Away From Keyboard

Mataku menatap kosong layar notebook yang terletak persis di depanku, berusaha membaca ulang tulisan yang filenya disimpan di desktop. Sang penulis sengaja meletakkan di desktop agar aku membacanya. Seharusnya aku menyelesaikan pekerjaanku yang setumpuk, tapi setiap kata yang tertera dalam file ini begitu merebut perhatian dan memukul hatiku.

Suamiku, tahukah kamu saat aku baru jatuh cinta padamu?

Saat itu kita berdebat hebat, tentang hal yang semestinya tak kita debatkan.

Lucu memang, kamu begitu menyerangku masalah agama, hanya karena aku tampil sangat 'atheis'.

Aku mengatakan agama itu hanya karangan manusia-manusia jenius yang ingin manusia lain tak saling bunuh, yang ingin bumi tetap dalam keadaan damai.

Lalu kamu menentangnya, kamu mengatakan aku sudah keluar haluan. Kamu syiar dihadapanku. Kamu mengeluarkan ayat-ayat suci untuk membimbingku kembali ke jalan yang sudah seharusnya aku berada.

Kamu tahu? Saat itu aku hanya mengetesmu, aku hanya ingin tahu kadar imanmu, karena saat aku memutuskan untuk bersamamu, aku tak ingin berada dalam genggaman orang yang kehilangan atau bahkan tak tahu arah hidupnya.

Aku mulai jatuh cinta padamu, saat kamu melantukan ayat-ayat suci Al Qur'an yang begitu indah, saat kamu menggunakan peci dan baju koko serta dilengkapi sarung untuk pergi ke majelis taklim yang kamu puja-puja itu.

Kamu memaksaku untuk ikut denganmu, awalnya aku tak menyukainya karena iring-iringan motor yang mengganggu, lalu setelah mendengar tausyiah Habib dan lantunan hadroh aku tersentuh. Aku menangis untuk pertama kalinya di depanmu, bukan karena aku jatuh cinta padamu, tapi karena kamu menunjukkan lentera untuk kehidupanku yang begitu gelap.

Dan akhirnya kita menikah, lewat ikatan suci kita berjanji, akan menjalani syariat bersama. Aku begitu mendukungmu, walau di hadapanmu aku hanya diam saja tanpa reaksi, tapi seharusnya kamu mampu membaca sikapku, jika aku tak mendukung, untuk apa aku ikut serta bersamamu menghadiri majelis taklim dan dzikir.

Dan aku semakin jatuh cinta padamu, saat kamu bernyanyi melantunkan syair-syair indah yang sering dinyanyikan oleh tim hadroh di majelis taklim dan dzikir yang sering kita datangi. Malam-malam aku mengintipmu mendengarkan lantunan hadroh, kamu sibuk berbagi pengetahuan Islam dengan teman-temanmu di dunia maya, dan sibuk syiar dalam bentuk apa saja.

Lalu pada suatu hari, kamu membawakan buku yang awalnya tak sedikit pun aku tertarik untuk membacanya. Diam-diam, aku membuka buku itu, kata-kata dari Habib yang tertulis di buku itu menyentuhku, kembali menyentuh imanku. Malah, aku kagum pada beliau, dan hingga aku hamil, aku mendambakan beliaulah yang memberikan nama untuk anak kita kelak.

Aku semakin tenggelam tanpa kamu sadari, aku semakin mencintai agamaku, aku semakin tak sanggup jauh dari pencipta kita, setiap senang dan susah, aku berusaha untuk selalu menyembahNya.

Kamu terus mengajariku, apa saja yang menyangkut tentang syariat. Dan aku juga semakin tenggelam mencintaimu, karena Allah yang mendekatkan kita lewat ajaranNya, lewat syariat yang diajarkan Rasulullah SAW.

Tapi sekarang, rasanya berbeda. Perasaanku seperti datar, karena lelaki yang aku cintai seperti menghilang, entah kemana. Lelaki yang sering menggunakan peci dan baju koko itu kini hanya meletakkan peci dan kokonya di lemari, lantunan hadroh yang sering diputar tiap malam itu berganti lagu MadBall, suara orang mengaji di malam hari kini hanya ada suara orang bernyanyi hip hop, kata-kata halus dan lembut kini sirna. Kemanakah laki-laki itu?.. Hilang..

Suamiku, tak apa jika saat ini kamu begini. Aku mengerti iman adalah sesuatu yang harus terus di charge, dan setiap manusia pasti punya chapter tersendiri, saat dia jauh, saat dia dekat. Tapi jangan lama-lama kehilangan arah, aku dan anak kita butuh bimbinganmu. Aku dan dd sayang kamu, Yah..

Allahu akbar.. Allahu akbar..

Suara adzan Maghrib mengejutkanku. Aku tersentak dari kursi. Kutatap istriku yang telah mengambil air wudhu.

Aku menangis menatapnya, namun dia hanya tersenyum, dan tatapannya seperti mengajak berjamaah. Hati kecilku berkata, aku harus segera away from keyboard. Sholat lebih penting dari setumpuk pekerjaan.

Inna sholati wanusuki wamahyaya wammamati lillahi rabbil'alamin

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku kuserahkan hanya pada Allah tuhan seru sekalian alam.


Kategori:

Bagikan:

5 komentar