Immortal - Chapter I & II

Grace Eritha membuang bukunya ke lantai, dia jenuh membaca buku hampir setengah harian ini. Kantor tampak lengang, karena perekonomian Indonesia sedang kacau, perusahaannya kini tengah menuju kebangkrutan.


Grace kesal menatap jendela yang memamerkan gedung-gedung tinggi di jalan Sudirman.

”Permisi, Bu. Ada tamu..” Delita mengejutkan lamunan Grace. Sekretaris itu tampak takut melihat pimpinannya yang tengah gundah menatap jendela di ruangannya.

”Dari siapa?” tanya Grace.

”Bapak Mathius, finance manager Hongkong Bank.” jawab Delita

”Kenapa tidak buat janji sebelumnya? Saya tidak kenal dengannya..” kata Grace ragu.

”Dan kini, maka kau akan kenal aku..” suara laki-laki tiba-tiba terdengar di depan Grace. Grace terkejut menatap laki-laki berperawakan oriental itu.

”Maaf, Pak. Sebaiknya anda tunggu di luar..” Delita gelagapan.

”Tidak apa-apa, Del.. Silahkan duduk, Pak Mathius. Apa yang bisa saya bantu?” tanya Grace mengangguk pada Delita, dan Delita pun pergi meninggalkan ruangan kerja Grace.

”Maaf saya lancang tiba-tiba masuk ruangan anda. Saya hanya terdesak waktu. Saya hanya ingin menyerahkan ini..” Mathius menyerahkan sebuah kartu nama yang tidak menterterakan Hongkong Bank.

”Tadi anda bilang pada sekretaris saya anda bekerja di Hongkong Bank, lalu kenapa ini bertuliskan O.T.O?” tanya Grace tak mengerti.

”O.T.O adalah organisasi tempat saya bernaung, Bu. Saya bermaksud ingin mengajak anda bergabung ke dalamnya.” jawab Mathius.

”Maaf, saya tidak ada waktu untuk ikut organisasi atau komunitas semacamnya.. Saya...”

”Perusahaan anda akan bangkrut, jika anda ikut dalam satu tahun perusahaan anda akan besar seperti Hongkong Bank. Saya akan membiayai perusahaan anda, berapa pun pinjaman yang anda butuhkan untuk perusahaan anda, saya akan memberi dana segar..” Mathius memotong.

Grace berpikir dia tengah berhadapan dengan marketing Bank yang tengah menawarkan pinjaman untuk perusahaannya, Grace merasa tidak tertarik.

”Maaf, saya tidak tertarik..” jawab Grace.

”Mr. Arsyhadd yang menyuruh saya kemari, Bu. Sebagai teman ayahmu, saya hanya bermaksud membantu.” jawab Mathius.

Grace berjengit, meletakkan pulpen yang baru saja digenggamnya, dia berpikir siapa pria ini, mengapa mengetahui nama ayahnya yang kini berada di London.

”Apa maksud anda? Saya tidak mengerti..” tanya Grace.

”Kalau begitu, kita buat anda mengerti semuanya.” Mathius melemparkan senyum.







Benak Grace masih teringat dengan perjumpaan satu jam lalu dengan Mathius, dengan lugas, finance manager Hongkong Bank itu menjelaskan organisasi yang akan mengikutsertakan Grace sebagai anggotanya. Merupakan kehormatan besar, organisasi berskala internasional itu menarik Grace tanpa syarat apa pun. Grace merasa heran, mengapa ayahnya memasukkan namanya dan mengapa dia tak pernah mendengar organisasi ini dari ayahnya. Dengan cepat Grace menekan tombol dial menghubungi ayahnya yang berada di London.

”Dad, its me..” sapa Grace

”Grace, ini tengah malam, ada apa?” tanya Arsyhad

“Dad, maaf mengganggu, ada yang ingin kutanyakan. Dad ada di mana sekarang?” tanya Grace

“DC.. Ada apa Grace?”

Grace terdiam, dia tahu DC adalah kota yang jauh dari London, Washington DC.

“Tadi, ada pria mengaku bernama Mathius, dia mengaku dari O.T.O, dan menyebutkan nama Dad. Apa Dad yang menyuruhnya menemuiku?” tanya Grace.

“Apa? Apa itu O.T.O? Aku tak pernah menyuruh siapa pun menemuimu. Apa mencurigakan, Grace? Hati-hati sayang, Dad sekarang sedang mengurus sesuatu di CH. Kau tahu jika kita berurusan yang seperti ini harus sangat berhati-hati.” jawab Arsyhad

’Hmm.. CH, Capital Hall. Untuk apa Dad di sana?’ tanya Grace dalam hati, dia tidak boleh menyebutkan nama tempat itu, terlalu ceroboh untuk sambungan telepon yang bisa saja disadap. Apalagi baru saja ada kejadian aneh yang menimpanya.

“Tidak apa-apa, Dad. Maafkan aku mengganggumu. Apa kau baik-baik saja?” tanya Grace

”Aku baik-baik saja, dan aku harap kamu juga begitu. Bagaimana dengan the Regnal?” jawab Arsyhad menanyakan perusahaan Grace.

“The Regnal tengah pailit, Dad. Indonesia kacau sekali. Sahamku jatuh semuanya..” Grace bersedih.

”Hanya sementara, Grace. Aku akan mengirimkan bantuan untukmu..” jawab Arsyhad.

”Tak usah Dad, cukup berhati-hati saja.. Dan jangan lupa mengabari anak semata wayangmu ini.. I love u, Dad..” Grace menyudahi teleponnya.

Benaknya kembali berpikir, siapa itu Mathius.

’Aku harus ikut, untuk mencari tahu semuanya.. Terlalu mencurigakan, Mathius terlalu tahu banyak tentang Dad..’ bisik Grace dalam hati.





Chapter. 2








’Mengapa Grace tidak menjawab teleponku?’, Anthonius bertanya-tanya ketika memutuskan hubungan ponselnya. ’Mana dia?’.

Selama tiga puluh menit Anthonius menunggu pada sebuah restoran yang terletak di Manhattan Hotel di kawasan Kuningan – Jakarta. Grace tidak pernah terlambat sebelumnya. Dan dia juga tidak pernah menolak ajakan kencan Anthonius. Tapi kali ini, Grace tidak kunjung tiba.

Dalam tunggu, Anthonius mengenang saat pertama kali dia menyatakan rasa suka dengan Grace, dan Grace menyambutnya dengan hangat. Gadis yang dikenalnya dalam suatu seminar bisnis yang diadakan di hotel Shangri-la membuat kesan pertama yang menakjubkan, sejak saat itu Anthonius jatuh cinta pada Grace. Ketika komunikasi mereka semakin intens, Anthonius tidak menyangka kantornya dan tempat Grace bekerja berada dalam gedung yang sama, dan hal itu membuat mereka semakin dekat.

’Grace, aku merasakan hal yang beda sejak bertemu denganmu. Rasanya semakin hari, hal itu semakin tumbuh dan aku merasa... Jatuh cinta padamu..’, kata Anthonius di suatu sore. Grace mendengarnya dengan wajah yang teduh. Binar mata Grace menjawab juga dengan hal yang sama.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dalam. Tiga bulan sudah mereka menjalin hubungan itu dan menyatakan ingin meneruskannya kejenjang yang lebih serius, menikah.

Sementara tubuh wanita sintal pemilik nama Grace Eritha lari tergopoh menekan tombol lift menuju lantai 3. Sesekali matanya melirik arloji Swatch yang terpasang indah di tangan kirinya.

’Pasti Anton marah besar!’, benak Grace berpikir jauh. ’Tak peduli lah, yang penting aku sudah datang’.

”Ton..” sapa Grace ketika tiba di depan meja tempat Anthonius menunggunya. Di tatap wajah oriental atasannya yang cemberut menatapnya balik.

”I’m so sorry.. Jalanan macet, dan aku harus menunggu taksi yang mau membawaku kemari...” Grace meminta maaf pada Anthonius.

”You know, jarak tempat kost dan hotel ini sangat dekat, taksi jarang ada yang mau..” sambungnya.

”Itulah kenapa aku memaksa untuk menjemputmu, tapi kamu selalu menolaknya” Anthonius menatap Grace dengan kesal, namun Anthonius tak bisa menahan marah lebih lama. Karena ketika dia menatap bola mata Grace yang hijau, seketika marah itu luntur dan hilang begitu saja.

”Aku belum siap memperkenalkan ibuku padamu, Ton. Jika kamu menjemputku, ibuku pasti bertanya tentangmu..” jawab Grace.

”Aku bersabar hingga waktunya tiba, Grace.” kata Anthonius.

”Grace..” Anthonius mencium punggung tangan Grace. Sajian mewah dan wine telah tersedia di hadapan mereka. Grace hanya tersenyum. Sorot matanya yang tajam menatap dengan penuh cinta kekasihnya itu.

Sementara tak jauh dari meja Grace dan Anthonius duduk, tampak seorang laki-laki besar mengawasi mereka dengan seksama.

Laki-laki itu mengawasi Grace. Memandang tubuhnya yang hanya mengenakan jeans ketat dan atasan tanktop dan terbalut cardigan pink yang soft. Saat itu, penampilan Grace kelihatan santai, namun tetap elegan dengan bentuk tubuh Grace yang ideal.

”Ton, tadi siang ada laki-laki datang ke kantorku. Dia mengaku bernama Mathius, finance manager Hongkong Bank. Tapi dari kartu nama yang dia berikan tertera dia anggota dari O.T.O..” cerita Grace.

”Jadi ini yang mau kamu bicarakan?” tanya Anthonius, dalam hatinya dia berharap Grace membicarakan rencana pernikahan mereka.

”Ton, ini serius. Mathius tahu nama ayahku, dan dia bercerita tentang organisasi yang dulu pernah ayah ikuti..” Grace memasang wajah serius.

Anthonius tertegun, menyimak penuh.

”Lalu?” tanya Anthonius.

”Dia menginginkan aku ikut menjadi anggota O.T.O itu, lalu dia akan membiayai untuk menutupi semua hutang-hutangku pada Bank.” kata Grace.

”Grace, dengar. Tidak seperti itu caranya, kamu mengorbankan sesuatu yang belum pasti untuk perusahaan. Kupikir, kita sudah selesai membahas hal ini. Kamu bisa menerima bantuanku dulu, maka gallery mu masih bisa tetap buka. Aku mengerti kamu cinta sekali pada gallerymu, tapi aku lebih mencintaimu. Aku tidak mau kamu ikut dalam hal yang tidak jelas hanya untuk perusahaan..” Anthonius menjelaskan panjang lebar.

”Gallery itu tidak boleh tutup, Ton. Itu adalah cita-citaku. Aku hanya tinggal masuk organisasi lalu mereka akan mengatur semuanya, mereka orang yang ahli dalam perbankan, mereka akan memainkan pasar bursa hingga sahamku naik lagi. Lagipula, aku sembari mencari tahu mengapa mereka tahu ayahku. Padahal tadi siang aku meneleponnya menanyakan apakah dia mengirim orang atau tidak..” jawab Grace.

“Lalu? Apa kata ayahmu? Sedang di mana beliau sekarang?” tanya Anthonius.

”Dad sekarang di DC. Ada di CH. Aku tidak tahu apa yang sedang dia kerjakan di sana. Dan Dad bilang dia tidak pernah mengirim orang untuk menemuiku..” jawab Grace.

”Apa? Ayahmu di DC? Grace, ini mencurigakan, Grace. Darimana Mathius itu mendapat info tentangmu. Kupikir sebaiknya jangan gegabah, Grace. Terlalu berbahaya karena melibatkan nama ayahmu. Aku tidak mau terjadi apa pun pada ayahmu dan terutama dirimu, Grace..” Anthonius kawatir.

Otak Grace berpikir keras, dia tidak mau kehilangan gallerynya. The Regnal adalah gallery lukisan dan benda-benda antik yang telah didirikannya lima tahun lalu, seiring dengan kelulusan studinya di Universitas Indonesia fakultas Arkeology membuat Grace jatuh cinta pada benda-benda antik dan seni kuno.

Hal itulah yang membuat Grace membuka the Regnal. Grace banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mengumpulkan benda-benda antik dan seni kuno. Dalam kurun dua tahun the Regnal berkembang pesat, banyak warga negara asing di Indonesia yang membeli koleksinya, hingga koleksinya diimpor ke berbagai negara di Eropa dan Amerika.

Namun sejak perisitwa tragedi 1998 yang menewaskan empat mahasiwa Universitas Trisakti dan membuat kerusuhan besar di Jakarta, dalam beberapa bulan the Regnal sepi dari pembeli. Saham-saham yang dimiliki Grace jatuh dan membuat Grace terpaksa berhutang di bank untuk tetap membuka the Regnal. Kini sudah satu tahun usai tragedi 1998, namun Grace tetap bersikeras membuka gallerynya.

“Grace, aku tahu kamu sedih bila harus menutup the Regnal. Ijinkan aku membantumu. Jangan begitu keras, kita akan menikah, Grace. Milikku juga milikmu..” Anthonius memohon.

“Sayang, tidak usah. Tenanglah. Aku akan tetap ikut organisasi itu. Aku bisa menjaga diri. Aku hanya penasaran akan semua itu.”

Grace menatap jauh, tiba-tiba dia menangkap basah laki-laki yang tengah memandangnya dengan serius. Grace menatap tajam, laki-laki itu salah tingkah dan beranjak pergi meninggalkan restoran. Grace mengikuti langkah kaki laki-laki itu dengan pandangannya yang tajam.

”Ton.. Dari tadi ada yang mengawasi kita..” bisik Grace.

”Apa? Sudah kubilang kan Grace, aku jadi paranoid sendiri. Aku kawatir sama kamu..” Anthonius menjulurkan kepalanya ke belakang. Mencari orang yang dimaksud Grace.

”Sudah tidak ada, ayo kita pergi dari sini..” ajak Grace.



Bagikan:

0 komentar