OBSESI

Berhubung Yudi buat tema OBSESI. Jadi kepingin nerusin cerita detektif gue yang tertunda. Sejak kecil gue terobsesi jadi detektif. Mungkin gara-gara kebanyakan baca Trio Detektif atau Conan kali yah. Sampai dewasa pun obsesi nggak kesampean itu masih saja menghantui. Setelah kenal Kamandaka, obsesi itu malah makin kumat, gue obsesi kepingin jadi pemburu hantu sekaligus detektif yang menyelidiki suatu tempat yang dibilang angker, kenapa tempat itu bisa angker dan bagaimana sejarahnya.

Begitu banyak petualangan detektif horror yang gue lalui bersama Kamandaka, dan rencananya cerita-cerita petualangan horror itu gue rangkumin jadi satu novel dan akan coba gue kirim ke penerbit awal tahun depan. Doain dan dukung saya yaah. Ketik REG spasi HORROR. Wkwkwkkwkk....

Setiap anak kecil pasti punya obsesi tersendiri. Entah jadi dokter, jadi pilot, jadi dukun (ini obsesi Kamandaka waktu kecil), yah macem-macemlah. Namanya juga obsesi (Ini obsesi atau cita-cita sih?)

Dibilang cita-cita kalau cara pencampaiannya nggak ngoyo, nggak maksa, sesuai kondisi dan koridor proses yang ada, dibilang obsesi itu kalau udah mulai nggak terima kenyataan, kalau udah tau nggak mampu tapi maksa. Misalnya, obsesi kepingin jadi dukun, tapi ternyata takut setan, baru denger suaranya aja udah kecepirit gimana mau kerjasama ama jin.

Nah kalau jadi detektif ini gue bener-bener obsesi. Udah tau nggak ada kemampuan inteligen, nggak cerdas, tapi tetep aja segala sesuatu kepingin diselidikin. Yah, kalau udah ada panggilan alam jiwa detektif itu rumusnya bisa diibaratkan rasa penasaran + penakut - nggak cepat tanggap = adrenaline pumping. Rasanya menyenangkan saat merasakan jantung deg-degan, keringat dingin, nahan napas, otak berputar cepat ya mirip-mirip kalau mau nembak gebetan lah #eaaa

Ya itulah obsesi gue, termasuk obsesi jadi tema starter selanjutnya makanya nulis tema ini buru-buru.. Peace dulu ah..


Obsesi jadi Rossi
---


Kraaakk
“Siapa itu?” kata Cathy pelan.
Degup jantung seseorang yang ketakutan semakin mengencang ketika bunyi krak pelan seperti bunyi seseorang yang memecahkan potongan ranting bergema dirumah tua itu. Dengan pelan, Cathy wanita paruh baya yang bersembunyi dibalik pintu kamar melangkah menuju jendela yang memancarkan cahaya bulan di kegelapan malam.
“Oh My God, kemana Mike..” guman Cathy dalam hati.
Kraakk
Suara krak diikuti langkah kaki yang berat semakin mengencang dan suaranya semakin dekat menuju kamar tempat persembunyian Cathy.
“Aku harus kemana, jendela ini tidak bisa dibuka..” Cathy panic namun tetap berusaha tenang di dalam keremangan kamar.
Tap..Tap..Tap..Tap..
Tap..Tap..
Suara langkah kaki yang berat semakin dekat.
Tiba tiba
Dug Dug Dug
Suara seperti menerjang pintu terdengar tiba tiba.
“Oh God, aku harus bersembunyi di bawah meja ini” gumam Cathy cekatan sembari berlari pelan menuju kolong meja kerja yang terletak didekat jendela kamar.
BRRAAKK..
Suara pintu yang didobrak pun terdengar, Cathy panic luar biasa. Di daerah pedalaman seperti ini sulit sekali meminta pertolongan, signal handphone pun seperti menghilang di telan rimba nya alam pedesaan. Jarak rumah penduduk sangatlah jauh. Cathy kehabisan akal, dia hanya bisa diam merungkuk ketakutan dikolong meja.
Uhuk Uhuk..
Suara batuk seorang pria tiba tiba terdengar.
Cathy waspada luar biasa.
Tap..Tap..Tap..
Langkah kaki berat pun semakin terdengar,
Dan tiba tiba..
Arrrrrrgh.
Cathy menjerit. Ditatapnya seorang pria dihadapanya. Pria yang ia tahu terobsesi dengannya selama ini.
"Halo, Cathy. I know what you did last summer."

--

Bagikan:

4 komentar

  1. wkkkkkk itu gambarnya kok mirip bisot ya deb :|

    BalasHapus
  2. Eaaaa.. Obsesi detektif, sama dong kita Deb.. *ganti topik ah nanti* wekekeke.. :D

    BalasHapus
  3. wkwk itu si arham keknya dulu di blog indos pernah foto gitu juga, btw dulu gw pengen jadi tintin, ampe jambulnya juga -_______-

    BalasHapus