Baby blues? No more...

11 Oktober 2011

Ini hari ke enam setelah saya operasi cesar 5 Oktober 2011 lalu. Setelah saya melahirkan putra pertama bernama Muhammad Hafidz Murdianto, semoga kelak dia menjadi seperti saya dan suami harapkan.

Tiap menatap wajahnya saya menangis. Hati saya galau, entah kenapa. Antara rasa bahagia karena telah melahirkannya dan rasa rindu ingin kembali ke masa saat saya masih berdua saja dengan suami.

Ya! Saya tau itu salah. Seperti tidak menginginkan kehadiran Hafidz. Tapi saya juga bingung kenapa memiliki perasaan seperti itu.

Saya takut sekali saat dia menangis, saat harus mengganti popoknya, kawatir saat malam ke lima badannya agak hangat, saat saya harus berjuang menahan sakit menyusuinya. Apalagi saat menahan sakit nyeri di perut bekas luka operasi saat harus beraktivitas merawatnya dan menjalani aktivitas ibu rumah tangga.

Telah lama saya menjalani hidup menjadi wanita pekerja. Saya menikmati pekerjaan saya, dan saya mencintai dunia pekerjaan dan menjadi wanita karir. Kini saya harus merangkap menjadi ibu juga. Rasanya sangat berat sekali menjalani itu semua. Entah nanti ketika saya masuk kerja apa saya sanggup menjalani itu.

Ingin rasanya saya menikmati kehidupan ini, rasanya terlalu egois memang sudah dikasih kebahagiaan banyak tapi tidak bersyukur, tapi dari hari ke hari jiwa saya semakin tertekan. Dengan lingkungan baru yang tak sehat, dengan himpitan ekonomi, dengan segala awal permulaan merawat bayi, semuanya menjadi beban hati saya. Saya jadi stress.

Saya merindukan suasana di apartemen saya, walau saya hanya mengontrak dengan beban biaya setiap bulannya yang besar tapi saya enjoy tinggal di sana. Saya pecinta keheningan, saya orang yang tak suka keramaian, saya tak sanggup hidup bersosialisasi terlalu sering karena dalam diri saya ada jiwa anti sosial yang susah dihilangkan sejak lama, mungkin itu sebabnya saya begitu menikmati kesendirian, dan jika dengan orang lain itu juga dengan suami saya saja.

Lalu tiba-tiba dunia berubah 360 derajat. Saya pindah ke lingkunga baru yang rumahnya berdempetan dengan tetangga, tak ada jendela di kamar, tak ada aliran udara segar, tak ada pemandangan, hanya kontrakan petak berhimpitan, debu-debu bertebangan, nyamuk dan lalar yang banyak di luar rumah, suara-suara bising yang sama sekali tak bisa membuat saya tenang dan beristirahat di siang hari, dan tangisan Hafidz di malam hari yang membuat saya semakin stress, membuat saya semakin menyesali mempunyai anak.

Apakah wajar yang saya rasakan?

Teman curhat saya bilang, saya terkena baby blues. Saya awalnya kurang paham, apa itu baby blues, tapi setelah saya browsing baby blues adalah sindrome yang dialami ibu pasca melahirkan. Sindrome kacau balaunya perasaan. Dan ini berlangsung dengan waktu yang tidak bisa diprediksikan. Ada yang hanya 1 minggu, bahkan ada yang sampai 6 bulan.

Saya tidak tahu apakah ibu yang mengalami baby blues mempunyai perasaan yang sama dengan saya. Saya tidak menginginkan ini, sama sekali tidak ingin keadaan seperti ini. Saya mencintai anak saya, mungkin perasaan ini tidak berlangsung lama, atau lama saya tidak tahu.

Tapi saya tidak ingin ini berlarut-larut. Doakan saya semoga ini usai, doakan saya agar saya kuat, agar saya kembali menatap Hafidz dengan penuh kasih sayang, agar saya ikhlas menyusuinya, agar saya kembali merasakan kebahagiaan saat pertama kali melihatnya.

Ya Allah.. Tolonglah hamba Mu.. Aamiin.. 

---

27 Oktober 2011

Kemarin, anak saya Hafidz genap berusia 3 minggu. Selama 3 minggu itu banyak yang terjadi, dari mulai Baby Blues, Hafidz masuk rumah sakit selama 4 hari akibat kuning, yang akhirnya karena kejadian itulah Baby Blues saya hilang. Tak ada kebanggaan lagi jadi wanita karir, saya malah lebih bangga menjadi ibu rumah tangga, karena setinggi apa pun karir perempuan, tak ada yang mengalahi kedudukan seorang ibu.

Tamparan keras untuk saya, memang. Selama 4 malam dia diinapkan di dalam ruangan khusus dan tidur di bawah sinar biru yang menyakitkan mata bila memandangnya lama. Dari pagi hingga larut malam saya menungguinya, setiap 2 jam saya memompa ASI untuknya, setiap saya memandangnya air mata saya jatuh, saya memohon pada Allah agar saya saja yang menggantikan tempatnya di situ. Saya tak mau anak saya sakit dan terpisah dari saya, hingga malam tiba, saya pulang ke rumah tak melihatnya tidur di samping saya membuat saya tak bisa tidur semalaman.

Malam demi malam saya lalui dengan hampa, karena itulah saya mengerti arti kasih sayang seorang ibu. Saya teringat dulu ketika saya bandel sama ibu saya, kini saya mengerti betul perasaan seorang ibu. Setelah Hafidz pulang, saya tak mau terpisahkan darinya, ketika saya harus pergi keluar rumah karena urusan, saya berat meninggalkannya, baru 15 menit pergi saja saya sudah menelepon kakak saya yang mengurusnya sementara saya pergi. Benar-benar, beginilah perasaan seorang ibu. Kini saya paham betul perasaan ibu, karenanya saya sering berterima kasih pada ibu saya yang padahal dulu saya suka lupa padanya. 

Im proud to be a mom.. :) Hafidz, you're my sweet disposition...

Bagikan:

8 komentar

  1. Hafidz.......
    Pengen cubit pipinya, Debz. Boleh ya, ya.. ya... ya...

    BalasHapus
  2. Nggak boleh aaah.. hehehehehe... :P :P

    BalasHapus
  3. trenyuh gw bacanya Deb, terharu juga. Gw jadi inget gimana gw bandel sama nyoka[ ... selamat ya semoga masa-masa membingungkan itu ga akan kembali lagi. Semoga dikasih rejeki yang banyak sama Allah. Setiap anak punya rejeki masing - masing. Semoga Hafids sehat n keluarga Murdiyanto selalu sejahtera :)

    BalasHapus
  4. Huhuhuhu terharuuuuu..... jadi pengen segera punya baby jugaaaaa :D

    BalasHapus
  5. being a mother is the best job in the world!

    BalasHapus
  6. Tebeh : Yups, makanya jangan ngelawan sama ortu.. Aamiin, makasih doanya yaah..

    Mhimi : Iya cepet2 nikah kalo pengen punya baby..

    Yudi : Yups!!

    BalasHapus
  7. ga kebayang kalo perasaan ke gitu keterusan sampe babynya jadi balita.. ;p
    salutt.. :)

    *miss my momm...

    BalasHapus
  8. kura2 : ya jangan sampe balita :) thanks... ^^

    BalasHapus