the Immortal


PROLOG


Jakarta, Indonesia. Ibukota negara Indonesia yang terletak di pulau Jawa, pulau terpadat di Indonesia. Jakarta, kota tempat mengadu nasib berjuta manusia. Dongengnya menyebar ke seluruh penjuru Indonesia, membisikkan janji-janji kemakmuran dan kesejahteraan bagi siapa saja yang tinggal di sana.

Dalam malam, tampak tergesa-gesa salah satu penghuni Jakarta, bersembunyi dalam gelapnya lorong yang basah, mengendap dalam diam. Langkahnya resah menunggu, beberapa kali sosok itu melirik arloji yang terpasang di tangan kirinya, rokok yang dihisapnya pun hanya tersisa puntungnya saja. Dengan gusar, dia membuang puntung rokok itu.

‘Harus segera dituntaskan’, bisiknya pada diri sendiri.

Malam semakin dingin dan larut, angin jahat yang membuat siapa pun takut mulai berhembus mengitari sosok itu. Pusat kota, tak jauh dari tempat berdirinya, tampak angkuh dan sombong menantang siapa saja untuk menaklukkannya. Pusat kota yang pongah, memandang tinggi dengan gedung-gedung tingginya, tak ada tundukkan sopan atau ramah, tampak beringas dan kejam, berlaku baik di depan, namun kejahatan mengitari.

Sepuluh menit sudah berlalu sejak sosok itu resah berdiri dalam lorong gelap, sesekali menggoda para tikus yang berlalu mencicit mencari sedikit remah sisa sampah para manusia.

Dalam gelisah, penantian panjang sosok itu akhirnya usai. Tampak laki-laki mengenakan boot hitam menghampirinya dari ujung lorong yang gelap. Dari jauh, sang sosok sudah melempar senyum sinis pada laki-laki itu.

”Maaf, saya terlambat.” kata si laki-laki seraya menyerahkan amplop besar berwarna coklat.

”Seharusnya tidak perlu selama ini. Saya perlu sekali..” jawab si sosok dengan suara perempuan.

Si laki-laki terkejut, tak pernah dia menduga akan bertransaksi dengan seorang perempuan. Tak pernah ada kejadian sebelumnya dia bertemu dengan perempuan dalam transaksi yang begitu berbahaya ini.

”Kenapa kamu?” tanya perempuan itu ketus.

”Nggak apa-apa..” jawab si laki-laki menenangkan diri.

”Kamu pasti baru. Hanya segini barangnya? Sudah saya bilang kamu harus bawa sebanyak mungkin..” kata si perempuan.

”Hanya ada segini. Keadaan sedang nggak kondusif..” jawab si laki-laki.

”Ok, ini uangnya. Lain kali jika saya meminta banyak harus disediakan.” jawab si perempuan sembari berlalu ke ujung lorong. Tampak motor yang terparkir di ujungnya, Honda CBR berwarna merah. Meninggalkan si laki-laki dengan menggenggam uang lima juta rupiah.

z

Laju motor menyerang membelah jalan Kuningan, kecepatannya melebihi 100 km/jam. Desiran angin kencang tak menggoyahkan laju si pengendara. Jalanan tampak sepi, pukul dua pagi, sudah terlalu larut untuk Jakarta memamerkan kesibukannya.

Motor berhenti pada sebuah rumah yang terletak di daerah Mampang, dengan tergesa si pengendara memarkirkan motornya. Tampak rumah besar yang tertutup pagar tinggi menyambutnya. Tak ada yang istimewa dari rumah itu dari tampak depan. Hanya seperti rumah-rumah orang kaya yang berada dalam pusat kota metropolitan.

Sang perempuan berlari memasuki lobi rumah, tampak laki-laki kecil berwajah campuran kulit putih dengan ras melayu.

”Mana barangnya?” tanya si laki-laki.

”Tenang. Aman sama saya. Ini kuncinya, motornya enak dipakai..” kata si perempuan menepuk dadanya seraya menyerahkan kunci motor. Tampak tersembul amplop coklat dari balik jaketnya.

”Cepat. Sudah mau mulai. Kamu terlambat sekali!” si laki-laki berkata dengan nada tinggi.

Mereka berdua berjalan memasuki ruangan besar yang terletak di sebelah kiri lobi rumah. Ruangan yang semuanya tertutup kain-kain hitam seperti gordyn yang membuat suasana tampak temaram, bahkan lampu ruangan tak mampu menerangi ruangan yang suram.

Dalam ruangan besar tampak beberapa laki-laki yang lebih tua perawakannya dari si perempuan dan laki-laki yang baru masuk.

”Saya John, anda?” tanya si laki-laki asing yang fasih berbahasa Indonesia kepada si perempuan.

”Emma.”

”Oke, Mathius. Kita mulai sekarang.” kata John kepada laki-laki yang menyambut Emma.

Sementara tiga orang laki-laki lainnya saling berkenalan dengan Emma.

’Daniel, Albert, dan Alex.. Aku akan mengingat semua itu..’, bisik Emma menghapalkan nama-nama yang baru berkenalan dengannya.

John mematikan lampu ruangan besar. Sementara Daniel menyalakan lilin-lilin hitam yang tersusun rapi di lantai, membentuk seperti semacam tanda bintang.

Emma mengernyitkan keningnya, tak pernah dia melihat pemandangan begitu horror seumur hidupnya.

”Kamu hanya mediator, mediator memang harus perempuan..” kata John menenangkan Emma.

”Buka pakaianmu, Ma.. Tenang saja mediator itu tidak berbahaya, kamu akan seperti sedang tidur. Kamu tidak akan merasakan sakit.” kata Mathius.

Emma pun membuka pakaiannya satu persatu, hingga hanya ditutupi jubah hitam besar. Rambutnya yang panjang kecoklatan terasa dingin menyentuh kulitnya. Padahal, AC ruangan telah dipadamkan, namun ruangan masih tetap terasa dingin.

John membuka bungkusan amplop besar yang dibawa Emma. Tampak kristal putih menyembul dari balik plastik bening, kokain.

Dengan tangkas, John juga mengambil sebilah pisau bermata dua, pisau yang ujungnya seperti lidah ular yang terbuat dari campuran besi, pernekel dan batu meteor yang dibuat sedemikian rupa hingga seperti pisau antik yang pernah ditemukan dalam piramida Mesir.

Dirobeknya plastik bening pembungkus kokain itu, John mengambil sedikit dan menaruhnya pada robekan aluminum foil yang terletak di atas meja yang bertaplakan kain hitam.

Sementara Daniel menyiapkan meja panjang dan membaringkan Emma di atasnya. Emma merasakan kedinginan, dia tidak mengerti apa yang akan dilakukannya, setahunya dia harus melakukan ini semua demi satu hal, uang yang telah dijanjikan John padanya, sebesar seratus juta rupiah. Uang yang tak akan pernah dia dapatkan walau dia harus bekerja seumur hidup di perusahaan tempat dia bekerja selama ini.

”Math, saya takut..” Emma berbisik pada Mathius yang berdiri di samping altar. Sementara mata Mathius tidak bisa berhenti menatap tubuh Emma yang kini telanjang.

”Tenang, Ma. Nggak apa-apa. Tidak akan terasa sakit. Hanya sedikit darahmu..” ujar Mathius menenangkan Emma.

Alex menyalakan dupa yang menyebarkan wewangian yang mengandung aura mistik, wewangian dupa yang bercampur dengan menyan arab dicampur feromon yang terbuat dari rempah-rempah minyak hewani dan tumbuhan langka. Seketika, ruangan menjadi penuh dengan asap dan wewangian dari dupa, seakan memabukkan siapa saja yang menghirupnya.

Emma kembali menatap kokain yang kini menganga kejam, seakan ada seringai penghuni neraka meledek mengajaknya untuk ikut masuk ke dalam istananya.

Emma tahu kokain adalah senyawa sintetis yg memicu metabolisme sel menjadi sangat cepat yang terbuat dari daun Erythroxylon Coca. Jika dia memakai itu maka dia akan mengalami halusinasi parah, namun menurut keterangan John sebelumnya kokain itu digunakan untuk menahan rasa sakit yang mungkin akan diderita Emma. Rasa sakit akibat tusukan pada lengan kiri Emma.

John berdiri di depan altar, matanya menatap mata Emma yang ketakutan. John memberi kode kepada yang lain, agar segera dimulai sesuatu yang telah ditunggunya selama ini. Dengan tangkas, disuntikkannya kokain yang sudah dimasukkan ke dalam insulin ke lengan Emma. Awalnya Emma merasa kesakitan dengan tusukan jarum suntik yang panjang, namun kemudian Emma merasa sangat ringan, seakan tubuhnya melayang dan dia melihat cahaya putih menari-nari di atas pelupuk matanya.

”Aku memanggil Engkau penguasa sang kegelapan dan sang terang ”

Thee that didst create the Night and the Day. Aku memanggil Engkau yang selalu melihat setiap saat”

”Sang pemilik mata yang melihat matahari dan mata yang melihat bulan.”

”Horus, sang penguasa abadi..”

Teriakan John mengejutkan Emma dan membuatnya bergidik kencang, kakinya mulai gemetar ketakutan. Daniel melangkah mendekati Emma, berdiri angkuh sembari menggenggam botol berisi cairan hitam.

Albert menatap cairan yang terdapat dalam botol kecil yang digenggam Daniel. Albert tahu persis cairan itu. Cairan ramuan itu dibuat sendiri oleh Albert, berbahan dasar ular laut dan ular tanah yang diadu hingga mereka saling membunuh, kemudian bangkainya digiling dicampurkan bersama kaki seribu dan beberapa spesies tarantula, biji tanaman beracun dan anacardium occidentale yang biasa disebut daun pohon jambu monyet. Semuanya itu disatukan dengan bubuk dari zanthoxycum matinicense yang dikenal sebagai buah pinus. Kemudian Albert memasaknya dicampur dengan bangkai spesies Sphoeroides testudineus, Sphoeroides spengleri, Diodon hystrix dan Diodon holacanthus yang semuanya masuk dalam ordo ikan buntal.

Albert yang sangat menyukai ilmu kedokteran walau dia tidak pernah mengenyam bangku kuliah kedokteran sangat mengetahui ramuan yang dibuatnya itu akan memberikan efek racun berlipat-lipat lebih parah dari racun ikan buntal yang mengandung tetrodotoxin, racun paling mematikan diantara semua jenis racun, 500 kali lebih mematikan dari sianida. Bila dosis yang diberikan tepat, racun ini akan membuat siapa pun berada dalam keadaan koma.

Emma memberontak, namun tubuhnya seperti terpaku tak dapat bergerak sedikit pun, bahkan untuk menggerakkan bibirnya pun tak bisa, dia hanya mampu menggerakan bola matanya dengan ketakutan.

John meneruskan kata-katanya, seperti mengucap mantra yang Emma tak ketahui. Teriakan dan kata-kata John semakin kencang, Emma berpikir keras, apa yang telah dia lakukan sekarang ini adalah hal tergila yang pernah dilakukannya seumur hidupnya.

Daniel, Albert, Mathius dan Alex seperti orang kerasukan, kedua tangan mereka terangkat ke atas dan mengikuti kata-kata John, berteriak kencang merapalkan ayat-ayat yang tak ada dalam kitab agama mana pun.

’GILA!’, Emma berteriak dalam hati. Dia ingin segera keluar dari tempat mengerikan itu, di benaknya sudah tak ada lagi bayangan uang seratus juta. Dia hanya ingin selamat dari orang-orang gila yang ada di hadapannya kini.

BLAST !!

Emma menahan sakit, matanya mendelik ke atas, menatap John yang menghunuskan pisaunya ke dada Emma, hampir mengenai jantungnya. Sesaat Emma berpikir pisau itu meleset dari sasaran semula, namun Emma kembali berpikir. Dia memutuskan apa yang telah dikatakan John padanya ternyata bohong, pisau itu tidak meleset. Namun memang sudah direncanakan mendaratnya di dada, bukan di tangan.

Sementara Daniel meneteskan ramuan buatan Albert di atas luka Emma, sesaat Emma merasakan perih yang amat sangat, dia tidak bisa mengendalikan diri. Memberontak hingga membabi buta. Efek ilusi menyergap otak Emma. Disusul dengan kecemasan yang berlebihan, Emma merasa kecemasan itu tidak berlebihan, dia memang sedang dalam kondisi yang kritis, darah terus mengalir keluar dari dada Emma. Tubuhnya lelah, sesaat kemudian Emma mengalami disforia.

Lalu John merapal mantra lagi, tiba-tiba angin berhembus kencang, tak jelas angin itu datang dari mana. Padahal seluruh jendela dan pintu ruangan terkunci rapat, kekuatan yang aneh membuat Emma tak bergerak, dia mematung.

Darah pun membanjiri kain hitam penutup altar, Daniel tertawa kencang, dia menaiki tubuh Emma, dibukanya resleting celananya, tampak kemaluan yang menyembul dari dalamnya, Emma terkejut, ingin menggerakkan tangan dan melarikan diri, namun tubuhnya tetap tertahan sesuatu, sesuatu yang tidak terlihat olehnya.

Angin berhembus kencang, Daniel menyetubuhi Emma dengan membabi buta, Emma merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama kemaluannya. Perih menyelimuti dadanya, dia merasa sudah tidak kuat lagi menahan sakit. Dia menatap langit-langit ruangan yang berwarna kuning kelam, tampak cahaya putih seperti hendak menggenggam tangannya. Emma merasa itu adalah ajalnya.

Tiba-tiba kemaluan yang lain menghunuskan kewanitaan Emma, Emma tak tahu milik siapa itu, dia hanya merasakan laki-laki yang ada di ruangan itu bergiliran menyetubuhinya. Emma teriak kencang, namun yang keluar hanya suara cicitan lemah.

Perlahan, Emma memejamkan mata. Mengatakan dalam hati, ’selamat tinggal dunia’.

z

Bagikan:

0 komentar