Renungan

Kawan, ijinkan saya menshare hasil renungan saya disaat sedih. *curcol :P*.




Saat ini saya sedang sedih, prahara rumah tangga dan sakitnya anak saya membuat saya down. Sudah seminggu lebih anak saya tidak mau menyusu langsung dari saya. Saya jadi berpikiran anak saya lebih cinta pada dotnya dibanding puting saya, dan saat saya menggendong anak saya, dia malah menangis kencang, tapi pas digendong mbaknya, dia malah tertawa. Saya jadi berpikir lagi, kalau anak saya tak cinta saya lagi, dia lebih memilih mbaknya, karena keseharian lebih banyak dihabiskannya dengan mbaknya. Sedih saya semakin memupuk. Saya membutuhkan bantuan, saya tak sanggup menghadapi ini sendiri, saya butuh motivasi, tapi suami sibuk dengan pekerjaannya, dia lupa bahwa ada sosok istri yang sedang down menjalani masalah ini.


Ditambah lagi dengan masalah ekonomi yang kian menghimpit, tuntutan hutang yang harus segera dilunasi, saya semakin down, saya tak tahu harus bagaimana lagi, betapa beratnya ujian yang harus saya lalui.


Saya bukan orang yang religius, saya juga sering lupa melaksanakan kewajiban, sering lupa mengadu pada Nya saat sedih, saya malah sering curhat ke teman atau suami. Padahal, curhat utama kan ke Allah, tapi saya suka lupa malah duluan curhat ke manusia. Saat sedih, saya sering berprasangka buruk pada Allah, saya sering menganggap bahwa Allah memberi saya cobaan terus, tanpa saya sadari kalau cobaan itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang kita belum ambil hikmahnya, saya manusia ringkih yang sering tergoda oleh musuh abadi kita, lalu suatu ketika, suami saya mensave shalawat di bawah ini ke dalam BB saya, dalam perjalanan menuju kantor, perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam dalam bus, membuat saya jenuh, lalu saya iseng mendengar shalawat ini. Tanpa sadar, saya menangis saat mendengarnya, saya googling arti shawalat ini, karena memang saya tak mengerti artinya, lalu ketika saya membacanya, saya semakin menangis, untung saja saya duduk di belakang dan pojok tak ada yang melihat. Saya menyadari, saya manusia lemah yang sering mengeluh tentang hidup, ya Allah, semoga saya tidak mengeluh terus. Dan semoga shalawat di bawah bisa jadi doa kita saat sedih atau saat senang..


----

قَدكَفَانِى عِلمُ رَبِّى

qod kafani i’lmu robbi

telah cukup bagiku ilmu tuhanku


مِن سُؤَالِى وَاختِيَارِى

min su-aali wakhtiyaari

tentang permintaan dan usahaku

فَدُعاَئِى وَابتِهَالِى

fadu’aii wabtihaali

Maka doa serta permohonanku


شَاهِدٌلِى بِافتِقَارِى

syahidullil biftiqoori

Sebagai bukti kepada kefakiranku


فَلِهذَا السِّرِّ اَدعُو

falihaadzaassirri ad’uu

Maka oleh karen rahasia itu aku berdoa


فِى يَسَارِى وَعَسَارِى

fi yasaari wa ‘asaari

Pada saat senang dan susahku


اَنَاعَبدٌ صَارَ فَخرِى

ana ‘abduu shoro fakhri

Aku adalah hamba, menjadi kebanggaanku


ضِمنَ فَقرِى وَاضطِرَارِى

dhimna faqri wadhthiroori

Dalam kefakiran dan keperluanku


يَااِلهى وَملِيكِى

yaa ilaahi wa maliiki

Wahai tuhanku, wahai yang memilikiku


اَنتَ تَعلَم كَيفَ حَالِى

anta ta’lam kaifa haali

Engkau mengetahui akan keadaanku


وَبِمَا قَد حَلَّ قَلبِى

wa bima qod halla qolbi

Dan apa yang berada dalam hatiku


مِن هُمُومٍ وَاشتِغَالِى

Dari kesedihan dan kesibukanku


فَتَدَارَكنِى بِلُطفٍ

fatadaa rokni biluthfin

Maka tolonglah aku dengan kelembutan


مِنكَ يَامَولى المَوَالِى

minka yaa maulal mawaali

dariMu wahai Tuhan orang2 yang memohon pertolongan


يَاكَرِيمَ الوَجهَ غِثنِى

yaa kariimal wajha ghitsni

Wahai yang maha mulia tolonglah aku


قَبلَ اَن يَفنى اصطبارى

qobla anyafnash thibaari

Sebelum lenyap kesabaranku


يَاسَرِيعَ الغَوثَ غَوثًا

yaa sarii’al ghoutsa ghoutsan

Wahai yang segera memberi pertolongan


مِنكَ يُدرِكنا سَرِيعًا

minka yudrikna sarii’an

Berilah kami perolonganmu dengan segera


يَهزَمُ العُسرَ وَيَأتِى

yahzamul ‘usro wa ya’tii

Yang menghilangkan kesulitan dan mendatangkan


بِالذِى اَرجُوجَمِيعًا

billadzi arju jamii’an

Dengan segala yang aku harapkan


يَاقَرِيبًا يَامُجِيبًا

ya qoriiban ya mujiiban

Wahai yang maha dekat dan maha memperkenankan


يَاعَلِيمًايَاسَمِيعًا

yaa ‘aliiman yaa samii’an

Wahai yang maha mengetahui dan maha mendengar


قَد تَحَقَّقتُ بِعَجزِى

qod tahaqqoqtu bi’ajzi

Aku mengaku akan kelemahanku


وَخُضُوعِى وَالكِسَارِى

wa khudhu’ii wal kisaari

Dan ketundukanku serta kesedihanku


لَم اَزَل بِالبَاب واقف

lam azal bilbaab waqf

Aku senantiasa menunggu di hadapan pintu rahmatMU


فَارحمن رَبِّى وقُوفِى

farhamna robbi wuquufi

Wahai Tuhan kasihanilah aku


وَبِوَادِى الفَضلِ عَاكِف

wabiwaadil fadhli ‘aakif

Di lembah kurniaaMu aku bersimpuh


فَاَدِم رَبِّى عُكُوفِى

faadim robbi ‘ukuufi

Wahai Tuhanku tetapkanlah keberadaanku disana


وَلحَسن الظَّنُّ لاَزِم

Bersangka baik(dengan Mu) adalah kewajiban


فَهُوَ خِلِّى وَحَلِيفِى

fahuwa khilli wa haliifi

Ia (sangka baik) adalah teman dan sahabatku


وَاَنِيسِى وَجَلِيسِى

wa aniisi wa jaliisi

Juga penyenang bagiku dan yang setia bersamaku

طَولَ لَيلِى وَنَهَارِى

thoula laili wanahaari

Sepanjang malam dan siangku


حَاجَةٌ فِى النَّفسِ يَارَب

haajatun finnafsi yaa rob

Wahai Tuhanku, dalam jiwa ini terdapat hajat


فَاقضِهَايَا خَيرَقَاضِى

Maka kabulkanlah wahai yang sebaik baik mengabulkan


وَاَرح سِرِّى وَقَلبِى

Lapangkanlah sirr dan hatiku


مَن لَظَاهَا وَالشِّوَاظِ

Dari gejolah dan kegelisahan


فِى سُرُورٍ وَحُبُورٍ

Gantikanlah ia dengan kesenangan dan kebahagiaan


وَاِذَامَاكُنتَ رَاضِى

Dana dalam keadaan yang Engkau ridhoi


فَالهَنَا وَالبَسطُ حَالِى

Maka ketenangan dan ketentraman itulah keadaanku


وَشِعَارِى وَدِثَارِى

Dan juga lambang dan pakaianku(sebagai hambaMu)



-
 

Qad Kafani, shalawat yang membuat saya merasa seperti debu di gurun pasir, seperti setitik air di samudra, saya merasa sangat kecil di hadapan Allah.. Terkadang, kita angkuh, kita lupa dengan hakikat kita sebagai manusia. Di dunia ini, kita melupakan kedudukan kita yang hanya seperti rumput kecil di padang rumput yang luas, kita begitu sombong, merasa besar di antara manusia lainnya.
 
Ya Allah, semoga kita bukan orang yang selalu lupa dengan ini semua, semoga kita selalu ingat dengan Mu, semoga kita selalu dekat dengan Mu, semoga kita termasuk golongan orang yang beriman, seperti dalam firman Mu 'tidak akan cukup untuk menampung Ku Langit Ku dan Bumi Ku itu, yang cukup menampung Ku adalah jiwa hamba Ku yang beriman'. Semoga hati kita lebih luas dari alam semesta, sanggup menampung kecintaan kepada Allah Jalla wa Alla. Sehingga demikian indahnya hati kita, yang hanya berupa gumpalan daging yang kecil tapi tersimpan di dalamnya Cahaya Keagungan Allah, jika ia mau memupuknya dan memanfaatkannya pada hal yang benar.
 
Ada kisah yang pernah saya baca di salah satu tausyiah Habib Munzir pimpinan Majelis Rasulullah, kisah yang diangkat pada jaman Nabi Ibrahim AS, dan kisah ini diriwayatkan oleh Shahih Bukhari. Saat itu, ketika Nabi Ibrahim akan dibakar oleh Raja Namrud, sudah hakikatnya api sangatlah panas, namun Nabi Ibrahim berdoa Hasbiyallahu wani’mal wakiil, “Cukup bagiku Allah dan semulia mulia tempat untuk bertawakkal”. Kalimat agung dari jiwa yang mulia ini merubah api sehingga turunlah firman Alah yang berbunyi Kuuniy bardan wa salaaman ala ibrahim.., Jadilah sejuk dan dingin dan membawa kesejahteraan kepada Ibrahim,. wahai api (QS Al Anbiya 69)”. Jadilah engkau wahai api sejuk dan membawa kesejahteraan bagi Ibrahim, Allah sudah ciptakan sifat api itu panas dan membakar sesuatu yang menyentuhnya, tapi Allah balikkan ketentuan Nya karena jiwa yang bermunajat, jiwa yang berdoa, jiwa yang mulia dengan Cahaya Allah Swt. Berbalik keadaan api menjadi sejuk.

Demikian indahnya sanubari dan jiwa yang memuliakan Allah, semakin besar kemuliaan Allah di dalam hatinya maka semakin ia membawa kemuliaan dalam kehidupan, bagi dirinya dan bagi sekitarnya.

Allah SWT mengikat erat jiwa dan sanubari yang terikat pada Para Shalihin. Dan bicara mengenai Ibrahim, sedemikian mulianya. Bukan untuk Nabi Ibrahim sendiri tapi orang orang dan siapa pun yang mencintai Nabi Ibrahim as turut termuliakan.

Lalu Habib Munzir melanjutkan cerita, beliau menyampaikan tentang kisah seekor katak. Diriwayatkan di dalam Syi’bul Iman oleh Al Imam Baihaqi juga di dalam tafsir Imam Qurthubi, ketika seekor katak tidak tahan melihat Nabi Ibrahim mau dibakar oleh Raja Namrud, (padahal) tidak bisa berbuat apa apa seekor katak, ia hanya menaruh air di mulutnya.

Berapakah besar mulutnya katak mau memadamkan apinya Ibrahim? (Api menyala) lebih besar dari bukit, Katak mengambil air dari sungai dan melompat lompat dan menyemburkan air itu ke api, tidak berguna perbuatan katak itu, Tidak akan bisa memadamkan api, tapi Yang Maha Melihat, (tetap) melihat!! Allah Swt melihat jiwa seekor katak yang kecil yang tidak dilihat oleh makhluk lainnya. Allah Swt tahu niat daripada hamba Nya yang kecil itu, cintanya kepada Nabiyullah Ibrahim dan niatnya menyelamatkan Nabi Ibrahim (padahal Nabi Ibrahim sudah dilindungi oleh Allah) maka Allah mengharamkan katak untuk dibunuh sampai akhir zaman.

Semua katak, padahal ini perbuatan satu saja. Yang berbuat satu, semua katak sampai akhir zaman haram dibunuh. Sampai diriwayatkan lebih dari 20 hadits, pelarangan Nabi saw membunuh katak sehingga para sahabat datang kepada Rasul saw mengajukan pertanyaan “ada katanya jenis obat tapi diambil dari katak, harus membunuh katak” dan Rasul saw melarangnya. Jangan jadikan pengobatan dari katak. Kenapa? karena katak dilindungi sampai akhir zaman. Kenapa? satu diantaranya pernah ingin menyelamatkan Nabi Ibrahim as.

Lihat Allah menghargai keinginan mulia, walaupun tidak bisa berbuat apa apa, walaupun tidak bisa merubah keadaan tetapi hal itu dihargai oleh Allah dan dilihat.

Lebih lebih lagi orang orang yang mencintai Sayyidina Muhammad Saw, Pemimpin Para Nabi dan Rasul. Dan orang orang yang membantu apa apa yang diperjuangkan oleh Rasul saw. Barangkali perbuatannya tidak berarti tapi itu usaha yang dihargai oleh Allah Swt.


Ya Allah, masukkanlah aku kedalam golongan orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW, ke dalam golongan orang yang selalu ingin dekat denganMu..

Aamiin.



Wahai Tuhanku, wahai yang memilikiku


Engkau mengetahui akan keadaanku

Dan apa yang berada dalam hatiku

Dari kesedihan dan kesibukanku

Maka tolonglah aku dengan kelembutan

dariMu wahai Tuhan orang-orang yang memohon pertolongan

Wahai yang maha mulia tolonglah aku

Sebelum lenyap kesabaranku

Aamiin




Bagikan:

1 komentar