Sharing

Setiap manusia, hidup dengan berbagai macam problema dan warna. Tak bisa dipungkiri, termasuk hidup gue yang penuh dengan lika liku terjal yang senantiasa membuat gue jatuh, terpeleset, terkilir, tertatih bahkan hingga sampai dititik tak mampu bangkit kembali.



Saat gue pergi ke Yogyakarta (lagi) dalam rangka merenung dan mencari nilai-nilai kehidupan yang belum gue pahami kemarin gue mengalami kejadian yang belum pernah gue alami sebelumnya. Saat itu gue melakukan perjalanan malam naik kereta Senja Utama. Sebenarnya gue sudah berniat naik kereta Progo Ekonomi, tapi orang yang sangat menyayangi gue melarang gue naik kereta ekonomi atas dasar alasan keamanan dan kenyamanan. Akhirnya jadi naik Bisnis Senja Utama deh.



Dalam kereta gue duduk bersebelahan dengan seorang cowok kayak mas-mas Jawa. Pada satu jam pertama cowok itu cuek. Gue pun tertidur dalam kereta. Tiba-tiba, cowok itu mengubah posisi duduk yang membuat gue terbangun. Kakinya naik ke atas dan membuat space duduk gue jadi semakin sempit. Padahal cowok itu nggak gendut-gendut amat, tapi kenapa dia begitu serakah mengambil space sehingga membuat gue kesempitan dan nggak nyaman. Gue melotot ke cowok itu, tapi cowok itu cuek bebek. Gue merubah posisi duduk, agar dia tahu gue sangat nggak nyaman dekat-dekat seperti itu. Karena dia orang yang nggak dikenal sama sekali. Kepingin rasanya gue tegur cowok itu, kenapa cowok itu egois dan serakah banget, nggak lihat apa ada cewek mungil duduk kesempitan.



Hingga satu jam lagi berlalu. Gue merasa semakin nggak nyaman. Ingin rasanya pindah, tapi gue malas nyari-nyari kursi kosong. Gue merasa semua ini cobaan untuk mengetes kesabaran gue. Agar gue yang temperamental bisa belajar menekan amarah dan melatih kesabaran gue.



Lalu, cowok itu menerima panggilan dari handphonenya. Raut wajahnya berubah drastis, yang tadinya tampang songong berubah sedih. Matanya berkaca-kaca. Gue yang tadinya mau menegur dia untuk bergeser sedikit posisi duduk, langsung mengurungkan niat.



Setelah menutup handphonenya, cowok itu memandang gue. Gue langsung meloncat kaget. Gue buang muka memandang jendela yang sebenarnya nggak bisa lihat apa-apa karena keadaan malam dan gelap.



"Mbak.." kata cowok itu.



Gue heran karena ngapain juga dia negur gue.



"Mbak..." panggilnya lagi.



Gue menolehkan wajah, gue melihat cowok itu menitikkan air mata.



"Ya ?" tanya gue heran ngelihat dia.



"Mbak.. Saya boleh cerita sesuatu?" tanyanya mencurigakan.



Gue langsung teringat pesan orang-orang yang sayang gue, yang mengatakan nggak boleh ngobrol sama sembarang orang, kalau ditawari makan jangan diterima, kalau ditepuk balas tepuk. Semua pesan itu untuk menghindari terjadinya kejahatan baik copet, rampok, hipnotis apalagi pemerkosaan.



Glek!



Gue menelan ludah. Gue teringat pesan Kamandaka supaya menghindari kontak mata dengan orang nggak dikenal. Karena hipnotis bisa dari tatapan mata.



Tapi semua sudah terlambat. Gue sudah menatap mata cowok itu. Mata yang berair itu.



"Cerita apa?" tanya gue yang bodoh banget, kenapa gue nggak pindah tempat duduk. Kenapa gue nggak menghindari percakapan ini.



"Saya... Saya.." katanya terbata-bata dengan mata yang semakin berair. Dan akhirnya meneteskan air mata yang mebasahi pipinya.



Gue nggak tahu harus berbuat apa, jujur saja gue paling nggak bisa lihat cowok nangis. Hati gue seperti membeku ketika memandang air mata membasahi wajah cowok, walau pun cowok itu nggak gue kenal.



Gue mengeluarkan tissue, dan menawarkan padanya. Dia menerima dan menyeka air matanya itu.



"Makasih, Mbak.." katanya.



Gue diam aja. Gue benar-benar bingung dengan keadaan seperti itu. Nggak pernah sebelumnya gue dihadapi situasi seperti itu.



"Pacar saya, Mbak.. Pacar saya..." katanya terputus.



Kereta tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Tubuh gue terdorong ke depan karena kereta mengerem sangat mendadak. Ingatan gue langsung melayang ke kejadian kecelakaan kereta pada dua malam sebelumnya. Kecelakaan di Pemalang yang membuat gue teringat kembali pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat sahabat gue bersama Yudi yang biasa dipanggil Celepuk, sahabat saat gue menjadi Punkers, sahabat yang senantiasa menghibur dan membuat gue tertawa, sahabat yang pergi lebih dahulu karena kecelakaan kereta. Hati gue pedih teringat itu, sekaligus takut.



Gue terdiam, kereta juga masih terdiam. Gue menunggu kereta jalan lagi, dan gue berdoa semoga tidak ada apa-apa malam ini. Gue masih ingin hidup, gue berharap masih dikasih kesempatan untuk mengarungi hidup dan merasakan anugrah Tuhan. Sejenak gue berdoa, mungkin ketakutan itulah yang mengingatkan gue untuk berdoa.



Gue mengalihkan pikiran, gue memandang wajah cowok yang duduk di samping gue, cowok yang sedang berjuang sekuat tenaga menahan tangis. 'Mungkin, dia baru putus dari pacarnya..' bisik gue. Hal yang biasa bagi orang yang menjalin kasih.



"Mas, kenapa pacarnya?" tanya gue nekat.



Cowok itu menoleh memandang gue. Matanya sudah sembab, gue menawarkan kembali tissue.



"Pacar saya, baru saja meninggal.." jawabnya dengan suara terisak.



Hati gue seperti disambar petir. Gue nggak bisa jawab apa-apa, dan gue nggak mau berprasangka buruk. Mungkin, jika orang yang paranoid-an akan berpikir itu adalah taktik para hipnoter untuk menjerat mangsa. Tapi nggak bagi gue. Gue merasa dia berkata jujur. Nggak ada kebohongan dari sorot matanya yang basah itu. Nggak ada keraguan dari kata-katanya yang keluar dari bibir yang bergetar dan hati yang kelu.



Gue paham benar apa arti kehilangan itu. Dan gue merasa cowok itu pasti amat pedih malam itu.



"Mas.." untuk pertama kalinya gue menyentuh pundak orang nggak dikenal. Gue tepuk dua kali. Untuk sekedar mencoba, mungkin dengan tepukan itu, hatinya bisa agak ringan.



"Mas, yang sabar yah.. Arwahnya pasti diterima di sisi Tuhan. Dan orang yang ditinggalkan pasti diberi kekuatan." gue berkata pelan.



Sengaja gue nggak memberi kata "semoga", seperti orang kebanyakan yang berkata belasungkawa saat ada kenalannya yang baru kehilangan, semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan YME, dan semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Betapa gue nggak menyukai kata-kata "semoga" itu. Karena bagi gue, semoga berarti belum pasti. Dan itu bertentangan dengan keyakinan gue. Gue berkeyakinan, jika Allah memberi cobaan atau musibah apa pun, sudah pasti Allah mempersiapkan orang yang diberi cobaan/musibah itu. Dan jika ada orang yang meninggal, sudah pasti ajalnya memang sudah ditentukan Allah, karena kematian hanya Allah yang menentukan, maka arwahnya pasti diterima Allah. Sementara orang yang ditinggalkan, sudah pasti akan kuat. Karena Allah nggak akan kasih cobaan kalau kita nggak mampu menjalaninya.



Lalu cowok itu mengangguk. Mengatakan terima kasih dengan suara berat. Gue nggak tahu apa sebab pacarnya meninggal, yang jelas cowok itu hanya bercerita, dia berusaha ke Yogyakarta malam itu dengan mendadak. Hanya ingin menengok pacarnya yang dirawat di rumah sakit. Pacaran long distance menyebabkan dia berat diongkos, dengan pekerjaan hanya sebagai cleaning service membuat dia nggak mampu naik pesawat untuk mengejar waktu. Jika naik ekonomi, akan memakai waktu yang sangat lama untuk sampai di Yogyakarta.



Malam itu hingga pagi sampai Yogyakarta, gue tidur hanya sebentaran saja. Selebihnya menemani cowok itu bercerita tentang kenangan-kenangan bersama pacarnya yang sudah dia jalin selama 3 tahun lebih.



Malam itu, walau gue nggak kenal, walau gue nggak tahu namanya, dan cowok itu nggak tahu nama gue, gue merasa rasa saling berbagi terpancar dari kami.



Gue merasakan bahagia, karena bisa membuat orang yang sedang sedih menjadi sedikit lega. Walau gue juga sedih, karena pasti apa yang dirasakan cowok itu pasti sangat pedih.



Lalu kereta menghentikan lajunya di Stasiun Tugu. Pagi pun menjelang dengan indah. Gue tersenyum pada cowok itu, dia membantu gue menurunkan tas ransel gue yang berat. Memapahnya hingga keluar stasiun. Hingga gue dijemput sama orang yang sudah menunggu gue lama, cowok itu mengatakan terima kasih. Dia berharap semoga bisa berjumpa lagi. Gue juga mengucapkan terima kasih. Karena secara nggak langsung dia membuat gue teringat karunia Allah, dan membuat gue bersyukur. Karena gue sampe detik ini, masih didampingi orang-orang yang menyayangi gue, masih diberi kesehatan, masih diberi jalan untuk bekerja, masih diberi ilmu pengetahuan, masih diberi kewarasan, dan masih diberi kekuatan untuk menghadapi cobaan selanjutnya yang pasti akan datang. Alhamdulillah..



Yogyakarta, aku datang. Dengan hati yang sedikit pulih dari duka dan sepi.

Bagikan:

0 komentar