Right way or?

Pagi tadi saat perjalanan di bus jemputan saya berbalas tweet dengan teman saya yang orang Bea Cukai juga. Lucunya kami membahas masalah agama sepagi ini, bahasan yang berat untuk dimulai pagi hari.

Saya sharing dengannya, kalau sebelum tahun 2008 saya tidak percaya agama. Saya percaya Tuhan itu ada, tapi saya tak percaya agama. Saya menjelaskan, karena saat itu saya berada dalam ruang lingkup pergaulan yang kacau. Saya sering membaca artikel yang saya browsing dari google, saya melihat berita di televisi dan koran yang kebanyakan memuat tentang perang Israel – Palestina, perang agama dan bahkan membaca sejarah tentang perang salib.

Kebanyakan orang yang membaca itu dia akan membela agamanya dan membenci agama yang menjadi saingannya dalam perang itu, tapi tidak terjadi dengan saya. Saya memang terlahir sebagai Islam, karena orang tua saya Islam, tapi bukan berarti ketika membaca itu saya membela Islam. Saya berpikir terbalik, saya muak dengan perang, hati saya tersayat dengan tatapan mata korban perang, hati saya retak ketika mendengar tangisan bayi-bayi dan anak-anak korban perang, dan akhirnya saya tak percaya agama lagi. Bagi saya agama itu hanya buatan manusia jenius untuk mendamaikan dunia. Tujuan mereka mulia, membuat agama atas nama Tuhan, atas nama ajaran yang diturunkan oleh Tuhan kepada mereka, tapi sayangnya caranya berbeda. Agama yang mereka ciptakan berbeda jalan menuju kedamaian. Dan karena jalan yang berbeda itulah manusia pengikut-pengikutnya jadi berselisih pendapat, lalu setan terlibat dan akhirnya terjadilah perang.

Lalu, dimana letak kedamaian yang dijanjikan agama-agama itu? Jika pengikutnya hanya meneriakkan agamanya masing-masing, meneriakkan kalau agamanya lah yang paling benar dan yang harus diikuti, lalu memaksa orang lain yang berbeda agama untuk ikut serta masuk ke agamanya mereka dan jika orang itu tidak mau maka orang itu dianggap akan masuk neraka bahkan dianggap murtad atau kafir?

Hati saya berkobar memerangi agama, membenci agama. Tapi sekali lagi, saya tetap percaya Tuhan, saya terus berbicara dari hati saya dengan Tuhan, karena saya yakin Tuhan mendengar suara hati saya, saya berbicara “Ya Tuhan, inikah jalan yang Kau tunjuki kepada saya? Apakah itu benar adanya? Ataukah saya malah tersesat bagai tikus yang terperangkap dalam labirin?”

Tapi Tuhan sepertinya tak segera menjawab doa saya. Tuhan bermain-main dengan nasib saya, saya terus tenggelam dalam kebencian saya terhadap agama, karena suatu kejadian yang membuat saya semakin membenci. Hati saya tersayat, ketika saya jatuh cinta pada orang yang beda agama. Saya ingin menikah dengannya, lalu orang tua saya tak setuju. Agama membuat saya semakin menderita, andai saja pemikiran orang tua saya tak mempermasalahi perbedaan agama, saya tentu tak akan semakin membenci agama. Bahkan saya berpikir pindah agama saja daripada ribut-ribut dan akhirnya berpisah dengan pria idaman saya itu.

Tiba-tiba sesuatu terjadi, Tuhan yang saya curhati itu memberi titik cerah. Berbulan-bulan saya menggantungkan hati, berharap penyelesaian dari semua urusan hati yang begitu pelik itu.

Saya bertemu dengan orang lain lagi, yang kini sama agamanya. Saya menjalin hubungan dengannya, hingga 3,5 tahun. Saya ingin menikah dengannya, tapi Tuhan berkata beda lagi, pria itu tidak ingin menikahi saya. Pada awal 2007 ayah saya meninggal. Ini pukulan telak untuk saya. Saya menjadi labil, saya putus dengan pria itu. Karena saat itu saya berpikir karena dialah ayah saya meninggal. Ayah saya ingin sekali melihat saya menikah, karena saya anak satu-satunya yang belum menikah, tapi keinginan Ayah saya tak terwujud hingga dia meninggal, akhirnya saya putus hubungan dengan pria itu.

Masa transisi dimulai, saya mulai meraba-raba dalam kegelapan. Saya tak ingin menyalahi pria itu lagi, toh mungkin dia sudah menyadari kesalahannya. Dan saya sudah memaafkannya. Saya sudah berubah pikiran, Ayah saya meninggal karena memang sudah waktunya, bukan salah siapa-siapa.

Saya mulai mencari ‘sosok’ Tuhan, saya merasakan kesepian hati. Ibarat ruangan yang sangat besar tapi kosong tanpa isi apa pun, sehingga kalau kita berteriak suaranya akan bergema. Itulah hati saya, empty.

Hingga pada Desember 2007, abang saya satu-satunya meninggal. Saya semakin kesepian. Saya berteriak pada Tuhan “Inikah jalan Mu ya Tuhan? Tunjukkan cahayaMu jika memang Kau maha pengasih dan maha penyayang? “

---

Akhir Desember 2007 pada tahun baruan saya melihat kakek tua. Duduk seorang diri di trotoar berdebu, saya iseng duduk di sampingnya. Kakek itu diam saja, dia kelaparan tapi tak mengemis pada saya. Dia malah memberesi hasil mulungnya yang dikumpulkannya dalam karung beras bekas.

“Kek, lapar?” tanya saya menyodorkan roti yang memang saya bawa untuk iseng makan di jalan.

“Nggak, Neng. Makan aja..” tolaknya.

“Nggak apa-apa, Kek. Makan aja..” saya sodorkan lagi.

“Saya bisa beli makanan dari hasil jual ini kok.. Alhamdulillah Allah memberi saya rejeki pada malam tahun baru ini. Saya bisa beli makanan juga untuk istri saya di rumah..” jawab Kakek itu.

Saya menelan ludah.

Sudah serenta itu masih giat mencari uang, padahal malam sudah larut, pesta tahun baru juga sudah usai.

Dan anehnya lagi, dia bersyukur. Dia mengucap Alhamdulillah. Dia bersyukur pada Allah dengan rejekinya yang menurut saya sangat sedikit itu.

Saya memandang pakaian saya, semuanya pakaian baru. Saya memandang HP saya, keluaran terbaru. Saya memandang Kakek itu, semuanya bekas. Dan kotor.

Kakek itu pamit pergi untuk menjual hasil mulungnya. Tak jauh dari situ si Kakek menuju pemukiman liar yang berada di perempatan Rawamangun sebrang ITC Cempaka Mas. Dengan berjalan kaki saya mengikuti Kakek itu.

Kakek itu menjual hasil mulungnya dengan upah 3500 rupiah. Dengan itu dia pergi ke warung makan kecil dan membeli nasi sebungkus dengan lauk seadanya.

Saya kembali mengikutinya. Dia rupanya tinggal di pemukiman liar itu, lalu saya masuk diam-diam dan mengintip si Kakek yang memberi makanan pada perempuan yang saya duga adalah istrinya.

“Masuk aja, Neng. Dari tadi mengikuti saya aja..” kata si Kakek mengejutkan saya.

Saya yang malu hati menundukkan kepala masuk ke rumah gubuk itu.

Saya lihat si Kakek menyuapi istrinya yang rupanya sedang sakit. Istrinya memakai jilbab lusuh, sepertinya hanya satu yang dia punya yang dia pakai sehari-hari.

Saya mengeluarkan uang dari dompet, memberi uang pada si Kakek, tapi si Kakek menolak.

“Saya bukan pengemis, Neng. Saya bisa nyari uang dengan menjual barang bekas..” jawab si Kakek.

Saya terdiam.

“Nenek sudah berapa lama sakit?” tanya saya melihat kakinya yang kurus, yang menandakan kaki yang lumpuh.

“Dari kecil, Neng..” jawab si Nenek.

“Saya lumpuh sejak kecil..” tambahnya.

Tak lama saya pamit pulang.

Saya berjalan kaki dari pemukiman liar itu menuju kantor saya di By Pass Ahmad Yani, tanpa terasa saya melirik sudah pukul 2 malam. Saya memandang gedung tinggi kantor saya, begitu kokoh dan sekilas angkuh. Menyombongkan keperkasaannya di kejamnya ibu kota.

Saya menelan ludah. Saya menangis duduk di pinggir trotoar. Mungkin kalau ada orang yang lihat akan berpikir saya seperti anak yang kabur dari rumah, karena menangis di depan kantor sendirian.

Tanpa sadar bibir saya mengucap istighfar.

Astaghfirullah..

Saya menyadari kini, Allah telah menunjukkan cahaya Nya di jalan saya yang gelap, lalu menunjukkan jalan yang benar agar saya tak tersesat lagi.

Saya tak berhenti menangis, saya menyesali perbuatan saya yang lalu, saya terenyuh melihat Kakek dan Nenek itu. Selama ini saya masih mengeluh dengan uang yang saya terima, sementara si Kakek menerima 3500 saja sudah bersyukur Alhamdulillah. Saya masih mengeluh karena belum punya mobil, sementara si Kakek berjalan kaki jauhnya untuk mencari uang. Sementara si Nenek yang sudah lumpuh sejak kecil itu saja masih bisa tersenyum dan bersyukur Alhamdulillah, saya malah mengeluh tentang skoliosis padahal masih diberi kesehatan, masih bisa jalan untuk bekerja dan beraktivitas lainnya. Sungguh kotor saya, tak pernah menghargai nikmat yang diberi Allah.

Lalu saya berjanji dalam hati, ingin menjadi orang yang berada dalam jalan Allah, semoga kita semua tetap berada di jalanNya. Awal tahun 2008 saya mulai mencari jati diri saya, saya mulai menggunakan hijab, dan alhamdulillah saya masih meyakini agama saya hingga detik ini, saya tak benci lagi dengan agama, saya semakin ingin selalu dekat dengan Nya, dan saya berubah pikiran tentang kebencian dengan agama yang menurut saya itu hanyalah oknum-oknum yang ingin membutakan hati orang dengan doktrin yang salah, yang menggunakan keyakinan orang untuk kepentingan golongannya. Bagi saya semua agama itu mengajarkan yang benar, mengajarkan cinta kasih, saya semakin merangkul teman-teman saya yang beda agama, saya mempercayai mereka punya pikiran yang sama dengan saya, kalau kita semua sebenarnya sama, kita hanya mahluk Tuhan yang lemah, yang butuh bimbingan agar selalu dekat dengan Nya, hanya karena jalan untuk mendekatkan diri itu berbeda bukan berarti saling membenci apalagi perang, justru perbedaan itu digunakan untuk saling menghargai satu sama lain, saling mensupport dan mengingatkan agar tetap dekat dengan Nya.

“Maa yaftahillaahu linnaasi mir rohmatin, falaa mumsika lahaa; Jika Allah sudah berkenan memberikan rahmat kepada seseorang, berkenan memberi perubahan nasib, berkenan memberi keberuntungan, berkenan memberi jalan-jalan untuk seseorang menjadi kaya dan bahagia, maka tidak ada seorangpun yang mampu menahannya.

Wa maa yumsik, falaa mursila lahuu mim ba’dih; Tapi bila Allah sudah berkenan juga untuk menahan rahmat buat seseorang dan berbuat sebaliknya, maka tidak ada satupun yang sanggup menghalangi-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana”.

(Qs. Faathir: 2).

“Yaa-ayyuhannaasudz kuruu ni’matawloohi ‘alaikum; wahai manusia, ingat-ingatlah lebih banyak lagi akan ni’mat Allah ketimbang kesulitan hidup, ingat-ingatlah hal-hal yang lebih menyenangkan ketimbang hal-hal yang menyesakkan dada, ingat-ingatlah lebh banyak lagi karunia Allah ketimbang musibah dan bala.

Hal min khooliqin ghoiruwloohi yarzuqukum minassamaa-i wal ardh, apakah ada selain Allah yang bisa bikin kamu susah dan senang, kamu kaya dan miskin, kamu banyak harta dan sedikit, kamu bertambah harta dan berkurang harta, selain Allah? Laa-ilaaha illaa-huu, tidak ada, kecuali Allah saja yang bisa berbuat itu ke kamu. Fa-annaa yu’fakuun; maka janganlah kita berpaling dari-Nya”. (Qs. Faathir: 3).



My qoutes :

Kita boleh mengenal agama dari kecil, kita boleh mengenal Tuhan dari agama yang diturunkan Nya, tapi soal keimanan itu adalah hadiah dari Tuhan yang ketika kita menerimanya adalah tugas individu masing-masing untuk mengasahnya atau mendiaminya hingga tumpul.

Dilematis kehidupan, tinggal pilih kemana jalanmu. Ingin menjadi orang yang beriman, atau tidak? Hidup yang bagai labirin, tidak tahu arah mana yang benar, maka agama adalah lentera kehidupan, dan Tuhan sebagai cahayanya. Agama apa pun yang kita pilih sebagai lentera, sudah pasti adalah arah yang benar menuju jalan kebaikan dan berujung surga.



Bagikan:

0 komentar