Bicara sendiri

Saat hati merasa sendiri,
Adakah yang menemani?
Aku berteriak memanggil,
Namun tak ada yang mendengarnya
Sendiri ku tertidur, sendiri pula ku terbangun
Aku bermimpi buruk, tapi siapa yang peduli?
Sendiri ku menangis, tapi siapa yang mau mengusapnya?
Sendiri ku terjatuh, terjatuh dalam mungkin
Tapi, siapakah yang peduli?
Di mana dunia?
Di mana kehidupan, tawa, dan kebahagiaan?
Di mana kebebasan hati? Cinta, memenjarai dengan brutal.
Di mana kamu?
Di mana aku mencarimu?
Katakan, di mana?
Sendiri aku bertanya,
tanpa tahu jawabnya.
Sendiri ku berdoa,
sendiri pula aku berpikir untuk menjawabnya.
Sendiri aku berkata, lama-lama aku sendiri hingga mati.



---


Bukan maksudku menjauh dari lingkungan sekitar, dari orang-orang dan kehidupan sehari-hari. Tapi terkadang, dalam hati kecil aku hanya ingin sendiri. Hanya ingin menikmati dan berbicara dengan hati dan pikiran. Terkadang pula, aku sering bicara sendiri. Tanpa alasan jelas dan pasti, namun aku sangat menikmati saat seperti itu.

Aku teringat saat melakukan perjalanan sendirian ke Yogyakarta. Saat aku bertemu orang-orang baru, menikmati proses perkenalan, belajar memahami berbagai karakter manusia, dan lalu memetik pelajaran dari mereka. Saat itulah yang aku namakan proses pembelajaran diri. Lalu aku pergi ke alam, merasakan dinginnya malam, gemericik air sungai, suara binatang malam, bintang-bintang yang bertabur indah menghias langit hitam, hingga saat pagi rintik hujan pun turun membasahi tanah, dan harumnya memenuhi indra penciumanku.

Saat itu, aku memejamkan mata, seketika semua lenyap seperti tertelan dalam pejaman mataku. Aku merasa seperti berada dalam ruang hampa, tak terdengar lagi suara air, tak terasa lagi hawa dingin. Hanya ada kehangatan dan kekosongan yang terasa.

Seketika jiwaku terasa hangat, seperti ada yang memeluk erat. Siapakah yang mendekapku dalam kehampaan dan kehangatan itu? Batinku memprotes berkata bahwa itu adalah mahluk ghaib yang sedang usil. Sementara pikiran logika ku bermain dan menyimpulkan bahwa itu hanya efek dari phobia yang kurasakan.

Aku mengosongkan segala gundah dan penyakit hati. Membersihkan nurani yang tercemar oleh hitamnya dunia. Proses ini kunamai pencucian hati. Hingga ku tersadar sesuatu, doa.

Ya Tuhan, inikah wujud kasih sayang Mu padaku? Aku yang begitu kecil dan rapuh, tampak begitu lemah di hadapan Mu?

Tuhan menyadarkanku dalam kehampaan, membisikkanku dalam kesesatan. Tuhan telah memberikan jawaban atas satu pertanyaanku selama ini.

Aku tidak sendiri.

Terima kasih ya Tuhan. Atas jawaban selama pencarianku ini.

Tak sadar aku menitikkan air mata, inikah rasanya mendapat panggilan jiwa?




Bagikan:

7 komentar

  1. Ngomong dong, say. Ngomong... biar aku bisa denger... hehe

    BalasHapus
  2. hoohohojo...postingan yang aneh untuk seorang calon pengantin.. :D

    -MN-

    BalasHapus
  3. sekedar menambahkan, saya ada disitu ketika momen melihat bintang .... to twiiittt *bayangin cewe lain hihih

    btw tsahhhhh "awake" dipake juga buat blognya

    BalasHapus
  4. btw di atas gw ada komend ari MN, -MN- itu kayanya ngga asing buat gw, MN hmmm

    BalasHapus
  5. Tebeh, MN itu artinya Mahluk Nggak dikenal. Patut dipertanyakan.. Jangan-jangaaaaan...


    Eeeeh, gue emang lagi demen sama awake.. wkwkwkwkk.. Iya pas moment liat bintang ada elo dan 5 cowok lainnya. Hahahahhahaha...

    BalasHapus