Immortal, Chapter 1 - 3


Chapter. 1




            Grace Eritha membuang bukunya ke lantai, dia jenuh membaca buku hampir setengah harian ini. Kantor tampak lengang, karena perekonomian Indonesia sedang kacau, perusahaannya kini tengah menuju kebangkrutan.

            Grace kesal menatap jendela yang memamerkan gedung-gedung tinggi di jalan Sudirman.

            ”Permisi, Bu. Ada tamu..”  Delita mengejutkan lamunan Grace. Sekretaris itu tampak takut melihat pimpinannya yang tengah gundah menatap jendela di ruangannya.

            ”Dari siapa?” tanya Grace.

            ”Bapak Mathius, finance manager Hongkong Bank.” jawab Delita.

            ”Kenapa tidak buat janji sebelumnya? Saya tidak kenal dengannya..” kata Grace ragu.

            ”Dan kini, maka anda akan kenal saya..” suara laki-laki tiba-tiba terdengar di depan Grace. Grace terkejut menatap laki-laki berperawakan oriental itu.

            ”Maaf, Pak. Sebaiknya anda tunggu di luar..” Delita gelagapan.

            ”Tidak apa-apa, Del.. Silahkan duduk, Pak Mathius. Apa yang bisa saya bantu?” tanya Grace mengangguk pada Delita, dan Delita pun pergi meninggalkan ruangan kerja Grace.

            ”Maaf saya lancang tiba-tiba masuk ruangan anda. Saya hanya terdesak waktu. Saya hanya ingin menyerahkan ini..” Mathius menyerahkan sebuah kartu nama yang tidak menterterakan Hongkong Bank.

            ”Tadi anda bilang pada sekretaris saya anda bekerja di Hongkong Bank, lalu kenapa ini bertuliskan O.T.O?” tanya Grace tak mengerti.

            ”O.T.O adalah organisasi tempat saya bernaung, Bu. Saya bermaksud ingin mengajak anda bergabung ke dalamnya.” jawab Mathius to the point.

            ”Maaf, saya tidak ada waktu untuk ikut organisasi atau komunitas semacamnya.. Saya...”

            ”Perusahaan anda akan bangkrut, jika anda ikut dalam satu tahun perusahaan anda akan besar, lebih besar dari yang ada bayangkan. Saya akan membiayai perusahaan anda, berapa pun pinjaman yang anda butuhkan untuk perusahaan anda, saya akan memberi dana segar.. Perusahaan yang ada miliki terlalu sayang jika harus dijual kepada orang lain, apalagi jika harus tutup, anda tentu sangat mencintai gallery anda yang sudah ada di mana-mana bukan?” Mathius memotong.

            Grace berpikir dia tengah berhadapan dengan marketing Bank yang tengah menawarkan pinjaman untuk perusahaannya, Grace merasa tidak tertarik.

            ”Maaf, saya tidak tertarik..” jawab Grace.

            ”Mr. Arsyhadd yang menyuruh saya kemari, Bu. Sebagai teman ayah anda, saya hanya bermaksud membantu” jawab Mathius.

            Grace berjengit, meletakkan pulpen yang baru saja digenggamnya, dia berpikir siapa pria ini, mengapa mengetahui nama ayahnya yang kini berada di London.

            ”Apa maksud anda? Saya tidak mengerti..” tanya Grace.

            ”Kalau begitu, kita buat anda mengerti semuanya.” Mathius melemparkan senyum.


z


            Benak Grace masih teringat dengan perjumpaan satu jam lalu dengan Mathius, dengan lugas, finance manager Hongkong Bank itu menjelaskan organisasi yang akan mengikutsertakan Grace sebagai anggotanya. Merupakan kehormatan besar, organisasi berskala internasional itu menarik Grace tanpa syarat apa pun. Grace merasa heran, mengapa ayahnya memasukkan namanya dan mengapa dia tak pernah mendengar organisasi ini dari ayahnya. Dengan cepat Grace menekan tombol dial menghubungi ayahnya yang berada di London.

            Lama Grace menunggu ayahnya mengangkat telepon, namun yang didengar hanya nada panggilan yang panjang. 

            ’Mungkin Dad belum mau menerima panggilanku..’, Grace bergumam dan memutuskan panggilan teleponnya. Grace teringat tentang pertengkaran terakhir dengan ayahnya, sudah setahun lamanya hubungan dengan ayahnya semakin memburuk. Di tambah lagi dengan keputusan ayahnya untuk menikah lagi, Grace makin menjauh dengan ayahnya. 

            Benaknya kembali berpikir, siapa itu Mathius.

            ’Aku harus ikut, untuk mencari tahu semuanya.. Terlalu mencurigakan, Mathius terlalu tahu banyak tentang Dad..’ bisik Grace dalam hati.


z

Chapter. 2



            ’Mengapa Grace tidak menjawab teleponku?’, Anthonius bertanya-tanya ketika memutuskan hubungan ponselnya. ’Mana dia?’.

            Selama tiga puluh menit Anthonius menunggu pada sebuah restoran yang terletak di Manhattan Hotel di kawasan Kuningan – Jakarta. Grace tidak pernah terlambat sebelumnya. Dan dia juga tidak pernah menolak ajakan kencan Anthonius. Tapi kali ini, Grace tidak kunjung tiba.

            Dalam tunggu, Anthonius mengenang saat pertama kali dia menyatakan rasa suka dengan Grace, dan Grace menyambutnya dengan hangat. Gadis yang dikenalnya dalam suatu seminar bisnis yang diadakan di hotel Shangri-la membuat kesan pertama yang menakjubkan, sejak saat itu Anthonius jatuh cinta pada Grace. Ketika komunikasi mereka semakin intens, Anthonius tidak menyangka kantornya dan tempat Grace bekerja berada dalam gedung yang sama, dan hal itu membuat mereka semakin dekat.

            ’Grace, aku merasakan hal yang beda sejak bertemu denganmu. Rasanya semakin hari, hal itu semakin tumbuh dan aku merasa... Jatuh cinta padamu..’, kata Anthonius di suatu sore. Grace mendengarnya dengan wajah yang teduh. Binar mata Grace menjawab juga dengan hal yang sama. 

            Akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dalam. Tiga bulan sudah mereka menjalin hubungan itu dan menyatakan ingin meneruskannya kejenjang yang lebih serius, menikah.

            Sementara tubuh wanita sintal pemilik nama Grace Eritha lari tergopoh menekan tombol lift menuju lantai 3. Sesekali matanya melirik arloji Swatch yang terpasang indah di tangan kirinya.

            ’Pasti Anton marah besar!’, benak Grace berpikir jauh. ’Tak peduli lah, yang penting aku sudah datang’.

            ”Ton..” sapa Grace ketika tiba di depan meja tempat Anthonius menunggunya. Di tatap wajah oriental atasannya yang cemberut menatapnya balik.

            ”I’m so sorry.. Jalanan macet, dan aku harus menunggu taksi yang mau membawaku kemari...” Grace meminta maaf pada Anthonius.

            ”You know, jarak tempat kost dan hotel ini sangat dekat, taksi jarang ada yang mau..” sambungnya.

            ”Itulah kenapa aku memaksa untuk menjemputmu, tapi kamu selalu menolaknya” Anthonius menatap Grace dengan kesal, namun Anthonius tak bisa menahan marah lebih lama. Karena ketika dia menatap bola mata Grace yang hijau, seketika marah itu luntur dan hilang begitu saja. 

            ”Aku belum siap memperkenalkan ibuku padamu, Ton. Jika kamu menjemputku, ibuku pasti bertanya tentangmu..” jawab Grace.

            ”Aku bersabar hingga waktunya tiba, Grace.” kata Anthonius.

            ”Grace..” Anthonius mencium punggung tangan Grace. Sajian mewah dan wine telah tersedia di hadapan mereka. Grace hanya tersenyum. Sorot matanya yang tajam menatap dengan penuh cinta kekasihnya itu.

            Sementara tak jauh dari meja Grace dan Anthonius duduk, tampak seorang laki-laki besar mengawasi mereka dengan seksama.

            Laki-laki itu mengawasi Grace. Memandang tubuhnya yang hanya mengenakan jeans ketat dan atasan tanktop dan terbalut cardigan pink yang soft. Saat itu, penampilan Grace kelihatan santai, namun tetap elegan dengan bentuk tubuh Grace yang ideal.

            ”Ton, tadi siang ada laki-laki datang ke kantorku. Dia mengaku bernama Mathius, finance manager Hongkong Bank. Tapi dari kartu nama yang dia berikan tertera dia anggota dari O.T.O..” cerita Grace.

            ”Jadi ini yang mau kamu bicarakan?” tanya Anthonius, dalam hatinya dia berharap Grace hanya membicarakan rencana pernikahan mereka.

            ”Ton, ini serius. Mathius tahu nama ayahku, dan dia bercerita tentang organisasi yang dulu pernah ayah ikuti..” Grace memasang wajah serius.

            Anthonius tertegun, menyimak penuh.

            ”Lalu?” tanya Anthonius.

            ”Dia menginginkan aku ikut menjadi anggota O.T.O itu, lalu dia akan membiayai untuk menutupi semua hutang-hutangku pada Bank.” kata Grace.

            ”Grace, dengar. Tidak seperti itu caranya, kamu mengorbankan sesuatu yang belum pasti untuk perusahaan. Kupikir, kita sudah selesai membahas hal ini. Kamu bisa menerima bantuanku dulu, maka gallery mu masih bisa tetap buka. Aku mengerti kamu cinta sekali pada gallerymu, tapi aku lebih mencintaimu. Aku tidak mau kamu ikut dalam hal yang tidak jelas hanya untuk perusahaan..” Anthonius menjelaskan panjang lebar.

            ”Gallery itu tidak boleh tutup, Ton. Itu adalah cita-citaku. Aku hanya tinggal masuk organisasi lalu mereka akan mengatur semuanya, mereka orang yang ahli dalam perbankan, mereka akan membantuku agar penjualan di gallery naik lagi. Lagipula, aku sembari mencari tahu mengapa mereka tahu ayahku. Padahal tadi siang aku meneleponnya menanyakan apakah dia mengirim orang atau tidak..” jawab Grace.

            “Lalu? Apa kata ayahmu? Sedang di mana beliau sekarang?” tanya Anthonius.

            ”Dad tidak mengangkat teleponnya” jawab Grace cemberut.

            ”Sudahlah, Grace. Mungkin ayahmu sedang sibuk.. Lagi pula, terlalu mencurigakan. Atas dasar apa O.T.O menarikmu jadi anggotanya? Dan apa keuntungannya bagi mereka? Tak akan mungkin mereka sukarela membiayai perusahaanmu hanya karena merasa tidak enak dengan ayahmu, pasti ada sesuatu dibalik itu.” Anthonius menenangkan.

            Otak Grace berpikir keras, dia tidak mau kehilangan gallerynya. The Regnal adalah gallery lukisan dan benda-benda antik yang telah didirikannya lima tahun lalu, seiring dengan kelulusan studinya di Universitas Indonesia fakultas Arkeology membuat Grace jatuh cinta pada benda-benda antik dan seni kuno. 

            Hal itulah yang membuat Grace membuka the Regnal. Grace banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mengumpulkan benda-benda antik dan seni kuno. Dalam kurun dua tahun the Regnal berkembang pesat, banyak warga negara asing di Indonesia yang membeli koleksinya, hingga koleksinya diimpor ke berbagai negara di Eropa dan Amerika. Dan pada akhirnya Grace memutuskan membuat satu perusahaan kecil untuk kelancaran administrasi dan membuka cabang di Surabaya dan Bali.

            Namun sejak perisitwa tragedi 1998 yang menewaskan empat mahasiwa Universitas Trisakti dan membuat kerusuhan besar di Jakarta, dalam beberapa bulan the Regnal sepi dari pembeli. Penjualan benda-benda seni di the Regnal turun drastis, dan membuat Grace menutup gallerynya di Surabaya setelah satu tahun peristiwa Trisakti. Kejadian itu juga membuat Grace terpaksa berhutang di bank untuk tetap membuka the Regnal cabang Jakarta dan Bali. Kini sudah hampir dua tahun usai tragedi 1998, namun Grace tetap bersikeras membuka gallerynya.

            “Grace, aku tahu kamu sedih bila harus menutup the Regnal. Ijinkan aku membantumu. Jangan begitu keras, kita akan menikah, Grace. Milikku juga milikmu..” Anthonius memohon.

            “Sayang, tidak usah. Tenanglah. Aku akan tetap ikut organisasi itu. Aku bisa menjaga diri. Aku hanya penasaran akan semua itu.”

            Grace menatap jauh, tiba-tiba dia menangkap basah laki-laki yang tengah memandangnya dengan serius. Grace menatap tajam, laki-laki itu salah tingkah dan beranjak pergi meninggalkan restoran. Grace mengikuti langkah kaki laki-laki itu dengan pandangannya yang tajam.

            ”Ton.. Dari tadi ada yang mengawasi kita..” bisik Grace.

            ”Apa? Sudah kubilang kan Grace, aku jadi paranoid sendiri. Aku kawatir sama kamu..” Anthonius menjulurkan kepalanya ke belakang. Mencari orang yang dimaksud Grace.

            ”Sudah tidak ada, ayo kita pergi dari sini..” ajak Grace.  

           
z



 Chapter. 3





            ”Tuhan manusia adalah pemikirannya sendiri.” 

            John berkata pada Albert. ”Maka saya adalah Tuhan dari pemikiranku dan orang lain yang akan saya kuasai. Dan saya harus menguasai seluruhnya, Albert.” sambungnya lagi sembari menyuguhkan sampagne pada Albert.

            Rumah John yang terletak di daerah Dharmawangsa tampak sepi, tak ada penghuni yang biasa lalu lalang. Anak dan istri John sedang pergi berlibur ke Singapura. John hanya tinggal sendiri ditemani para pembantunya. Albert sengaja menyempatkan diri mengunjungi John, memastikan kejadian di Mampang dalam keadaan aman.

            ”John, dimana Mathius membuang Emma?” tanya Albert kawatir.

            ”Tenang saja. Albert. Tidak akan ada yang tahu. Bahkan intelijen pun tak akan mampu mengendusnya. Mereka seperti anjing-anjing kelaparan, jika mereka mengusik kita, kita tinggal melemparkan tulang dan menyuguhi kandang yang cantik.” John tertawa.

            ”John, rasanya kita sudah kelewat batas. Roh itu tidak akan datang..” Albert meragu.

            ”ALBERT !! Hati-hati bicara! Horus akan mendengar itu, kita tidak boleh mengkhianatinya. Kau lihat ini, apa yang saya punya sekarang.. Rumah besar, kekayaan melimpah, semuanya. Karena Horus yang memberikannya..” jawab John.

            ”Saya percaya. Saya hanya pesimis.. ” Albert menunduk. Dia menuruti John Stanfort, pemimpin dari O.T.O.

            ”Legenda itu, apa yang mereka bilang adalah mitos. Semua tampak real di mata kita. Kau tahu, kita hanya perlu orang yang tangguh untuk menjadi mediator. Ramuanmu tidak akan gagal. Saya tahu itu. Harusnya ramuan itu mampu membuat Emma tetap koma, namun karena dia lemah. Jadi terjadi yang seharusnya tidak terjadi..” jawab John gusar.
            
            ”Kau sudah hubungi Berith?” tanya John.

            “Sudah. Dia yang akan mencari Emma yang baru..” jawab Albert.

            “Ada masalah apa dengan Mathius?” tanya John.

            ”Mathius mengincar putri Arsyhadd, pemilik saham terbesar di MTO corporation.” jawab Albert.

            ”APA?? MTO corporation? Kau tahu MTO sangat berpengaruh, anak perusahaannya yang berjumlah puluhan menguasai perdagangan di Indonesia. Bahkan pemerintah pun tunduk pada si pemilik MTO corporation. Siapa putri Arsyhadd? Apa dia ada di Indonesia?” tanya John.

            ”Tepatnya putri tirinya. Putri yang tidak diakui oleh Arsyhadd. Hasil pernikahan tersembunyi dengan warga negara Mesir yang ditemuinya saat sedang di Mesir. Kini anaknya tinggal di Indonesia, terbuang dari keluarganya. Hidup bersama orang kepercayaan ibunya.”

            ”Naas. Siapa nama putrinya itu?”

            ”Grace Eritha. Pemilik gallery seni the Regnal, dia punya beberapa gallery di Jakarta dan Bali.  Tapi mengapa Mathius mengincar perempuan itu yah..”

            “Tentu saja untuk menguasai saham ayahnya. Arsyhadd terlalu banyak anak perempuan. Dia tidak punya penerus laki-laki, kasihan.. Tapi dengan itu, akan semakin mudah menghancurkannya. Andai kita bisa merebut saham-saham Arsyhadd, kerajaan kita akan semakin besar dan berkuasa..” John terkekeh.

            ”Tentu bisa..”


z


            Anthonius masuk ke dalam gedung apartemennya. Dia merasa dari di restoran sudah ada yang mengikuti langkahnya. Setelah mengantar Grace menuju kostnya, Anthonius langsung pulang ke apartemennya yang terletak di kawasan Tebet.

            Lift pada tower tempat kamar Anthonius berjumlah enam. Tiga berderet dan sisanya bertolak belakang dengan lift itu. Keadaan sedang ramai, begitu banyak orang lalu lalang menuju lift. 

            Anthonius menekan tombol bersimbolkan panah atas. Lantai yang ditujunya lantai lima. Ketika pintu lift sudah terbuka, Anthonius masuk ke dalam lift dan menekan tombol lima. Seseorang di sebelahnya juga menekan tombol, tapi tombol enam.

            Anthonius merasa lega, karena kekawatirannya tidak terbukti. Laki-laki yang bersamanya dalam lift bukan orang yang dia duga, melainkan memang penghuni apartemen di situ karena Anthonius sering melihatnya ketika ingin menaiki lift.

            Setelah sampai di lantai lima, Anthonius berjalan di dalam lorong panjang. Pintu yang berhadap-hadapan tampak begitu sepi, seakan penghuninya semuanya lenyap seketika.

            Tiba-tiba Anthonius mendengar langkah kaki dari pintu darurat. Dengan panik, Anthonius membuka kunci pintu kamarnya. Tapi kepanikan melanda, Anthonius tidak menemukan kunci yang biasa disimpan dalam tas laptopnya.

            Suara langkah kaki semakin terdengar. Ketika Anthonius memandang ke arah pintu tangga darurat, Anthonius terperanjat. Tas Laptopnya jatuh begitu saja, menyebabkan bunyi bedebam keras.

            Tidak ada yang terjadi setelah tas Laptop itu jatuh, Anthonius tidak dapat bergerak sama sekali. Matanya hanya memandang ngeri lelaki yang berjalan menuju dirinya. 

            ”Halo, Anthonius..” sapa laki-laki itu dengan suara berat. 

            Anthonius tidak bisa menjawab sapaan laki-laki itu. Kakinya gemetar luar biasa, seakan dirinya terperangkap seperti tikus yang masuk dalam perangkapnya. Matanya tak dapat berkedip memandang wajah laki-laki itu, wajah yang tidak menyerupai manusia pada umumnya.

            ”Saya Berith.. Mari kita masuk ke dalam..” ujar Berith sembari merogoh kunci dalam tas Laptop Anthonius yang terjatuh.

            Berith dan Anthonius memasuki kamar itu. Udara sejuk AC tidak terasa lagi, mungkin karena panasnya suhu tubuh Berith yang membuat Anthonius mendadak keringatan atau karena Anthonius merasa gugup.

            ”Anthonius.. Bisakah kamu berkerja sama dengan saya?” tanya Berith sopan. Dia tahu, hendaknya menggunakan prosedur basa-basi dengan manusia jaman sekarang.

            ”Siapa anda?” tanya Anthonius memberanikan diri.

            ”Bukan siapa-siapa. Tapi saya butuh kamu..” ujar Berith.

            Tiba-tiba Berith menghujamkan jarum berisi cairan bening ke punggung Anthonius, seketika Anthonius merasa pusing. Hawa panas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, kepalanya terasa pening seakan tempatnya berpijak berputar-putar 360 derajat. Anthonius mengalami ilusi, dia merasa dirinya berada dalam gurun pasir yang luas, dan dia seperti kehausan yang amat sangat. Tubuh Anthonius mendadak lemas, dan tiba-tiba langsung jatuh pingsan.

            Malam itu, semuanya berubah.


z

Bagikan:

0 komentar