Belajar Nulis Skenario

Gilee, nulis skenario ternyata susah banget yah. Apa karena gue baru banget belajar. Butuh kesabaran ekstra, karena nulis skenario banyak rulesnya.. Beda sama nulis novel yang mengalir gitu aja.. Hmmmm..  Kira-kira begini nih hasil yang udah gue tulis walau cuma sedikit..


--


Cuaca pagi hari di kota Jakarta, cerah, namun tidak begitu panas. Banyak pegawai KP DJBC hilir mudik mengejar absen yang waktunya sudah tinggal sedikit lagi. Karena apabila telat absen, pegawai tersebut akan terkena potongan TC.


SCENE 1. Mesin Absen Maisonnet 5A - Gedung Perlengkapan   (MORNING)
Cast:  Debby, Didi, pegawai A, pegawai B dan pegawai C
Suasana masih ramai, hiruk pikuk. Ada beberapa motor berhenti depan parkir gedung dan menurunkan penumpang yang merupakan pegawai yang masih mengejar absen. Selang beberapa menit, tak lama motor yang dikendarai Didi dan ditumpangi Debby berhenti depan gerbang gedung. 

Debby
Sayang, makasih ya.. Kamu semangat yah jangan berputus asa..

Didi (Tersenyum)
Iya sayang, sama-sama. Semangat juga yah..

Debby pun melangkah menuju mesin absen. Tak lama pegawai A yang baru saja absen dan kebetulan Debby mengenalnya menyapa Debby. Dan Didi pun segera melaju motornya menuju kantornya.

Pegawai A
Hai Deb, udah berapa bulan?

Debby
Empat bulan nih.

Pegawai A
Oh, syukurlah.. Tapi kok cepet amat yah... Tokcer bener suami..

Debby
Hahahaha... (Tersenyum terpaksa)

Pegawai A
Tapi nggak kayak KD kaan..

Debby
(Hanya terdiam merengutkan muka, benaknya berpikir dia sudah seperti artis saja dibilang seperti KD, tak lama dia menjawab)
Artis dong saya... Wah terkenal deh..

Pegawai A
Hahahha.. Ya soalnya kan kalau kayak gitu sudah banyak..

Debby
Terus, kalau sudah banyak kenapa? Bukan urusanmu kan?

Pegawai A
(Tiba-tiba dia merengut dan menunjukkan mimik kesal) Ya sudah saya duluan yah..

Debby
Oh, oke..

--

Debby melangkah masuk ke dalam ruangan kantornya. Disambut dengan beberapa wajah pegawai yang sedang sibuk bercerita. Debby merasakan suasana yang sedang tidak enak. Dia pun segera bergegas merapikan barangnya dan pergi menuju kantin di belakang kantor untuk sarapan.

SCENE 2. Warung Bu Rati (MORNING)
Cast: Debby, Bu Rati, pegawai C, pegawai D

Debby memesan makanan untuk sarapannya. Dan Bu Rati pun melayaninya dengan segera.

Debby (Berpikir)
Hmm… Si pegawai A kok nanyanya gitu amat yah tadi..

CAMERA PEN TO BU RATI
Bu Rati
Kok jarang kelihatan, Mbak Debby?

CAMERA MOVE TO DEBBY

Debby
Iyah Bu. Soalnya kan nggak boleh keluar gerbang. Banyak kantib nya...

CAMERA MOVE TO BU RATI

Bu Rati
Iya nih, sejak ketat gitu warung saya jadi sepi..

CAMERA MOVE TO ARROUND.
Tampak beberapa warung yang juga sepi dari pengunjung.
CAMERA MOVE TO DEBBY

Debby
(Tersenyum Kecil)
Yah begitulah bu. Mungkin mereka yang menentukan peraturan itu tidak mengerti yang di bawah. Sama saja menjegal rejeki orang. Ya sudahlah bu, toh juga rejeki nggak kemana kan...

DISSOLVE TO:

SCENE 3.MONTAGE SCENE AKTIVITAS PEGAWAI DI GEDUNG UTAMA
Beberapa pegawai tampak sibuk membolakbalikan kertas yang tertumpuk di mejanya. Seakan semua pekerjaan meminta untuk segera diselesaikan. Tampak beberapa pejabat yang juga sibuk memerintah anak buahnya. Kondisi yang sehari-hari terlihat dan menunjukkan betapa powernya posisi pejabat. Tampak seorang pegawai yang menahan lapar karena belum sarapan.

Debby (CONT’D)
(O.S)
Hampir setiap hari ketika saya lewat di lampu merah saat hendak ke kantor, saya melihat begitu banyak orang sibuk beraktivitas untuk tujuan yang sama, mencari uang. Entah untuk makan, kesehatan, sekolah anaknya, tempat tinggal atau apa pun. Kita semua di sini sama saja, bekerja di mana pun juga tujuannya sama. Sama-sama mencari uang untuk penghidupan. Tak perlulah saling menjegal orang lain dalam mencari nafkah. Asal halal, semua bisa dilakukan selama tidak melanggar peraturan negara dan pemerintah. Namun, bila hal seperti ini saja dijegal, para pegawai dilarang makan di kantin belakang dengan mengatasnamakan kedisplinan, rasanya tidak ada toleransi untuk mereka yang sudah bersusah payah membuka warung, pergi ke pasar di subuh hari untuk membeli bahan baku, lalu memasaknya dan menyajikannya, tapi kemudian yang membeli berkurang karena gerbang yang ditutup atas nama disiplin kantor. Jika kita semua pegawai di sini, sudah mendapat gaji dan tunjangan rasanya sudah berada digaris aman, tak perlu lagi kita mengkawatirkan besok makan apa, tentunya berbeda dengan mereka yang berjualan. Yang belum tentu laku pula dagangannya. Mengapa kita tidak saling membantu, sedikit empati merasakan ketika berada di posisinya. Berharap dua atau tiga orang bisa makan di warungnya agar dia mendapat sedikit keuntungan saja untuk menyambung dagang esok harinya. Saya berpikir... Entahlah... Hidup memang keras, mungkin...

VIDEO EFFECT: Gambar freeze and continue with frame up and down

CUT IN:

SCENE 4. Warung Bu Rati      (MORNING)
Cast: Debby, Bu Rati
Debby telah menyelesaikan sarapan paginya

Debby
(Menggoyang-goyangkan sedotan minum)
Bu, saya sudah selesai. Berapa semuanya?

CAMERA ZOOM TO: Bu Rati yang sedang menghitung

Bu Rati
Sembilan ribu

Debby
(Tegas)
Makasih Bu.
Debby membayar dan  berjalan menuju Koperasi.

SCENE 5. Koperasi    (MORNING)
Cast: Debby, pegawai koperasi
Pegawai koperasi yang berada di kasir sibuk menghitung uang.

Pegawai Koperasi
(Berjalan ke tengah aula koperasi)
Habis sarapan, Deb? Nggak takut ada yang negur?

Debby
(Berdiri, Tegas)
Nggak tuh, orang lapar kok ditahan-tahan..

Pegawai Koperasi

Iya cuek aja. Namanya butuh sarapan masa dilarang-larang.

CAMERA ZOOM IN Debby (tersenyum)
END FADE OUT



Kategori:

Bagikan:

2 komentar

  1. ooh jadi bersambung nih yah hehe

    BalasHapus
  2. Ga bersambung Beh. Susah nulisnya kalau manual pake Word...



    DZ

    BalasHapus