BFF

Suatu hari pulang kerja datang si A yang membawa seperangkat gadget yang dia pamerkan kepada saya.

"Lihat Deb, keren nggak I Pad gue ini?" katanya

Saya berdecak kagum, bagaimana tidak.. Benda yang dia bawakan adalah I Pad, benda yang sudah lama saya inginkan, yang barangnya saja belum masuk ke Indonesia namun dia sudah memamerkannya pada saya.

Sore itu cafe tampak lengang, ketika saya bertemu dengannya, pegawai cafe langsung melihat kami. Mungkin para pegawai itu terkagum-kagum melihat I pad itu atau mungkin kagum melihat sosok cowok keren dan ganteng yang duduk bersama saya.

"Dapat dari mana? Kan belum dijual di Indonesia?" tanya saya agak curiga dia membeli barang selundupan.

"Di Singapore dong, Deb. Masa hari gini belanja nya masih di Mangga Dua.." katanya dengan gelak tawa sembari mengutak atik I Pad nya.

Saya berpindah tempat duduk mendekati posisinya, saya memandang kagum I Pad itu. Dia seperti membawa Note Book mini yang multi fungsi dengan layar sentuh.

"Keren banget yah! Seumur hidup, baru kali ini gue lihat I Pad.." kata saya padanya.

Dia tersenyum bangga.

"Berapa harganya?" tanya saya penasaran.

"Murah kok. Cuma 7 jutaan aja.." jawab nya.

"TUJUH JUTA ???" saya berjengit.

Pikiran saya langsung melayang. Jika saya punya uang 7 juta, saya tidak akan memakainya untuk membeli I Pad itu, atau gadget lainnya. Saya akan membeli barang yang lebih bermanfaat buat saya.

"Kenapa?" tanya nya heran.

"Mahal banget!!" jawab saya masih shock.

"Ah elo Deb, untuk sebuah Prestige, 7 juta itu nggak ada apa-apa nya.." kata nya.

"Prestige? Maksudnya? Elo nggak butuh barang itu sebenarnya? Cuma buat gaya?" tanya saya.

"Ya iyalaaaah... Hari gini semua sudah pakai I Pad, apalagi penulis kayak elo sudah seharusnya pakai ini.." jawab dia.

Saya terdiam, saya berpikir begitu kaya nya teman saya ini sampai-sampai uang 7 juta tak bernilai untuk dia.

Sepulangnya saya di antar oleh teman saya itu menuju rumah. Dia mengendarai Honda Freed terbaru nya. Saya merasa begitu norak duduk di mobil baru.

"Wah bagus banget yaah mobil ini.." kata saya berdecak kagum.

"Ya ampuun Debbyyyy... Masih aja sih noraknya. " kata dia tertawa.

Mungkin saya norak baginya, tapi jujur saya senang bisa merasakan naik mobil mewah untuk pertama kalinya. Yah, walau bagi kalangan jetset, Honda Freed belum termasuk mewah tapi bagi saya sudah sangat mewah.

Di persimpangan lampu merah, laju mobil berhenti. Tampak dari luar seorang gadis kecil mengamen di hujan rintik untuk meminta sedikit receh dari si pengemudi mobil.

Saya memandang teman saya itu, menunggu reaksinya apakah dia akan memberi receh pada gadis itu atau tidak. Ternyata teman saya hanya melambaikan tangan pertanda tidak mau memberi.

Padahal di dashboardnya begitu banyak uang yang bisa dia beri, tapi kenapa dia tidak mau memberi pada gadis kecil itu.

Beberapa saat teman saya itu memandang saya, dia rupanya sudah membaca gelagat ketidaksenangan saya. Dia lalu menjawab,

"Kalau dikasih nanti kebiasaan ngamennya. Malah nggak sekolah jadinya.." katanya begitu.

"Kalau dia nggak mampu sekolah, bagaimana? Untuk makan saja dia masih ngamen.." kata saya menjawab argumennya.

"Elo kok nggak percaya sama gue sih, Deb?" tanya nya kesal.

"Maksudnya?" tanya saya.

"Lihat plang itu. Ditulis jangan memberi uang untuk menunjukkan kepedulian anda.." kata dia menunjukkan plang Pemda yang menyarankan agar tidak memberi pada pengemis.

"Tapi kan dia bukan pengemis, dia mengamen. Setidaknya hargai sedikit dengan memberi.." kata saya kesal.

"Dan dia sudah hujan-hujanan.." tambah saya.

"Deb, what's your problem? Why you like this?" tanya nya heran.

"Karena saya merasa kamu punya uang untuk kasih gadis kecil itu.." jawab saya sopan. Tanpa "gue" dan "elo" yang biasa kami pakai saat berbicara.

Dia terkejut.

Lalu selama di perjalanan kami terdiam.

Saat sudah hampir sampai rumah saya, dia menggenggam tangan saya. Dia memandang saya dalam-dalam,

"Maaf, gue nggak tahu kalau itu begitu bermakna buat elo.."

"It's okey. Nggak masalah buat saya.." kata saya malas membahas hal itu lagi.


Waktu pun berlalu, saya malas menerima ajakan teman saya lagi untuk bertemu dan berbicara. Saya malas bertemu dan membahas itu lagi. Hingga saat ini, saat saya teringat peristiwa itu lagi. Tiba-tiba pesan di YM mengejutkan saya, pesan itu berbunyi

'Deb, keluar sekarang. Gue di depan. Gue bawain bakwan malang buat lo..'

Saya terkejut, pesan YM itu langsung saya balas dengan OK.

Saya keluar gedung kantor dan menyapa nya. Dia tersenyum dan memberi bungkusan bakwan malang yang sebelumnya tidak saya pesan, tidak saya minta untuk dibawakan olehnya. Saya tak habis pikir, dari mana dia tahu saya belum makan siang, dari mana dia mendapat ide membawakan makanan yang saya suka ini.

Saat ini saya makan dengan terharu, karena saat saya lapar, saat saya sedang puasa makan siang karena keadaan tak memungkinkan, saat saya memutuskan untuk membunuh lapar dengan tidur, dia membawa sebungkus makanan yang akhirnya mengenyangkan perut saya. Ditambah lagi, bakwan malang ini terasa sangat enak. Karena penuh dengan perasaan kasih sayang dari sahabat saya itu.

Saya langsung meng-YM teman saya yang memamerkan I Pad beberapa waktu lalu. Saya bilang :

"Mungkin, bagi kamu receh itu tidak ada harganya, tidak ada artinya apa-apa. Tapi mungkin tidak bagi gadis kecil itu. Saat hujan, dia mengamen demi recehmu, mungkin untuk makan malamnya saat itu, atau mungkin untuk keperluan keluarganya yang ingin dia tabung.."

Dan dia membalas,

"Aku ingin bisa menghargai uang seperti mu, Deb. Tapi aku sulit untuk itu.."

Saya menjawab,

"Bukan soal besar kecilnya uang, Kawan. Tapi soal keikhlasan kamu memberi. Barusan saya dapat sebungkus bakwan malang dari sahabat saya. Saya tidak menduganya sama sekali dia memberi saat saya membutuhkan makanan. Saat saya kelaparan dan tidak bisa membeli makanan. Kamu tahu apa yang terjadi? Saya sangat bersyukur punya sahabat seperti itu, dia memberinya dengan ikhlas, memberinya dengan penuh rasa sayang terhadap saya."

"Belum ada sahabat yang memberi saya bakwan malang.." balasnya.

"Kenapa belum ada?" tanya saya

"Ada sih yang kasih HP, tapi mengharap saya meloloskan tendernya di perusahaan papa.." kata nya.

"Wah, itu sih bukan pemberian dari sahabat. Tapi itu semacam bentuk sogokan.." jawab saya.

"Benar, Deb. Itulah sebabnya saya iri sama kamu.. Kamu begitu bahagia sepertinya.." kata nya

"Jelas saya bahagia, Kawan. Hidup saya penuh cinta dan kasih sayang. Dari keluarga, kekasih, sahabat-sahabat.. Semuanya sayang saya.. Dan mereka sayang saya tanpa pamrih seperti yang teman kamu lakukan itu. Dan itu membuat saya menyayangi mereka semua, kasih sayang mereka melebihi apa pun yang saya inginkan di dunia ini. Walau saya ingin I Pad, saya ingin motor, itu kalah jauh dibanding keinginan saya tetap mempunyai kasih sayang mereka.." jawab saya panjang lebar.

"Itulah yang membuat saya iri padamu, Deb.. Tanpa kekayaan berlebih, kamu bisa bahagia.." jawab nya.

"Siapa bilang saya nggak kaya? Tuhan sudah memberi banyak hal buat saya. Saya merasa sangat kaya, Kawan.."

"Kaya apa, Deb? Memangnya kamu punya rumah dan mobil?" tanya nya heran.

"Saya kaya dengan kasih sayang. Dan jika dihitung banyaknya, lebih banyak dari harta yang kamu punya, jika dihitung luasnya, lebih luas daripada rumah kamu, jika dihitung besarnya, lebih besar dari tanah yang kamu miliki.." jawab saya bahagia.

Dia terdiam tak menjawab YM saya, tapi saya yakin dia akan berpikir akan semua itu.

Lalu saya menambahkan,

"Dan saya punya 1 keunggulan dari kamu. Saya memiliki kamu sebagai teman baik, saya menyayangi kamu tulus sebagai sahabat, tapi kamu belum memiliki saya sebagai sahabat, karena kamu masih menilai semuanya dari uang. Jika kamu sudah tidak menilainya dari situ, maka kamu memiliki kasih sayang saya sebagai sahabat.."

Dia membalas dengan icon pelukan. Saya terharu.

"Terima kasih, Deb. Saya akan belajar.. Bagi saya, kamu bukan hanya sahabat, tapi sudah seperti keluarga"

"Keluarga tidak harus berhubungan darah, kan? Dengan persahabatan yang tulus, sudah bisa seperti keluarga.." jawab saya teringat sahabat-sahabat saya yang sudah seperti keluarga sendiri. Saya merasakan desiran kasih sayang saya terhadap mereka.

Sambil mengunyah bakwan malang saya tersenyum, bertambah lagi sahabat saya di dunia ini.


Bagikan:

4 komentar