasa sedih dan merana kalau di posisi saya.
Pernah saya melihat salah satu iklan rokok, iklan yang memuat beberapa kambing yang mengintip pagar tetangga melihat rumputnya lebih hijau dibanding rumput yang dia makan saat ini. Lalu kambing itu nekat melompat pagar tersebut, sementara ada satu kambing tetap di tempatnya semula. Ternyata setelah beberapa kambing itu melompat ke tempat yang rumputnya kelihatan lebih hijau, mereka disambut hauman singa yang hendak memangsanya. Dari situ kita bisa menilai, memang rumput tetangga lebih kelihatan hijau dari rumput rumah sendiri, tapi apa iya kelihatannya benar seperti itu?
Kembali seperti pernyataan di atas, kalau saya mengikuti emosi dan perasaan negatif saya , saya akan merasa sangat apes dan merana dalam hidup saya. Saya akan selalu sedih dan kekurangan. Tapi saya selama ini tak pernah merasa kesulitan sampai nggak bisa makan 1hari karena nggak ada uang, alhamdulillah saya masih bisa makan, kaki saya masih kuat untuk berjalan kaki walau nggak punya ongkos untuk ngojek, napas saya masih kuat walau harus ngos-ngosan menaiki banyak anak tangga, ini semua bukan keluhan loh, ini adalah rasa syukur saya, walau dibalik keterbatasan saya, tapi saya masih bisa melakukan aktivitas dibanding saya sakit-sakitan lalu dirawat terus di rumah sakit. Saya masih bisa tersenyum dan tertawa saat makan siang bersama sahabat-sahabat saya, dan alhamdulillah saya punya sahabat-sahabat yang tulus, yang tak palsu berteman dengan saya, bukan sahabat yang hanya sekedar memuji namun di belakang menjeleki. Dan terutama lagi, saya punya keluarga kecil. Itulah yang paling utama, saya punya suami dan anak lucu yang membuat saya selalu bahagia ketika merindukannya, ketika menatapnya, ketika memeluk dan menciumnya.
Itulah mengapa saya tak merasa kekurangan sedikit pun, saya tak minta apa-apa pada Tuhan selain kesehatan, permudah rejeki, hidayah dan taufiknya, dan terutama selalu berada dalam balutan kasih sayang keluarga saya. Semua itu adalah rejeki dari Allah yang terbesar buat saya. Bukan jabatan tinggi, harta melimpah, rumah mewah, mobil berpuluh-puluh, atau deposito ratusan juta. Ya walau kalau dikasih pun saya nggak nolak (ehhehehe) tapi saya nggak ‘ngoyo’ harus punya itu semua.
Bagi saya cukup memiliki rumah kecil namun nyaman, aman, tenang dan damai. Rumah yang diisi oleh orang-orang yang penuh berkasih sayang. Bukan rumah yang isinya pertengkaran perebutan harta warisan, bukan juga rumah yang isinya suami istri ribut karena KDRT atau perselingkuhan, juga bukan rumah yang isinya orang tua sedih karena anaknya terkena narkoba dan seks bebas. Cukup rumah yang isinya keluarga beribadah bersama , melakukan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Hanya itu saja permintaanku, Tuhan. Aku sebagai hamba Mu yang sering jauh dariMu walau Kau selalu dekat lebih dekat dari urat nadiku..


Bagikan:

1 komentar